Senin, 19 Desember 2016

Kiai NU Dihujat Itu Biasa, Hanya Sejarah yang Terulang Saja

Kiai NU Dihujat Itun Hanya Sejarah yang Terulang saja
DutaIslam.Com - Para pemuda NU, mari tetap rapatkan barisan, ikutilah dawuh-dawuh para kiai sepuh kita. Janganlah jalan sendiri-sendiri, apalagi memisah diri dan merendahkan diri dengan menghina para ulama NU. Itu sama akibatnya dengan pepatah Arab yang artinya, "kambing yang terpisah dari kelompoknya, ia akan mudah dicaplok serigala".

Di tahun 1952, NU yang dipimpin KH. Wahab Hasbullah menyatakan keluar dari Masyumi karena kecewa dengan politisi-politisi Masyumi yang telah merendahkan ulama-ulama pesantren, yang menurut mereka tidak mengerti apa-apa tentang politik.

Selain itu, kekecewaan NU karena posisi menteri agama yang sejak awal milik NU, diberikan kepada Muhammadiyah. Sementara suara terbesar Masyumi berasal dari warga nahdliyin. Akibat keputusan itu, tak pelak NU dituduh sebagai pemecah belah umat dan Mbah Wahab dituduh sebagai gila jabatan.


Terbukti akhirnya tuduhan itu berakibat fatal. Pada pemilu 1955, suara Masyumi benar-benar anjlok di titik nadir. NU menempati posisi ketiga dalam pemilu 1955, pas di bawah posisi PNI baru Masyumi. Sementara posisi nomor 4 adalah PKI. Tak lama setelah itu, Masyumi dibubarkan oleh Seokarno karena beberapa tokohnya terlibat PRRI/ Permesta. Bahkan hingga kini Masyumi tak pernah hidup lagi. Mati, sirna. 

Kontroversi NU berlanjut. NU di bawah Mbah Wahab, pada era demokrasi terpimpin, bergabung dengan koalisi Nasakom (nasionalis diwakili PNI, agama diwakili NU, dan komunis diwakili PKI) yang digagas oleh Soekarno. Lagi-lagi NU dicerca dan dicaci maki. Bahkan kiai-kiai NU disebut kiai Nasakom.

Mereka tidak tahu bahwa ijtihad NU waktu itu adalah untuk keberadaan PKI di pemerintahan Seokarno supaya tidak mendominasi kebijakan. Terbukti, setelah peristiwa G30S/PKI, NU menjadi ormas paling depan yang mengganyang PKI dengan tokoh mudanya, Subhan ZE. Lagi-lagi, NU tidak terbukti berideologi PKI. (Baca: Subhan ZE, Tokoh Muda NU yang Ditenggelamkan Orde Baru)

Selanjutnya, di zaman Gus Dur, NU lebih kontroversial lagi. Saat peristiwa Tanjung Priok tahun 1984, militer di bawah kendali LB Murdani menembaki umat Islam Tanjung Priok hingga menimbulkan ratusan korban. Protes terjadi dimana-mana, bahkan hampir mengarah pada kerusuhan nasional. Tapi, Gus Dur saat itu justru membawa LB Murdani mengunjungi pesantren-pesantren NU.

Gus Dur berpendapat, jika situasi tidak segera diredam, maka korban dari umat Islam akan bertambah besar lagi. Waktu itu posisi Soeharto sedang kuat-kuatnya. Berani melawan Soeharto berarti mati. (Baca juga: Kisah Tombak Trisula Gus Dur kepada LB Moerdani

Atas kebijakan kontroversial itu, tak pelak Gus Dur mendapat hujatan dan cacian dari sana sini, bahkan dari warga NU sendiri. Gus Dur sempat dituduh telah murtad karena telah membela orang kafir Murdani.

Demi menjaga keutuhan bangsa ini, kita tak usah heran jika NU selalu jadi sasaran hujatan, cercaan, dan fitnah. Tidak perlu kaget jika ulama-ulama NU dicaci maki, karena dalam setiap pengorbanan selalu ada caci maki, hujatan, dan fitnah yang mengiringi. 

NU besar karena ia sudah teruji dengan pelbagai macam cacian demi menjaga keutuhan bangsa ini.
Jika hari ini NU dan ulama-ulama nya dihujat, dicaci maki, difitnah, dibully, ini hanya sejarah yang berulang. Jadi biarkan saja. Sebab, sebagaimana Gus Dur pernah mengatakan, "biarlah nanti sejarah yang akan membuktikan". [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini