Senin, 02 Januari 2017

Dalam Perang Timteng, Jika Anda Sudah Memihak Salah Satu, Ini Akibatnya


Oleh Gito Muhammad

DutaIslam.Com - Terkait konflik di Timur Tengah, utamanya di Suriah, saya memiliki kesimpulan, hasil dari pelbagai diakusi, baik di WhatsApp, live (bertemu fisik), grup maupun privat dengan beberapa kolega, teman, dan lainnya. Kesimpulan tersebut saya ambil dari peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia, adapula dari Arab Spring.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi ketika hidup dan bergaul dengan warga di Saudi Arabia pada tahun 2011 dan di Syams pada tahun 2013, ada baiknya kita melihat dulu siapa yang menjadi target habis dalam sebuah konflik perang antar saudara.

Para pemuja konflik (saya akan menyebut orang-orang ini dengan julukan shahibul qitaal), dalam kesimpulan saya, mereka ini memang sepertinya mendukung salah satu pihak, tapi, pada hakikatnya, yang mereka dukung itu adalah konflik itu sendiri, bukan perdamaian. (Baca: Abu Nawas Membuat Fitnah, Raja Tabayun, Kita?)

Mengapa? Fakta menunjukkan, orang yang menjadi target utama pembantaian mereka rata-rata adalah tokoh moderat, yang terbukti tidak punya keinginan untuk melanjutkan konflik dan peperangan, apalagi mennciptakan konflik susulan.

Lihatlah bagaimana Mohammad Al Mansouri, Imam masjid Mosul itu, dibantai oleh shohibul qital. Syeikh Ramadhan Al Bouthi juga dibom dalam majelisnya. Begitu pula Syeikh Husein Al Bari Alaydrus, Yaman, dibunuh secara sadis oleh shohibul qital. Syeikh Sulaiman Abu Haraz al-Sawariki al-Asya'ri al-Syafii al-Syadzili pun akhirnya menjadi sasaran terbaru pembunuhan shohibul qital, pendamba perang.

Pertanyaannya, apakah nama-nama yang mereka bunuh di atas adalah pendukung salah satu pihak yang sedang berkonflik? Tentu tidak, itu jika kita mau jawab dengan jujur. Mereka adalah pengusung sekaligus pendukung perdamaian. Anda tidak akan menerima jawaban ini jika sudah mendukung salah satu pihak, walau Anda warga negara Indonesia.

Para tokoh yang dibunuh oleh shohibul qital di atas memiliki kesadaran tinggi bahwa perang sesama muslim dengan bungkusan fitnah membabi buta adalah ritual yang paling dikehendaki dan diridloi oleh Iblis. Dalam perang saudara, baik lawan maupun kawan, sama-sama ada teriakan Allahu Akbar, tapi, bagi saya, mereka tidak ada yang syahid karena yang dibunuh adalah saudara sendiri-seiman.

Jadi, kalau Anda punya pertanyaan tentang siapa yang harus dibela dalam pusaran setiap konflik, saya sarankan Anda membela perdamaian. Mengapa? Islam tidak akan mulia bila hanya dibangun dari ujaran penuh fitnah seperti ISIS dan semua bentuk kekerasanya.

Islam juga tidak akan mulia ketika kita takut untuk bersaing dengan negara lain, target dunia lain, jenis kuasa lain. Persaingan tidak bisa dihindari mengingat sudah ada perjanjian kerjasama dengan di tingkat dunia, bersama masyarakat dunia.

Islam juga tidak akan mulia kalau kita menjadi hamba aseng (Jepang), asing (Barat) dan acong (Tiongkok). Sadarlah, persaingan antar mereka di Indonesia, mengakibatkan konflik di antara kita jika yang kita lakukan hanya menggerutu dan ngambek-ngambek sendiri. Jagalah perdamaian bumi pertiwi ini demi menjaga martabat Islam, bangsa dan negara. Salam waras! [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini