Kamis, 24 November 2016

Menghina Gus Mus "Bid'ah Ndasmu!", Karyawan Adhi Karya Ini Diburu


DutaIslam.Com - Ada-ada saja kelakukan anak ingusan bernama Pandu Wijaya ini. Pemilik akun twitter @panduwijaya_ itu mengucap hal yang sangat tidak pantas diutarakan kepada kiai dan ulama sekelas KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Sewot terhadap tweet Gus Mus yang berpendapat bahwa jumatan di jalan adalah bid'ah, ia kemudian membuat balasan ngawur "Dulu gk ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jum'at juga saat Rasulullah hijrah ke madinah. Bid'ah ndasmu!". Itu ditulis Pandu pada Kamis, 23 November 2016. Ini screen shoot bocah nakal asli Probolinggo tersebut di twitter nya.

Cuitan nakal Pandu Wijaya kepada Gus Mus

Kontan saja gaya ngetweet arogan alumnus Politeknik Negeri Malang (Polinema) Jatim tersebut membuat para santri Gus Mus sejagad terpancing. Ada yang menegurnya dengan halus, ada juga yang kemudian mencari identitas anak ini untuk dilaporkan ke aparat hukum. Tidak langsung minta maaf, malah ngetweet lagi dengan sinis.

Dengan akun twitternya yang sekarang ini sudah digembok, lebih lanjut ia berujar begini kepada akun @fajarnugros, "kyai jangan dikultuskan, dia hanya manusia, kalau salah ya dikritisi, diingatken! salah kok di bela, piye utekmu jal?" sarkasnya. Namun, ia buru-buru meralat dan kemudian meminta maaf. Ini screen permintaan maaf Pandu Wijaya:

Pandu Wijaya Minta maaf ke Gus Mus dan santri-santrinya
Meskipun sudah meminta maaf, bagi para santri Gus Mus, cuitan Pandu sudah kelewatan. Ia bukan mengkritik, tapi sudah menghina. Ucapan "Bid'ah Ndasmu" dalam bahasa Indonesia itu artinya, "Bid'ah kepalamu peak". Ini bukan bahasa kritik, tapi bahasa penistaan yang sesungguhnya. Tanpa tafsir yang berbeda dan khilafiyah, pernyataan itu sudah bisa ditebak arahnya, yakni membunuh karakter.

Karena itulah, Ketua Umum Ansor, Gus Yaqut Cholil Qoumas, mencari identitas bocah ingusan itu walau ia sudah meminta maaf. Dalam twitternya, Gus Yaqut mengatakan, "Proses tetap lanjut!". Bahkan, ia juga akan datangi langsung perusahaan tempat Pandu Wijaya "al-coro" itu bekerja, yakni PT Adhi Karya South Building, Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18 Jakarta 12510.

Duta Islam menyebut Pandu Wijaya sebagai bocah ingusan karena dalam beberapa statusnya, ia memang ingusan. Dalam sebuah kicauan darinya tertanggal 15 Juli 2015, ia bertanya kepada ustadz MA Al Amiry begini, "afwan ana mau tanya bagaiaman jika onani tidak mengeluarkan spesma/ mani apakah membatalkan puasanya? Syukron". Anda bisa bantu jawabkah? Apa harus tanya ke Gus Mus untuk masalah ingusan ini?

Setelah ditelusuri, ternyata akun Pandu Wijaya ikut follow akun-akun penyedia info tidak pantas soal begitu an. Pantas aja pikirannya kotor tak terperi, termasuk kepada kiai. Ini wajah orang yang diburu itu. Sopan di wajah, kotor dalam dahi.

Wajah Pandu Wijaya, sangar tidak yah?
Apa yang ditweetkan oleh Pandu Wijaya si Penghina kiai ini, berbanding terbalik dengan misi hidupnya. Di akun Facebook tertanggal 9 Januari 2015, bocah imut berumur 25 tahun itu mendokumentasikan tujuan baik hidupnya. Seperti anak SD umumnya, di status Facebooknya, ia mempublikasikan secara lebay tujuan hidup yang inginnya "Bebas dari kebencian dan penyakit hati lainnya". Sayangnya, dia tidak berhasil ketika kasus penghinaannya kepada Gus Mus ini diprotes.

Kemungkinan besar, nasib Pandu Wijaya akan sama dengan Deni Iskandar, kader HMI yang menghina Ketum PBNU KH Said Agil Siraj. Bisa jadi ia akan dipecat dari PT Adhi Karya dengan cepat, atau malah kena adzab hukuman penjara. Kita kawal anak satu ini. [dutaislam.com/ ab]



Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

5 komentar

Pada website lain diinfokan respon Gus Mus yang begitu menyejukkan atas kasus ini. Simpati sekali saya dengan respon Gus Mus kala menghadapi hinaan. Coba dipertimbangkan lagi apakah hinaan anak ingusan ini akan dibalas dengan sesuatu yg menghancurkan hidupnya, namanya juga anak ingusan. Coba kalau dimaafkan dan dibina, siapa tahu kalau dimaafkan dia akan menjadi penyokong dakwah aswaja yg setia. Harus diingat sikap pemaaf bisa memadamkan api kebencian, itu tergambar pada kisah Nabi Muhammad memaafkan Wahsyi, Hindun, dll. Hati-hati dengan sikap kita atas nama para tokoh, seringkali ketinggian martabat para tokoh terdegradasi oleh perilaku para pengagumnya. Itu terjadi pada semua kelompok besar Islam saat ini.

kalau benar dia kayawan adhi karya ya resiko nama adhi karya dibawa itu logis hanya untuk mempermudah pencarian orang tersebut kok tidak sedang mengancam adhi karyanya

Saran saya utk sdr pandu, kalau ada apa-apa langsung saja sowan ke Gus Mus, biar ada solusi yg tepat.

Ya namanya manusia, macem2 watak dan keimnannya, yg penting Gus Mus nya sendiri ga marah malah kasi teladan ke santri2nya

Saya yakin seyakin yakinnya klo gus mus bukan tipikal pendendam dan gila dihormati, dan saya yakin anak ingusan itu dimaafkan... Karena gus mus itu ya gus mus yang meninggikan sunnah Rasul.

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini