Selasa, 27 Desember 2016

Ini Bukti Kalau Ormas HASMI Lumbung Kelompok Teroris Takfiri

DutaIslam.Com - Gerakan Takfiri di Indonesia makin terang-terangan menunjukan dirinya serta pemihakannya terhadap gerombolan teroris Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dan al-Qaeda (yang sebenarnya merupakan produk, binaan, dan biaya AS-Arab Saudi). Menurut info, pada Januari 2014, dua organisasi gurem, FAKSI (Forum Aktivis Syariat Indonesia) dan KUIB (Komunitas Umat Islam Bekasi), mendeklarasikan dukungan dan loyalitasnya pada gembong teroris ISIS.

Kedua organisasi abal-abal beranggotakan segelintir ekstrimis dan berorientasi teror-takfiri itu hadir menyusul beberapa organisasi senior lainnya yang senyatanya dijadikan kedok untuk mengusung misi takfiri dan menjalankan aksi-aksi teror. Salah satunya adalah organisasi HASMI (Harakah Sunniyyah Masyarakat Islami, atau Gerakan Sunni untuk Masyarakat Islami).

Sekadar lebih mengenal dan menyegarkan ingatan, pada 7 Desember 2012, pasukan anti-teror Indonesia berhasil membekuk tiga terduga teroris di Jawa Tengah. Mereka disergap karena diduga menyimpan bahan peledak untuk Abu Hanifah, bos besar HASMI.

Ketiga terduga teroris yang bernama Winduro bin Nur Hadi (28), Feri Susanto (23), dan Bambang Kurmanto (45), itu ditangkap di Desa Sroyo Kabupaten Karanganyar. Penangkapan itu menyusul operasi kontraterorisme di Jawa pada akhir Oktober 2012 yang berhasil membekuk 11 anggota HASMI, termasuk Abu Hanifah, berikut bom rakitan, bahan peledak, amunisi, dan petunjuk perakitan bom. (Baca: Betulkah Kelompok Islam Radikal Indonesia Kirim Bantuan Makanan Teroris Aleppo)

Menurut pengamat terorisme, al-Chaidar, HASMI berasal dari Tim Hisbah, suatu jaringan yang bertanggung jawab atas aksi bom bunuh diri di Cirebon dan Solo, serta berakar pada kelompok Darul Islam era 1950-an. Kata al-Chaidar, Abu Hanifah memulihkan gerakan Tim Hisbah setelah kematian Sigit Qurdowi, pimpinan Tim Hisbah.

Lalu Abu Hanifah merekrut anggota baru yang bukan berasal dari anggota Jamaah Islamiyah. Tidak seperti kebanyakan kelompok teroris yang terhubung ke Jemaah Islamiyah, jaringan Hanifah terhubung ke Darul Islam, yang muncul ke permukaan pada 1950 sebagai pemberontak yang berusaha mendirikan negara Islam," paparnya.

Target utama HASMI adalah pemerintah Indonesia yang dipandang menghambat upaya mendirikan negara Islam. Jaringan Hanifah memiliki sekitar 70 anggota. Polisi telah menangkap 33 orang dari mereka. HASMI menjadikan Bogor sebagai basis dan sentra aktivitas takfirinya, disamping beberapa Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD).

Setelah penangkapan itu, polisi baru mengetahui bahwa jaringan Abu Hanifah telah melakukan pelatihan paramiliter di Gunung Wilis, Madiun--tidak seperti kelompok militan lain yang mendirikan kamp di daerah rawan konflik di luar Jawa, seperti Aceh dan Poso.

Menurut Noor Huda Ismail, direktur eksekutif International Institute for Peace Building, jaringan teroris juga ada yang mendirikan kamp pelatihan paramiliter di Jawa karena Darul Islam telah melakukannya selama bertahun-tahun, seperti di Serang, Banten, juga Parangtritis, Yogyakarta.

Selain terlibat dalam sejumlah rencana dan aksi terorisme di tanah air, HASMI juga gencar memprovokasi konflik sektarian, Sunni-Syiah. Dalam serangkaian mobilisasi massa yang diklaim sepihak sebagai seminar atau diskusi ilmiah, HASMI yang mengatasnamakan dirinya perwakilan Sunni (yang sebenarnya menganut Saudisme bernama Wahhabi) itu mengangkat tema yang jelas-jelas memfitnah mazhab Islam Syiah dengan maksud memecah belah dan menghasut kaum Sunni agar membenci hingga memerangi saudara Muslimnya sendiri, yaitu kaum Syiah.

Berbeda dengan takfiri jihadi yang harus bertaruh nyawa dengan cara merampok untuk meraup "dana perjuangan", kelompok takfiri tablighi seperti HASMI yang didirikan pada 2006, justru menikmati kucuran dana tak terbatas dari sejumlah yayasan milik emir-emir Timur Tengah.

Dari beberapa informasi kredibel yang diperoleh Islam Times, diketahui bahwa aktivitas dan kampanye takfiri HASMI selama ini, yang di kawasan Bogor dicorongkan radio mereka, Fajri FM dan Rodja FM (plus TV kabelnya), sepenuhnya didanai Muassasah (Yayasan) Jam’iyyah Ihya’ al-Turats yang berbasis Kuwait.

Dilaporkan dalam situs HASMI bahwa rombongan anggota organisasi ini yang dipimpin langsung ketua DPP-nya Muhammad Fatih Haidar al-Iltizam dan Muhammad Sarbini, pernah menemui Marzuki Alie pada 12 November 2013. Menurut pengakuan mereka, saat itu pihak HASMI yang diundang, bukan yang meminta bertemu dengan ketua DPR RI itu.

Menurut salah satu pentolan HASMI, Supendi, yang juga ikut dalam rombongan itu, Marzuki Alie (ketua DPR RI saat itu) sangat paham dan yakin bahwa Syiah merupakan aliran atau sekte sesat yang mengatasnamakan Islam. Fitnah pesanan mapalagi, wan badui? [dutaislam.com/ab]

Keterangan:
Tulisan diatas disalin edit Dutaislam.com dari situs islamtimes.org, dimuat pada 2  Maret 2014. 


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini