Minggu, 29 Januari 2017

Gus Dur, Apa Tidak Ada yang Ingin Mempertemukan KH Said Aqil Siraj dengan Habib Rizieq?


DutaIslam.Com - Surat publik ini ditujukan kepada Gus Dur di alam baka, tapi soal yang diadukan adalah tentang manusia-manusia yang rapuh namun merasa kuat iman di alam nyata. Penulis merindukan Gus Dur, terutama merindukan beliau bisa mempertemukan antara Habib Rizieq dan elemen utama NU yang dibuat elite politik yang menginginkan negeri ini terus gaduh tanpa henti. 

Gus Dur,
Kini saya tahu mengapa dulu engkau suka bergelantungan di bis kota, bahwa di jalanan banyak hal tentang kehidupan, tentang betapa berharganya uang 500 rupiah, tentang manusia yang tidak seberuntung kita, atau tentang hidup singkat yang naif dengan cita-cita.

Gus,
Memandang mereka mengingatkan saya pada diri engkau. Mereka yang terlahir sejak kecil terbuang di jalanan, mengais koin sisa untuk makan, dan saat dewasa kadang menjadi pecandu, pencopet dan menjual diri di pinggir kali. Kehidupan yang tidak seberuntung kaum suci beriman.

Gus,
Saya melihat di tengah larut malam ini anak kecil yang memegang gitar kecil bersuara usang, sendiri menunggu bis di trotoar. Sedang temannya menari bergelantungan dengan jualan remeh temeh dengan penuh sayu mengais rezeki Tuhan.

Gus,
Memandang itu saya jadi merindukan engkau! Benar-benar merindu, entah mengapa ingatan saya tertuju pada engkau. Hingga sok-sok an saya haru biru. Karena saya membaca engkau adalah orang yang sangat peduli dengan mereka, mengayomi dengan penuh dekap kasih. Hingga kala engkau pergi abadi, manusia yang sering disebut hina itu juga turut menangis meratapi.

Gus,
Engkau ini ulama model apa kok manusia jalanan itu menangisi kematian engkau? Harusnya mereka bersuka cita karena pengganggu kehidupannya telah tiada.

Gus,
Engkau ini ulama, harusnya bergumul hanya dengan orang suci yang sejak kecil hidup beruntung disekolahkan bahkan dipondokkan, setelah dewasa pun ikut majelis pengajian. Mengapa engkau mengasihi dan tidak melaknati orang tak beruntung itu yang kerap di-stempel hina?

Gus,
Engkau seorang kyai, mengapa masih gayeng dengan orang yang tidak sholat bahkan maksiat, bukankah kesucian itu harus menghardik kemaksiatan, apakah engkau buta mata hati seperti kata manusia suci itu?

Gus,
Siapakah yang engkau tiru sebenarnya? Apakah engkau meniru idolamu yang suka menyuapi Yahudi buta pencacinya, yang menggendong pulang anak yatim papa di hari raya, manusia agung yang membesuk orang yang telah melemparinya dengan kotoran?

Gus,
Kalau dicaci maki mbok jangan diam saja, saya gerah mendengar ocehan kaum suci, yang melokalisir surga hanya di majelis langitnya saja. Katakan padanya bahwa dalam sepi engkau menangis memohon keselamatan orang-orang yang papa, bahwa engkau meniru baginda Mustofa yang sangat kasih pada manusia dan sangat mengharapkan keselamatan bagi umatnya.

Gus,
Kini mereka mencoba untuk menghasut rakyat untuk melawan pemerintah, membenturkan ulama dengan ulama, mengadu domba habaib dengan habaib, memecah belah hubungan ulama dengan dengan habaib. Saat saya melihat kebijakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj dengan Habib Rizieq, maka saya pun teringat akan kisah Gus Miek dengan KH. Achmad Siddiq.

Pada awalnya, KH. Achmad Siddiq Jember adalah penentang utama dakwah Gus Miek. Sering saat dalam pidato di panggung KH Achmad Siddiq menyerang Gus Miek. Seorang Gus yang dakwahnya suka keluar masuk tempat perjudian dan pelacuran. Seorang Gus yang kalau di acara hajatan lebih sering berkumpul dengan tamu perempuan. Seorang Gus yang lebih identik dengan kemaksiatan.

Bermula dari pertemuan 4 mata selama 7 jam, sampai keluar ruangan dengan keringat yang grobyosan (bercucuran), perseteruan tersebut mulai mencair. Disusul dengan pertemuan-pertemun lainnya sampai keduanya begitu akrab. Hingga akhirnya KH Achmad Siddiq menjadi pendukung utama dalam menyebarkan Dzikrul Ghafilin (mengingatkan yang lupa, menyadarkan yang lalai).

Gus, apa anak negeri ini tidak ada yang menginginkan atau mencoba mempertemukan KH Said Aqil Siraj dan Habib Rizieq untuk bertemu 4 mata, paling lama 3 jaaam saja? 

Apakah lebih senang tenggelam dalam kenikmatan menjadi pendukung beliau-beliau agar bisa mencaci maki, merendahkan, mencari-cari kesalahan antar pendukung? 

Perlu diingat juga wahai saudara-saudara, di sana masih ada Salafi Wahabi, Rafidhoh, HTI, JAT, DDI, MMI, Persis, Ikhwanul Muslimin, yang tidak suka dengan Pancasila, serta siap mencaplok dan merongrong dari belakang guna memecah belah bangsa ini supaya terjadi perang saudra seperti yang terjadi di Timur Tengah. 

Mereka senang jika kita bermusuhan sesama aswaja. Sangat senang sekali! Sama-sama Islam ahlussunnah waljamaah masa tidak mau rukun! Bisakah ini diupayakan? [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini