Rabu, 04 Januari 2017

Konflik Politik: Dulu Musuhan Dengan Partai Itu, Sejak Ada Ini, Kok Ganti Lawan


Oleh Ichwan DS

DutaIslam.Com - Sewaktu kecil sekolah di SD, saya tiap hari berangkat dan pulang jalan kaki, bersama teman-teman maupun sendiri. Berbeda dengan pelajaran yang banyak telah lupa, saya masih ingat banyak peristiwa yang saya lihat ketika berjalan menuju dan dari sekolah tersebut. Di antara yang saya sangat ingat adalah peristiwa politik: Pemilu. 

Saya titeni, setiap menjelang Pemilu, ada satu regu tentara Angkatan Darat didatangkan. Karena desa saya ada di pusat kecamatan, maka di desa saya itulah regu tentara ditempatkan. Biasanya diinapkan di rumah kedua milik Kepala Desa yang terletak persis di depan tanah pekarangan milik Bapak saya. Yaitu di rumah yang pernah jadi kantor Pos, dan sekarang ditinggali Sekretaris Desa Sedan. 

Setiap pagi, para tentara itu dibariskan di lapangan yang berada persis di belakang SD saya. Mereka disuruh lari pagi, bernyanyi  dengan nada sorak. Senam pagi mereka sambil mengangkat senapan laras panjang. Dari atributnya saya tahu, mereka dari Batalion Infantri Alugoro yang bermarkas di Blora, Jawa Tengah. 

Saya dan teman-teman melihat langsung bagaimana “ngerinya” tentara  menggladi jasmaninya. Komandan regu tampak sering membentak. Wajah-wajah tentara itu juga tampak garang, membuat kami sangat takut tak berani mendekat apalagi bermain bersama tentara. Minimal saya sendiri takut, namun saya berani menonton (melihat seksama) aksi para tentara ketika berbaris itu. Karena memang pemandangan langka di desa. 

Di luar urusan senam dan berbaris, ternyata regu tentara itu diberi tugas untuk menjaga stabilitas politik agar Pemilu lancar dan tidak ada masalah, begitu penjelasan yang saya terima dari sedulur saya yang jadi perangkat desa. Saya tidak mengerti apa itu stabilitas, namun yang saya lihat adalah para serdadu itu sangat rajin berpatroli. 

Siang hari apalagi malam, mereka seperti tak pernah tidur mengitari seisi desa se-kecamatan Sedan untuk menjalankan tugas pengamanan atau pengawasan itu. Setiap ada orang berkerumun sebanyak lima orang atau lebih, di pasar atau di rondan (gardu ronda-tepatnya gubuk sederhana terbuat dari bambu atau kayu), para tentara itu langsung mendatanginya. Mereka meminta agar orang-orang bubar dan pulang ke rumah. Tidak boleh berkumpul sebanyak lima orang atau lebih. Meski Cuma rokok-rokokan dan mengobrol soal pertanian. (Baca: Waspada Skenario Benturan Islam-Kristen di Pilkada Jakarta)

Saya lihat para tentara itu rajin sekali mendatangi setiap perkumpulan orang. Merekam setiap ada pengajian, membuat kelompok ronda untuk meminta bantuan masyarakat mengawasi lingkungannya. Polisi yang ada di Polsek juga turut diajak berpatroli dan menggerakkan apa yang disebut sistem keamanan lingkungan (siskamling). 

Saya yang sering tidur di langgar (kebiasaan di desa saya, jika anak lelaki sudah sunat alias khitan, tidak lagi tidur bareng orang tua), pernah beberapa kali ikut ronda malam hari karena diajak orang-orang dewasa. Jadi, saya tahu persis betapa mencekamnya suasana menjelang Pemilu, tentara mengawasi begitu ketatnya. 

Dari pembicaraan bapak-bapak tentara dan tim ronda, saya mendengar tentang operasi penggalangan kekuatan untuk kemenangan Golkar. Semua pegawai negeri sudah pasti wajib Golkar, tinggal para kepala desa dan perangkatnya yang hendak dipengaruhi. 

Pendataannya sangat bagus, dicatat rapi oleh Pak Tentara. Saat itu memang ada aturan Dwi Fungsi ABRI, jadi tentara selain bertugas menjaga pertahanan dan keamanan negara, juga menjadi pembina politik dengan tugas khusus memenangkan Golkar. Agar pembangunan lancar dan stabil, maka negara harus dikuasai Golkar, begitu kampanye yang saya dengar. 

Saya tahu, sejak orde baru berdiri, Golkar tidak pernah menang di kecamatan saya. Hanya menang di beberapa desa yang kepala desanya memang Pro Golkar secara sadar (bukan karena ketakutan). Maka Golkar menggunakan segala cara untuk menang. Saya tidak mengerti apakah itu buruk atau tidak, waktu itu. Wong memang Cuma bocah SD. Yang saya tahu, politik waktu itu penuh ketegangan. 

Ketika kampanye Golkar digelar di lapangan, para jurkamnya berpidato begitu hebohnya. Didatangkan pula seorang kyai dari kota untuk mempengaruhi warga kecamatan saya yang 100% beragama Islam. Karena jelas kecamatan saya terkenal sebagai daerah santri, maka Golkar membagikan Al-Qur’an dan Turutan (mushaf juz amma) kepada warga. Saya ikut kebagian dua mushaf tersebut dengan mengambil di kantor Kepala Desa. Tentu saja ada warna kuning dan logo Golkarnya, namun di dover tambahan. Bukan cover tercetak yang permanen. 

Di desa saya, kampanyenya masih damai, dengan teknik pendekatan keagamaan begitu, tapi di desa lain, saya dengar ada kekerasan. Ada sedulur saya seorang warga desa Sambiroto, dipukuli tentara karena terang-terangan memamerkan gambar PPP di depan kerumunan tentara yang sedang patroli. 

Sedulur saya, secara berombongan, bahkan dikeroyok dengan senjata tajam kala mengikuti kampanye PPP dan melewati desa Menoro. Untunglah, Gusti Allah masih melindungi para sedulur saya sehingga selamat dari bacokan kepala Desa Sambiroto dan anak buahnya. Hanya saja, sepeda motor mereka hancur kecuali sepeda motornya Kak Imdad. 

Meski aksi politik Golkar begitu kerasnya, nyatanya tetap tak pernah menang di kecamatan Sedan. PPP yang diidentifikasi sebagai partai Islam, selalu menang, meski, tak pernah boleh punya bupati atau wakil bupati. Maksimal hanya anggota dewan dengan kursi sedikit yang tidak kuat suaranya di gedung DPRD Kabupaten. 

Dengan aksi kekerasan yang begitu ganas oleh Golkar, saya waktu itu menduga, para akvitis PPP akan dendam kepada partai berlambang pohon Beringin tersebut. Minimal mendoakan buruk.
Ternyata dugaan saya salah. Kala reformasi terjadi, demokrasi sudah tidak terkungkung lagi, orang bebas mendirikan partai, orang-orang PPP tidak menggunakan kesempatan untuk menghabisi Golkar, baik dengan cara halus atau kasar, malah energi kemarahan itu ditumpahkan kepada PKB. 

Sungguh sulit masuk nalar saya kala itu, ketika dengan nyata saya lihat sendiri bagaimana begitu kejamnya orang PPP membuat ujaran kebencian kepada Gus Dur dan PKB. Dibilang PKB itu Partai Komunis Baru, Gus Dur itu si buta dari goa hantu, dan sebagainya. Sama sekali tidak saya dengar hujatan kepada Golkar yang jelas-jelas selama 32 tahun mendholimi PPP. 

Bahkan saat Gus Dur difitnah dan dijatuhkan oleh Amien Rais dkk, PPP termasuk yang paling getol menebar fitnah itu dan baru reda hujatannya kepada Gus Dur setelah Ketum PPP, Hamzah Haz, jadi wakil presiden. 

Saking bencinya PPP sama PKB, ada banyak kejadian memilukan di desa saya. Sedulur saya yang dulu pernah dibacoki orang Golkar, kini diancam bunuh juga oleh orang PPP karena beliau ngugemi dhawuh gurunya untuk menjadi pengurus PKB. Lalu, teman saya yang mondok di sebuah pesantren di desa saya, dicaci maki lalu disobek-sobek kaosnya karena yang dia pakai kaos bergambar PKB. 

Saya sampai sekarang tidak berani bertanya mengapa dulu PPP begitu memusuhi PKB seperti seolah musuh kafir yang harus dimusnahkan. Padahal sesama muslim dan sama-sama satu perjuangan ketika ditindas Golkar. Sedulur-sedulur saya juga tidak berani bertanya. Kawan-kawan saya juga tidak berani bertanya. Kami semua memilih diam saja dan berdoa semoga anak-anak kami tidak mengalami kejadian begitu rupa. [dutaislam.com/ ab]

Keterangan:
Status ini bukan untuk menguak luka lama atau bermaksud lain, hanya muhasabah setelah dinasehati sedulur saya yang pernah jadi korban itu. Beliau ngendika: tetaplah berjuang tanpa pamrih, Gusti Allah yang akan membalasnya.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini