Dutaislam.com mendoakan sukses HUT RI ke-72 pada Kamis Wage, 17 Agustus 2017. NKRI Harga Hidup Dunia Akhirat!

  • Pilkada Jakarta Bagian Dari Konsolidosa Islam Radikal

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Jumat, 28 Oktober 2016
    A- A+

    DutaIslam.Com - Hiruk pikuk pilkada DKI Jakarta telah benar-benar menyedot perhatian publik. Awalnya, dinamika politik ini hanya berputar-putar di wilayah lokal saja. Tapi bagi sebagian orang, terlalu sayang jika momentum ini dilewatkan begitu saja. Karena itu, dirancanglah sejumlah eksperimen kecil untuk menarik agenda politik ini menuju wilayah yang lebih luas. Walhasil, percobaan ini menemukan momentumnya ketika obyek yang sedang disorot menyinggung QS Al-Maidah 51.

    Dengan segera, para perancang ini menemukan judul eksperimennya. Ya, isu SARA menjadi pilihan yang sangat tepat untuk dimainkan. Para agitator dan propagandis segera merumuskan slogan dan jargon untuk mengkonversi isu ini menjadi sebuah gerakan yang masif. Walhasil, jadilah seperti sekarang yang kita lihat. Isu lokal ini berhasil ditarik ke wilayah yang lebih luas lagi.

    Kondisi sekarang, gerakan ini menjadi sangat masif dan bersifat nasional. Yang terlihat di permukaan, seolah-olah gerakan ini berwajah tunggal dan utuh. Yakni membela Islam. Padahal, sejatinya tidak. Ada beragam warna dilihat dari tujuan dan kepentingan di balik gerakan ini. Satu di antara mereka bertujuan melakukan konsolidasi kekuatan Islam Radikal sebagai anak tangga mewujudkan apa yang mereka cita-citakan.

    Saya bersyukur terlahir sebagai warga nahdliyin. Mengapa? Karena kecerdikan para kyai merancang sebuah gerakan, jauh di atas kemampuan rata-rata orang atau bahkan sekelas politisi dan jendral perang sekalipun. Ini, tentu saja, bisa dipahami. Sebab pada hakekatnya, para kyai NU tidak bergerak atas kehendak akalnya. Melainkan ada yang "menuntun" mereka.

    Dalam kaitan dengan pilkada DKI Jakarta, lihatlah betapa NU sangat cerdas memainkan peran. Gerakan perlawanan Ahok diawali dari FPI yang secara istiqomah terus melakukan perlawanan. Meski pada awalnya, FPI sudah berusaha menyeret isu ini keluar, tapi tidak berhasil memancing "serigala" keluar kandang. Setidaknya ada 2 alasan. 

    Pertama, karena belum menemukan momentum yang pas. Kedua, para dedengkot Islam Radikal belum terpancing keluar karena menganggap kondisi sosial politiknya masih samar.

    Ketika momentum itu terjadi, dengan sigap FPI segera mengambil peran dan mengambil kendali. Yang perlu diketahui warga nahdliyin, bahwa sejatinya FPI adalah aswaja garis keras atau boleh dibilang NU Sayap Kanan. Tidak percaya? Lihatlah pamflet yang mereka rancang. Judulnya jelas, "Seruan Jihad Konstitusional Bela Agama & Negara”.

    Jebakan yang dipasang FPI berhasil memancing kantong-kantong Islam Radikal keluar kandang. Tidak banyak yang mencermati bahwa pamflet yang dirancang FPI sejatinya sangat bertentangan dengan garis politik mereka. Terutama pada 2 kata kunci, yakni “konstitusional” dan “bela negara”.

    Bukankah 2 ikon itu najis bagi mereka yang selama ini mengusung gerakan Islam Radikal? Kita patut berterima kasih kepada FPI. Sebab melalui jebakan FPI ini, kita bisa memetakan kekuatan Islam radikal di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan bukan hanya pada seberapa besar kekuatannya, tapi lebih detil lagi hingga pada siapanya.

    Sebagai kader NU, apa yang harus kita lakukan? Apakah hanya berdiam diri saja karena semua masih dalam kendali NU? Tentu tidak. Dalam panggung politik, tidak ada skenario tunggal. Masing-masing kekuatan sudah pasti akan menjalankan skenarionya. Apa yang terjadi di Pasuruan dan Surabaya, jelas menunjukkan bahwa ada skenario lain yang sedang dijalankan dengan cara membenturkan antar warga NU.

    Karena itu, setiap kader NU diharapkan memainkan peran masing-masing yang sejalan dengan skenario besar NU. Sebab jika tidak, sangat mungkin skenario ini kemudian direbut kekuatan Islam Radikal untuk memaksakan agenda mereka. Jika ini sampai terjadi, maka sebuah ancaman besar bagi NU.

    Lalu apa? Kita yang hanya riak-riak kecil di dalam bangunan rumah megah NU ini, tetap punya peran. Ada 2 hal minimal yang bisa kita lakukan secara individu sebagai kader NU. Pertama, meladeni proxy war yang mereka lakukan. Sebab bagaimanapun juga, media sosial punya peran sangat strategi me-merah putih-kan situasi. 

    Sesuai visi NU, maka dua tema besar yang bisa diangkat untuk mengimbangi seruan jihad, yakni Islam rahmatan lil ‘alamin dan Keutuhan NKRI. Fokuslah pada kedua tema besar itu. Banyak varian isu yang bisa diturunkan dari kedua tema besar itu. Silakan berkreasi.

    Kedua, amati terus pergerakan seruan jihad ini di daerah masing-masing. Lakukan pendataan, verifikasi dan pemetaan terhadap setiap individu dan lembaga yang menjadi pendukung gerakan ini. Karena itu, postingan di grup WA/BBM yang berupa laporan pergerakan di masing-masing daerah sangat diperlukan.

    Jika mampu, maka lakukan pencegahan terhadap setiap upaya-upaya untuk membenturkan sesama warga NU. Apapun yang akan kita lakukan, hendaknya tetap menjaga Citra Diri Warga NU. Yakni : tawazun, tasamuh, tawasuth dan i'tidal dalam setiap perkara. [dutaislam.com/ ab]

    Lege AN, aktivis Muda NU
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: