Selasa, 17 Januari 2017

Innalillah, Inilah Efek Imam Besar Nurut Semua Skenario Dalang Aksi Jumat Itu


Oleh KH. Syarif Rahmat

DutaIslam.Com - Aku bersumpah demi Allah tidak pernah mengikuti pesanan TV mana pun karena aku sadari aku akan mati dan menghadap Allah seorang diri. Kukatakan kepada temanku yang baik-baik dan saleh itu: Biarkan aku menjadi karyawan Tuhanku. 

Dan aku tidak akan pernah terbawa opini siapa pun. Aku ada di MUI sebagai yang terkecil. Tetapi keinginanku untuk ngawulo ing Gustiku, membuatku tak melihat ada sindiran dan cibiran di kiri dan kananku. Aku dicela saat komentar Missworld. 

Tahukah mereka kalau semua kutempuh bersama ketua umumnya? Dan lihat bagaimana setelah berakhir semuanya. Satu ormas mengirimi tulisan berikut gambar (maaf) parno salah satu ajang Missworld yang pernah ada. Padahal justru dari mereka aku tahu itu. Aku bertanya dalam hati: "Berapa banyak ia copy gambar itu dan siapa saja yang dipaksa melihatnya"? Innalillahi. (Baca: Dukung Berdirinya Partai FPI)

Kini aku dicela karena tidak ikut ramai-ramai turun ke jalan pada sebuah gerakan dan alhamdulillah mendapat gelar macam-macam dari saudara-saudaraku tercinta para "mujahid" yang tulus itu. Padahal mereka tak pernah tahu apa yang ada di hatiku dan -apa lagi- langkah kaki dan goresan tanganku. 

Padahal aku sungguh-sungguh takut kepada Allah jika salah memahami ucapan orang, lalu salah mengambil tindakan. Keadilan harus ditegakkan meski keluarga dan diri harus dikorbankan.
Aku pun datang ke kantor para "ulama" itu, tepat satu hari sebelum Jum'at pertama, langsung dari Tarakan, tidak pulang ke rumah. 

Aku jadi cemas ketika ada nama-nama orang yang kukenal kurang cinta saudaraku NU, tertulis di daun pintu. Astaghfirullah, bukankah si anu, si anu dan si anu adalah begini dan begitu? Ternyata mereka keesokan hari benar-benar menjadi jamaah shaf pertama (untuk tidak mengatakan imamnya, karena semua orang termasuk seorang yang disebut imam besar organisasi, nurut semua skenarionya).

Harapanku satu-satunya adalah anak-anak NU. Tapi apalah. Selain sebagian sudah terlanjur masuk barisan Jum'at, mereka sudah kehilangan rasa hormat kepada para kiai. Tetapi setiap berita, cerita dan postinga dari orang-orang anti NU dianggap dawuh yang wajib di-estoake (didengarkan baik-baik). Sekali lagi, innalillahi.

Gus Mus pun akhirnya dicela, Mbah Maemun dicela, Kang Sa'id juga dicela, Gus Nur Muhammad pula. Adakah mereka akan dibandingkan dengan "ulama" versi media? Kalla wallah kalla, bagiku, itu saru, mbajug, su'ul adab. Bukan ajaran NU.

Tapi ya sudah. Aku harus berhenti berharap kecuali kepada hatiku agar tetap semangat mengikuti ujian calon "karyawan" Tuhan. Wallahul Muwaffiq [dutaislam.com/ ab]

KH. Syarif Rahmat, pengasuh Pesantren Ummul Qura Pondok Cabe Tangerang Selatan 
dan pengasuh Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padepokan Padasuka)

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini