Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Waspadalah Virus Syirik Bid'ah Liberal NU yang Sangat Radikal (Baca Lengkap Tidak Tersesat)

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Selasa, 31 Januari 2017
    A- A+

    Oleh Putra Rahman

    DutaIslam.Com - Sebenarnya ada apa dengan NU? Bukankah sudah menjadi sebuah rahasia umum bahwa dibalik penampilan para tokoh mereka yang tampak berwibawa, NU adalah "Thoghut" terbesar Indonesia yang sangat kejam, benar-benar kejam. NU merusak tatanan budaya kehidupan yang sudah ada jauh sebelum Indonesia ada. Orang waras jadi gila, orang sehat jadi bingung, orang beriman menjadi keluar dari keimanan yang dianutnya selama ini.

    Lihatlah anak-anak kita! Juga orang-orang dewasa yang merasa sakit, stress menderita oleh budaya mu’tal yang muncul tiba-tiba, yaitu NU. Indonesia memang aneh dan semua orang merasakannya. Perubahan adat yang tiba-tiba. Ada apa di balik ini semua? Ada apa NU dengan jaringan “thoriqot” mereka? Ada apa di balik ini semua? Banyak orang bertanya-tanya kenapa virus NU merajalela di bumi Indonesia?

    NU punya mau. Apapun yang menghalangi jalannya akan mereka lawan. Apapun caranya harus dilakukan agar virus NU ini tetap berjaya walau umat manusia dan keyakinannya menjadi korban.
    NU adalah oraganisasi bid’ah terbesar di Indonesia.

    Cobalah tanya mereka tentang aqidah mereka. Apakah mereka mempunyai hujjah? Apakah mereka mempunyai landasan ilmiyyah? Kok bisa mereka menjadi organisasi bid’ah terbesar di negara Islam terbesar! Lantas kemana umat Islam yang "murni"? Tidakkah kalian merasakan hal yang aneh dalam kehidupan NU di Indonesia?

    NU selalu ingin menjadi yang paling hebat. Mendapat yang paling hebat. Mereka memadukan berbagai macam cara agar mereka menjadi yang paling hebat dan kuat karenanya, walau berteman dengan kebid'ahan. Padahal kebid'ahan yang merupakan musuh besar Islam, namun telah tersebar di tengah rakyat melalui perantaraan mereka. Tersebar luas menyatu dalam tradisi dan budaya.

    Bagi mereka bid'ah itu bukan sesat. Bagi NU kebi'dahan dan kemusyrikan bisa berubah menjadi bukan bid'ah dan syirik bila kita bisa mengolah niat dan bahasa. Misalnya seseorang meminta tolong pada jin yang merupakan perbuatan yang dilarang keras dalam Islam dalam ritual mistik. Mereka berkata, apa salahnya minta tolong sama jin jika memang dia bisa? Sama seperti minta tolong kepadamu jika kamu memang bisa melakukannya.

    Bila jin itu menyuruh dia melakukan ucapan atau perbuatan kesyirikan agar mau menolong mereka, maka mereka melakukannya. Mereka berkata, ”itu cuma ucapan atau perbuatan, sedangkan hati kami tetap hanya pada Allah. Bukankah intinya di hati?” Dari mana dia punya pendapat semacam ini? Ulama mana yang dia ikuti? Apa mereka punya imam yang mereka ikuti dalam masalah ini atau cuma mengarang sendiri? Padahal akibatnya fatal sekali!

    Padahal kesyirikan itu ada tiga macam: keyakinan, ucapan dan perbuatan. Dan ketiganya bisa membatalkan syahadatnya dan menjadikan pelakunya kekal dalam neraka. Tapi NU menganggap gampang dalam masalah ini demi mendapat bantuan...

    Di sisi lain, NU menjadikan filsafat atau ilmu kalam sebagai landasan beragama mereka. Mereka mempelajari “ilmu berbicara” ini bersama kitab-kitab alat/lughoh dan mencampur adukkannya. Filsafat telah menjadi salah satu dasar agama mereka.

    Bukankah Abu Yusuf (Ya`qub bin Ibrohim al Qodhi. Wafat : 183 H) berkata: “Barangsiapa mencari agama dengan ilmu kalam, pasti dia zindiq. Barangsiapa yang mencari makna-makna gorib hadits, pasti dia berdusta. Barangsiapa yang mencari harta dengan kimia (sulap), pasti dia bangkrut”. (Dzammul Kalam: 326).

    Sehingga Al Imam Syafi’i mengatakan: ‘Hukuman terhadap ulama ilmu kalam ialah mereka ini dipukul dengan pelepah kurma dan kemudian dikelilingkan di berbagai kampung dan kabilah untuk dinyatakan di hadapan mereka : Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan terjun dalam ilmu kalam.’ (Hr. al-Harowi dalam kitab Dzammul Kalam: 356).

    Di NU juga ada aliran Tashawuf. Tapi mereka tak berani terang-terangan dalam mengajarkan aqidah ini. Metode mereka menggiring orang kepada pemahaman ini secara tak sadar melalui berbagai kiasan dan perumpamaan. Dan masyarakat nahdliyyin yang kebanyakan rakyat tak terdidik tidak sadar akan hal ini. Mereka telah dibuat kacau akal dan perasaannya karena tashawuf.

    Cobalah kalian periksa sendiri aqidah mereka! Aqidah mereka itu aneh, campur aduk dan kacau balau. Tak bisa dijelaskan dan diluruskan baik dengan akal maupun dalil. Menyusun aqidah sendiri, padahal dalam syariat Islam sendiri tidak ada tashawuf.

    Namun kata mereka tashawuf itu mengolah jiwa. Dan hasilnya mereka memang menjadi orang gila yang ahli jiwa. Mampu mengubah hati manusia dan merusak jiwa musuh-musuh mereka sebagai mana hati dan jiwa mereka.

    Lihatlah Yahudi dan Nasrani musuh-musuh Islam. Punya berbagai kekuatan ekonomi, politik, militer, media mereka berkuasa. Orang Islam punya apa?

    Orang NU berinovasi bahwa kita harus menyatukan kekuatan entah dari mistik tak peduli itu dari bangsa jin ke dalam kehidupan kita agar umat Islam punya kekuatan. Bukankan Islam itu rahmatan lil ‘alamin? Bukankah Rasullah SAW diutus pada jin dan manusia? Mereka berkhayal bahwa dengan meminta bantuan jin, mereka akan memperoleh kekuatan yang luar biasa yang tak akan terkalahkan.

    Sudah jelas bagi kita bahwa perbuatan macam itu adalah terlarang. Tapi mereka tak peduli. Semuanya dilakukan untuk mencapai maksud tujuan mereka. Orang NU tak segan belajar mistik. Mereka menyebutnya “ilmu hikmah”. Jadi hikmah itu bagi mereka bukannya akhlak tapi kesaktian, guna-guna, dan semacamnya.

    Dengan ilmu mistik mereka bisa punya pengaruh dan kewibawaan dan mudah menguasai hati manusia. Dengan mistik orang-orang yang menghalanginya diguna-guna. Dengan mistik mereka punya Pagar Nusa yang kuat digilas truk dan tak mempan dibacok. Lantas apa beda mistik mereka dengan sihir? Padahal sihir itu haram dan barang siapa melakukan sihir maka ia kafir.

    Mereka beriman kepada jibt dan thaghut. Menurut ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu: Jibt ialah sihir, sedangkan thaghut ialah syaitan. Kata Jabir: Thaghut-thaghut ialah para tukang ramal yang didatangi syaitan; pada setiap kabilah ada seorang tukang ramal.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran. Para sahabat bertanya: Apakah ketujuh perkara itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Yaitu: syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakai harta anak yatim, membelot dalam peperangan dan melontar tuduhan zina terhadap wanita yang terjaga dari perbuatan dosa, tidak tahu-menahu dengannya dan beriman.

    Diriwayatkan hadits marfu’ dari Jundab: Hukuman bagi tukang sihir ialah dipenggal lehernya dengan pedang. Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Bajalah bin ‘Abdah, ia berkata: Umar bin Al-Khaththab telah menetapkan perintah, yaitu: Bunuhlah tukang sihir laki-laki maupun perempuan. Kata Bajalah selanjutnya: Maka kami pun melaksanakan hukuman mati terhadap tiga tukang sihir perempuan.

    Tapi orang NU tak peduli. Segala sesuatunya mereka lakukan. Mereka punya ilmu “hakikat” yang mereka sembunyikan yang tidak kita ketahui. Benarkah?

    Politik adalah salah satu kekuatan NU terbesar. Salah satu musuh Islam adalah Yahudi. Dan salah satu keunggulan yahudi adalah politiknya. Untuk mengalahkan Yahudi kita harus belajar lebih jahat dari Yahudi. Berpedoman pada azas ini mereka memutuskan untuk belajar “politik” untuk mengalahkan politik yahudi. Bahkan lebih dari itu mereka juga mendapat wangsit entahvdari mana dalam merumuskan dan menjalankan politik mereka.

    NU merasa mereka itu termasuk yang terdepan dalam melawan Yahudi dan Nasrani. Kenyataannya musuh NU itu dalam prakteknya bukan Nasrani atau Yahudi tapi "umat Islam" sendiri. Siapapun yang menghalangi jalannya mereka hancurkan. Karenanya semua musuhnya adalah salah dan NU lah yang paling besar dan benar. Mereka menghancurkan "Islam" dan "umat Islam" untuk menegakkan keyakinan agama (NU) mereka.

    NU itu sebagai identik dengan bid’ah, mereka  ingin menyatukan segala macam bid’ah dalam satu wadah. Yang penting mereka besar. Mereka memang suka yang besar-besar. Salah satu orang yang aktif menyebarkan bid'ah di dalam dunia nyata dan dunia maya adalah Putra Rahman. Dia adalah seorang yang aktif dalam NU, terutama di Lesbumi dan Lakpesdam NU Jawa Tengah.

    Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia) adalah lembaga yang bernaung di bawah PBNU (Pengurus Besar Nahdhatul Ulama). Pada mulanya, keberadaan lembaga ini merupakan upaya implementasi gagasan kembali ke khittah yang diamanahkan pada Muktamar ke-27 di Situbondo, diawali dengan perbincangan tentang pentingnya membuat konsep Pengembangan SDM NU (PSDM NU).

    Namun dalam perjalanannya, lembaga ini seolah-olah sebagai wadah kaum liberalis untuk memperjuangakan dan menebarkan virus penyakit SIPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Lakpesdam menjadi lahan yang teramat subur untuk menanamkan benih-benih pemikiran liberalisme. Di bawah payung Lakpesdam ini, agenda kegiatannya pada tiga aspek utama, yaitu membendung fundamentalis Islam, mencegah munculnya kekerasan yang mengatasnamakan Islam dan mengembangkan demokrasi, menghargai HAM dan mengembangkan paham Islam liberal yang toleran, pluralis dan emansipatif.

    Barangkali popularitas dan pengaruh Putra Rahman di tubuh NU tidaklah seberapa dibandingkan tokoh-tokoh liberalis ‘sepuh’ di ormas tersebut semisal KH. Said Aqil Siradj, Gus Dur, KH. Masdar Farid Mas’udi, KH. Mustofa Bisri, KH. Alwi & Quraish Syihab, dan sederet nama lainnya. Gus Ulil Abshar Abdalla dan Kyai Zuhairi Misrawi, dua liberalis yang aktif di Lakpesdam ini juga tidak kalah sengitnya dalam ‘mengusik‘ dan merongrong kemurnian syariat Islam.

    Peran mereka sangat menentukan gerak langkah ormas NU ke depannya. Karena di tangan merekalah tongkat estafet kepengurusan PBNU ini akan diberikan. Lokomotif NU akan dikendalikan oleh mereka-mereka itu. Rangkaian gerbong di belakangnya tentu akan mengikuti ke mana arah lokomotif itu berjalan.

    Keberadaan Lakpesdam dalam tubuh NU merupakan satu dari sekian banyak bukti yang menunjukkan citra NU sebagai virus yang harus diwaspadai. Bagaimana bisa lembaga yang demikian keadaannya masih bisa bertahan di dalam ormas yang katanya ‘dipandhegani‘ (diayomi) oleh para alim ulama dan kiai sepuh tersebut.

    Itulah NU,

    Sebuah organisasi terbesar yang akan terus menjadi virus untuk menyerang radikalisme yang bertopengkan Islam. NU adalah virus yang menyebarkan semangat Nasionalisme, dan menyerang mereka yang merusak citra Islam dan NKRI. Maka tidaklah heran jika disinyalir ada upaya besar untuk menggembosi ormas terbesar di Indonesia dan penggiringan opini seolah-olah Nahdlatul Ulama itu sesat dan menyesatkan.

    Mereka yang tidak suka NU melakukan berbagai cara untuk mengajak umat Islam agar semakin membenci NU. Padahal negara Muslim di seluruh dunia saat ini banyak yang belajar kepada Nahdlatul Ulama tentang bagaimana membina dan mengelola Islam yang damai, ramah, dan santun.
    Banyak orang mengaku-ngaku sebagai NU Garis Lurus, NU Garis Suci, atau pecinta NU yang justru menghancurkan NU dengan membuat opini-opini yang menebar kebencian dan memunculkan perpecahan. Digiring opini agar orang NU tidak percaya lagi pada ulama dan kyai-kyai NU.

    Tragisnya bahkan orang NU sendiri yang notabene punya pengaruh besar di mata publik ikut terhanyut dalam hasutan dan hinaan oleh mereka para pembenci NU. Tidak dipungkiri bahwa gagasan “ISLAM NUSANTARA” bisa menjadi magnet besar dalam membangun besarnya kekuatan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Dan oleh media-media pembenci NU dijadikan lahan untuk menghancurkan NU dari dalam seolah-olah NU telah diboncengi oleh Liberal, Syiah, Nasrani, Yahudi dan PKI. Padahal telah jelas dan disepakati oleh ribuan ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren serta majelis ta’lim di seluruh Indonesia bahwa tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang adalah “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia”.

    Tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin. Cukup menjadi pelajaran berharga dari Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Mesir, Somalia dan negara-negara Muslim yang menjadi sasaran konflik antar umat Islam karena tidak adanya persatuan diantara mereka.

    Kita tidak menginginkan Indonesia seperti mereka, berapa juta umat Islam yang mati mengenaskan akibat konflik di negara-negara tersebut ?

    Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam Nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita, yakni Walisongo. Islam Nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar Islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab. Makanya dalam NU ada istilah "Arab digarap, Jawa dibawa, Barat diruwat".

    Walau istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya. Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran.

    Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasut (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik. Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun.

    Menurut Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Rais Syuriah PBNU Pusat sekaligus ketua Thariqat se-dunia menjelaskan, “Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu.”

    Beliau melanjutkan “Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik. Kalau saja wali songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini.”

    Beliau berpesan bahwa inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini, itulah mengapa dalam setiap ceramah beliau akhir-akhir ini sering membahas tentang upaya mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.

    Indonesia itu menurut beliau, tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama. Intinya cuma satu: memecah belah NKRI.

    Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan sebuah analogi tentang bagaimana menjadi muslim yang baik di bumi Indonesia, “Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk.”

    Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.

    “Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkret. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet,” begitulah penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

    Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam.

    Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam. Dan semua itulah yang dilakukan oleh NU.

    Makanya tidaklah heran jika ada yang memutarbalikkan fakta serta melihat yang dilakukan NU adalah menyimpang dari ajaran agama Islam, karena mereka itu tidak mengenal NU. Hanya sebatas melihat dan mendengar, tanpa memahaminya.

    Dan tidak lupa saya ucapkan selamat Harlah ke-91 buat NU yang dengan tagline "Merawat Tradisi, Mengupayakan Inovasi, Menjaga NKRI". Jayalah NU, Jayalah NKRI! NU kan tetap menjadi benteng pertahanan NKRI. Siapa yang ingin merusak NKRI, maka kan berhadapan dengan NU. [dutaislam.com/ ab]

    Putra Rahman, tinggal di Pekalongan

    Source: Putra Rahman

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Bukan golongan ahli sunnah...