Sabtu, 08 Oktober 2016

Adakah Keterkaitan Dimas Kanjeng dengan Krisis Moneter dan Tragedi Ninja?

Foto: Dimas Kanjeng Taat Pribadi
(Foto: Kompas.com) 
DutaIslam.Com – Penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi pada 22 September 2016 lalu menyisakan banyak misteri. (Baca: Kronologi Penangkapan Dimas Kanjeng). Fakta yang diungkap oleh banyak media hanya menyebutkan seputar penipuan Dimas Kanjeng yang bisa menggandakan uang hingga dugaan pembunuhan kepada pengikutnya.

Tapi, di balik munculnya sosok yang sempat memanfaatkan Dahlan Iskan sebagai orang dekatnya itu, belum banyak terungkap. Sumber Duta Islam menyebutkan bahwa padepokan laki-laki tak bisa ngaji bernama Taat Pribadi itu adalah tempat yang digunakan oleh beberapa oknum atau pejabat sejak era Orde Baru (hingga sekarang) untuk menitipkan “harta haram”. Ini yang jarang diungkap.

Menurut penuturan sumber Duta Islam yang tidak mau disebutkan namanya itu, Taat Pribadi adalah orang yang juga diduga ikut bertanggungjawab atas terjadi krisis moneter pada tahun 98-99.

Kata sumber itu, uang yang ada di bungker nya adalah asli. Cuma nomor serinya adalah duplikat dari seri uang yang sudah diedarkan selama ini. Di padepokan itu, nomor seri uang yang ada sengaja diacak agar tidak ketahuan. “Padahal jika diurutkan akan diketahui doubel serinya,” ujarnya.

Dimas Kanjeng, tambah sumber tersebut, bukan orang pertama yang menerima titipan uang tanpa terhitung jumlahnya itu. Dugaan paling kuat, ia adalah murid dari oknum inti yang dititipi uang dengan duplikat nomor seri untuk diedarkan kepada masyarakat luas. Isu yang dipakai, penggandaan.

Jika uang tersebut sudah beredar di masyarakat, maka, akan terjadi inflasi besar-besaran karena nilai tukar rupiah turun. Terjadilah krisis moneter. “Buktinya, uang yang ada di bungker Dimas Kanjeng rata-rata dicetak tahun 99,” paparnya.

Sebetulnya bukan hanya Dimas Kanjeng yang dititipi uang cetak asli seri ganda itu. Ada beberapa oknum kiai dan dukun yang dulu pernah dititipi dengan dalih penggandaan uang. Isu penggandaan uang dianggap aman karena tidak ada jejak perputaran transaksi.

Sayangnya, banyak oknum kiai dan dukun di Banyuwangi (yang sebelumnya dikenal sakti), tidak mau menerima uang seri ganda itu. Atau, ada yang menerima namun dianggap tidak amanah mendistribusikan uang tersebut. “Akhirnya mereka dibunuh dengan isu ninja,” jelas sumber yang pernah jadi aktivis 98 tersebut.  

Selain untuk menciptakan krisis moneter, uang yang ada di tangan Taat Pribadi juga diduga digunakan untuk kepentingan Pilpres 2004. Jadi, modal pelaksanaan Pilpres sudah disiapkan sejak 99.

Kini, padepokan Dimas Kanjeng juga diduga beberapa analis sebagai tempat aman menyimpan uang haram, atau money laundry (tempat pencucian uang) dari beberapa transaksi gelap. Baca Duta Islam: Ketika Marwah Daud Ibrahim Membela Dimas Kanjeng. 

Mudah saja bagi pejabat negara, misalnya, untuk membersihkan harta haramnya hanya dengan menitipkan ke Taat Pribadi, lalu ia ambil kembali setelah sah disebut sebagai uang hasil penggandaan dari seorang dukun. Wallahu A’lam. [dutaislam.com]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini