Selasa, 08 November 2016

Kangen Gus Dur: Karenamu, Muslim dan Non Muslim Tahlilan Bersama


DutaIslam.Com - Gus Dur, apa kabar? Saya menulis surat ini kepadamu, tapi tak berharap kau membacanya. Karena saya sadar kau telah benar-benar wafat. Maaf Gus, surat untukmu ini tak sampai ke tanganmu dan akan dibaca banyak orang, baik mengagumi atau membencimu.

Saat kau pergi bersemayam di samping ayah dan kakekmu, banyak orang merasa kehilangan. Tak hanya yang mengagumi, yang menghujatmu pun mengucap belasungkawa. Kau memang telah memberi kesan yang sangat mendalam.

Kontroversi dan pembelaanmu terhadap kelompok minoritas begitu sangat melekat dihati banyak orang. Mungkin, orang-orang yang pernah kau bela kini merasa was was hidup di Indonesia. Orang-orang yang pernah menghujatmu juga tak merasa nyaman lagi karena tak ada sasaran. Yang mengagumimu jadi bingung karena hilang panutan.

Atas kepergianmu, tempat persemayamanmu dipenuhi bunga-bunga, walau kau tak mengharapkannya. Banyak orang ingin menyematkanmu jadi pahlawan nasional, walaupun bisa ditebak kau tak pernah menginginkannya.

Tak hanya itu, bincang-bincang tentangmu juga marak. Sebagian mendekatinya dengan perspektif mistis. Kau diidentikkan dengan angka 9, angka kesempurnaan. Wafatmu jam 18.45 sama-sama berjumlah sembilan (1+8=9, 4+5=9), ditahun 2009 pada umur 69.

Kau juga menyukai musik klasik Beethoven, terutama nomor 9 yang dimainkan 19 orkes dan 19 dirijen. Jadi ketua PBNU pada muktamar ke 27 (2+7=9) di Situbondo dan berakhir pada tahun 1999 saat ia jadi presiden. Ia pergi dari Mesir tahun 1969 dan Irak tahun 1972. Kau juga menghabiskan hidupnya di organisasi masyarakat terbesar yang berlambang sembilan, Nahdlatul Ulama.

Sebagian yang lain memahamimu dari kontroversimu. Di saat semua orang tiarap, kau berdiri tegak mengkritisi Orde Baru. Begitu juga, saat semua orang menghujat Soeharto, kau justru menemuinya. Assalamualaikum menurutmu bisa diganti dengan selamat pagi/sore/malam. Di hadapan pengagumnya, kau ibarat teka-teki yang harus dipecahkan. Sebaliknya, ditangan lawanmu, kontroversimu justru jadi senjata untuk menyerangmu.

Gus Dur, saya ingin mendekatimu dalam cara yang berbeda. Saya tak ingin mengagumimu agar mampu menangkap setiap pesan yang kau bawa sejak lahirmu hingga wafatmu. Bagi saya, kau mengajarkan hidup damai berdampingan tanpa mempersoalkan ragam etnis, budaya dan agama. Kau tak hanya dengan pemeluk Kung Hu Cu, tapi juga meresmikan sebagai agama (official religion).

Bahkan, wafatmu masih juga mengajarkan toleransi. Jika selainmu, acara tahlil dan doa tak akan dikunjungi banyak non-Muslim. Non-Muslim mungkin juga enggan, atau si Muslim akan melarangnya pula.

Tapi karenamu, Muslim dan non-Muslim bisa berdoa bersama, bahkan tahlil bersama. MUI saja melarang mengucap selamat natal kepada non-Muslim. Namun—apakah karena terpukau atas ketokohanmu atau mulai tak usil lagi—tak ada fatwa haram dari MUI untuk mengunjungi makammu dan mendoakanmu, bagi siapapun termasuk non-Muslim.

Namun Gus, maaf saya belum sempat mengunjungimu di Jombang. Tradisi ziarah kubur yang sering kau contohkan masih belum saya lakukan terhadapmu. Sengaja saya tak menemuimu di Jombang, karena saya ingin menemuimu di hatiku, atau hanya dikertas-kertas karyamu.

Gus, di dunia setelah kematian ini, apakah kau masih membela kepentingan minoritas? Apakah kau masih mengajarkan toleransi, suka mengkritik walau tak pernah mengeluh, dan menyukai lagu Remang-Remang? Selamat jalan Gus, sampai ketemu nanti dipersimpangan jalan berikutnya. [dutaislam.com/ ab]

Dari Hatim Gazali
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini