Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Bikin Kaget, Ini Alasan Kiai Nafi' Abdillah Mencoret Gelar Kiai di Surat Undangan

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 22 Februari 2017
    A- A+

    Oleh Munirul Ikhwan

    DutaIslam.Com - Sekitar tahun 2002, saya dengan Wakhtim dengan diantar langsung Gus Uu, sowan kepada Abah Nafi' (KH Nafi Abdillah) atas nama PAMAL (Panitia Muludan PMH Putra Pusat Timur Al-Kautsar). Kami membawa surat untuk beliau.

    "Salah kirim, iki gak aku," kata Abah Nafi' setelah membaca nama surat itu ditujukan.

    Seketika, saya kaget dan meminta kembali suratnya, diteliti. Barangkali, saya salah membawa surat, kuatir surat itu ditujukan untuk orang lain. Saya periksa kembali suratnya. Tapi, bunyi surat itu tetap begini:

    Kepada Yth. 
    KH. Ahmad Nafi' Abdillah 
    Di PMH Pusat Kajen

    Itu yang tertulis pada amplop surat undangan.

    "Leres (benar) bah, kagem Abah, tertuju Kepada Yth. KH. Ahmad Nafi' Abdillah di PMH Pusat Kajen," sembari saya sampaikan kembali surat itu pada beliau.

    Tapi beliau kekeh tidak berkenan menerima surat dari kami, "ogak aku iku/ bukan saya itu," dawuh beliau.

    Saya periksa kembali, jangan-jangan memang ada salah ketik yang terlawatkan, kurang huruf atau kurang titik koma. Barangkali.

    Tapi betul semua setelah diperiksa teliti untuk kedua kalinya. Kami akhirnya hanya terdiam. Tidak tahu salahnya dimana.

    Namun, tak selang beberapa lama, beliau kemudian mencoret sendiri huruf "K" pada akronim "KH." yang ada pada surat.

    "Iki yo bener/ Ini yang benar," ucapnya, memecahkan keheningan kami.

    "Dadi kiai iku abot, ora gampang, nek kiai mesti muttaqin/ Jadi kiai itu berat, tidak gampang, kalau kiai harus muttaqin (bertaqwa)," terang Abah Nafi' ke kami.


    Kami menyimak dawuh Kiai Nafi' hingga beliau membacakan ayat ini:

    الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ  ؕ  وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 

    Artinya: "(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". (QS. Ali Imron: 134)

    "Iso sedekah waktu ono ae angel meneh gak duwe, iso nahan amarahe, gampang ngapuro/ Bisa sedekah waktu memiliki harta saja susah, apalagi ketika kondisi tidak punya, dan juga bisa menahan amarah serta mudah memberi maaf," terang beliau satu demi satu, ayat dijelaskan sebagai sifat kiai sesungguhnya. [dutaislam.com/ ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: