Minggu, 01 Januari 2017

Mbah Umar Mangkuyudan Nyunati Santri Mata Sipit

Mbah Umar Mangkuyudan Surakarta
DutaIslam.Com - Salah satu yang menonjol dari akhlak KH Ahmad Umar Abdul Manan atau dikenal dengan Mbah Umar Mangkuyudan (Surakarta) adalah senang menghormati tamu. Beliau tak pandang bulu dalam ikromudh dhuyuf (memmuliakan para tamu). Bahkan terhadap non muslim sekalipun, Mbah Umar tetap nampak senang gupuh nyuguh (tak repot menyuguhi).

Pak Mughizi adalah petugas listrik di wilayah Laweyan dan sekitarnya. Otomatis ia sering bertandang ke Pondok Al Muayyad untuk mengukur dan menagih bayaran listrik. Kebetulan beliau non muslim, keturunan Cina. Saat bertugas seringkali hanya memakai celana pendek dan tidak bisa berbahasa Jawa halus. Meski demikian, Mbah Umar menghormatinya, tanpa membedakan latar belakang yang ada. (Baca: Pengagum Jenggot Tanggung Mengkritik Kiai Kampung)

Mbah Umar selalu dengan senang hati mengajak Pak Mughizi berbincang ringan. Untuk menjaga perasaannya, Mbah Umar menghindari pembicaraan ihwal agama. Sama sekali tidak pernah diajak masuk islam, hanya obrolan ringan mengenai keluarga, pekerjaan dan semacamnya.

Entah bagaimana ceritanya (mungkin kepencut akhlak Mbah Umar), alhamdulillah Pak Mughizi mendapat hidayah masuk Islam. Semua menyambut dengan suka cita. Saat beliau khitan, keluarga PP Al Muayyad lah yang mandegani (mengurus), mernah-mernahke (memberi arahan) dalam hajat bersejarah dalam hidup Pak Mughizi itu.

Mengingat di keluarga besarnya tidak ada yang khitan, atas arahan Mbah Umar, Pak Mughizi dirawat hingga sembuh di kamar 4 Al-Muayyad (bangunan lama). Tujuannya biar ia tidak repot dan bingung menghadapi keluarga.

Pak Mughizi akhirnya juga menjadi santri bermata sipit. Ceritanya, ketika Mbah Umar sudah wafat . Pak Mughizi pernah bermimpi bertemu dengan Mbah Umar memerintahkannya agar segera berangkat haji. Pak mughizi bergegas segera daftar haji dan matur kepada Mbah Ti (Hj. Shofiyah Umar)

"Aku meh mangkat kaji, Pak Kiai Umar sing dawuhi, njaluk dungane," kata Pak Mughizi.

"Alhamdulillah, nek tahun iki berarti bareng anakku," jawab Mbah Ti.

"Masya Allah, alhamdulillah. Pak Kiai Umar iki wis sedo tapi kok yo isih mikirke, mernah-mernahke aku, alhamdulillah.... alhamdulillah".

Fakta yang ada, Kiai Umar wafat pada 24 Juni 1980 di usia 64 tahun. Sedangkan Pak Mughizi berangkat haji pada tahun 1988. Inilah bentuk persaudaraan dunia akhirat. Berawal dari pegawai listrik hingga terpesona akhlak, masuk Islam dan diminta berangkat haji bersama keluarga walau sudah beda alam. Al fatihah. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini