Minggu, 25 Desember 2016

Santa Clause, Sejak Kapan Jadi Mitos Mapan yang Lestari Saat Natal


DutaIslam.Com - Dalam tradisi masyarakat Barat banyak mitos yang terkenal hingga mapan sampai saat ini. Salah satunya adalah mitos tentang Santa Claus dan Suartepit, yang erat kaitannya dengan perayaan Natal atau kelahiran Jesus (Natus, natalis, dalam bahasa Latin berarti “kelahiran”).

Cerita Santa Claus ini sebetulnya tidak ada kaitan dengan agama Kristen. Tetapi, toh, tetap mendominasi suasana Natal di Barat dan berbagai penjuru dunia lainnya. Setiap menjelang dan selama Natal, hotel-hotel, mal-mal memasang patung dan gambar Santa Claus, yang biasanya digambarkan dengan pakaian merah dan topi merah berjambul.

Padahal, riwayat tentang Santa Claus sendiri sebenarnya tidak jelas, alias kabur. Konon, ia berasal dari seorang yang bernama Nicholas, dilahirkan di kota Lycia, sebuah pelabuhan kuno di Patara (Asia Kecil).

Nicholas digambarkan sebagai uskup yang ramah, suka menolong anak dan orang miskin. Namun, legenda Santo Nicholas juga bercampur dengan legenda lain tentang 'pemberi hadiah' dari kalangan kaum pagan yang memiliki kekuatan sihir, bisa menghukum anak-anak nakal dan memberi hadiah kepada anak-anak yang baik. (Baca: Gus Dur, Natal dan Maulid Nabi)

Dia biasa menaiki kereta terbang yang ditarik rusa kutub. Namun, ada juga legenda tentang Sinterklaas yang menggambarkan orang tua berjanggut putih panjang berpakaian uskup menaiki kuda yang bisa terbang ke atap rumah, dibantu budaknya Swarte Piet.

Al-kisah, Sinterklas datang tanggal 5 Desember malam ke rumah-rumah untuk memberi hadiah bagi anak-anak baik melalui cerobong asap. Sinterklas, dalam legenda ini, digambarkan sebagai pria berkulit putih dan pemurah kepada anak-anak. Ini bisa dijadikan sebagai bahan propaganda bahwa orang kulit putih baik dan ramah.

Sebaliknya, pria berkulit hitam, Swarte Piet, pembantunya, digambarkan sebagai budak yang berkarakter kejam serta suka mencambuk anak-anak nakal. Karena sejarah kehidupan Nicholas tidak jelas, Paus Paulus VI menanggalkan perayaan Santo Nicholas dari kalender resmi gereja Roma Katolik pada tahun 1969.

Ada juga Santa Claus versi Amerika yang berasal dari Kutub Utara. Santa Claus di AS adalah ciptaan dari Public Relation Manager untuk mempromosikan produk minuman tertentu. Karena orang Amerika tidak mau disebut rasis, maka Santa Claus di AS tidak ditemani oleh pembantunya yang berkulit hitam dan galak itu.

Banyak kalangan masyarakat beragama yang prihatin atas Perayaan Natal yang lebih menonjolkan legenda dan mitos tentang Santa Claus ketimbang sosok Nabinya Dalam situs Kristen. Meskipun tidak ada hubungannya dengan Injil, Natal di Barat dan dunia pada umumnya, sudah menjadi bisnis besar dan dikomersialisasikan sebegai momentum belanja di akhir tahun

Gemerlap Natal yang bersumber peristiwa di Bethlehem itu sudah dikenang pada hari Epifani tanggal 6 Januari dalam gereja yang kemudian di tahun 325 dipindah ke tanggal 25 Desember untuk menggantikan Hari Dewa Matahari. Natal bukan Hari Matahari karena sejak awal dalam perayaan Natal tidak ada unsur penyembahan Dewa Matahari itu.

Bukan hanya figur Santa Claus dan Suartepit yang bersifat mitos dalam tradisi Barat. Karena sarat dengan mitos-mitos dan pengaruh agama pagan, Perayaan Natal pada 25 Desember terus memunculkan perdebatan panjang di kalangan teolog Kristen sendiri, hingga kini.

Remi Silado misalnya, budayawan Kristen itu pernah menulis esai "Gatal di Natal" di Majalah Gatra, edisi 27 Desember 2003, yang berisi kritik sejarah Natal. [dutaislam.com/ ab]

Ket: diolah dan diedit dari pelbagai sumber. 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini