Minggu, 29 Januari 2017

Habib Luthfi: Jika Anda Hidup di Zaman Walisongo, Tidak Benci Wali Saja Sudah Bejo


DutaIslam.Com - Ketika Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan mauidhah hasanah kepada ribuan jamaah dalam acara pengajian di Masjid Wali, Troso, Pecangaan, Jepara (Jumat malam, 14/01/2017), muncul ajakan untuk tidak mudah dipecah belah antar sesama umat Islam Indonesia.

"Jangan memberikan seujung rambut pun kepada yang mencoba memecah belah umat Islam di negeri ini. Ayo dijaga bareng-bareng. Ayo, jangan mudah disms (nyetatus di medsos, red), terus langsung ditanggapi, ribuut terus," ujar Abah Luthfi dalam bahasa Jawa kromo.

Habib Luthfi prihatin atas fenomena umat Islam sekarang yang mudah disulut untuk membenci, bahkan kepada pemangku kebijakan di negeri ini, "kalau bangsa sudah tidak menerima pimpinannya, maka orang yang ingin menjajah akan mudah masuk lagi ke negeri ini, apa jenengan ingin Belanda masuk lagi?" tanya beliau.

Untuk mengajak bersyukur hidup di negeri ini, Habib Luthfi mengungkapkan perbandingan antara zaman digital dengan zaman ketika para Walisongo berjuang di bumi Nusantara ini. Umat Islam yang hidup di masa demokrasi dan kesejahteraan yang sekarang berlimpah, kata beliau, lebih beruntung dan mestinya lebih bisa bersyukur.

Masjid Wali di Troso, tempat Habib Luthfi ceramah, dijadikan contoh dakwah Walisongo yang tantangannya lebih berat. Masjid peninggalan Mbah Datuk Singorojo tersebut adalah bukti sejarah yang harus dimaknai sebagai bentuk ijitihad wali (ulama) yang penuh kesabaran dan keuletan.

Kata Habib Luthfi, jarang sekali orang sekarang yang berpikir tentang sejarah awal mula didirikannya sebuah bangunan bersejarah hingga hilang kesadararannya untuk menghormati perjuangan para leluhur, "mikirnya orang sekarang, masjid ini dibangun menggunakan gergaji besar dan mesin-mesin canggih, padahal dulu membangunnya menggunakan kampak sederhana, kayu dipotong pakai alat sederhana, digotong banyak orang, yang cukup makan waktu," jelas Habib.

Orang tidak membayangkan sulitnya masa perjuangan para Walisongo, termasuk masjid Wali di Troso itu, karena terkadang, lanjut Habib, masjid yang dibangun itu belum jadi, tapi listrik di lingkungan sudah hidup. Artinya, banyak orang yang hidup di zaman sekarang ini tidak dekat dengan teks dan konteks sejarah masa lampau. Ada keterputusan ingatan di tengah hadirnya kemudahan mengakses sumber ekonomi dan teknologi.

"Untung jenengan tidak menangi Walisongo. Jaman itu, saya bayangkan, ora lanang ora wadon, -pakaian masih terbatas, tekstil masih tebatas,- dari atas ke bawah sudah rapet (berbusana, red) saja itu sangat sulit, saking terbatasnya. Hingga ada orang Cina-orang Arab membawa dagangan kain, kita baru bisa membeli. Mungkin yang kaya bisa beli kemben itu sudah bagus. Kalau yang tidak punya, bagaimana? Itulah yang dihadapi ulama kita zaman itu," papar Habib.

Itu belum menghadapai umat, yang, untuk bersuci saja masih harus diajari detail. Hingga dibuatlah tembang Lir- ilir, Parijotho, Pangkur dan lainnya agar ajaran Islam mudah ditangkap isinya oleh orang Jawa waktu itu, "awake dewe gak telaten, pengene Islam mawon," imbuhnya.

Para Walisongo ketika itu menggunakan media dakwah berupa wayang, misalnya Sunan Kalijogo, "wes wali, ndalang, pakai sinden, zaman semono," terang Habib Luthfi, "kalau jenengan menangi zaman Sunan Kalijogo, ora gething wes bejo. Wali opo iku, kok ndalang, wali opo iku kok main orgen, wali opo iku kok jagongan karo wadon-wadon, kabeh diukur karo awake dewe," lanjut beliau.

Kini, kita bisa melihat banyaknya orang yang rajin menyalahkan dan hendak menghancurkan warisan leluhur, bahkan mengingkari ajarannya, hanya karena ia tidak paham konteks sejarah. Jika umat Islam Indonesia yang sekarang ini hidup lalu mengalami sebagaimana zaman Walisongo berjuang, "ora ingkar mawon mpun bejo," kata Abah Luthfi. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini