Selasa, 17 Januari 2017

Seenak Jidat Tuan Habib Bilang Campurracun dan Pancagila?


Oleh Irma Hutabarat

DutaIslam.Com - Masih belum lekang dari ingatan, saat seorang yang mengaku ulama namun tega menista budaya bangsa sendiri, budaya kita, budaya tanah Pasundan dengan memelesetkan salam orang Sunda "Sampurasun" menjadi "Campurracun", karena menurut tuan ulama itu, satu-satunya salam yang pantas di dunia ini hanyalah Assalamualaikum.

Lupakah tuan bahwa kita hidup di negeri kepulauan, archipelago, nusa di antara samudera, yang kita sebut dengan Indonesia? Lupakah tuan bahwa perekat bangsa ini adalah Pancasila? Lupakah tuan kita dapat hidup rukun karena dan kesadaran kita atas kebhinnekaan?

Sampurasun, jika tak salah menafsirkan adalah salam yang sakral dan sudah ada di tanah Sunda sejak ribuan tahun lampau, bahkan sebelum agama agama kitab datang ke negeri ini. Salam dengan makna yang sangat Universal dan Spiritual. Sampurasun, sampurna ruh ingsun. Ada doa dalam salam yang otentik itu.

Salam nan indah dan menggetarkan kalbu, salam budaya sekaligus salam spiritual bagi orang Sunda. Doa bagi kita semua. Mohon dikoreksi jika saya  salah akang, teteh, ambu, abah, Aa. (Baca: Tanya Bidan Bidan yang Melahirkan Yesus, Bib Rizieq Dipolisikan)

Maklum, bisa saja ada tafsir yang lain, meski saya juga berdarah Sunda seperempat, selebihnya ada darah Inggris dan Batak. Namun, di atas semua itu, saya seratus persen Indonesia. Bangga menjadi bangsa yang majemuk, toleran dan berdarah campur aduk macam gado gado ini. 

Saya juga muslim, namun tak lantas membuat saya menjadi paling benar sendiri dan bisa semena-mena mengafirkan orang lain. Maka kita melihat bagaimana semesta membalas dengan cara yang ajaib. Jika sekarang sang penista budaya bangsa kemudian harus berhadapan dengan aparat penegak hukum untuk perkara lain di Bumi Sangkuriang, pastilah karena takdirnya demikian .

Berurusan dengan hukum merupakan hal yang sangat biasa. Karena bisa terjadi pada siapa saja. Namun saya sungguh percaya kebenaran tak bisa sembunyi lama, meski hukum dapat dibengkokkan dan massa dapat dikelabui, kata kata bisa dipelintir dengan hasad seperti Bela Islam, Campurracun atau Pancagila.

Pelintirlah sesuka hati tuan. Tapi mampukah tuan (dan kita semua), memelintir atau luput dari karma. Nenek moyang saya yang orang Inggris mengatakan, "What goes around comes around," kira kira terjemahannya, apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. 

Entahlah dalam bahasa lain, bagaimana bunyinya, mungkin ada yang bisa memberi koreksi dan  pencerahan? Dalam bahasa Arab, Sunda, Perancis, Jerman, Batak, Cina, adakah wisdom yang serupa?

Saya sempat merenung, apakah karena seseorang bersorban putih dan mengaku keturunan Rasul lantas ia tak pernah berbuat salah? Lantas ia boleh menghina siapa saja (termasuk Presiden) dan menista apa saja seenak jidat?

Adalah terang, seterang terangnya perkara bahwa niat dan ucapannya adalah penghinaan dan penistaan, yang tentu saja tak elok, karena telah  merobek dan melukai kebhinnekaan bangsa ini.

Meski salah sesalah salahnya, namun tak pernah kudengar sekalipun ia meminta maaf kepada siapapun, baik kepada Orang Sunda maupun orang Cina, atau kepada seluruh rakyat Indonesia yang mencintai Pancasila dan Budaya bangsa ini.

Entahlah. Bisa jadi sorban telah menjadi sihir di negeri ini, bahkan di Bumi Siliwangi, di mana penistaan ini pernah terjadi. Bagaimana mungkin kita sampai hati melupakan asal usul dan warisan karuhun nan luhur, terlepas dari apapun agama kita.

Kita berjaya karena budaya. Pancasila pun, warisan budaya bangsa. Maka cintailah dan hargailah. Semua agama sempurna bagi para pemeluknya. Semua budaya adalah luhur bagi pelakunya. Sampurasun! [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini