Rabu, 28 Desember 2016

Habis "Peras" Wisatawan Bandengan Jepara, Pedagang Kuliner: Aji Mumpung

Sedia ikan bakar. Makan dulu, harga kami susunkan!
DutaIslam.Com - Niat ingin berwisata, malah jadi korban "pemerasan" oleh salah satu pemilik warung. Pada 25 Desembre 2016 lalu, Aizatun sekeluarga melakukan refreshing ke kawasan wisata Bandengan Jepara. Namun, ia harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah hanya untuk makan bersama suami dan keluarganya, dengan sekali duduk. Wow. Ini ceritanya.

Saat itu, Aizatun, warga Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus, kelaparan karena capai menemani anak-anaknya berlibur, berenang dan main-main di Wahana Job, wisata air yang berada di Bandengan Jepara. Bersama suami, ia mencari warung kuliner atau resto yang tidak ramai pembeli karena ingin segera makan.

Setelah melihat ada sebuah warung kuliner di samping tugu ikan Bandengan, Aizatun langsung duduk di gazebo yang ada di depan, meski ia tidak membilas tangan (ada tempat bilas di depan memang). Sementara, suaminya pesan ikan, ke lokasi belakang.

Ingin mendapatkan ikan kepiting, sebagaimana di warung makan lainnya, ternyata tidak ada. Akhirnya, ia hanya mendapatkan ikan kakap yang ukurannya sangat kecil, tidak wajar, "sebesar keprek/wader kecil sekali," kata Aizatun, dikutip Dutaislam.com dari status Facebooknya, Senin (26/12/2016).

Menunggu ikan pesanan itu dibakar membutuhkan hingga 1,5 jam. Sementara, untuk mendapatkan minuman, ia sekeluarga harus bersabar hingga 60 menit, alias 1 jam. Wow. Penantian panjang pun datang, ikan yang dipesan akhirnya tersaji. Sayang, kualitas bakarannya tidak sesuai harapan, katanya, ikan dibakar tanpa kecap dan tanpa garam. Datang juga pesanan 3 piring kerang yang rasanya, menurut Aizatun, kurang fresh. (Baca: Waspada Pemberi Sumbangan Atas Nama Pesantren dari Demak)

Bismillah, semua dilahap bersama-sama. Eits, di tengah makan, ternyata mereka serasa seperti mengonsumsi kerak, "nasinya keras banget," tulisnya. Ia sekeluarga merasa kecewa karena diperlakukan seperti peminta-minta, dikasih nasi yang tidak bagus, padahal itu Bandengan, lokasi favorit wisata se-Indonesia raya di Jepara. Ya Allah.

Kekecewaan Aizatun tidak hanya sampai di situ. Ketika pedagang kuliner di Bandengan tersebut ditanya berapa harga kiloan ikan-ikan tidak layak makan tersebut, e e e, ia malah nyengir tidak menjawab. "Terkesan arogan tidak menghargai pembeli," tegas Aizatun.

Berapa harga masing-masing menu makanan yang tidak layak itu? Ini dia. Amati per item harganya. Kira-kira ada yang tidak bereskah? Berikut rinciannya, sebagaimana foto nota pesanan menu dari warung pinggir jalan Bandengan tersebut.
  1. 2 Teko Es Teh (99.000) 
  2. 2 Teko Es Jeruk (190.000)
  3. 1 Teko Es Teh Hangat (49.500)
  4. 3 Kerang Tumis (195.000)
  5. 20 Ikan Kakap (1.200.000)
  6. 2 Ikan Kerapu (250.000)
  7. 4 Bakul Nasi (238.000)
  8. 1 Rokok LA (23.000)
  9. 1 Teko Es Jeruk (59.500)
Cara menjumlahkan pemilik resto tersebut tidak salah, yakni Rp. 2.304.000. Pas sesuai urutan harga tersebut. Namun, ada 1 menu yang harga per 1 satunya Rp. 59.500, namun jika pesan 2, jadinya Rp. 190.000. Ada perbedaan harga pada menu yang sama (menu ke-2 dan ke-9), bukti kalau pemilik warung melakukan "penipuan", orang Jawa menyebutnya "nengkik". Artinya, memeras dengan harga di luar standar tanpa kesepakatan. Lebih mahal dari harga ekslusif kawasan Bandara.

"Sedikit sombong ya, untuk yang kemarin (di Bandengan, red), baru nominal 2****** saja, misalkan 10****** akan saya bayar jika itu realistis," pungkas Aizatun di akhir keterangan via status di Facebooknya.

Daftar Harga dari Aizatun, yang Ditengkik Pedagang Kuliner Bandengan
Setelah dishare oleh banyak netizen, informasi penengkikan pemilik warung makan di kawasan wisata Bandengan ini menjadi viral di media sosial, terutama di Jepara. Pemerintah daerah pun merasa gerah mendengar kabar tidak sedap tersebut.

Zamroni Listiaza, Kabid Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, bersama Satpol PP langsung melakukan tindakan dengan mengumpulkan semua pedagang kuliner di pantai Bandengan dan Kartini sekaligus.

Kepada para pedagang kuliner, termasuk pemilik warung yang menjual makanan mahal tersebut, Zamroni meminta agar mereka tidak aji mumpung saat wisatawan ramai. "Yang dirugikan pedagang lain serta citra pariwisata pada umumnya," ujarnya kepada media, Selasa (27/12/2016) kemarin.

Suyuti, pemilik warung "nengkik" mengaku kalau ia sengaja menaikkan harga makanan sebab harga ikan juga naik. Pedagang asal Pati tersebut juga mengaku kalau saat itu ia menggunakan kesempatan emas, aji mumpung banyak wisatawan yang datang. "Malah seneng mas diberitakan. Warung saya jadi semakin terkenal," ujar suami Riyanti, asal Pati ini, tanpa beban. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini