Jumat, 27 Januari 2017

(Perang Elite?) Antara Dimas Kanjeng, Habib Rizieq dan Isu Logo PKI di Cetakan Uang Kertas Baru


DutaIslam.Com - Isu tentang logo PKI (Palu-Arit) yang dihembuskan kencang sejak awal dikabarkan akan ada uang baru, menurut sumber Dutaislam.com, penuh dengan misteri politik tingkat tinggi yang sulit terdeteksi karena super rumit dan rahasia.

Kata sumber Dutaislam.com yang tidak berkenan disebutkan nama dan identitasnya tersebut, jika asumsi logo PKI digunakan untuk menggoyang beredarnya cetakan uang kertas baru Rp. 100.000,-, maka itu adalah "isu ora mutu" yang sangat mengada-ada.

Menurutnya, pemerintah sengaja mencetak uang kertas baru untuk "menarik kembali" cetakan uang lama yang beredar di masyarakat dengan target ingin mengetahui siapa saja para elite ber-uang di negeri ini yang punya kuburan rupiah tunai menggunung.

Jika sudah ada uang baru, pilihan bagi mereka hanya ada dua: laporkan atau investasikan. Itu saja. Jika terlalu lama menyimpan, sementara uang cash yang sudah dipegang itu dinyatakan pemerintah tidak akan berlaku lagi untuk transaksi sah, maka, ia akan terancam bangkrut dan sia-sia saja apa yang selama ini ingin disusun untuk mengatur negara.

Mungkin, alasan inilah yang bisa jadi, melahirkan ide tentang pengampunan pajak (tax amnesty), yakni memancing raja-raja duit keluar dari bungker simpanan kekayaan, -sebelum akhirnya ada keputusan cetak uang baru,-.

Padepokan Dimas Kanjeng, sebagaimana laporan Dutaislam.com berjudul "Adakah Keterkaitan Dimas Kanjeng dengan Krisis Moneter dan Tragedi Ninja" pada 8 Oktober 2016 itu, konon adalah tempat aman menyimpan uang kertas tunai sejak reformasi (dengan kedok penggandaan berbasis agama), yang sangat berjasa terhadap "pencucian uang" atau "penimbunan uang kertas gelap" dari beberapa elit berduit.

Uang baru yang sudah dipublish desainnya itu, oleh kalangan anti PKI, lalu dipermasalahkan mulai dari pemilihan tokoh pahlawan yang katanya tidak pas (Baca: Sebut Pahlawan Kafir di Uang Kertas Sebagai Penghianat, Dwi Estiningsing Kader PKS Diberi Gelar Ratu Hoax), tokoh muslimah yang dicopot jilbabnya (Baca: Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal), hingga logonya yang dianggap berbau cina-komunis.

Uang cetak baru sengaja ditunda beredar luas karena menunggu kuburan uang tunai yang selama disimpan (mungkin salah satunya di bungker Dimas Kanjeng) bisa dimunculkan sendiri oleh debitur atau pemilik asal-usul. Sepertinya, BI hingga saat ini masih setia menunggu uang lawasnya masuk ke brangkas dulu, sebelum yang terbaru didistribusikan.

Kini, antara pemerintah dan pemilik uang, kata sumber Dutaislam.com, sedang beradu kuat menahan dan "bertarung" di tingkat wacana. "Banyak yang tidak rela uangnya terdeteksi," kata sumber yang memang dirahasikan Dutaislam.com tersebut. (Baca: Alasan Tokoh Muslim Dicetak Pada Uang Kertas Nominal Buncit)

Pertarungan itu, jika analisis ini benar, konon menggunakan tokoh ormas yang memiliki pendukung loyal atas munculnya isu PKI di Indonesia. Ideologi disalahkan (dijadikan alasan politik menarik kembali uang baru) karena logonya itu ada di desain uang cetak terbaru.

Sangat disayangkan jika yang digunakan mereka untuk menekan (menarik) peredaran uang kertas baru berlogo palu arit (asumsi) itu adalah Habib Rizieq Shihab dan FPI serta alumni 212-nya. Innalillah. (Baca: Membongkar Alasan Habib rizieq Meminta Uang baru Ditarik dari Peredaran).

Karena apapun itu, uang kertas tunai, dalam sejarah pemberontakan dan penggulingan bersenjata, selalu digunakan sebagai pelumas gerakan. Uang tunai juga bisa digunakan untuk kepentingan mobilisasi politik langsung seperti di Indonesia. Bukankah ini musim Pilkada serentak akhi?

Semoga saja analisis sumber Dutaislam.com di atas tidak benar sehingga tidak akan terjadi adanya pemilik simpanan uang tunai yang sengaja membuang uang kertasnya ke sungai, laut, dan lobang-lobang sempit bawah tanah seperti pernah terjadi di India, hanya karena cash simpanannya itu sudah tidak bernilai tukar lagi dimana-mana. (Baca: Uang Palu Arit Ditarik, Uang Hasil Korupsi Timbun Saja, Ini di India, Bukan Indonesia)

Kalau demikian, cucu-cucu kita, pada puluhan tahun mendatang, akan mudah menemukan harta karun tidak bermanfaat ketika menggali tanah bumi pertiwi ini. Harusnya, warisan penting untuk generasi mendatang adalah persatuan, bukan perseteruan. Wallahu a'lam. [dutaislam.com/ redaksi]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini