Senin, 10 Oktober 2016

Mondok Itu Sama Dengan Jihad


DutaIslam.Com - Pendiri pesantren Al Falah Ploso Kediri, KH. Djazuli Ustman lahir pada  tanggal 16 Mei 1900 M. Ia adalah anak Raden Mas M. Utsman seorang Onder Distrik (penghulu kecamatan). Sebagai anak bangsawan, Mas’ud (nama kecil Kyai Djazuli), beruntung karena ia bisa mengenyam pendidikan sekolah formal seperti SR, MULO, HIS bahkan sampai dapat duduk di tingkat perguruan tinggi STOVIA (Fakultas Kedokteran UI sekarang) di Batavia.

Belum lama Mas’ud menempuh pendidikan di STOVIA, Pak Naib (panggilan akrab RM. Utsman), kedatangan tamu, KH. Ma’ruf (Kedunglo) yang dikenal dengan Waliyullah.

“Pundi Mas’ud?” tanya Kyai Ma’ruf.

“Ke Batavia. Dia sekolah di jurusan kedokteran,” jawab Ayah Mas’ud.

“Saene Mas’ud dipun aturi wangsul. Larene niku ingkang prayogi dipun lebetaken pondok (Sebaiknya ia dipanggil pulang. Anak itu cocoknya dimasukan ke pondok pesantren),” kata Kyai Ma’ruf.

Mendapat perintah dari seorang ulama yang sangat dihormatinya itu, Pak Naib kemudian mengirim surat ke Batavia meminta Mas’ud untuk pulang ke Ploso, Kediri. Sebagai anak yang berbakti, ia pun kemudian pulang ke Kediri dan mulai belajar dari pesantren ke pesantren.

Melanglang buana mencari ilmu ke berbagai guru yang mutawatir sanadnya antara lain: KH. Hasyim Asy'ari Jombang, Pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Dimyati Tremas Pacitan, KH. Zainuddin Mojosari, Syekh al Allamah al Aidrus Makkah dan lainnya.

Akhirnya, pada tahun 1924 beliau membuka pengajian  dengan menggunakan sistem sorogan. Ketika pengajian baru dimulai, hanya ada 12 orang santri yang mengikutinya. Jumlah santri yang ingin mengaji semakin bertambah hingga setengah tahun berikutnya (tepatnya 1 Januari 1925), KH. A. Djazuli Usman mendirikan sebuah madrasah dan pondok pesantren.

Beliau memanfaatkan serambi Masjid untuk kegiatan belajar mengajar para santri. Hingga kini pondok yang biasa disebut dengan nama desanya, Ploso, itu santrinya datang dari berbagai penjuru nusantara. Ribuan santri yang mengeyam ilmu di sana dan hampir tidak ada pengasuh pondok pesantren besar di negeri ini kecuali pernah mengaji kepada KH. Djazuli Ustman.

Disamping mempunyai murid murid hebat, beliau dikarunia putra yang sholeh dan menjadi pemimpin pada zamannya. Semisal KH. Zainuddin Jazuli, KH. Nurul Huda Jazuli, Gus Miek, KH. Fuad Jazuli, KH. Munif Jazuli, semua putranya menjadi ahli ilmu.

Dari beberapa penuturan  KH. Nurul Huda Djazuli, sewaktu penulis mondok dahulu, Mbah Kyai Jazuli itu setiap harinya mbalah 16 sampai 19 kitab. Dari pagi sampai malam. Mulai kitab terkecil sampai kitab yang berpuluh-puluh jilid. Begitu aktivitas keseharian beliau. Beliau jarang sekali mendatangi undangan karena lebih ngopeni para santri yang datang dari beberapa penjuru nusantara. Hampi-hampir kegiatan mengaji tidak pernah libur.

Beliau wafat pada Sabtu Wage 10 Januari 1976 (10 Muharam 1396 H). Konon, sebagian anak-anak kecil di Ploso, saat menjelang kematian KH. Djazuli, melihat langit bertabur kembang. Langit pun seolah berduka dengan kepergian beliau.

Seandainya beliau memaksa untuk melanjutkan sekolah kedokterannya, dan tidak patuh pada orangtua mungkin kisahnya tidak akan seindah ini.

Pada haul ke-42 KH Djazuli, bertepatan pada tanggal 9-10-2016, Kyai Nurul Huda Djazuli berpesan tentang pentingnya memondokkan anak. Beliau berkata:

"Panjenengan purun mondok-aken putrane niku sami kaleh jihad li'i'lai kalimatillah hiyal ulya. Kito harus ndamel generasi kyai-kyai tangguh seng sakniki katah ingkang tilar dunyo."

(Anda mau memondokkan anaknya itu sudah seperti jihad mejunjung tinggi agama Allah. Kita harus mencetak generasi ulama-ulama tangguh, yang saat ini banyak sekali ulama sepuh meninggal dunia). [dutaislam.com/ ab]

Ahmad Zain Bad, AnNur II Bululawang Malang.
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini