Kamis, 05 Januari 2017

Mengapa Dakwah Nabi di Madinah Pendek Masanya Tapi Lebih Efektif?

dakwah nabi di makkah

Oleh Supriyono

DutaIslam.Com - Kemerdekaan dan kebebasan dalam menjalankan keyakinan dan keagamaan di Indonesia hari ini adalah bentuk nikmat Allah yang harus disyukuri dan terus dijaga. Di tengah banyaknya negara-negara Timur Tengah  yang notabenenya negara Islam, dewasa ini justru sedang carut marut dan penuh dengan teror.

Rasa aman yang dinikmati bangsa Indonesia ini, bukan datang dan ada secara tiba-tiba. Kemerdekaan dan Rasa aman hari ini diraih dengan kucuran keringat, tetesan darah, pengorbanan harta, harkat, martabat dan bahkan nyawa para pendahulu dan syuhada'. 

Kearifan yang penuh dengan kasih sayang, kebijakan yang dibalut dengan ketakwaan, kesantunan yang tumbuh dari keikhlasan, serta kecerdasan yang dilandasi keimanan telah ditunjukkan oleh Hadlratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari dengan ketinggian dan keluasan ilmunya dalam mempraktikkan ajaran Islam 'Ala Ahlis Sunnah Wal Jama'ah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Sejarah mencatat bagaimana fatwa "Resolusi Jihad NU" telah mampu mengobarkan semangat juang kaum santri bersama rakyat Indonesia, waktu itu dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru saja dicapai.

Mbah Hasyim dan segenap Ulama' Pendiri NU sangat paham betul bagaimana menempatkan dan memosisikan Aqidah, Syariat, dan Akhlak Islam dalam suatu "Format Bangsa" yang sangat tepat dan sangat ideal. 

Suatu format yang dapat menyandingkan antara agama dan negara dalam harmoni dan keridhoan Ilahi. Formulasi yang menjunjung tinggi keimanan-keislamanan (al-Aqidah al-Islamiyyah) sebagai sebuah bentuk landasan (al-Asasiyyah), sebagai sebuat sekaligus cara atau jalan (al-manhajiyyah), sekaligus sebagai puncak keridhoan (al-ghayatul mardhiyyah). (Baca: Ini Alasan Nabi Terakhir Diutus dari Bangsa Arab)

Sebuah formula yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai hak dan keyakinan orang lain, serta menerima perbedaan sebagai sebuah anugerah dari-nya dalam suasana perdamaian dan rasa aman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagaimanapun juga, rasa aman dan nyaman dalam menjalankan keimanan seseorang merupakan hal yang mutlak ada. Bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan keimanannya dengan baik jika tidak ada rasa aman atas dirinya, keluarga, lingkungan dan negaranya? Bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan agamanya dengan baik jika dia berada dalam wilayah konflik, penuh teror, chaos, penuh dengan suara peluru dan ledakan bom?

Kalau kita mau menyimak dan membandingkan, kenapa dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah yang relatif lebih pendek waktunya (kurang lebih 10 tahun) ternyata lebih massif dan sukses ketimbang pada waktu di Makkah meskipun dengan rentang waktu yang relatif lebih lama (kurang lebih 13 tahun)? Jawabannya karena salah satu penyebabnya adalah rasa aman dan faktor keamanan di Madinah lebih terjamin ketimbang pada saat beliau di Makkah.

Pelajaran penting tentang strategi dakwah juga dapat diambil dari sejarah Walisongo dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Sebagaimana contoh yang ditunjukkan Kanjeng Sunan Kudus Sayyid Ja'far Shodiq memberikan rasa aman tanpa harus menyinggung apalagi menyakiti perasaan dan hati masyarakat Hindu di Kudus, dengan cara melarang umat Islam Kudus agar tidak menyembelih sapi yang nyata-nyata "halalan thayyiba".

Makna dan substansi rasa aman dan faktor keamanan menjadi sangat penting dan disadari betul oleh Mbah Hasyim Asy'ari dan Ulama' pendiri Nahdlatul Ulama' dalam memilih, menentukan, serta merumuskan strategi dakwah Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sudah seharusnya dan sepatutnya kita warga nahdliyyin khususnya dan umat Islam serta warga negara Indonesia umumnya berterima kasih kepada Mbah Hasyim, Ulama' pendiri NU serta kepada para kiai-kiai atas jasa beliau-beliau dalam meletakkan keimanan dan keislaman dalam bingkai rasa aman yang kita nikmati hari ini.

Sudah barang tentu, keimanan dan keislaman yang tumbuh subur dari rasa aman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dijaga dan dilestarikan untuk diwariskan kepada generasi yang akan datang. Hal ini menjadi tantangan yang sangat berat dewasa ini mengingat banyak kelompok dan banyak pihak yang berkepentingan untuk menghancurkan NU dengan pelbagai cara yang ada.

Dengan menjaga NU berarti sama halnya kita menjaga keimanan dan keislaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga NKRI menjadi "baldatun thoyyibatun warobbun ghofur". [dutaislam.com/ ab]

Supriyono, dosen STAIN Kudus dan Wakil Sekretaris 
PC GP Ansor Kabupaten Kudus











Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini