Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Seminar: Mengembalikan Sejarah Tokoh NU yang Hilang

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 26 Oktober 2016
    A- A+

    DutaIslam.Com - Tak terhitung entah seberapa banyak tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang hilang dari catatan sejarah resemi pemerintahan. Di sekolah-sekolah NU sendiri, ulasan sejarah tentang tokoh-tokoh NU tidak banyak ditulis.

    Faktanya, tidak banyak yang mengenal kalau embrio lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sekarang ini ada, dulunya adalah Laskar Hizbullah, Mujahidin dan Sukarelawan Tentara PETA yang kebanyakan dipimpin oleh Daidancho (Komandan Batalyon) dari kalangan kiai santri.

    Ada 20 komandan batalyon yang dipimpin oleh kiai. Tapi dalam buku sejarah, tidak disebutkan. Entah dilupakan atau sengaja dihapus. Komandan dari kalangan ini yang oleh Media Asia Raya (edisi 22 Januari 1944) bingung menyebutnya, apakah hanya Daidancho atau Daidancho Kyai?

    Lahirnya Hari Pahlawan Nasional 10 November juga tidak lepas dari peran para kiai dan santri. Namun, catatan sejarah di kurikulum pendidikan kita, tidak banyak menulis, menyertakan dan mengajarkan. Pada 21-22 Oktober misalnya, tidak tercatat ada pertemuan yang diinisiasi Pengurus NU di kantor HBNO (Hofdsbesturr Nahdlatul Oelama) Jl. Bubutan IV No. 2 Surabaya yang menghasilkan Resolusi Jihad.

    Sejak 22 Oktober 1945 itulah, Bung Tomo meminta ijin kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari menyebarkan amanat fatwa Resolusi Jihad lewat teriakan takbir di radio-radio untuk membakar semangat Tentara Keamanan Rakyat (TKR), eks KNIL, Heiho, Keigun, Barisan Pelopor, Ansor dan lainnya.

    Bergeraklah kemudian para kiai dari Pemuda Ansor dan Hizbul Wathan dibawah pimpinan KH Abdun Nafi’ (Surabaya). Semua tokoh penggerak di Surabaya (baik Selatan, Utara, Timur maupun Barat) adalah para santri.

    Di mana catatan sejarah itu kini ada? Ini belum tokoh-tokoh kunci semisal KH Wahab Hasbullah, Kiai Abbas Buntet Cirebon dan pemuda Ansor bernama Cak Ays’ri yang menaiki tiang bendera, menyobek-nyobek warna biru bendera Belanda sehingga menjadi hanya Merah dan Putih. Ini terjadi pada pertempuran di Hotel Oranje antara Belanda dan Hizbullah Surabaya.

    Semua nama itu adalah santri NU. Karena itulah, panitia Hari Santri Hari Santri Nasional Pengurus NU Cabang Jepara dan Sarkub (Sarjana Kuburan) Cabang Jepara serta PMII Cabang Jepara menyelenggarakan Seminar Hari Santri bertema Mengembalikan Sejarah Tokoh NU yang Hilang di Gedung MWC NU Bangsri, Kamis (27/10/2016) pukul 09.00 - 12.00 WIB.

    Adapun pemateri yang diundang adalah Wan Rasyid (pengamat konflik perang internasional) dan Afthonul Afif (sejarahwan). Hadiri dan ikuti. Info lanjut, silakan tanya ke 089655863724 (Irham, ketua PMII Cabang Jepara). Peserta terbatas! [dutaislam.com/ ab]

    Rubrik:

    agenda
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: