Rabu, 22 Februari 2017

Dari Turki, Jenazah Kiai Nafi Abdillah Kajen Disambut Tahlil Ratusan Ribu Pelayat

Ribuan pelayat menunggu kedatangan jenazah di depan masjid komplek PMH Pusat, Selasa (21/02/2017) dini hari
DutaIslam.Com - Sejak Selasa petang (21/02/2017), Desa Kajen, Margoyoso, Pati bak lautan manusia. Banyak kendaraan ber plat luar kota memenuhi sepanjang Jl. Ngemplak Margoyoso. Mereka adalah muslimin ahlussunnah wal jamaah yang menunggu kedatangan jenazah KH Abdullah Nafi' Abdillah yang wafat di Turki (pasca Umroh) pada Ahad (19/02/2017).


Hingga pukul 22.00, jumlah pelayat terus bertambah. Mereka memenuhi gang-gang kecil sudut desa Kajen. Rumah Mbah Sahal (alm) dan juga KH Nafi' Abdillah (alm) dipenuhi muslimin. Titik inilah yang terpadat dipenuhi ribuan pelayat, selain lokasi makam yang tentunya lebih rapat tak bisa ditembus kecuali harus memaksa masuk.

Pelayat memenuhi halaman PMH Pusat, Kajen
Sekitar pukul 23.30 WIB, jenazah baru terlihat (dari arah Semarang) iringan ambulance akan masuk gang menuju lokasi maqbarah. Ketika Dutaislam.com memantau di Jalan Raya Tayu-Pati, iringan ambulans itu langsung disambut tangis dan tahlilan oleh ribuan pelayat. Namun mobil putih tersebut tidak belok kanan, melainkan lurus terus ke utara hingga ke kediaman almaghfirlah Kiai Nafi'.

Beberapa saat kemudian, muncul satu mobil bukan ambulans yang disebut oleh Banser sebagai "hormati abah mau lewat". Barisan Banser meminta kepada pelayat di gang menuju makam itu agar bergandengan tangan kanan dan kiri, tapi tidak banyak yang melaksanakan.

Para pelayat tidak mengetahui kalau dalam mobil tersebut sebetulnya ada jenazah almaghfurlah. Mereka mengira, mobil ambulance putih milik NU Care Lazisnu tadilah yang mengantarkan jenazah ke makam, padahal itu hanya strategi Polisi dan Banser untuk memecah konsentrasi massa agar tidak terjadi desak-desakan.

Ribuan pelayat yang dipecah konsentrasinya di depan rumah Kiai Nafi Abdillah
Begitu dimulai, hantaran dzikir tahlil puluhan ribu pelayat tak henti-henti dibaca sejak kedatangan jenazah. Di kediaman almaghfurlah, kalimat la ilaha illa Allah melantun berjam-jam, sementara di lokasi pemakaman juga terdengar nyaring suara tahlil bersama. Disiarkan langsung dari speaker masjid komplek Ponpes Mathaliul Huda (PMH) Pusat, asuhan almaghfirlah KH Abdullah Salam, ayahanda Kiai Nafi' Abdillah.

Di depan makam semua pelayat bertahlil, di belakang juga membaca tahlil, di gang-gang kecil dari semua penjuru menuju lokasi makam pun nyaring orang-orang bertahlil, la ilaha illa Allah, mengiringi pemakaman jenazah. Puluhan kali shalat jenazah berganti imam dengan ribuan jamaah per shif penuh masjid, yang lokasinya hanya berdempetan dengan makam almaghfurlah Kiai Nafi'.

Penggalian makam KH Nafi' Abdillah, di samping makam ayahanda KH Abdullah Salamm kompleks
makam keluarga PMH Pusat, Kajen, Margoyoso, Pati, Jateng. 
Hingga pukul 01.00 WIB, pelayat masih menyemut di sekitar masjid dan makam, menyalati hingga mengantarkan ke maqbarah, dini hari. Banyak pelayat nampak membawa pengawal seperti santri yang lalu lalang saat menunggu proses pemakaman. Mereka ternyata adalah para santri Kiai Nafi', yang antara lain sudah menjadi kiai dan tokoh di tempat tinggal masing-masing. Santri tetap santri, walau sudah sama-sama jadi kiai.

Keterangan yang didapatkan Dutaislam.com, jenazah diberangkatkan dari Istanbul, Turki, pada Selasa dini hari sekitar pukul 02.00. Sampai Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa sore pukul 16.30 WIB. Laporan kontributor Dutaislam,com di Semarang menerangkan, jenazah sampai di Bandara Ahmad Yani Semarang sekitar pukul 08.00 WIB. Ini foto suasana beberapa petugas menunggu di Bandara A Yani Semarang.

Petugas Banser menunggu jenazah Kiai Nafi' di Bandara A Yani Semarang
Dari Semarang, perjalanan ke Kajeng ditempuh selama 3 jam lebih. Pantauan di lapangan, jenazah masuk gang area makam sekitar pukul 22.30 WIB. "Alhamdulillah bisa ikut shalat jenazah Mbah Nafi'," kata Ahmadi, warga Kajen yang juga santri Kiai Nafi' Abdillah.

Tidak ada yang istimewa dalam prosesi pemakaman kiai yang dikenal doanya sangat cespleng itu. Hanya satu yang istimewa, ratusan ribu pelayat datang dengan ikhlas tanpa pengumuman dan tanpa provokasi aksi-aksi. Itulah kiai, itulah ulama, itulah para santri dan warga pecinta kiai serta pembela aswaja. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini