Jumat, 27 Januari 2017

Karomah Kiai Nawawi Banten: Melihat Kakbah dari Jakarta Untuk Meluruskan Kiblat

cerita kiai nawawi banten dan foto asli

DutaIslam.Com - Habib Usman ibn Aqil ibn Yahya al Alawi, Jati, Petamboran Jakarta, konon dulu pernah membangun Masjid Jamik di Pekojan Jakarta Kota. Karena yang dibangun adalah masjid, maka Habib Usman sekaligus merasa perlu melakukan menyesuaikan arah kiblat masjid. 

Di hari yang berbeda, Syaikh (baca: Kiai) Nawawi al-Bantani melintasi masjid tersebut, yang telah sempurna. Tapi, dalam benaknya ada pikiran bahwa masjid ini bermasalah. Padahal secara fisik masjid Jamik yang dibangun Habib Usman sudah selesai. Kiai Nawawi, yang masih remaja umur 15 tahun, yakin betul bahwa letak arah kiblat masjid kurang pas, salah arah.

Sungguh, kejadian ini mendorong terjadi perdebatan panjang antara kiai dan habib tersebut. Pastinya, Habib Usman tidak sepakat dengan pendapat Kiai Nawawi, apalagi Masjid Jamik sudah tuntas bangunannya. Akhirnya, Sang kiai mendekat ke habib sambil menarik lengannya agar lebi bisa merapat. 

Kiai Nawawi berkata, "lihat nan jauh disana ya Habib Usman," sambil menunjukkan jarinya ke arah ka'bah. Atas ijin Allah, ternyata Ka'bah kelihatan secara fisik. Habib Usman pun melihatnya tanpa menggunakan alat. Inilah karomah Syeikh Nawawi al-Bantani. 

Tanpa berpikir panjang, Habib Usman meyakini kebenaran pendapat Kiai Nawawi, apalagi dirinya juga melihat secara fisik posisi Ka'bah yang lebih pas. Seketika itu, Habib Usman langsung merebut tangan Kiai Nawawi, menciumnya. Karena gerakan tangan sudah terbaca lebih awal, dengan cepat Kiai Nawawi langsung menarik tangannya hingga Habib Usman tidak dapat mencium. Terjadilah dialog antar keduanya: 

Dengan tawadlu', Habib Usman bertanya, "mengapa anda menolak kucium tanganmu sebagai pertanda hormat atas ketinggian ilmumu, sekaligus tanda anda layak sebagai predikat pewaris para Nabi (warastatul anbiya')?". 

"Memang aku di beri kelebihan oleh Allah SWT -sekaligus anugerahNya-, bisa melihat Ka'bah dari jarak jauh secara fisik. Tapi, jangan dilupakan habib, antum lebih mulia dibanding aku, sebab antum masih bagian dari dzurriyatun Nabi/ keturunan Nabi. Mestinya, saya yang lebih berhak mencium tangan Habib Usman, ya sekaligus hormat pada turunan dan cucu cucu Nabi Muhammad SAW," timpak Kiai Nawawi Banten. 

Setelah dialog selesai, Sang Habib tidak mau kalah, akhirnya ia merangkul sampil memeluk Kiai Nawawi al-Bantani dengan keras sehingga tidak bisa bergerak, apalagi secara fisik badan Habib Usman lebih besar. Dalam kondisi ini, Sang Habib lantas mencium kening Kiai Nawawi berkali kali. Singkat cerita, keduanya akhirnya terharu dan menangis.

Sikap tawadhu' kedua tokoh ini layak direnungkan dan menjadi teladan bersama, teladan mengakui kelebihan masing-masing, tanpa ada perasaan di antara berdua, ada yang terbaik (baik sisi nasab maupun keilmuan). [dutaislam.com/ ab]

Keterangan: 
Cerita di atas diambil dadri Buku "Sejarah Pujangga Islam: Syaikh Nawawi al-Bantani," karya Sayyid Chaidar

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini