Minggu, 25 Desember 2016

Gatal di Natal (Koreksi Kekeliruan Laku Sok Barat)


Oleh Remy Sylado

DutaIslam.Com - Kristen, sebutan ejekan kepada orang-orang yang percaya kepada Kristus sebagai jalan kebenaran hidup, sudah ada di Indonesia pada abad ke-12. Gerejanya --disebut kanisah-- berdiri di Barus, buminya orang Batak, bernama Saidat al adhara al Thaharat Marta Miryam. Begitu tulis musafir dari Fanshur, Tuan Shaykh Abu Saleh al Armini, dalam catatannya, Tadhkur fiha mim al kanais wal adyar.

Tapi, waktu itu orang Batak belum pandai menyanyi empat suara, SATB (Soprano, Alto, Tenor, Bas), seperti sekarang mereka jagonya, untuk misalnya "We wish you a Merry Christmas". Sebab, memang tradisi pesta ceria Natal, yang sekarang gandrung dinyanyikan bahasa kereseh-reseh Inggris, belum terlembaga. Sapaan Natal, "Merry Christmas" --dari bahasa Inggris Lama, Christes Maesse, artinya "misa Kristus"-- baru terlembaga pada abad ke-16, dan perayaannya bukan pada 25 Desember, melainkan 6 Januari.

Dengan gambaran ini, keramaian Natal sebagai perhitungan tahun Masehi memang berkaitan dengan leluri Barat, istiadat kafir, atau tradisi pagan, yang tidak berhubungan dengan Yesus sendiri sebagai sosok historis-antropologis bangsa Semit, lahir dari garis Ibrahim dan Daud, yang merupakan bangsa tangan pertama yang mengenal monoteisme absolut lewat Yehwah.

Namun, tahun baru (red) yang berada di ambang adalah tahun yang dihubungkan dengan Yesus Kristus. Dan, berhubung orang Kristen menerima Kristus selaku juru selamat melalui Injil yang ditulis dalam bahasa Yunani, sebagai "Logos" (Yunani: firman) yang menjadi "sarx" (Yunani: daging), maka pesta menyongsongnya dalam Natal menjadi sangat gempita, bersinambung dari tradisi bangsa Barat sebelum Masehi yang pagan, infidel, atau "gentes" secara Latin, dan "goyim" secara Ibrani. (Baca: Sejak Kapan Sinter Clause Lestari Jadi Mitos Saat Natal)

Saking gempitanya pesta Natal itu, sebagaimana yang tampak saat ini, karuan nilai-nilai rohaninya tergeser dan kemudian yang menonjol adalah kecenderungan-kecenderungan duniawinya semata: antara lain di Manado orang mengatakan "makang riki puru polote en minung riki mabo" (makan sampai pecah perut dan minum sampai mabuk).

Demikianlah, soal Natal sekali lagi merupakan gambaran pengaruh Barat, dan persisnya Barat yang kafir, yang dirayakan dengan keliru. Tapi memang tak dapat pula diingkar bahwa, walaupun kanisah yang pertama tadi telah berdiri di Barus sebagai sayap gereja Timur, atau lazimnya disebut Ortodoks Timur --dalam hal ini gereja Nestorian, yang teologinya diputuskan oleh Konsili Efesus sebagai bidaah-- toh perayaan Natal sebagai keceriaan menyongsong kelahiran Yesus saat ini sepenuhnya berkaki pada tradisi Barat.

Dan, jika bicara fatsal tradisi Barat di Indonesia, suka atau tidak, sejarahnya diingat melalui penjajahan-penjajahan bangsa Eropa yang telah berperilaku cemar di sini: Portugis, Belanda, Prancis, Inggris.

Karena itu, mengingat akan hubungan sejarah yang tak bagus itu, menjadi nyata pula sekarang bahwa naga-naganya amat jelimet memandang sebagian orang Kristen di Indonesia sebagai sungguh-sungguh orang Indonesia. Selalu ada saja luang yang terbuka untuk mencurigai orang Kristen, memprasangkainya, sebagai sosok Indonesia yang tak sejati.

Sementara itu, tak pula disangkal bahwa ada kecenderungan dari golongan Kristen tertentu, yang membangun pagar-pagar elite, dengan antara lain menaruh kesan seakan-akan kekristenan adalah keamerikaan atau kebarat-baratan. Setidaknya kesan itu muncul dalam sebuah acara evangelisasi di TV yang menghadirkan seorang perempuan Batak yang berkhotbah dengan seruan-seruan bahasa Inggris dan seorang penyanyi Amerika, konon reverend --istilan Angli-Amerika untuk pendeta--yang berlagak tidak bisa bahasa Indonesia.

Jelas, evangelisasi dalam acara apa pun yang tidak berpijak pada budaya lokal --dan yang paling mudasir adalah bahasa setempat-- sama saja dengan menohok pada inti pewartaan Injil. Sebab, inti pewartaan Injil yang elok, sebagaimana tersurat dalam ayat ke-19 dari pasal terakhir Matius, terjemahan Indonesianya: "Jadikanlah semua bangsa murid-Ku," dari teks asli bahasa Yunani: "poreuthentes oun matheteusate manta taethne," dengan sendirinya mengandung pengertian asasi akan prinsip inkulturasi dan itu berarti pula prinsip bergereja Kristus secara benar.

Perkataan "bangsa" yang diterjemahkan dari bahasa Yunani "ethne" di atas mewakili arti bangsa-bangsa di luar kebudayaan Hellenisme yang memiliki kebudayaannya sendiri. Dan, memang benar bahwa Injil diterjemahkan ke dalam semua bahasa –2.062 bahasa di dunia dan 135 bahasa di Indonesia-- kata injil itu yang selalu dipersulit, berpangkal pada gambaran ini.

Tampaknya kini saatnya dihayati lebih berpengertian akan kekristenan yang Indonesiawi. Gerakan senirupa pasca-teologi kontekstual dengan cerdas dan tanggap menangkap isyarat-isyarat itu: pelukis Cina Lu Hung Nien melukis Yesus sebagai orang Cina, pelukis Jepang Ryohi Koiso melukis Yesus sebagai Nippon, pelukis Korea Kim Li Chang melukis Yesus sebagai orang Korea, dan seterusnya. Jadi, kenapa Kristen Indonesia harus menjadi peraga Barat?

Barangkali dengan merenung ulang arti Natal, bahwa kelahiran Yesus Kristus dari rahim seorang perawan yang zakiah, dalam keadaan sulit dan terlunta-lunta di palungan kandang hewan Baitlahim, bisa menyegarkan kembali makna asasi Natal, mengoreksi kekeliruan eksklusivisme dan sok Barat yang telah membentangkan kesan buruk terhadap kekristenan itu sendiri.

Jika Natal cuma sekadar pesta dan bukan merenung syukur atas lahirnya seorang juruselamat dunia, maka Natal pun hanya menjadi sekadar gatal terhadap kebiasaan-kebiasaan paganisme. [dutaislam.com/ ab]

Source: http://arsip.gatra.com/, pernah dimuat di kolom Majalah Gatra 27 Desember 2003 dengan judul asli "Gatal di Natal". 


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini