Minggu, 25 Desember 2016

Apa Benar Kiai, Ketika Jima, Istri yang Lebih Nikmat?


Oleh Totok Suryanto

DutaIslam.Com - Suatu saat teman saya mengajak sowan kiai kami, KH. Masrur, Semarang (allahu yarhamhu). Dia matur kepada kiai, mengeluhkan seringnya geger dengan istri hanya kadang-kadang masalah sepele. (Baca: Doa Jima Tahan Lama Bersama Pasangan)

Kiai kemudian tersenyum dan bercerita. Ada kiai tua dan kiai muda, pas kiai muda menceritakan tentang 1 hari bagi Allah sebanding dengan 1000 tahun bagi manusia, kiai tua yang mendengarkan dan membatin, "halah, cah nom ki dongeng apa sih".    

Tak lama kemudian, kiai tua wudlu di kulah masjid, dan, tiba-tiba terjatuh ke dalam. Antara saat dia tercebur dan bangun dari jatuh ke dalam itu, ada yang aneh, sebab saat hendak naik ke atas, ia merasa seperti naik dari air lautan. Tiba-tiba saja, ia seperti ditolong sebuah kapal dengan banyak penumpang.

Awak yang ada di kapal berjanji mengangkutnya ke daratan dengan syarat harus menikah dengan seorang wanita yang dimaksud olehnya. Sang kiai tua itu pun menyetujui, lalu, sebagaimana janjinya, ia menikah hingga punya anak berusia 12 tahun. (Baca; Agar Istri Mengizinkan Suami Berpoligami)

Beberapa tahun kemudian, sang kiai sepuh ini ingin kembali pulang ke kampung halaman. Penduduk yang pernah menolongnya dari tenggelam di laut itu akhirnya sepakat mengijinkan. Ia kembali ikut ngaji kepada kiai muda yang sudah puluhan tahun tidak pernah diikuti kajiannya itu.

Betapa terkejutnya, dia baru tersadar kalau posisinya sebetulnya baru bangun terjatuh dalam kulah dan bangkit sambil memeras bajunya yang basah kuyup. Padahal, ia merasa sudah melewati waktu hingga 12 tahun lebih, punya istri, anak dan keluarga, di sebuah tempat.  

Saat dia kembali memasuki ruangan majelis kiai muda tadi, kebetulan ada jamaah yang tanya, "apa benar dalam hubungan nafkah batin (jima), istri yang lebih ni'mat, kiai? Kiai muda menjawab, "tanya saja kepada bapak kiai tua yang baru saja berada di laut". Sontak kiai tua kaget dan menyesal telah meremehkan kiai muda. Ia diberi peringatan dengan karomah kiai muda, toyyuz zaman (melipat waktu).

Keterangan di atas sebetulnya hanya karomah kiai muda untuk menjelaskan ayat Al-Quran "wainna yauman 'indarobbika kaalfi sanatin mimma ta'udduun/ sesungguhnya, satu hari di haribaan Rabb mu itu seperti 1000 hari menurut perhitungan kalian".

Ia mengingatkan kiai tua itu agar jangan mudah membantah dalil Al-Quran, apalagi meremehkannya. Bisa fatal resikonya kalau hanya didasari nafsu tidak yakin. Sekelas kiai sepuh saja bisa diingatkan Allah dengan kejadian aneh tersebut.      

Cerita di atas adalah jawaban kiai Masrur terhadap pertanyaan teman saya. Pas kami pulang di jalan, saya tanya ke teman, berapa lama engkau tidak memberikan nafkah bathin istrimu? Dia jawab, "kiai tak bicara soal itu". Mungkin ia malu mengakui kalau kerenggangan hubungan dengan istrinya itu sebab tidak pernah dijima. 

Suatu saat isterinya yang ganti sowan ke kiai Masrur, dan kiai ngendika, "wis ditukokna madu bojomu?", "Dereng yai," jawab istri teman saya itu.

Mendengar cerita istrinya itu, saya malah ngakak dan bilang, "kandani ngeyel!". Akhir riwayat, teman saya sekalian (suami-isteri) sowan ke kiai dan mereka dinasehati agar segera membeli madu, biar bahagia. Daripada diceburkan ke laut, ia tentu memlih membelikan madu. Rukun dengan istri, ni'mat juga di suami. Siapa bilang istri lebih ni'mat, itu hoax. Haha. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini