Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Saat Digali Tahun 1982, Jenazah Bung Tomo Masih Utuh. Subhanallah!

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Kamis, 10 November 2016
    A- A+

    DutaIslam.Com - Tidak banyak yang mengetahui kalau jenazah Bung Tomo yang dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya, itu dulunya pernah digali dari pemakaman di sekitar Padang Arafah, diangkut kemudian ke Indonesia lewat Jeddah, Saudi Arabia.

    Tokoh Pahlawan Nasional itu wafat pada 7 Oktober 1981 di Arafah ketika sedang melaksanakan ibadah haji. Pada Rabu, 3 Februari 1982, jenazahnya berhasil dipindahkan ke Ngagel, Surabaya setelah negosiasi panjang antara kiai dari Jepara dengan pemerintah Arab Saudi. Ini kronologi pemakaman Bung Tomo yang dirangkum dutaislam.com dari kliping Harian Suara Merdeka edisi lawas:

    Nama pesawat yang membawa jenazah Bung Tomo dari Bandara King Abdul Aziz, Saudi Arabia adalah Garuda GA 882. Mendarat di lapangan Halim Perdana Kusuma Jakarta pada Selasa, (02/02/1982) malam sekira pukul 19.45. Diterima oleh Irjen Deplu saat itu, Sarwo Eddy Wibowo. Lalu diserahkan kepada Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo, untuk kemudian dibawa ke kediaman di Jl. Besuki 27 Jakarta.

    Rabu (03/02/1982) pagi, di rumah duka tersebut, ada upacara pelepasan jenazah dari keluarga (diwakili Drs. Sulistomo) ke pemerintah. Upacara dimulai pukul 09.00 dengan penghormatan berupa tembakan ke atas. Inspektur upacara pelepasan jenazah kala itu adalah Menteri Sosial, Supardjo.

    Setelah selesai pelepasan, jenazah Bung Tomo dibawa ke Surabaya lewat lapangan udara Kemayoran dengan pesawat Hercules K 130 "Pelita Air Service". Keluarga yang menyertai adalah Nyai Sulistina Sutomo (istri Bung Tomo), Drs. Bambang Sulistomo dan ketiga putri almarhum. Jenazah tiba di Bandara Juanda Surabaya sekitar pukul 10.45 pagi.

    Di Juanda, upacara penerimaan kerangka jenazah Bung Tomo dimpim oleh Sekjen Departemen Sosial saat itu, AM. Tambunan, lalu diserahkan kepada Gubernur Jatim. Selanjutnya, pada pukul 11.15, jenazah diberangkatkan ke gedung Grahadi untuk disemayamkan, diterima oleh inspektur upacara Drs. Suparmanto, Wakil Gubernur Jatim saat itu.

    Acara di Grahadi berlangsung selama 40 menit untuk kemudian pada pukul 13.30 diberangkatkan ke Ngagel yang dipimpin langsung oleh inspektur upacara Sutono, Menko Kesra saat itu. Panitia yang ditunjuk sebagai pelaksana upacara pemakaman adalah Garnizun Surabaya.  

    Masih Utuh dan Rapi
    Ada cerita menarik soal awal pemindahan jenazah Bung Tomo ini. Penggalian makam yang dimulai pada Ahad (31/01/1982) di Padang Arafah, sempat keliru. Kata Bambang Sulistomo, -putra Bung Tomo yang ikut menggali di sana,- ketika proses penggalian akan dimulai, ada seorang penggembala yang datang dan bertanya, "makam siapa yang akan digali?"

    "Bung Tomo," jawab Bambang.

    Makam yang akan digali, menurut pria itu, letaknya salah. Ia pun menunjukkan yang sebenarnya. Bahkan dia berani bersumpah bahwa makam Bung Tomo yang betul adalah sebagaimana yang ia tunjukkan tersebut, "apabila keliru, saya bersedia dicongkel mata saya," ia meyakinkan.

    Penggembala tersebut berani mengatakan sumpah karena mengaku ikut menguburkan jenazah Bung Tomo saat meninggal. Menurut keterangan tim dokter, dr. Sutomo Slamet Imam Santoso, ketika ditemukan di liang lahat dan digali, jenazah Bung Tomo masih utuh. Bahkan, kain kafannya masih rapi dan dagingnya juga masih melekat pada tulang-tulang.

    Rambutnya juga masih utuh. Tidak ada tulang yang terpisah-pisah. Hanya daging pipi sebelah kanan saja yang agak rusak karena saat dikebumikan pertama kali di di Arafah, pipi kanan Bung Tomo memang ditempelkan ke tanah, sebagaimana ajaran Islam.

    "Karena semuanya masih utuh, maka saya tidak setuju kalau ada yang mengatakan bahwa yang dibawa ke Indonesia itu kerangka. Tetapi yang tepat adalah jenazah Bung Tomo," kata dr. Sutomo, sebagaimana dilansir Duta Islam dari Harian Suara Merdeka (Kamis, 04/02/1982).

    Saat ditanya penyebab keutuhan jenazah pahlawan panglima penggerak arek-arek Surabaya 10 November 1945 itu, dr. Sutomo menjawab kalau tanah di Saudi itu sifatnya kering, sehingga tidak terjadi pembusukan.

    Semoga syahid wahai pahlawan bangsa. Kami di sini akan mengenangmu. Mengabadikanmu dengan terus mengisi kemerdekaan ini. Paling tidak tiap 10 November kami kirim Fatihah kepadamu, meneladani keberanianmu di medan perang. Agar generasi sekarang tidak kepaten obor hingga dengan bodohnya mereka meneriakkan anti NKRI dan anti Pancasila. Al-Fatihah! [dutaislam.com/ ab]
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar: