Sabtu, 28 Januari 2017

Kisah Santri Mbeling yang Marah Ketika Dinasehati Kiai, "Ojo Turunan, Ojo Dadi Abdul Buthun"


Oleh Syamsul Ma'arif

DutaIslam.Com - Pagi itu, mbah kiai kelihatan marah berat. Tak sedikitpun terlontar kata-kata bijak dari mulut yang sering kelihatan basah karena selalu digunakan dzikir seperti biasanya. Apalagi pengajian pun diliburkan. Diam tak berkata-kata. Seribu bahasa.

Pesantren hening, sepi dan mencekam. Akhirnya, santri senior mencoba memberanikan diri bertanya. Apa penyebab kemarahan sang kiai. "Assalamualaikum, nyuwun sewu abah, wonten nopo, Bah sebetulnya?"

Begitu santri senior bertanya, ia berkata sedikit karena khawatir kalau menambah kemarahan kiai. Panggilan abah, sering digunakan untuk memanggil kiai, sebab sejatinya kiai adalah pengganti orang tua (abah). Jadi ada orang tua biologis (ayah kandung) dan orang tua spiritual (kiai).

Ternyata, pendek cerita, kiai akhirnya menceritakan pada santri senior tersebut tentang faktor yang menyebabkan diamnya beliau, tidak bicara. (Baca: Kisah Santri Nakal yang Jadi Kiai Besar)

Alkisah, kata kiai, setelah pengajian habis Subuh waktu itu, ada seorang santri yang menulis di kertas kitab. Intinya tulisan santri tersebut adalah kalau ia terluka akibat kata-kata kiai yang selalu menganjurkan santri-santrinya jadi anak rajin dan jangan malas. "Ojo turunan, iso dadi abdun naum (budak tidur)", hanya itu.  "Ojo manganan (banyak makan), iso dadi abdul buthun (budak perut)", demikian kata kiai yang dianggap sang santri menyakitkan.

Merasa sakit hati, santri beling tersebut menulis komentar di kertas kitab begini, "dadi kiai enak, tinggal perintah, nyindar-nyindir, asem tenan! Mbah yai, apa nggak tahu, aku ini anak siapa?"

Santri itu memang anak seorang konglomerat. Kehidupannya di pesantren tentu sangat beda dengan anak orang kaya yang hidup mewah. Di pondok, santri makan seadanya, dengan tahu, tempe, terong, blenyik dan bahkan harus nyambil sendiri.

"Ketika mau jamaah, saya membaca catatan penuh nada marah dari santri tersebut. Saya sakit hati dan penuh penyesalan. Betapa tidak, saya hanya memberikan nasihat, tidak berniat nyindir atau melukai. Ternyata ini ada seorang yang tersakiti, akibat kata-kata saya. Saya akan puasa bicara," demikian kata kiai kepada santri senior yang sowan tadi.

Mendengar kiai akan puasa biacara, santri senior menangis, "ampun Abah, diamnya Abah adalah padamnya nur ilmu bagi kami para santri. Sungguh, jikalau Abah takut menyakiti santri itu dan tidak memberikan nasihat bagi kami, abah juga akan menyakiti santri lain yang ikhlas mendengarkan apapun dawuh Abah. Kami di sini butuh wejangan-wejangan Abah. Meskipun kadang sakit, tapi kami mencintai karena itu demi kebaikan kehidupan santri," terang santri senior sambil terus terisak.

"Abah, saya mewakili santri mohon dengan sangat. Maafkan, tindakan santri yang telah melukai hati abah. Saya berjanji, akan mensiasatinya, agar dia mengerti," begitu permohonan santri senior.

Alhamdulillah, atas ijin Allah, akhirnya santri beling tersebut malah jadi sadar dan senantiasa mendengar nasihat-nasihat sang kiai. Meskipun terkadang menyakitkan, ia senantiasa melakukan dan terus lakukan apa yang dikatakan kiai, sampai tak terasa mengantarkan kesuksesannya menjadi santri teladan dan sukses dalam mengarungi kehidupan.

Sekarang santri tersebut justru selalu merindukan nasihat dari kiainya yang telah wafat itu, Abah. Sungguh, nasihat penuh wejangan dan kearifan yang masih bermanfaat di tengah gelombang modernitas tanpa batas ini. Semoga bermanfaat! [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini