Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • KHR Asad Syamsul Arifin, Sebuah Biografi Kiai Pahlawan Nasional

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 09 November 2016
    A- A+

    DutaIslam.Com - Alhamdulillah. KH. R. As'ad Syamsul Arifin telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Beliau lahir pada 1897 M./1315 H. di Makkah. Ketika berusia 6 tahun, ia diboyong ayahnya K.H.R. Syamsul Arifin, kembali ke tanah air bersama ibunya, Hanijah Maimunah. Setelah menetap beberapa tahun di Kembang Kuning, ibunya meninggal dan dimakamkan di belakang Mihrab Masjid Talang Pamekasan.

    As’ad menjadi santri perantau dari pondok satu ke pondok lainnya. Di antara pondok-pondok tua yang pernah disinggahi As’ad adalah Pondok Banyuanyar, baik ketika diasuh oleh Kiai Haji Abdul Majid maupun Kiai haji Abdul Hamid; Pondok Sidogiri, Pasuruan, di bawah bimbingan Kiai Haji Nawawi; Pondok Buduran, Panji, Sidoarjo, di bawah asuhan Kiai Haji Khozin; Pondok bangkalan, Madura, di bawah asuhan Kiai Haji Kholil; dan Pondok Tebuireng Jombang, asuhan Kiai Haji Hasyim Asy’ary.

    Di Pondok Tebuireng As’ad memperoleh kesan mendalam sebagai seorang santri. Menurutnya, Tebuireng merupakan pondok yang paling berpengaruh bagi pembentukan kepribadiannya. Bahkan setiap menyinggung pesantren Tebuireng, ia tak putus-putusnya menyebut Hadratusysyeikh Hasyim As’ari sebagai guru terakhir yang paling banyak membentuk wataknya.

    Pada tahun 1983, As’ad mulai aktif membantu ayahnya mengajar di pondok. Materi pelajaran yang diajarkan kepada para santri Sukorejo adalah ilmu Tauhid Elementer yang dikenal dengan ‘aqidatul awām. Tahun berikutnya, As’ad menambah materi pelajaran yang dari kitab Izzi al Kailani dan al-Jurumiyah lengkap dengan tasrif-nya. Materi pelajaran ini dibaca setelah shalat isya’. Sedangkan kitab tasawuf Bidāyatul Hidāyah dan Kifāyatul Akhyār dibaca setiap habis shalat subuh.

    Ma’had Aly merupakan lembaga pendidikan formal terakhir yang sempat didirikan almarhum KHR. As’ad Syamsul Arifin. Lembaga ini dirancangnya untuk menjadi wadah kaderisasi ahli fiqh (at-tafaqquh fi ad-din) karena terilhami Al-Quran surat At-Taubah (9) ayat 122.

    Selain mendidik santri secara langsung dalam majelis ilmu, K.H. As’ad juga membekali mereka melalui buku-buku yang ditulisnya. Di antaranya Kitab Risalah Tauhid yang menyajikan pesan penulis kepada semua santri untuk memperdalam Islam, iman, dan ihsan terutama dalam ilmu Aqa’id. 

    Baginya, Ilmu Ushuluddin perlu ditanamkan dengan kokoh dan kuat ke dalam dada pemuda-pemuda Islam agar tidak tertipu dengan penampilan golongan musuh Islam yang seperti “musang berbulu ayam”. Umat Islam kelak akan dihancurkan akhlaknya dengan diperbanyak kemungkaran dan sejenisnya. 

    Penyalahgunaan ajaran syariat Nabi Muhammad SAW dan penyempitan aksesnya, kemudian persatuan umat Islam dihancurkan, ketaqwaan dilemahkan, akibat umat kurang berhati-hati dan waspada. Karena itu, untuk mendapatkan pemahaman yang benar, para santri terlebih dahulu harus belajar secara tuntas tentang ilmu Tauhid, Fikih, serta Tasawuf.

    Menurut K.H. As’ad, segala ilmu yang tidak dijiwai ketauhidan, alih-alih diharapkan hasilnya akan memuaskan, malah bisa mencelakakan orang tersebut. Namun kalau tauhidnya sudah melekat, ilmunya akan bermanfaat dan barokah. Dalam rangka menanamkan ketauhidan, K.H. As’ad memerintahkan kepada para santrinya, sebelum shalat isya untuk membaca ”sifat 20”. Baginya, hal tersebut bukan sekedar nyanyian. Ditambah Rukun Islam dan Iman, yang semua itu dasar tauhid, dapat mengingatkan para santri akan ketauhidan.

    Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur
    Dari berita yang dimuat di koran, pemikiran dan tindak-tanduk liberal yang dialamatkan pada Gus Dur antara lain terkait keikutsertaannya sebagai juri Festival Film Indonesia. KHR As’ad bahkan menyebut Gus Dur kiai ketoprak lantaran aksinya ini. Lalu terkait wacana Gus Dur mengubah salam “assalamu’alaikum” menjadi “selamat pagi”, dan beberapa kontroversi lain yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Gus Dur.

    Puncak ketidakcocokan Ketua Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar NU ke-27 ini terjadi pada hari terakhir Muktamar Krapyak, Rabu siang, 29 Nopember 1989. Di hadapan media di arena Muktamar yang telah aklamasi memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini, lantang menyatakan diri mufaraqah (memisahkan diri).

    Ketidakcocokan KHR As’ad dengan Gus Dur sebenarnya sudah lama. Keputusan mufaraqah bisa dibilang lebih merupakan kulminasi dari perselisihan panjang antarkeduanya. Perselisihan awal setidaknya sudah dimulai ketika pleno pertama PBNU hasil Muktamar Situbondo, di Pesantren Tebuireng, Jombang pada Januari 1985. Keputusan pleno menyatakan bahwa yang berhak mewakili NU keluar adalah Rais ‘Aam KH Ahmad Shiddiq, dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid. Keputusan ini dinilai membatasi gerak dan langkah ulama sepuh lain, terutama KHR As’ad yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan menteri-menterinya.

    Selengkapnya, kisah Gus Dur dan Kiai As'ad bisa Anda baca di Kiai As'ad Menyayangi Gus Dur dengan Cara "Musuhan". [dutaislam.com/ ab]
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: