Selasa, 17 Januari 2017

Surat Cinta Untuk Para Habib: yang Terkasih!


DutaIslam.Com - Habaib yang mufradnya habib (حبيب) berarti tercinta, disenangi, kekasih, yang dikasihi dan dihormati. Jika didahului huruf alif dan lam (al-habib/الحبيب) maka dinisbatkan kepada Nabi saw. Ini sebagai sapaan (laqab) yang dikhususkan untuk intern keturunan Nabi Saw.

Habaib sebagai turunan biologis yang silsilah nasabnya antara 37-39 melekat pada mereka fam/vam/marga keluarga, yakni Assaqqaf/Assegaf, al-Attas, al-Kaf, Bafagih/Balfaqih, Bajned, al-Aidrus, al-Habsyi, Ba’bud, bin Yahya, bin Syihab/Shihab, al-Aidid, al-Ahdal dan al-Mahdali. (Baca: Teguran Untuk NUGL dari Habib Abu Bakar Assegaf Pasuruan)

Habib-habib tersebut di Jawa lazimnya dipanggil Sayyid dan Syarif. Di Sulawesi Selatan untuk sayyid lazimnya disebut tuang Sayyid, Puang Sayye atau karaeng Sayyed. Turunan mereka berhak/ wajib mencantumkan fam di belakang namanya, kecuali seorang perempuan (sayyidah/syarifah) bersuamikan non sayyid, maka turunannya tidak berhak menggunakan fam tersebut dari ibunya.

Sebagai kluarga besar turunan Nabi, sudah seharusnya saling meghormati, bukan saling mencela. Kenyatannya, Quraish Shihab misalnya justru dari fam Shihab pula yang mencelanya. Pakar dan ahli tafsir seperti Quraish Shihab, siapa yang meragukan keilmuan dan ketawadhu’annya? Namun tiba-tiba dari fam yang sama malah menjelek-jelekkannya dengan tuduhan miring. Kalo begini, apa kata dunia?

Sesama fam saja dijelek-jelekkan, apalagi yang selainnya. Masih teringat tokoh NU yang diidolakan, Abdurrahman Wahid. Gusdur dikatai buta mata dan buta hati, nau’zubillah. Ini sebuah penghinaan, sementara datuknya, selain tidak pernah menghina, juga melarang umatnya menghina, apalagi turunannya.

Selain menghina sesama habib, menghina pula Gusdur dan ulama lainnya. Lebih riskan karena ada habib menyudutkan pemerintah, padahal yang bersangkutan hidup di sini, pemerintahan negara ini, yang di sinilah ia dilahirkan, belajar, makan dan minum serta memenuhi segala kebutuhan hidup dan kehidupannya. Jika Negara ini dikacaukannya, maka injakan kehidupannya pun akan runtuh, bahkan bisa ditenggelamkan oleh tanah kelahirannya sendiri. [dutaislam.com/ ab]

Ditulis Pecinta Habaib, Mahmud Suyuti, Makassar, Sulsel

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

2 komentar

Dari artikel ini dapat kita lihat bahwa turunan Nabi pun bisa melakukan kesalahan sebagaimana layaknya manusia, walau pun setiap org bisa berbeda pendapat siapa yang salah diantara turunan Nabi tsb dan walaupun kesalahan yg dilakukan tidak sebanyak manusia pada umumnya. Oleh karena itu, hendaklah kaum yg suka sekali mendudukkan para turunan Nabi pada kedudukan yg tidak sesuai dgn kedudukannya, mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian ini.

Sepanjang premanisme dan kezhaliman hukum masih merajalela di tengah masyarakat, FPI atau yg sejenisnya akan tetap hadir di masyarakat, terutama masyarakat yg merasa dizhalimi. Kesombongan para preman dan oknum penegak hukum harus dilawan dengan kesombongan yg setimpal. Dan untuk saat ini, wadah yg bisa digunakan untuk melawan kesombongan agen-agen hitam adalah bersama rekan-rekan dari FPI. Disini saya melihat, para habib mempunyai keistimewaan dlm hal menegakkan kebenaran.

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini