Senin, 02 Januari 2017

Indonesia: Minat Baca 0,001 Persen, Tapi Netizen 85 Juta. Hasilnya, Overdosis Hoax


DutaIslam.Com - Sungguh memprihatinkan, minat baca bangsa kita ada di urutan ke 60 dari total 61 negara yang diteliti dalam kultur literasinya. Data Unesco (2012) menyebutkan, minat baca kita di angka 0,001 persen, hanya setingkat di atas Botswana. Mengerikan. Baca sumbernya, DISINI.

Anehnya, kini, 85 juta penduduknya sudah paham apa itu internet. Artinya, hampir separo penduduk Nusantara ini memiliki fasilitas akses internet. Asal tahu saja, negara kita ini adalah konsumen smarthone paling terbanyak nomor lima di dunia. Masyaallah konsumerisnya kita.

Minat baca di urutan buncit, tapi melek hape di urutan manis. Kontradiktif tapi itu nyata. Darimana mereka tahu sebuah informasi di dunia maya itu bukan hoax jika minat bacanya innalillah. Punya data, info baru diterima, langsung share. Itulah kultur Indonesia. (Baca: Difitnah Makelar Tanah, Ini Bantahan Kiai Said Langsung)

Secara parodik, orang menyebut kalau sumber utama netizen sekarang bukan lagi buku atau referensi terpercaya, tapi grup sebelah. Haha. Budaya main share info yang sangat agresif itu terbukti dari pernyataan Karlina Supelli.

Dalam sebuah pidato kebudayaan di Jakarta, Karlina pernah menyebut kalau Indonesia adalah negara paling cerewet nomor 5 di dunia. Jakarta disebutnya sebagai kota nomor wahid paling berisik dunia. Bayangkan, di Jakarta sono, ada 15 tweet per detik. Berarti, dalam sejam ada 54 ribu tweet yang dilempar pemilik smarphone yang nol baca itu.  

Tanpa membaca, tapi supercerewet, jadinya apa tidak superdungu? Hoax yang dibikin satu orang, bisa tersebar dengan mudah di tangan netizen yang supercerewet tapi nol baca itu, alias dungu. Satu orang, bisa menggoyang 3 juta, sangat mungkin terjadi. Kita akhirnya jadi kelompok warga negara yang overdosis hoax.

Seorang doktor di Malang, mengaku kepada Dutaislam.com kalau 32 persen mahahsiswanya ternyata suka berita yang bersumber dari media yang masyhur dengan fitnahnya, macam nahimunkar.com, bangsaonline.com, portalpiyungan.co, islampos.com dan lainnya.

Itu sekelas  mahasiswa. Bagaimana jika yang tidak punya akses penndidikan baik? Caci maki akan mudah diumbar kemana-mana. Berita Suriah yang penuh kemuflase dipercaya sebagai iman. Berbeda pandangan sedikit langsung berani mnghina kiai, orangtua, bahkan presiden. Dengan mudahnya teriak kafir, musyrik, munafik, yahudi, thaghut, tanpa mau klarifikaksi dan mencari sumber informasi sebenarnya.

Gagah di dunia maya, tapi sebenarnya dia gagal di dunia nyata. Itulah kelompok sumbu pendek. Manusia-manusia buih yang sengaja dipelihara kelompok radikal untuk mengacaukan dan membuyarkan persatuan, mengoyak kerukunan antar umat dan warga negara Indonesia. Sampai kapan? [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini