Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Ini Bukti Demo 411 Tidak Bermartabat dan Penuh Kebencian

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Selasa, 08 November 2016
    A- A+

    DutaIslam.Com - Bukti bahwa aksi demo 4 November 2016 yang mengatasnamkan "Bela Islam II" tidak bertujuan murni membela kemuliaan kitab suci Al-Qur'an adalah banyaknya efek kebencian dan kemuraman pasca demo tersebut usai.

    Tim media cyber yang terhimpun dalam "Grup Relawan Media" yang dibentuk oleh panitia demo berbudget 100 miliar lebih itu mengaku kewalahan dan pasrah ata efek demosntrasi yang awalnya damia tapi berakhir ricuh tersebut.

    Mereka pasrah karena fakta yang ada di lapangan, peserta demo yang masih nggerundel atas "gagalnya misi" masih tidak terima atas keputusan pemerintah yang sah. Mereka dihajar habis dan diungkap borok-boroknya oleh media-media Aswaja yang selama ini mereka serang dan disebut sebagai antek kafir, cina, liberal, syiah wa ashhabihi ajma'in.

    Duta Islam pun tidak lepas dari serangan-serangan cyber yang tidak terima ketika efek demo diungkap. Inbox, email, komentar-komentar miring masuk ke meja redaksi selama 2 hari terakhir. Bahkan ada yang mengirim suara tahi bosok via Facebook. Itu membuktikan bahwa kebencian, hasudan, berita hoax, dan kebohongan-kebohongan (dibalik kepentingan asing), memang sudah ada di depan mata, sekitar kita. Beberapa bukti bahwa demo 411 itu tidak bermartabat adalah:

    1. Banyak kebohongan seputar demo yang dibutar balik sehingga seperti fakta. Banyak hal yang diberitakan tidak sesuai fakta publik, misalnya seperti menyebut Menteri Agama ikut dukung demo dengan aksi turun langsung ke lapangan, dan lain-lain. Silakan baca Membongkar Kebohongan FPI Seputar Demo 4 November 2016.

    2. Membuat kabar-kabar palsu untuk menarik simpati dan perhatian masyarakat serta membuat kesan salah kepada aparat penegak hukum bahwa selama ini, aksi mereka itu benar. Misalnya, menyebut kalau provokator penyusup adalah dari kalangan non-muslim. Padahal, setelah dibongkar, ternyata tidak. Baca lebih lanjut di Bongkar Kabar Hoax Seputar Berita Demo 4 November 2016.

    3. Menggunakan media sosial untuk memprovokasi followernya tanpa menggunakan cara yang elegan. Misalnya, melarang menonton Metro TV karena dianggap media liberal dll, memutar balikkan berita Rapat Akbar di Jombang jadi rapat perang. Silakan baca lengkap di 1). Akun Intagram Mengatasnamkan Santri Ini Melakukan Provokasi Radikal, 2). NUGL Berulah, Rapat Akbar Dihasud Jadi Perintah Makar (Perang).

    4. Yang paling nampak tidak bermartabat adalah adanya pengakuan panitia demo yang mendapat suntikan dana hingga 100 miliar. Sayangnya, pasca demo, angka ratusan miliar itu dikembalikan oleh "relawan media" mereka untuk media-media Aswaja semacam Duta Islam ini. Bahkan memfitnah kalau media yang menyerang mereka mendapatkan dana untuk mempengaruhi masyarakat selama 2 minggu ke depan hingga angkanya 200 miliar. Hahahah. Ini broadcast mereka yang nyasar ke group admin web Aswaja. Telihat kelimpungan mencari celah mempertahankan martabat mereka yang terbongkar kebusukannya:


    5. Benih-benih radikalisme pasca demo 411 kian tumbuh di kalangan aktivis mahasiswa, agamawan dan warga masyarakat umum yang termakan opini media buzzer mereka. Bahkan ada seorang agamawan yang dulunya welcome dengan orang-orang non muslim, kini makin ekslusif dan tumbuh rasa curiga dalam pikirannya. Ini yang kemudian Duta Islam menyebut bahwa demo 4 November 2016 kemarin adalah momentum konsolidasi kalangan Islam Radikal. Anehnya, kebencian itu justru ada yang muncul dari kalangan aktivis HMI yang dulu terkenal moderat. Ia menghina NU dan Ketum PBNU hanya karena tidak ikut marayakan demo. Lihat beritanya di editorial: Menghina Ketum PBNU dan Ulama, Kader HMI Dipolisikan Ansor Tangsel

    6. Makin tambah nampak tidak bermartabat dengan hadirnya sekelompok Islam garis keras yang mengancam pemerintah, jika nafsu nya menangkap Ahok tidak dipenuhi, maka, nafsu jihad qital nya akan segera dilampiaskan. Kelompok ini menyebut akan menjadikan Indonesia sebagai negara perang (darul harb) jika Ahok tidak segera diadili. Bacalah beritanya: Video Makar: Jika Ahok Tidak Ditangkap, Indonesia Jadi Negara Perang. Naudzubillah. 

    Inti dari 6 hal di atas adalah, mereka menginginkan: 1) Mengajak para netizen dan pembaca agar aksi mereka ini dianggap betul-betul murni atas perintah Allah dan tidak ada unsur politis, 2) Mendapat simpati masyarakat dengan menyebut kalau mereka terdholimi, 3) Menunjukkan kalau mereka akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan kemenangan politis melawan kafirin, 4) Apa yang mereka lakukan selalu benar di mata umat Islam, 5) Membuat Indonesia medan perang atau darul harb.

    Dari bukti-bukti yang bisa Anda baca di atas, cukup kiranya menyampaikan bahwa martabat demo kemarin adalah rendah. Tujuan di permukaan memang karena membela Al-Qur'an, tapi ingat, di balik semua itu, ada kepentingan yang bermain, yang, memanfaatkan kecintaan umat Islam kepada agama dan kitab sucinya tanpa mengetahui peta politik.

    Andai saja yang menyebut Al Maidah 51 bukan Ahok, dan harus dari kalangan tokoh agama, maka, demo tidak akan terjadi. Begitulah politik. Bahayanya melebihi bom nuklir jika memanfaatkan ayat suci dan kalam ilahi. Hati-hati provokasi tidak bermartabat dari aktivis relawan media 411, seperti meme Habib Rizieq di atas! [dutaislam.com/ ab]
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Makanya, pelajaran buat ahok dan para pemimpin: jaga kata-katanya dan jangan masuk wilayah agama orang lain, apalagi menjelang pilkada. Coba sekali-sekali duta islam nasihati juga ahoknya.