Senin, 14 November 2016

Ust Arifin Ilham Nyeplos: Hai Muhammad, Kau Tidak Akan Bisa Berbuat Adil


DutaIslam.Com - Beredar video Ustadz Arifin Ilham yang menyebut kalau Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam tidak akan bisa berbuat adil. Ia mengucapkan hal itu saat menjawab seorang wartawan di sampingnya yang bertanya, "ini kan harus berbuat adil, ustadz," tanya wartawan tersebut.

Hal itu ditanyakan kepada Arifin Ilham karena dia memiliki dua istri yang dalam syarat syariat Islam, harus bisa berbuat adil. Dalam video berdurasi 24 detik itu, sang ustadz terlihat sedang bersama istri dan anaknya.

"Kalau adil tak akan bisa adil. Sampai Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam tidak bisa adil," jawabnya. Ia juga mengutip surat An-Nisa ayat 129 yang berbunyi:

لن تستطیعوا ان تعدلوا بین النساء ولو حرصتم

Artinya:
Dan kamu (wahai laki-laki) sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian,” (QS. An-Nisa': 129)

Namun, Ustadz Arifin Ilham memaknainya tidak seperti di atas. Ia menerjemahkan begini, "Hai Muhammad, kau tidak akan bisa berbuat adil walaupun kau pengen sangat amat ingin berbuat adil," jadi ukurannya, "keadilan itu hanya milik Allah," imbuhnya.

"Makanya setiap menggilir istrinya, Nabi berdoa 'Ya Allah hanya Engkau pemilik keadilan. Inilah semampu hambamu untuk berbuat adil'," lanjut Ust. Arifin Ilham, sebagaimana dikutip Duta Islam dari dari video di bawah ini:  


Netizen pun heboh karena video itu ada yang kemudian menafsirkannya sebagai pelecehan sang ustadz kepada Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam. Bahkan ada situs yang menyebut kalau Arifin Ilham telah memelintir terjemahan ayat di atas.

Sang ustadz tidak tepat dalam menerjemahkan ayat itu. Kalimat khitab (objek pembicaraan) yang ada dalam ayat tersebut seakan hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam. Padahal, susunan kalimatnya berbentuk jama' (banyak), bukan mufrad (personal).

Harusnya, objek khitab yang merujuk pada ayat di atas adalah kepada seluruh laki-laki pada umumnya, bukan kepada Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam, sebagaimana terjemahan Arifin Ilham itu. Ini sesuai dengan Tafsir At-Thabari yang mengutip pendapat Abu Ja'far berikut ini:

قال أبو جعفر: يعني جل ثناؤه بقوله: " ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء "، لن تطيقوا، أيها الرجال، أن تسوُّوا بين نسائكم وأزواجكم

Artinya:
"Abu Ja'far berkata: Maksud dari kalimat "dan kamu sekalian, sekali-kali tidak ada mampu berbuat adil di antara nisa'-nisa'" adalah "kamu sekalian tidak akan pernah kuat (lan tuthiqu), wahai para laki-laki untuk berbuat sama antara perempuan-perempuan dan istri-istri kalian". Baca tafsirnya di link INI. Atau, baca langsung cepretan admin Duta Islam berikut.

Tafsir At-Thabari pada surat An-Nisa ayat 129
Jadi, khitab dari ayat di atas, dalam Tafsir At Thabari, bukan untuk Nabi Muhammad, melainkan untuk rijal (lelaki pada umumnya). Entah sang ustadz dzikir itu memelintir ayat untuk menegaskan poligami yang telah dipraktikkannya atau karena ketidaktahuannya atau akibat keceplosannya, wallahu a'lam. 

Yang pasti, ini mengingatkan kisah seoarang pemuda keturunan Bani Tamim di zaman Nabi yang menyebut Rasulullah shallahu alaihi wa sallam tidak adil hanya karena dianggap tidak merata membagi hasil jarahan (ghanimah) perang. Pemuda tersebut cirinya berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul.

Laki-laki muda yang menyebut Rasulullah tidak adil itu kemudian disabda dengan kalimat, “celaka kamu, siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil." (HR. Bukhari: 3341). Kisah lengkapnya, bacalah artikel Ini Tokoh Khawarij Pertama Sejak Rasul Diutus. [dutaislam.com/ ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

2 komentar

Kalau saya perhatikan, berdasarkan tingkat khauf dan raja'nya, pengamal agama itu secara global terbagi menjadi 3 kategori . Kategori I adalah pengamal agama yang bisa menyeimbangkan khauf dan raja'nya, Kategori II adalah pengamal agama yang tingkat khaufnya mendominasi, dan kategori III adalah pengamal yang tingkat raja'nya mendominasi. Pengamal agama yang ideal menurut saya adalah yang Kategori I, kayaknya posisi ini hanya bisa diisi oleh org-org bertakwa yang ketakwaannya didukung ilmu yang mumpuni. Untuk Kategori II dan III harus waspada karena lebih mudah tergelincir karena ada ditepi. Pengamal agama Kategori II kalau tergelincir biasanya jadi ghuluw dan seterusnya khawarij, sedangkan tergelincirnya pengamal Kategori III bisa menjadi fasiq, liberal, dst. Nah sekarang kita semua introspeksi diri, kalau Islam tapi seneng sama kemaksiatan (maklum zaman internet, maksiat murah meriah) berarti dia sudah tergelincir, begitu juga kalau muslim tapi sudah mulai tidak sopan pada para pendahulu dan sesepuh, tidak menghormati atau bahkan menistakan pendapat muslim yang lain berarti dia juga sudah tergelincir. Begitu sepengamatan saya org awam, mudah-mudahan kita semua terlindung dari ketergelinciran. Amiin.

Ya begitulah kalau ust kacangan

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini