Kamis, 08 Desember 2016

Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos

Contoh berita hoax Nusron Wahid
DutaIslam.Com - Ini bukan cerita tentang tokoh tertentu, tapi sekadar contoh dua tokoh yang sering jadi "proyek" media sosial (medsos), yakni Nusron Wahid dan KH Ahmad Musta'in Syafi'ie dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

"Kalau Peserta Aksi 212 (2-12-2016) Lebih dari Seribu Orang Ludahi Muka Saya....". Begitu ungkapan Nusron yang jadi viral. Bahkan ada viral yang sama tapi diberi capture "detikcom". Nah, Nusron dan detikcom sama-sama membantah. 

Nusron bilang kalau dia tidak pernah ngomong seperti itu. Detikcom juga bilang tidak pernah menampilkan foto dan pernyataan Nusron seperti itu. Artinya, semuanya hanya "tempelan". Dampaknya? Akal jadi tidak waras. Itulah adu domba.

Contoh adu domba yang lain. Pernyataan KH Ahmad Musta'in Syafi'ie (Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur) yang berjudul "Dahsyatnya Energi Al-Maidah 51". Pernyataan itu diluruskan asisten KHA Musta'in Syafi'ie, yakni Masrukhin. 

Katanya, Kiai Musta'in tidak pernah membuat surat itu. Anehnya, surat adu domba antara ulama dengan PBNU yang dibuat atas nama Kiai Mustain itu bukan hanya sekali ini beredar di medsos. Tapi beberapa orang terprovokasi untuk yakin. Itulah adu domba.


Sejatinya, perbedaan pendapat itu merupakan hal biasa yang terjadi sejak para pendahulu negeri ini. Bung Karno sudah biasa berbeda pendapat dengan Bung Hatta, namun saat Bung Hatta menikah pun, Bung Karno datang. 

Sebaliknya, saat Bung Karno sakit, Bung Hatta juga menjenguk, meski dicegah sejumlah orang. Pendiri NU KH Hasyim Asy'ari juga biasa berbeda pendapat dengan tokoh NU lainnya, KH Wahab Chasbullah. Bahkan perbedaan soal beduk cukup melegenda. (Baca: Ketika KH Hasyim Asyari Haramkan Kentongan Masjid). 

Tokoh Muhammadiyah Hamka juga biasa berbeda pendapat dengan Bung Karno. Dan, banyak lagi. Sebuah beda pendapat yang minus dosa. Baca juga: Buya Hamka Tinggalkan Qunut Untuk Keharmonisan


Dulu, beda pendapat itu digunakan untuk memahami orang lain, karena beda pendapat dianggap sunnatullah dan bahkan kemajemukan juga dianggap takdir-Nya. Sekarang, beda pendapat justru digunakan untuk menyalahkan, mencurigai, mengkafirkan, membid'ahkan, membenci, dan sejenis itu. 

Gawatnya lagi, beda pendapat itu kini menemukan "sarana" berbentuk media sosial yang akhirnya beda pendapat itu untuk "adu domba" seperti dialami Nusron, Kiai Mustain, Prof Syafii Maarif, Gus Mustofa Bisri, dan sebagainya. Ya, hoax tapi targetnya untuk provokasi. 

Jika dicermati "proyek" adu domba dalam medsos itu agaknya ada unsur kesengajaan dan ada target tertentu, karena bahasa yang digunakan mirip, pelakunya juga sepertinya punya target orang atau lembaga yang sama, karena pihak yang menjadi sasaran "proyek" itu juga selalu itu-itu saja. 

Momentum yang dipakai adalah penistaan Al-Quran (sebenarnya juga kitab suci Kristiani) yang menghasilkan dua cara penyikapan yakni cara hukum (persuasif) dan cara massa (411 dan 212). Masalahnya, cara massa menyikapi dengan menyalahkan pihak dengan cara lain yang seolah salah total. Jadi, beda itu biasa, kok diadu domba?

Boleh jadi, cara hukum (persuasif) tidak sepopuler cara massa. Tapi, keduanya sama-sama bisa untuk mendorong hasil yang sama (seperti anti penistaan Al-Quran, penetapan tersangka, membuat rakyat tidak memilih pemimpin tertentu, dan sebagainya). 

Kalau hasilnya sama, kenapa bisa menyalahkan pihak lain? Apa cara massa itu tidak justru membuat orang mudah pakai massa untuk menghalalkan kepentingannya dan main klaim? Bukankah Tuhan mementingkan keihlasan, substansi, niat dan hati?

Hati-hati, ada "proyek" yang sengaja dilakukan untuk memberangus orang atau lembaga tertentu dalam waktu 10-15 tahunan. [dutaislam.com/ ed/ emy]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini