Jumat, 11 November 2016

Hantu Kabar Hoax


Oleh M Abdullah Badri

DutaIslam.Com - Derasnya arus informasi di dunia maya yang tak bisa dicegah digunakan oleh kalangan tertentu untuk mempengaruhi masyarakat melalui penyebaran berita hoax atau palsu. Mereka yang memiliki akses internet dan media sosial jadi korban informasi yang dibuat-buat tersebut.

Tidak ada bukti, namun seolah beritanya benar dan memang terkesan meminta kebenaran. Itulah hoax. Biasanya, informasi hoax beredar dalam bentuk brodcast, laporan teks dengan caption foto yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Jumlahnya bisa berlipat jika berbarengan dengan momen politik, konflik sosial atau peristiwa mutakhir yang menyita perhatian netizen. Dan, ironisnya, masyarakat kita yang belum dekat dengan budaya tabayyun (klarifikasi), mudah menyebarkan, apalagi diberi janji-janji surga jika ikut share.

"Jika Anda menyebarkan ini, maka Anda ikut berjuang melawan ana dan ani," begitu pesannya. Ada yang lebih nakal lagi, "silakan ucapkan amin, lalu sebarkan jika Anda mengaku ini dan itu," tulisnya.

Dan anehnya, meskipun sudah banyak laporan di media online menyebut sebuah berita sebagai kabar hoax, misalnya, masih ada saja yang di bulan atau tahun berikutnya ikut menyebarkan. Berita hoax selalu mencari ruang baru untuk menyampaikan pesan kepada yang pertama kali menerima, korban terbaru.

Ironis lagi, yang menyebar justru tidak jarang adalah tokoh masyarakat. Ini yang lebih bahaya karena di mata umatnya, dia begitu dipercaya. Artinya, dampak kabar hoax alias palsu ini tidak menentukan sasaran khusus. Semuanya kena. Yang alim maupun yang dholim, bisa jadi korban informasi.

Menahan diri untuk ikut share informasi yang tidak benar, amat sulit dilakukan. Apalagi ketika kita sudah merasa harus membela sesuatu yang dianggap benar, sah dan memang perlu dibela. Duh, repot kan!

Fanatisme pribadi atau dukungan kebenaran atas hal yang memang perlu diungkap kebenarannya menurut kita itulah yang membuat setiap orang mau dan secara suka rela menghabiskan kuota untuk ikut menyebar ke semua jaringan yang ada, bisa ke group WhatsApp, BBM, Facebook, Twitter, Line dan lainnya.

Akibatnya, pesan bisa sampai ke penerima dengan jumlah yang tidak terhitung, terprediksi, terdata dan terkoordinasi, seperti dampak nuklir. Pengaruh kabar hoax itu seperti hantu. Tidak nampak hasilnya secara ril, tapi terasa hasilnya menggemaskan, yakni mengacaukan pikiran dan menumbuhkan semangat kebenaran atas pesan.

Kabar hoax akhirnya bisa menghantui kepada siapa saja yang menerimanya namun tidak ikut share dan tidak mau mengakui trust informasinya. Megilan, kata orang Jawa. Ini misalnya: http://bit.ly/2fVgnzh

Esai singkat ini hanya ingin memberi informasi (bukan hoax) bahwa sebetulnya setiap kabar itu, dalam ilmu Mantiq, memiliki sifat yahtamilus shidqa wal kadzib (bisa mengandung unsur kebenaran dan kebohongan). Setiap kabar pasti begitu. Pernyataan inilah yang pasti bukan hoax. Demikian yang diajarkan guru saya waktu di madsarah TBS Kudus.

Jadi, jika ada sebuah kabar yang mampir, lalu mengajak untuk melakukan sesuatu hal tanpa dilengkapi data (misalnya waktu, tempat, aktor, dan bagaimana kabar terjadi, dengan bukti), 50 persen masih harus diklarifikasi. Cara paling mudah mendeteksi hoax adalah, jika Anda menemukan kontradiksi antara yang Anda ketahui dengan yang ada di pesan tersebut.

Jika kita meyakini bahwa Allah tidak ada di Arays, tapi kekuasan-Nya lah Maha Besar, lalu Anda menerima info baru bahwa Allah bersemayam di atas Arasy secara fisik, sehingga menyebut kaki Allah besaar sekali dan mata kita tidak mampu melihat karenanya, maka, jangan langsung dishare. Itu hoax tauhid 100 persen.

Bahkan bisa saya nyatakan hoaxnya dibantah Allah sendiri dengan ayat laitsa ka mistlihi syai'un (tidak ada yang menyerupainya), dengan sifat-Nya, qiyamuhu binafsih (berdiri di atas dzatnya sendiri), bukan di atas Arasy. Begitu yah, semoga faham dan saya tidak difenthung. Terimakasih. [dutaislam.com/ ab]

M Abdullah Badri, mukim di @badriologi. 
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini