Selasa, 13 Desember 2016

Apa Kabar Anak NU di Internet yang Dulu Tanya "Beli Email Dimana yah?"

internet bagi anak muda

Oleh Hamzah Sahal

DutaIslam.Com - Tenaga dan pikiran anak-anak muda NU di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, WA, sangat berlebih. Mereka ini betul-betul muda, lahir tahun 1990, yang memang tumbuh di era internet ini. Pada tahun 2000 mereka masih umur 10 tahun, mereka masih bocah. Internet waktu itu masih sepi juga.

Tahun 2005 belum ada Facebook menjamur, saya juga masih pakai Friendster, chatting masih menggunakan Yahoo Massager (YM). Sementara, obrolan yang marak waktu itu adalah mailing list. Mengirim naskah buletin juga masih pakai disket, belum terbiasa menggunakan email. Saya tahun itu masih di Jogja, mengikuti perkembangan NU via grup mailist KMNU. Grup-grup mailist pada modar setelah tahun 2010.

Tahun 2010, bocah NU (Ibnu: ikatan bocah NU) sudah jadi aktivis IPNU-IPPNU lanjutan. Yang di kampus sudah ber-PMII. Nah, mereka inilah yang menggerakkan NU di internet. Mereka fasih dengan bahasa internet, tidak seperti warga NU yang lahir tahun 80, 70, bahkan 60-an ke bawah, yang masih terbolak-balik antara internet dan internit, yang masih bingung dimana harus membeli email.

Tahun 2015, mereka sudah banyak yang jadi sarjana. Sekali lagi, merekalah yang aktif kencang di dunia internet, seiring kencangnya dunia. NU Online dulu diduga yang paling banyak membacanya adalah non NU. Dugaan itu muncul karena banyaknya serangan, baik terbuka atau tidak. Dugaan itu kini lenyap, seiring pertumbuhan warga NU yang ber-internet.

Lima tahun lalu, NU Online hanya dibaca 5000-an, sekarang lebih dari 20.000. Siapa pembacanya? Ya anak-anak NU yang sekarang usia 25-an tahun itu (perlu dipastikan lewat survei). Ini adalah peningkatan yang luar biasa dibandingkan dengan 10 tahun lalu. 

Bahkan, radio streaming kini juga sudah marak di mana-mana. Waktu NU Online membuat radio streaming, masih banyak yang tanya begini, "AM atau FM, Kang?". Sekarang, mereka sudah pada punya radio streaming sendiri-sendiri.

Saat Hakim Jayli dan Savic Ali membikin Nutizen App, warga NU makin mapan di internet. Anak-anak NU tidak ragu pegang DSLR, shooting sana shooting sini. Lincah memegang smartphone. Grup-grup bermunculan. Mereka muncul seperti lubang yang disiram.

Sekarang, ya, sekarang! Tidak bisa ditunda lagi kita bergerak mengedukasi secara massif (kalau kecil-kecil sudah dilakukan) agar sikap dan perilaku kita di internet tidak hanya sehat, tapi juga mampu membedakan mana berita dan mana yang fitnah. Mana amar maruf dan mana yang propaganda politik.

Internet bukan lagi dunia maya, sebagian besarnya sudah realita. Salam hangat. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini