Jumat, 18 November 2016

Peringati Hari Pluralisme, Jaringan Gusdurian: Bubarkan Ormas Intoleran!


DutaIslam.Com - Pemuda yang tergabung dalam Jaringan Gusdurian Kota Semarang bersama pegiat keberagaman kota Semarang berkumpul di pelataran makam Bergota pada Kamis, (17/11/2016). Mereka berziarah ke makam Mbah Sholeh Darat sebagai bagian agenda pembuka Pekan Hari Toleransi Internasional yang telah ditetapkan PBB sejak 16 November 1995.

Mbah Sholeh Darat merupakan tokoh ulama kharismatik Semarang dan guru dari dua tokoh bangsa, KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan. Rombongan yang terdiri dari Gusdurian, PMII Kota Semarang, KPS, Pelita, PPMI DK Semarang dan Permahi melanjutkan ziarah ke taman makam pahlawan Giri Tunggal makam MGR Soegijapranata. Ikut serta Romo Aloys Budi Purnomo, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang.

Peringatan Hari Toleransi ini menjadi ironi karena dibarengi dengan beberapa tragedi intoleran di beberapa daerah, yang paling menyayat hati adalah wafatnya Intan yang menjadi korban ledakan Bom di Samarinda.

"Adanya agenda ini untuk memelihara toleransi di Indonesia yang kian mendapat tantangan. Semoga Bhinneka Tunggal Ika tetap terjaga," ujar Subhan, koordinator Jaringan Gusdurian Semarang setelah doa dan tabur bunga.

“Semoga benih-benih perdamaian dan kerukunan melalui perjumpaan seperti ini terus mewarnai dan menandai kesejukan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika," tambah romo Budi. 

Setelah ziarah, pekan peringatan hari toleransi internasional akan dilanjutkan dengan diskusi dan nonton film tentang keberagaman, aksi damai dan deklarasi di hari Jumat-Sabtu(18-19/11). Subhan koordinator aksi berharap Hari Toleransi Internasional yang ditetapkan PBB sejak 16 November hendaknya jadi titik balik merefleksikan warga Indonesia terhadap keberagaman.

“Pemerintah harus melindungi, menghormati, memenuhi hak asasi manusia sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya.

Dalam informasi yang diperoleh, jaringan masyarakat Semarang untuk Keberagaman menolak tindakan intoleransi dan diskriminasi atas nama agama, suku, ras, warna kulit, jenis kelamin, pandangan politik, orientasi seksual.

"Negara harus mampu berperan aktif dalam menjaga keberagaman. Lalu bubarkan ormas intoleran dan tutup website dan akun media sosial intoleran agar bisa melindungi kelompok minoritas,” ungkap alumni Universitas Diponegoro ini. [dutaislam.com/ fahmi/zulfa]



Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini