Rabu, 07 Desember 2016

FPI dan Para Penghasut Ajakan Membunuh


Oleh Rumail Abbas

DutaIslam.Com - Seperti yang kita tahu, Orde Baru menggunakan "ayat-ayat komunisme" untuk menakut-nakuti anak bangsa. Masyarakat sengaja dibikin takut akan Komunisme, agar nanti jika mendapati orang yang berhaluan komunis dapat dijadikan alasan untuk menindas mereka.

Sejarah mencatat Komunisme sempat menjadi pembunuh sadis, itu semua benar. Makanya aksi-aksi pembunuhan yang mereka lakukan kembali diulang-ulang dalam kurikulum pendidikan, dipropagandakan terus-terusan, dan itu dipakai untuk menakut-nakuti banyak orang.

"Komunisme adalah ancaman bagi Pancasila. Dan ancaman seperti ini sangat membahayakan. Jika Anda tidak mau dibunuh Komunis, maka bunuhlah Komunis terlebih dahulu." begitu kira-kira propagandanya. Seolah-olah hanya Komunisme yang kejam. Seolah-olah hanya Komunisme yang melakukan pembantaian.

Tapi jangan pula dilupakan, bahwa selain Komunisme masih terdapat DI/TII yang membunuhi masyarakat banyak atas nama daulah islamiyah (Pemerintahan Islam). Ada manusia Indonesia yang "memakai nama Islam" untuk membunuhi orang.

Di Karimunjawa, misalnya, beberapa masyarakat Bugis di sana hijrah dari Sulawesi Selatan karena ketakutan dibantai pengikut Kahar Muzakkar. Ikut DI/TII atau mati, itu tawaran yang ada. Sudah jamak terjadi pembunuhan dan penyembelihan orang-orang di sana atas nama penolak Daulah Islam ala DI/TII. Saking takutnya, anak-istri dan kerabat dibawa kabur mengarungi lautan entah kemana, hingga menemukan Karimunjawa sebagai tempat hunian nyaman sampai sekarang.

Kenapa hanya Komunisme yang dibenci? Bukankah Daulah Islamiyah juga melakukan pembantaian yang sama? Jawabannya mudah: karena DI/TII membawa-bawa nama Islam dalam pembantaian.
Fakta bahwa Islam mampu mendorong seorang Kartosuwirjo untuk membunuhi rakyatnya sendiri ini sangat sulit diterima. Islam sudah kadung diyakini sebagai agama suci, mana mungkin hal yang suci memiliki noda?

Hal ini sangat menyakitkan, maka cukup manusiawi jika umat muslim terdorong untuk mengingkari. Salah satu upaya pengingkaran ini adalah mencari fakta lain bahwa selain Kartosuwirjo ternyata ada yang lebih kejam. Atau paling tidak, dicarilah fakta-fakta bahwa agama lain pun memiliki sejarah kelam yang sama. Seperti pembunuhan yang dilakukan Yahudi dan Kristen, misalnya.

Jika mau bicara jujur, sikap seperti ini sifatnya hanya pelipur lara. Mereka menyalahkan orang lain agar rasa sakitnya tertutupi. Agar hatinya nyaman saja. Beruntunglah para pendiri bangsa memiliki visi (saya menyebutnya nubuwat) yang baik untuk negeri ini. Pancasila yang Bineka Tunggal Ika itu sudah sangat final.

Tidak peduli Anda Komunis, Atheis, Yahudi, Nasrani, Konghucu, Islam, dll., jika Anda mendudukkan umat selain Anda setara dengan Anda, maka bakal damai terus negeri ini. Urusan keyakinan dan siapa sesembahan Anda, itu urusan Anda sendiri dengan Tuhan. Biar Tuhan sendiri yang menyiksa kesesatan Anda. Pancasila jadi pedoman Anda untuk hidup di negeri ini dengan keyakinan seperti itu. Karena jika tidak, yang terjadi adalah chaos.

Bayangkan jika seluruh agama di negeri ini saling tidak menghormati, dan apa yang terjadi? Perang di mana-mana, keributan di mana saja! Bagaimana Anda dapat mencari Tuhan yang benar jika Anda hidup di bawah konflik? Boro-boro mencari Tuhan, untuk mencari makan dan tempat sembunyi saja Anda pasti kesulitan.

Hidup di negeri ini, mau memiliki keyakinan bagaimana pun, sangat dibebaskan. Kebebasan ini bukan sebebas-bebasnya, namun ada batasnya. Batasan itu adalah ketika hak melaksanakan sebuah keyakinan itu berbenturan dengan hak umat lain. Maka tepat di sinilah terdapat kompromi. Dan pendiri bangsa sudah mengompromikan hal itu dalam bentuk: "Binneka Tunggal Ika".

Negara ini bukan negara Komunis, karena pasti akan terjadi diskriminasi terhadap non-Komunis. Negara ini bukan negara Islam, karena pasti akan terjadi diskriminasi terhadap non-Islam. Negara ini pun bukan negara Kristen, karena pasti akan terjadi diskriminasi terhadap non-Kristen. Dan begitu seterusnya.

Begitupun dalam hidup personal. Seperti melihat Ahmadiyah dan Syiah, misalnya, selaiknya kaca mata Bineka diterapkan. Betapapun saya yang Sunni ini sangat berbeda keyakinan dengan mereka, keduanya benar-benar dilindungi konstitusi.

Orang-orang yang terdorong untuk menyeragamkan Islam agar Sunni semua, agar tidak sesat semua, padahal ia hidup bersama orang yang tiap-tiap kepala memiliki kapasitas berpikir yang berbeda, justru melupakan rumusan penting agar tetap hidup:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Artinya: "Menghindari kerusakan itu didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan."

Hidup bersama banyak orang tuh apa sih yang dicari? Kedamaian (maslahat)! Hidup bersama banyak orang tuh apa sih yang ingin dihindari? Ketidak-akuran dan kekacauan (mafsadah)!

Di bawah ini adalah video seorang FPI yang mendorong masyarakat untuk membunuh Ahmadiyah. Sekali lagi: membunuh! Untuk memantapkan hati mereka, orang FPI ini memberi jaminan:

"Bunuh mereka. Saya dan Habib Rizieq yang tanggung jawab dunia-akhirat!"


Kejadian ini mirip seperti Kartosuwirjo yang ingin memantapkan para pengikutnya, "Bunuh Sukarno. Negara ini harus berdasarkan Islam. Bunuh mereka yang menolak. Saya yang bertanggung jawab dunia-akhirat!!!"

Orang-orang tolol seperti ini mungkin punya perhitungan bahwa membunuhi orang-orang sesat itu pahalanya besar. Lebih besar daripada kedamaian. [dutaislam.com/ ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini