Minggu, 25 Desember 2016

Cara Gus Dur Gembosi ICMI dan PPP Dengan Humor


DutaIslam.Com - Cerita humor KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini mungkin saja akan didemo oleh GNPF-MUI jika terjadi pada tahun 2016 ini. Barangkali, Gus Dur akan ditudu melecehkan Al-Qur'an, menghina wahyu Allah atau tuduhan lainnya karena apa yang dikatakan beliau mencomot ayat suci Al-Qur'an.

Zaman Orde Baru, sekitar awal tahun 90-an, Gus Dur ditawari untuk masuk pada kelompok cendekiawan bernama Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI). Karena mengetahui latar belakang dibentuknya ICMI ini hanya untuk mengendalikan kelompok intelektual di bawah ketika Orde Baru, ia menolak.

Tapi cara penolakan yang dilakukan Gus Dur ke publik tidak dengan kritik di media, apalagi mengerahkan massa seperti yang dilakukan oleh kelompok radikal akhir-akhir ini. Gus Dur menolak, tapi dengan humor sindiran ayat Qur'an. (Baca: Cara Gus Dur Menggagalkan Cawapres Non Muslim)

Gus Dur mengeluarkan ayat, "wa la ta'awanu alal ICMI wal udwaan," begitu Gus Dur menyindir. Tentu yang paham dan mendengar akan tertawa, dan mengerti maksudnya. Bunyi ayat itu diambil dari Surat Al-Maidah ayat 2, bukan ayat 51. Ini teks arabnya.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: "Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan/pelanggaran." (QS. Al-Ma'idah: 2).

"Alal Istmi (perbuatan dosa)" dalam ayat tersebut, oleh Gus Dur, dibunyikan jadi "ICMI". Jadi, humor itu artinya jadi "jangan tolong menolong dalam ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Se Indonesia)". Tentu yang mendengar maksud Gus Dur tertawa.

Lagi, humor ayat Qur'an juga pernah digunakan untuk menggembosi lawan politiknya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ketika H Jailani Naro, Ketua PPP saat itu masuk jajaran penguasa Orde Baru, yang sangat ditentang Gus Dur.

Keluarlah humor, ia mengatakan kepada para kiai, "Naro itu ada ayatnya loh, qu anfusakum wa ahlikum naro," katanya. Sontak yang mendengar tertawa dan tahu maksudnya. Tidak ada yang menyebut pelecehan karena itu hanya humor.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Naro" dalam Al-Qur'an Surat At-Tahrim ayat 6 di atas maknanya adalah "neraka". Arti lengkapnya, "peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka," tapi, pada humor Gus Dur, Naro merujuk pada sindiran nama Ketua PPP saat itu, Jailani Naro. Hahaha.

Begitulah Gus Dur, kaya humor walau ia sedang melawan penguasa politik yang sangat berkuasa saat itu. Cara-cara sindiran seperti lazim di pesantren. Humor tidak pernah sepi dari tradisi hidup santri. Tapi bagi sumbu pendek, hal itu akan disebut pelecehan, karena syarat hidup berislam mereka penuh dengan kebencian, bukan kasih sayang. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini