Senin, 19 Desember 2016

Drama Serial Itu Bernama Konflik Suriah

ilustrasi
Oleh Najih Ramadhan 

DutaIslam.Com - Dalam beberapa hari pasca direbutnya kendali Aleppo oleh Pemerintah Suriah, timbul beberapa pertanyaan dari banyak kawan tentang apa yang terjadi di Suriah dan Aleppo; tentang latar belakang konflik, aktor konflik (baik yang lokal, regional, maupun global), kronologi konflik, siapa Presiden Bashar al-Assad, peran Rusia dan Iran, siapa yang disebut pemberontak, kenapa Aleppo, bagaimana skala penderitaan rakyat Suriah, dibalik sikap diam dunia internasional, dan tentang apa yang bisa kita lakukan untuk membantu rakyat Suriah.

Berat dan susah sebenarnya, menceritakan konflik Suriah. Yang namanya konflik di mana pun dan kapan pun, dengan alasan apa pun, selalu meninggalkan cerita pahit. Pahit bagi korban terutama, dan pahit bagi pelaku, pahit pula bagi orang seperti saya yang pernah mengalami hari-hari yang indah di negeri berjuluk Tanah Syam ini.

Cerita pahit ini bertambah manakala melihat perang informasi di media, karena masih ada kelompok yang menganggap bahwa memproduksi dan menyebarkan berita hoax adalah bagian dari “jihad”!, sehingga semua punya berita, semua punya foto-video, dan semua punya cara pandang, sesuai kepentingan masing-masing. Siapa yang dikorbankan? Tentu saja rakyat Suriah dan masyarakat awam yang mudah terprovokasi.

Kembali ke atas, menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tragedi Aleppo dimaksud, saya biasanya bilang, “Beberapa kawan penduduk lokal di Aleppo merayakan pembebasan kota mereka dari tangan pemberontak dan kelompok-kelompok separatis. Pemberontak dan sekutu mereka panik, karena garis depan zona pertahanan mereka hancur di Aleppo. Daerah yang direbut oleh pemerintah merupakan basis pertahanan mereka dan jalur penghubung dari Palmira/Tadmor ke Latakia dan Idlieb, sehingga jaringan mereka terputus. Untuk mengurangi tekanan, mereka memakai media, termasuk dengan metode fabrikasi, untuk menyerang pihak lawan (pemerintah), karena itu selalu teliti, dengan berita tentang Aleppo.” 

Untuk diketahui, Aleppo adalah kota kedua terbesar di Suriah, dengan menguasai kota itu pemberontak bisa menampilkan diri sebagai alternatif yang kredibel dibanding pemerintahan di Damaskus. Posisi Aleppo juga amat strategis dilihat dari berbagai segi.

Demikian biasanya, saya menjawab beberapa pertanyaan tentang Aleppo. Selebihnya, perkenankan saya berbagi link informasi yang bisa memberikan “sedikit” gambaran tentang krisis Suriah di bawah. Kenapa saya katakan sedikit, karena tidak ada yang mampu menangkap realitas sebenarnya dan agar kita semua tidak terus-terusan merasa dan menduga tahu semuanya, karena dugaan itu lebih dekat dengan kesalahan... Mari berdoa untuk kebaikan kemanusiaan, baik di Suriah, Palestina, Rohingya, dan tentu saja di negeri kita tercinta.

Untuk kawan-kawan yang masih belum paham tentang apa yang terjadi di Suriah dan Aleppo, beberapa link informasi dari Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami) berikut mungkin mempermudah pemahaman Anda:


Semoga krisis Suriah mampu memberikan pelajaran bagi kita di sini, yang hidup di negeri Dar al-Salam yang aman nan tenteram ini, agar tidak bermain-main dengan api perpecahan dan mau mendengar nasehat para ulama dan cendekiawan. 

Suriah mengalami apa yang mereka alami karena tidak sepenuhnya mendengar pesan ulama seperti “al-syahid” Syaikh Said Ramadhan al-Buthi untuk tidak “turun ke jalan”, kita tentu tidak ingin Indonesia bernasib demikian, “Idza aqbalat al-fitan ‘arafaha al-‘uqala, wa idza adbarat adrakaha al-juhala, ketika suatu bencana sosial akan terjadi, para ulama cepat mengetahui itu sehingga melakukan langkah hati-hati. Sedangkan orang awam karena kecerobohan dan emosinya yang cepat tersulut, baru tersadar saat bencana telah terjadi.” [dutaislam.com/ ab]

Najih Ramadhan, alumnus Kulliyah Dakwah Damaskus Suriah

Source: KBAswaja

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini