Kamis, 20 Oktober 2016

Kiai Dalhar Nahrawi Watucongol, Guru Hikmah Kiai Nusantara

mbah dalhar watucongol magelang

DutaIslam.Com - Kisah tentang Mbah Dalhar ini saya dapatkan dari Kiai Zaimudin Badrussoleh, Purwoasri. Kediri. Alkisah, Mbah kyai Dalhar, Watucongol Magelang ketika itu menjadi salah satu "jujugan ngaji santri doeloe/ rujukan ngaji para santri kuno," sebab beliau termasuk salah satu kiai ai ahli hikmah dari Jawa Tengah yang sangat dihormati dan disegani.

Menurut penuturan Kiai Zaimuddin, Mbah Dalhar yang merupakan Abahnya Mbah Mad Watucongol ini termasuk kiai yang galak dan tegas. Banyak santri yang takut menatap wajah mulia beliau karena kuatir disorot oleh "ketajaman mata hati" beliau.

Namun sikap galak dan tegas itu tidak menyurutkan semangat para santri untuk "tabarrukan" pada Mbah Kiai Dalhar. Bahkan dalam tradisi pesantren, ada istilah semakin sering dimarahi dan ditegur oleh kiai, sama halnya didoakan oleh kiai.

Konon, disamping jago ngaji kitab, beliau juga pakar ilmu hikmah, riyadloh dan thoriqoh. Ijazah mursyid Thariqah Syadziliyyah diperoleh Mbah Kiai Dalhar dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat-nya dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani. Tak mengherankan jika banyak kalangan pesantren baik kyai maupun santri yang mengambil sanad ijazah dalail, hizb, wirid, bahkan sanad thariqah Syadzali dari Mbah Dalhar Nahrowi ini.

Tercatat beberapa santri yang menimba ilmu di Gunungpring tempat Mbah Dalhar, antara lain Kiai Ma'shum (Lasem), Kiai Mahrus Aly (Lirboyo), Abuya Dhimyati (Banten), Kiai Marzuki Giriloyo serta Gus Miek (Ploso).

Keteladanan yang bisa diambil dari sosok mbah Dalhar adalah, beliau termasuk darah biru Keraton Yogyakarta tapi tak pernah "kemaruk/sombong" dengan kebangsawanannya. Kiai Dalhar lahir di kawasan pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang.

Beliau lahir pada 10 Syawal 1286 H/ 12 Januari 1870. Nama kecil pemberian orangtuanya adalah Nahrowi. Nasab Mbah Kiai Dalhar tersambung pada trah Raja Mataram, Amangkurat III. Ayah Kiai Dalhar bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Beliau termasuk kiai yang istiqomah mulang ngaji seperti leluhurnya di Mlangi (Mbah Nur Iman). Termasuk tidak suka menonjolkan darah ningratnya dari Mbah Nur Iman. Hidupnya diabdikan untuk melayani umat dan membantu para pejuang kemerdekaan.

Ketika era perjuangan melawan kompeni, selain Kiai Subchi parakan, peran Kiai Dalhar juga sangat vital. Para pejuang di kawasan Magelang, Yogyakarta, Banyumas dan kawasan Bagelen-Kedu datang ke pesantren Kiai Dalhar untuk meminta doa. Oleh Kiai Dalhar, para pejuang diberi asma', doa dan ijazah kekebalan serta diberi bambu runcing yang telah diberi doa.

Ketika beliau wafat, para peziarah berebut menandu keranda hingga naik ke atas Gunungpring.
Kiai Dalhar wafat pada 23 Ramadhan, bertepatan dengan 8 April 1959. Beliau dikebumikan di pemakaman Gunungpring, Magelang. [dutaislam.com/ ab]

Ditulis oleh Ahmad Karomi
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini