Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • KH Sholeh Darat: Merasa Bodoh, Tak Perlu Membaca Kitab Berbahasa Arab

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Minggu, 13 November 2016
    A- A+
    Hanya ilustrasi yah!
    Oleh M Rikza Chamami

    DutaIslam.Com - Kepedulian KH Sholeh Darat terhadap masyarakat awam dalam memahami agama Islam sangat besar sekali. Itulah yang membuat kenapa seluruh karya Mbah Sholeh yang terpublikasi, semuanya menggunakan bahasa lokal (Jawa dengan tulisan Pegon).

    Dengan penuh kesadaran, Mbah Sholeh melihat kebanyakan orang awam di Jawa kesulitan memahami bahasa Arab untuk mengkaji isi kitab-kitab salaf. Maka menerjemahkan karya para ulama Arab, ia lakukan dalam rangka mencerdaskan penduduk Jawa.

    Tradisi keilmuan di Arab oleh Mbah Sholeh juga sangat dijunjung tinggi. Dimana kitab terkecil disebut matan dilanjutkan syarah dan hasyiyah. Maka keruntutan belajar itu harus dijalani secara bertahap.

    Baca juga: Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam di Masa Kolonial

    Ditegaskan bahwa orang yang belajar kitab Arab harus membaca Matan Kitab dahulu, baru dilihat syarahnya. Dan itu pun harus dilakukan secara berulang-ulang hingga memahami isi Matan Kitab.
    Dalam posisi yang demikian, Mbah Sholeh khawatir bahwa orang Jawa Ajam akan bingung memahami kalimat Arab terutama ketika sudah menjadi syarah.

    Termasuk ada pendapat ulama yang menyebutkan: "Wajib 'ain bagi orang yang membaca syarah untuk memahami ilmu alat: nahwu dan sharaf". Sebab dalam kitab syarah selalu berisi hadits dan al Qur'an, maka wajib paham ilmu alat agar benar dalam memahami bacaan dan i'rabnya.

    Ketika orang merasa bodoh (bodo dedel: Jawa), maka oleh Mbah Sholeh disarankan tidak perlu membaca kitab berbahasa Arab. Ia cukup belajar agama dengan kitab-kitab berbahasa Jawa. Sebab yang diinginkan adalah memahami  isi agama, bukan bacaan lafadz Arab.

    Maka untuk mempercepat pemahaman keagamaan orang Jawa, Mbah Sholeh meminta untuk belajar kitab berbahasa Jawa. Misalnya membaca dan belajar karya Mbah Sholeh bernama Kitab Maj'muatus Syari'ah dan Kitab Munjiyat. Ketika orang sudah paham dua kitab ini, maka sudah dianggap cukup dan tidak tergolong hamba Allah yang durhaka.

    Jika masih ada waktu luang dan ilmu pengetahuannya mencukupi, setelah paham isi kitab berbahasa Jawa maka ia boleh belajar nahwu, sharaf, ilmu lughah, manthiq, badi', ma'ani, bayan, arudl, fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits dan ilmu madzhab.

    Sungguh bijaksana sekali kepedulian Mbah Sholeh bagi kaum awam agar tetap berilmu. Keterangan ini diambil dari Kitab Minhajul Atqiya' karya Mbah Sholeh halaman 346-349. [dutaislam.com/ ab]

    Rubrik:

    opini
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Saya org awam dan tidak ingin tergolong hamba yang durhaka. Dimana bisa membeli Kitab Maj'maj'muatus Syari'ah dan Kitab Munjiyat yang diterjemahkan ke bhs Indonesia? Jika ada, tolong dishare link/infonya.