Minggu, 29 Januari 2017

Refleksi Harlah ke-91: NU Tak Cukup Dioperasikan dari Meja Kantor


Oleh M. Rikza Chamami

DutaIslam.Com - Tidak terasa, usia Nahdlatul Ulama (NU) memasuki 91 tahun menurut hitungan kalender miladiyah. Usia yang bukan lagi remaja atau dewasa. NU sudah tua dan benar-benar tua. Oleh sebab itu, gerakannya sudah mengalami dinamika yang beragam.

Catatan 2017 menunjukkan bahwa prestasi NU sebagai organisasi kemasyarakatan sudah luar biasa. Ini dibuktikan dengan makin bertambahnya jumlah Pimpinan Cabang Istimewa di Timur Tengah, Afrika dan Eropa. Jejaring NU ke luar negeri juga sudah tertata secara rapi.

Dari catatan data organisasi NU yang sudah resmi berdiri: 34 Pengurus Wilayah (tingkat Provinsi), 27 Pimpinan Cabang Istimewa (berada di luar negeri), 500 lebih Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) dan 32.000 lebih Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan).

Gerakan Islam Nusantara turut mengantarkan kekhasan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan ciri moderat. Diakui bahwa NU yang dulunya dikatakan tradisional dan konservatif, hari ini sudah tidak begitu saja dikatakan demikian.

Nyatanya NU mau dan terbuka mengejar ketertinggalan dengan melakukan moderasi dan modernisasi kelembagaan sesuai dengan visi ahlussunnah wal jama'ah annahdliyyah. Generasi muda NU dengan arahan para ulama pesantren sudah mulai menunjukkan arah gerakan pendidikan inklusif.

Kebesaran NU sebagai organisasi Islam ini seiring dengan mandat pendiriannya, yakni NU sebagai garda depan organisasi dakwah dan pendidikan bagi umat Islam Indonesia. Maka mengusung tema Islam Nusantara dalam Muktamar NU 33 di Jombang menjadi sangat tepat.

Suasana Indonesia sekarang sudah makin jelas sekali. Arus radikalisme dan wahabisme sudah mulai makin nyata menjadi gerakan taqiyyah (terselubung) dan mudzaharah (demonstrasi). Dua model gerakan itu sudah bisa dilihat dengan pola masing-masing.

Sejak NU berdiri lewat Komite Hijaz sudah jelas, bagaimana negosiasi para Kyai kepada Raja Saudi agar memberikan lima hal: kebebasan bermadzhab, mempertahankan situs bersejarah, membuat biaya haji terjangkau, menulis hukum yang berlaku di Hijaz dan menerima utusan ulama Indonesia dengan jawaban resmi Raja Saudi.

Lewat perjuangan itulah, ulama Nusantara kemudian mendirikan organisasi NU pada 31 Januari 1926. Arah tujuan NU menjadi semakin jelas hingga usianya ke-91 yaitu sebagai penerus perjuangan ulama ahlussunnah wal jama'ah.

Tugas berat yang dipikul NU hari ini adalah pada penguatan ideologi keagamaan dan kebangsaan. Dua program penguatan ideologi ini menjadi sangat penting dalam mempertahankan predikat NU sebagai organisasi terbesar Islam Nusantara ini.

Oleh sebab itu, 91 tahun usia NU mengantarkan bagaimana dibutuhkan langkah-langkah nyata dalam penguatan ideologi dimaksud agar kekhasan NU tidak hilang. Hal ini penting sekali, mengingat perkembangan pemikiran jam'iyyah dan jama'ah NU sudah mulai cepat akibat arus globalisasi.

Modal utama penguatan ideologi ini bertumpu pada kekuatan nasehat para Kyai di Syuriyah dan Musytasyar dengan mengawal dasar-dasar keNUan. Sedangkan Tanfidziyah melaksanakan perintah Kyai dan menyatu dengan jama'ah NU yang berada di kampung-kampung.

Kesan NU struktural dan kultural yang selama ini didengungkan tidak akan ada lagi sepanjang pengurus NU mau dan benar-benar rajin turun ke basis. NU bukan organisasi yang cukup dioperasikan dari meja kantor, tapi NU harus dekat dengan jama'ahnya. [dutaislam.com/ ab]

M. Rikza Chamami,
dosen UIN Walisongo dan Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini