Sabtu, 05 November 2016

Habib Luthfi: Orang Takut Bicara Sejarah Ahli Bait Karena Kuatir Dituduh Syiah

foto habib luthfi merokok
Ceramah: Habib Luthfi di Maulid Kebangsaan Baiat 1000 Santri Sarkub di Bangsri, Jepara (27/10/2016)
Foto: dutaislam.com/purnomo
DutaIslam.Com - Pengajian ini sangat penting karena tema cinta NKRI bergendengan dengan maulidin Nabi. Di mana-mana, maulid Nabi kini diperingati. Bahkan di Sumatra, Kalimantan dan lainnya mulai ada perkembangan. Maulid makin mekar dan subur.  

Kenapa Maulid Nabi selalu diperingati? Pada dasarnya ada dua alasan. Pertama, melaui maulid Nabi, kita diingatkan perlunya mahabbah atau cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam yang sementara waktu sekarang ini, sudah mulai meluntur dan tidak ada gumregah (semangat kembali, red).

Kedua, cinta kepada Nabi adalah hal yang paling jelas besok di alam kubur ditanyakan. Seberapa besar selaku umat Nabi, kita kenal beliau, apa hanya sekedar kenal sebagai utusan Allah yang harus kita imani? Mestinya harus lebih jauh dari itu, karena kanjeng Nabi diciptakan Allah sebagai afdlolul kholqi alal ithlaq (paling utamanya makhluk secara mutlak).

Sayangnya, penanaman dua hal itu itu sangat kurang karena dua hal. 1) Mungkin sebagian karena kesibukan orangtua kita masing-masing, yang ke 2) Dalam dunia pendidikan kita, yang diajarkan adalah ilmunya, namun yang membawa ilmu nya dari awal, tidak diperhatikan.

Contoh paling gampang adalah diri kita sendiri yang bisa menceritakan Walisongo atau lainnya, tapi kuburannya saja tidak dirawat. Kuburannya hilang hanya karena tidak terawat. Ceritanya masih ada, tapi ketika ditanya, “itu kuburannya di mana?”, dijawab ragu, “kayaknya di sini,” misal. Yang lain membantah, “bukan, makamnya ada di pojok sana”. Akhirnya ribut. Ujung-ujungnya istikharah. Itu bisa terjadi karena kurang memperhatikan sejarah.

Hanya iman yang menentukan seorang manusia selamat. Bahkan di alam kubur nanti, yang ditanyakan pertama bukan man robbuka. Tapi soal iman dan cinta kepada Nabi. Lihat Kitab Sa’adatud Daroin dan Afdlolus Shalawat, yang mencacat sabda Nabi “awwalu ma yas'alani fil qobri, anni” (besok yang pertama kali ditanyakan di alam kubur itu aku).

Malaikat akan bertanya, bukti cintanya apa? Baru setelah terbukti kenal, pertanyaan dilanjut dengan “man robbuka, wa man nabiyyuka, wa ma qiblatuka, wa man ikhwanuka,” dan pertanyaan lainnya hingga pada pertanyaan kenal tidak dengan dengan tanah airnya, kenal tidak dengan bangsanya.
Kalau cintanya kepada bangsa sungguh-sungguh, dia akan kuat cintanya kepada tanah air ini. 

Kalau cintanya kepada tanah airnya sungguh sungguh, cintanya kepada bangsa juga sungguh-sungguh. Tapi kalau dua-dua nya sudah meluntur, ya allahummah dina fi man hadait (Ya Allah, tunjukkan jalan bagi orang-orang yang engkau kehendaki mendapatkan petunjuk).

Inilah yang saya kuatirkan sejak lama. Dan sepertinya kian lama semakin nyata dan makin tambah nampak proses melunturnya urusan mahabbah ini, baik kepada Nabi maupun bangsa ini. Mau disadari atau tidak, itu fakta.

Perhatian orang yang memiliki mahabbah itu berbeda dengan yang tidak memilikinya. Orang yang tidak punya mahabbah akan lebih cenderung membuka aib orang lain. Tidak hanya kepada orang lain, bahkan sedulurnya sendiri yang kakak-adik, kalau di antara mereka sudah putus rasa saling mencintai, cara menghina dan menghardiknya bisa diwarnai kebencian penuh mulai dari ubub-ubun sampai telapak kaki.  Kalau kepada saudaranya sendiri sudah begitu, apalagi kepada orang lain. Itu penyakit.

Cinta Ahlul Bait
Kalau cintanya kepada Nabi sungguh-sungguh, ia akan menjaga ahlul bait Nabi. Ia akan berusaha mencegah jangan sampai keturunan Kanjeng Nabi itu cacatnya keluar hingga harus nyenggol kehormatan Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam. Aibnya selalu harus ia tutupi.

Begitu juga kepada sahabat Nabi. Menyebut kekurangan para sahabat tapi ilmunya tidak ada, akhirnya ikut menyalahkan dan mengkritik Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam. Apa itu yang disebut mahabbah?

Tidak cukup sampai di situ, mahabbah juga harus ditanamkan kepada Azwajun Nabi (para istri Nabi), Dzrurriyantun Nabi (keturunan Kanjeng Nabi) hingga para ulama-ulama Nabi. Kalau kita mengaku cinta kepada Kanjeng Nabi, pasti akan menutupi kekurangan-kekurangan ahli baitin Nabi, ashhabun Nabi (para sahabat Nabi), azwajun Nabi dan dzurriyatun Nabi serta para pewaris-pewaris Nabi shallahu alaihi wa sallam.

Orang yang mencintai ulama tidak akan membuka kartu (aib) ma bainal ulamai'ain wa ma bainal habibain (antar dua ulama atau dua habib). Jika sampai terjadi saling tuding, itu artinya sama dengan membuka kesempatan bagi orang lain atau bangsa lain untuk tepuk tangan (keplok) karena kita yang membuka sendiri aib saudara.

Suami istri contohnya, mereka pasti punya cacat atau kekurangan masing-masing, baik cacat fisik maupun cacat lain. Namun karena sudah mahabbah (cinta, trisna) dan welas asih, mereka tidak akan terima jika ada orang lain membincang kekurangan itu walau memang benar adanya. Apa perlunya membicarakan aib pasangan orang lain? Apa tidak ada yang lebih pantas dibicarakan?

Bagi orang-orang yang mahabbah, yang mengetahui makna al-mukmin akhul mukmin (sesama orang mukmin itu bersaudara), al-muslim akhul muslim (sesama orang muslim itu bersaudara), pasti ia akan menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada saudara kita, khusunya umat Islam Indonesia, umumnya sesama bangsa ini.

Di Indonesia ini ada jenis persaudaraan. 1) Seagama, sebangsa dan setanah air. Itu adalah persaudaran antar sesama orang Islam-orang Indonesia. 2) Sebangsa dan setanah air. Walaupun beda agama, itu saudara kita. Cacatnya dia yang dibuka, berarti sama dengan membuka aib kita sendiri. Yang dicap pastinya kita, orang Indonesia. Orang lain akan mengatakan, “orang Indonesia kok begitu. Katanya kulturnya luar biasa dan adab ketimurannya luar biasa”.

Orang yang benar-benar mahabbah dan cinta kepada tanah airnya, ia menutupi aib saudaranya sendiri sebagai bentuk nasihat bukan dalam rangka menutupi cacatnya saja. Jangan salah paham.

"Biar saya saja yang mamarahi dan nyelentik, daripada dimarahi orang lain. Yang penting orang lain tidak mencampuri. Ini urusan keluarga, Anda orang luar, tolong jangan ikut mencampuri urusan internal," inilah pemahaman yang benar dalam konteks masalah menutupi aib dan sekaligus menasehati.

Sejarah yang Kandas
Selanjutnya, setelah problem mahabbah, bangsa ini mengalami kelunturan mempelajari sejarah. Terlebih jika bicara sejarah ahli baitin Nabi. Sekarang ini, banyak orang takut membicarakan sejarah keturunan Nabi. Kalau terlanjur bicara sejarah Sayyid Imam Husain misalnya, akan kena sebutan Syiah. Bicara sejarah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, disebut Syiah.

Dengan model kalimat Syiah, akhirnya hilang sejarah Imam Ali Bin Abi Thalib, Sayyid Hasan dan Husain, Sayyid Ali Zainal Abidin dan Sayyidi Muhammad bin Bagir. Membahas sejarah para imam pun (aimmah fi ddin), takut dituding Syiah.

Lama-kelamaan, ketika kita menceritakan Walisongo akan takut juga karena mau dibahas dengan sudut yang banyak perbedaan sekalipun, tidak bisa dipungkiri lagi mereka adalah keturunan Syiah.

Sunan Kudus bin Ahmad Rahmat Fillah dan Sunan Mandalika (Sunan Haji) bin Ali Al-Murtadlo (kakak) Sunan Ampel Ahmad Rahmat Fillah bin Ibrahim Asmroqondi bin Jamaluddin Husain bin Ahmad Syeikh Jalal bin Abdullah Uzmat Khan bin Amir Abdul Malik bin Alwi Ammal Faqih bin Muhammad Sahib Marbath bin Ali Ali Khali’ Ghassam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa An Naqi bin Muhammad An-Naqi bin Ali Al-Uraidli bin Ja’far Shadiq, yang dicap Syiah.

Padahal Imam Ja'far Shadiq adalah guru para aimmatil muslimin, termasuk guru dari Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal dan lain sebagainya. Nanti kalau sudah dituduh Syiah, gampang, “itu kuburan orang Syiah, hancurkan,” mau apa kita selanjutnya?

Kita ini dipolitisir, digiring tapi tidak merasa. Nanti kalau Walisongo sudah begitu, gantian, tinggal NU nya yang jadi sasaran target. Maulid, Syiah. Manaqib, Syiah. Berarti yang menuding merasa paling sunni sendiri. Kita digiring.

Habaib dengan Habaib dibenturkan dengan asyik. Di panggung, mereka saling tuding sana-tuding sini. Kata orang yang cinta habib, “ini yang benar habib yang mana?”. Mereka bingung karena antar habib saling lempar pukul. Kiainya juga sama. Satu ikut golongan A, satunya condong ke golongan B. Yang satu ndalil, “kama qola ta'ala, yang satunya lagi berdalil kama qolan nabi.” Jualan hadits dan Qur’an semua akhirnya. Yang bodoh, bingung. Zaman sudah sampai tahapan ini.

Makanya, anak muda harus tahu sejarah, agar melek. Saya sebetulnya terpaksa buka. Semoga dipahami: Jika tuduhan Syiah berhasil ditanamkan kepada Walisogo, selanjutnya, keraton Cirebon juga akan disebut Syiah karena Syarif Hidayatullah itu Walisongo, keturunan Imam Syiah. Banten juga sama. Yang masih keturunan Walisongo, akan kena sebutan Syiah. Kalau sudah begitu bagaimana? Ala khatorin adzim (dari dasar hati yang paling), kita digiring ke sana tapi tidak sadar.

Meski begitu, orang-orang Nahdlatul Ulama’ subhanallah ajiib. Mereka diam dan tidak banyak menanggapi karena khawatir dengan ahli baitin Nabi kalau antar mereka nantinya dibenturkan, yang satu Sunni yang satunya lagi disebut sebagai Syiah.

Yang menang nantinya akan dibenturkan dengan NU. Akhirnya NU tidak suka habib, dan habib tidak suka NU. Ada oknum satu saja yang tidak suka NU, akan dibuat modal (oleh yang tidak suka, red) untuk adu domba.  

Itu ibarat gedebok bosok (batang pohon pisang busuk) yang terdampar di lautan luas. Satu oknum tersebut akan dibuat modal merendahkan kepercayaan masyarakat kepada NU, sementara laut yang begitu luas, yakni NU sebagai gerakan, dihilangkan. Satu gedebok saja, bisa mengalahkan luas dan dalamnya kandugan laut.

Mestinya kita jangan melihat gedebok satu, tapi lihatlah lautan yang luas itu. Ikan yang bagus masih banyak. Bahkan di dalam lautan masih banyak mutiara terpendam yang mahal sekali. Itu yang ada dalam Nahdlatul Ulama.

Tanamkan mulai sekarang bangga kepada NU. Tanamkan regenerasi sekarang kenal dengan NU. Bapaknya alim kitab dan lain sebagainya tapi ada anaknya tidak tahu NU, Ya Allah itu kebangeten. NU kelihatan gagah, tapi kalau di dalamnya tidak banyak regenerasi yang mengerti NU, harus waspada. Ini yang harus dipahami.

Nyuwun sewu, ma’asyiral muslimin,
Terjadi kelunturan sejarah karena kurangnya mempelajari sejarah. Salah satunya adalah sejarah kebangsaan. Kita harus tahu bagaimana perjalanan para ulama-ulama kita, mulai baginda Nabi, diganti Sayyidina Abu bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman hingga  Sayyidina Ali.

Sejak saat itu sudah ada titik-titik konflik dan pecah belah luar biasa yang harus dipelajari. Sebelum Sayyidina Ali jadi khalifah, keadaan sudah runyam dan sulit. Ketika Sayyidina Ali jadi, spontan diminta memperbaiki yang sudah sedemikian rumit itu. Ini harus dipahami agar tidak gampang ngomong kalau Sayyidina Ali tidak lebih berwibawa daripada Sayyidina Umar, hanya karena konflik yang tak kunjung usai teratasi.  

Tidak mudah menyelesaikan perkara yang sudah rumit duluan. Kalau ditunjukkan keramat, apa orang akan langsung cepat tobat dan perkara selesai? Buktinya Kanjeng Nabi sendiri menunjukkan mukjizat bulan dibelah saja tidak seluruhnya beriman. Padahal, orang-orang saat itu menyaksikan semua. Yang iman ya iman, yang tidak ya tidak. Begitu juga dengan Sayyidina Ali.

Membeda-bedakan Sayyidina Ali dan Sayyidina Umar itu sebenarnya sangat tidak pantas, apalagi mengukur kewibawaan keduanya. Tidak usah hidup di zaman itulah, andai mereka (yang membedakan itu) hidup di zaman penjajahan Belanda saja, mereka tidak kuat. Apalagi di zaman sahabat. 

Yang dihadapi di masing-masing kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali, itu berbeda. Di zaman Sayyidina Ali, ketika musuh kalah dan kepepet dalam perang, modalnya satu untuk memberhentikan pertempuran, yakni menaruh Al-Qur'an di tombak (tahkim/minta pengadilan).

Strategi tahkim itu tidak dihiraukan oleh Sayyidina Ali sebetulnya. Ia berkata, “pukul, idrib!” (kepada yang membuat tahkim). Namun, sebagian tentara Iraq tidak mau (tidak taat perintah khalifah). Mereka mundur dan mengatakan, “ini Qur'an, ya Imam Ali”.

Mereka,- para tentara Iraq,- melihat Qur'an yang ada tombaknya. Kalau sayyidina Ali melihat tombaknya saja. Terjadi beda pandangan (perspektif baca). Bagi Sayyidina Ali, kalau Qur’an diambil dari tombak, ditaruh lemari, selesai (tidak ada urusan). Tapi kalau tombaknya terus digunakan untuk perang sana-sini, ini yang membuat kacau. Peristiwa tahkim ini adalah isyarah dari Sayyidina Ali dan para sahabat lain.

Di zaman Sayyidina Abu Bakar saja sudah ada Nabi palsu bernama Musailamatul Kadzdzab. Apa kalau ada Musailamah di zaman itu akhirnya Abu Bakar disebut kurang berwibawa? Mereka ini selalu mencari kelemahan-kelemahan para sahabat. Terutama ahlul bait.

Sejarah terus berjalan. Penguasa mulai Bani Umayyah sampai Bani Abbasiyah, mengejar ahlu baitin Nabi beserta ulama ahlussunnah yang jadi korban seperti Imam Nasa’i dan murid-muridnyanya. Waktu itu, ahli bait Nabi bisa bernafas saja sudah beruntung.  

Ini belum bicara Islam di Spanyol. Kurang apa Islam yang sudah berdiri 350 tahun berjaya di sana? Kok tumbang, apa sebabnya? Bukan Islamnya, tapi orangnya yang jadi penyebab utama.

Sejarah Runtuhnya Kerajaan Nusantara
Subhanallah, untuk urusan perpecahan ini, sekali lagi, ulama kita tidak berlibat. Mereka berjuang dan berjuang, walaupun pahit, mereka berjuang dengan segala kekuatan dakwah yang ada dan sampai ke Indonesia hingga munculnya Portugis.

Dalam perjalanannya, Portugis berusaha menghancurkan kerajaan Samudra Pasai Aceh dan Malaka karena keduanya adalah pusat kekuatan Islam waktu itu. Portugis menyerang.

Untuk menghadapinya, putra mahkota Demak diperbantukan oleh orangtua Sultan Abdul Fattah Adipati Yunus Minangkabau, tapi gagal karena gelombang luar biasa. Tentara Demak diterpa angin badai dan banyak yang meninggal di laut. Pasukan Demak merapat di pelabuhan Palembang.

Di Palembang, ada sejarah istimewa, yakni lahirnya raden Fattah. Di sana ia ditipkan ke Aryo Damar yang sudah muslim. Hasil perkawinan antara Aryo Damar dan ibunda Raden Fatah setelah dicerai Brawijaya, melahirkan Raden Husain. Tapi ia dididik dan diikuti oleh Gerindra Wardana dari Majapahit. Nama terakhir itulah yang mengusir ayah Raden Fatah ke Gunung Lawu. Dalam sejarah, ada cerita Raden Fatah pernah menyerang Gerindra Wardana. Namun ada sejarah yang dipelintir, katanya, raden Fatah menyerang dengan orang tuanya sendiri.

Akhirnya, pada 1511 Malaka jatuh karena sulit dipertahankan. Ulama Islam waktu itu banyak, mengapa bisa kalah, apa sebabnya? Padahal, wa qod ja’al haqqu wa zahaqol batil, innal bathila kaana zahuqo (yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap). Harusnya  kan begitu. Tapi nyatanya tidak.

Jangan menyalahkan Al-Qur’an. Itu ayatnya benar, kita yang belum tentu benar. Aceh tumbang oleh Portugis. Mulai Iskandar Muda sampai Kerajaan Malaka pun habis oleh penjajah. Begitu juga Palembang.

Portugis tidak patah ambisius. Mereka meralih membisiki kerajaan Demak. Setelah Gerindra Wardana perang dengan Demak, kakak adik tunggal ibu, diadu domba. Raden Fatah terpaksa harus berhadapan dengan adik kandung beda ayah, yakni Raden Husain. Yang jadi korban kala itu adalah Maulana Makdum (Usman Haji), dimakamkan di Demak. Nama terakhir ini berbeda dengan Maulana Makdum yang pusaranya ada di Pulau Mandalika.

Singkat cerita, akhirnya Patih Kudoro yang berhasil membunuh Gerindra Wardana mengangkat dirinya menjadi Brawijaya ke-6. Raden Fatah yang punya perjanjian dengan Portugis harus menyerang Demak. Demak diserang setelah jatuhnya Malaka karena kuatir kalau Demak menjadi pusat penyebaran Islam.

Digempur habis, Demak selesai dan runtuh. Tapi Portugis masih saja membisiki Padjajaran (Siliwangi) dengan membuat perjanjian di batu tulis (pada zaman Sultan Trenggono). Sultan Trenggono mengetahui ini berbahaya, akhirnya mengirim Maulana Syarif Hidayatullah dan Sayyid Fadhil (saudara Sayyid Malik Ibrahim) berangkat dengan pasukan Sunan Kudus (yang menjadi panglima angkatan laut) ke Sunda Kelapa menghadang Portugis.

Ketika itu, yang sudah Islam adalah Patih Banten, tapi bupatinya belum. Tapi tuntutan nasionalimse yang hebat telah terbukti membantu Maulana Syarif Hidayatullah yang sama-sama mempertahankan Banten dari penjajahan Portugis. Berhasil dan menang. Itu hebatnya nasionalisme dan cinta tanah air. Akhirnya ibu kota Banten yang dulu disebut Sunda Kelapa dipindah jadi Jayakarta (sekarang Jakarta).

Setelah Sultan Trenggono wafat, ternyata tidak menenangkan suasana tapi malah menimbulkan pecah belah keluarga dan perang saudara. Tidak diambil hikmahnya, tapi justru rebutan antar pihak berkepentingan dan saling eker-ekeran. Ini yang saya kuatirkan. Jangan sampai Indonesia terjadi seperti ini. Ini sudah contoh untuk Anda semua. Anda diberikan contoh oleh keluarga Demak pada zaman itu.

Banten yang begitu kuat pada zaman Rahmat Rofiuddin pun selesai. Begitu juga kerajaan-kerajaan Islam lain, semuanya selesai. Paling hanya tersisa beberapa kerajaan saja. Dalam kondisi yang sudah terpecah belah tersebut, untung saja Maulana Syarif Hidayatullah mempertahankan Pantura dengan berdirinya Kerajaan Banten sendiri. Meski itu terpaksa.

Begitu juga Sunan Kudus, Sunan Giri dan Syeikh Abdurrohman Raden Syahid (Sunan Kalijogo) yang masih hidup pada waktu, bisa cepat mengatasi dengan berdirinya Kerajaan Pajang. Walau terpaksa juga melakukan itu. Aman sudah situasinya.

Tidak lama kemudian, masuk VOC ke Indonesia. Mereka membeli tanah dimana-mana. Membuat kantor gubernuran, istilahnya. Padahal hakikatnya kantor perdagangan. Setelah memiliki tanah banyak, mereka memperkuat dengan membangun benteng.  Mengetahui agenda politik yang membahayakan dari VOC, Sultan Agung melakukan perlawanan. Namun dua kali gagal.

Muncullah tokoh-tokoh yang mengobarkan semangat perjuangan setelahnya. Lahir Diponegoro, Kiai Mojo, Sentot Prawirodirjo, Jenderal Sudirman, Bung Karno hingga pak Harto dan seterusnya.

Dari kalangan ulama, ada Mbah Hasyim, Kiai Dahlan, Kiai Wahab, dan lainnya. Titik-titik perlawanan muncul di Buntet, Bendokerep, Gedongan, Kempet, Balekambang dan lainnya. Mereka memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan menegakkan merah putih. Diri kita sudah sampai mana mengucapkan terimakasih kepada mereka?

Terimakasih Kepada Ulama
Kita harus bersyukur kepada ulama kita. Ulama kita luar biasa, khususnya dari NU. Mestinya kita harus mengucapkan terima kasih kepada beliau, “Mbah Hasyim Jazakumullah khoiron kastir, Kiai Wahab, Mbah Kholil, Mbah Habib Hasyim, ya kiai fulan yang memperkuat dan menumbuhkan NU, jazakumullah khoiron katsir,” mestinya begitu.

Jangan malah NU yang digembosi untuk (kepentingan) orang lain. Aneh. Mulainya pecah belah itu di sini. Saya selalu bertanya sampai sekarang, sejauh mana terima kasih kita kepada sesepuh-sesepuh.

Ini adalah pengingat buat kalian-kalian yang masih muda. Indonesia ini, yang bisa mempertahankan ke depan adalah kalian. Tolong jangan kecewakan para sesepuh-sesepuh bangsa ini. Persiapkan tanggungjawab kalian untuk mempertahankan bangsa. Indonesia merdeka bukan hadiah, tapi berdarah. Untuk menegakkan merah putih, itu sudah banyak korban yang hilang.

Makanya saya salut, jam segini (hampir jam 2 dini hari) Anda masih melek ngaji, angkat topi buat jenengan semua. Tapi tolong catat sejarah ini. Jangan “kepaten obor sejarah” (kehilangan daya hidup dari sejarah). Untuk mempertahankan NKRI adalah dengan mempertahankan sejarah sehingga diri kita tidak tergolong orang “yang kepaten obor”. Itu penting. Banyak tokoh-tokoh kita yang membangun pertanian dan membangkitkan semangat hubbul wathon. Banyak sekali.

Jangan ngomong pasar sepi. Pasar tergantung langkah (kreatif) kita. Coba perhatikan, kita akan senang jika hasil karya bumi pertiwi ini seperti kacang, jengkol, jambu, jambu mete, durian dan lainnya kita sendiri yang menanam. Tunjukkan dengan bangga, ini durian dari Jepara. Tunjukkan bahwa Indonesia tidak melarat, Indonesia mampu. Apalagi hanya menanam durian yang tidak kalah isinya dengan negara lain. Kita harus fanatik juga terhadap buah-buahan yang keluar dari bumi pertiwi ini.

Katakan, kami lebih suka memberikan income (pemasukan) untuk negara kami sebelum memberikan income kepada negara lain. Itu prinsip. Kok urusan sandal saja sepertinya tidak percaya diri memakai jika tidak ada tulisan made in Japan. Padahal, itu buatan dari Tegal atau daerah lainnya.

Jamu, durian, ayam, lele, kok disebut Bangkok semua. Kita hanya kebagian gula Jawa saja. Ini nasib. Orang kaya, tapi melarat. Tapi anehnya masih suka disebut melarat.

Tanamlah singkong, kacang dan dikemas yang baik. Beri stempel made in Indonesia. Kita harus bangga. Mahal tidak apa-apa, yang makan juga bangsa kita sendiri. Lakukan, jangan hanya omong saja. Insyaallah jika selama 15 tahun Indonesia bisa begitu, ekonomi kita siap menghadapi globalisasi.

Bangkitlah kembali untuk Indonesia karena Allah wa Rasulih. Jaga ukhuwwah dan persatuan, apalagi di musim Pilkada. Milih tinggal milih saja, tidak usah membuka aib orang lain. Itu akan menunjukkan pendidikan kita dan intelektual kita rendah di mata orang lain. Ngisin ngisini (malu-maluin saja).

Kalau kita melupakan sejarah, kita melempem. Inilah yang dikuatirkan kanjeng Nabi dalam sabdanya: “kadar bobot iman seseorang tergantung kepada sejauh mana ia mencintaiku”. Hadits ini, untuk orang tidak suka, bisa ditafsirkan terbalik seperti ini:

Kalau begitu, untuk membuat iman umat Islam lemah, dan umat beragama lainnya, ya jauhkan umat dengan Nabi-nya, ulama nya, tokoh agamannya. Kalau cintanya sudah meluntur, gampang dihancurkan. Begitu juga untuk menjatuhkan negara, dibangunlah sifat suudzdzon (buruk sangka) kepada negara. Kesalahan-kesalahan akan diungkap, sampai keburukan Polri dan TNI, supaya kita semakin jauh dari polisi dan tentara sehingga mudah dihancurkan”. Ini bahaya, maka waspadalah!

Relakah negerimu terpecah belah? Relakah NKRI terpecah belah? Saya sangat prihatin soal ini. Saya dikabari akan ada “Baiat Santri Cinta NKRI” di sini, luar biasa, saya salut. Ayo, baiat bersama saya. Janji disaksikan Allah, diterima Allah.

Bismillahirrahmanirrahim. Asyhadu alla ilaha illa Allah, wa asyhadu anna sayyidana Muhammadar Rasulullah. Rodlina billahi Rabba, wa bil ilsami Dina, wa bi sayyidina Muhammadin nabiyan wa rasuulan.  

Saya bangga menjadi bangsa Indonesia!
Saya bangga menjadi anak Indonesia!
Saya bangga bertanah-airkan Indonesia!
Demi Allah, kami berjanji akan mempertahankan NKRI Harga mati, bukan basa basi! 

Keterangan:

Ini adalah teks rangkuman yang dinarasikan M Abdullah Badri dari transkip lengkap rekaman ceramah (dan baiat) oleh Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan dalam agenda Maulid Kebangsaan: Baiat 1000 Santri Cinta NKRI di Masjid Baiturrahim, Desa Tengguli, kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Kamis tengah malam (01-02 WIB), 27 Oktober 2016. Acara yang digagas oleh Saraja Kuburan (Sarkub) Jepara dan Ansor Tengguli ini dihadiri lebih dari 5000-an santri di wilayah Jepara. 
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini