Selasa, 31 Januari 2017

Agar Tetap Bisa Berjanjenan, Ini Siasat Cerdik NU Mojokerto Pada Zaman Sheikerei Jepang


DutaIslam.Com - Kemampuan adaptasi NU dalam menghadapi situasi diuji ketika Jepang datang. Dalam waktu singkat penguasa Jepang memberangus organisasi dan partai politik yang ada. Rapat-rapat umum yang dihadiri banyak orang dilarang. Pada posisi inilah kemudian Mbah Wahab mengeluarkan Mabadi Nasrillah.

Dua tokoh penting NU, Mbah Hasyim dan KH Mahfudz Shiddiq yang menjabat Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah HB NO ditangkap. Beliau dianggap menentang kegiatan Sheikerei yaitu membungkuk ke arah Tokyo pada pagi hari. Sheikerei bagi Mbah Hasyim merupakan perbuatan menyekutukan Allah. Mbah Hasyim dan KH Mahfudz dipenjara dan disiksa.

Melihat kondisi yang tidak menguntungkan itu, Mbah Wahab selaku wakil Rois Am segera bersikap. Bagi Mbah Wahab, pada situasi bagaimanapun organisasi harus tetap berjalan. Maka dikeluarkanlah perintah yang disebut Mabadi Nasrillah. Perintah itu menggunakan bahasa Arab agar tidak dipahami oleh Jepang.

Isi Mabadi Nasrillah adalah : (1) Tazawaru ba'dluhum ba'dlo atau saling mengunjungi satu sama lainnya. (2) Tawashau bil haqqi wa Tawashau bis Shabri, saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran. (3). Taqarrub ilallah yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan segala syarat dan rukunnya.

Menerima perintah tersebut, Kyai Nawawi selaku Rois Syuriah NU Mojokerto berusaha menterjemahkan. Pertama beliau merubah nama NU menjadi lembaga Ahlussunah wal Jamaah. Nama itu dipilih sebagai siasat agar NU tetap bisa bergerak di masyarakat. Kegiatannya diarahkan pada kegiatan ritual yang sudah membudaya seperti terbangan yang membaca barzanji, yasinan, tahlil dan semacamnya. Kegiatan budaya dan olah raga memang tidak dilarang oleh Jepang.

Dengan mengatasnamakan lembaga budaya Ahlussunah wal Jamaah itu Kyai Nawawi leluasa untuk melakukan silaturrahmi. Disela-sela kunjungan pada acara budaya tersebut beliau mengajak untuk tetap bersabar dalam menegakkan kebenaran. Tidak lupa kegiatan berdimensi ubudiyah itu juga dijadikan sarana ber-taqqarub ilallah.

Kecerdikan para ulama itu yang membuat NU tetap hidup di masyarakat Mojokerto. Mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi ala klandestin untuk berkumpul tanpa harus dibubarkan Jepang. Pada akhirnya NU dihidupkan kembali setelah larangan berorganisasi dicabut.

Perintah Mabadi Nasrillah tersebut dikeluarkan pada tahun 1943. Secara organisasi perintah itu berakhir seiring pencabutan larangan berorganisasi dan berpolitik pada tahun 1944. Setelah itu peran NU semakin strategis karena Mbah Hasyim ditunjuk sebagai ketua Syumubu atau departemen agama. Berkat lobby Kyai Wahid, NU juga berhasil mendesak agar pemuda muslim dilatih militer dan dibentuk barisan Hizbullah. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini