Jumat, 21 Oktober 2016

22 Alasan Mengapa Harus Ada Hari Santri


DutaIslam.Com - Di bawah ini adalah beberapa alasan tepat mengapa 22 Oktober dijadikan sebagai Hari Santri Nasional sejak 2015. Tidak dan tidak bukan, semuanya berkaitan dengan komitmen santri terhadap kemerdekaan dan keutuhan NKRI serta fakta sejarah yang harus dipahami bersama. 

1. Komunitas santri selalu berkomitmen untuk menjaga bangsa dan keutuhan NKRI dalam praktik keagamaan , santri menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

2. Sejarah hari santri terhubung langsung dengan jaringan ulama, yang di mulai pada masa Walisongo yang kemudian tersambung dalam jaringan pengetahuan (sanad) dan kekerabatan.

3. Nilai-nilai Islam yang menjadi ekspresi keagamaan kaum santri, terwujud dalam praktik keagamaan Islam Nusantara.

4. Islam nusantara merupakan identitas keislaman yang memberikan ruang penghargaan atas nilai-nilai lokal yang sejalan dengan kaidah keislaman. Islam nusantara merupakan cara berislam kaum muslim di indonesia, bahkan asia tenggara yang sejalan dengan konteks dan nilai-nilai islam yang menjdi risalah Nabi Muhammad Saw.

5. Dalam sejarahnya, kaum santri berkomitmen untuk terus menjaga nilai-nilai islam nusantara dengan fikrah (pemikiran), harakah (gerakan) dan jam'iyyah (oranisasi) yang terkoneksi dengan ekspresi keagamaan warga muslim (jama'ah).

6. Selama ini, komunitas santri terbukti berkomimen untuk mengawal negara kesatuan republik indonesia (NKRI), komitmen ini di buktikan dengan keseriusan menjaga nilai-nilai tawassuth, tawazun, tasamuh dan i'tdial.

7. Nilai tawassuth (moderat) dibuktikan oleh komunitas santri yang dipraktikan oleh para kiai pesantren dengan nilai-nilai ahlussunnah waljamaah an-nahdliyyah, yang tidak ekstrim kanan dan kiri.

8. Nilai tawazun (keseimbangan) dibuktikan dalam komitmen menjaga perdamaian. Dalam sejarah , para kiai sering memperaktikan pikiran moderat dengan selalu menjaga maslahah terutama berjuang untuk menjaga kemerdekaan bangsa indonesia.

9. Nilai tasamuh (toleran) merupakan jati diri dari komunitas pesantren yang terbuka dalam dialog dan komunikasi dengan komunitas lintas ideologi dan agama.

10. Nilai i'tidal (keadilan) merupakan sikap dari kaum santri untuk terus menjaga keadilan dan mengawal konstitusi untuk kemasalahan bangsa serta tegaknya NKRI.

11. Komunitas santri dalam perjalanan panjangnya, selalu membela kepentingan bangsa Indonesia, menjaga persatuan dan kesatuan.

12. Warga pesantren membuktikan diri dengan mengekspresikan nilai-nilai Islam rahmatan lil-alamin yang menghadirkan kesejukan dan keramahan dalam beragama bukan kemarahan dalam bersikap.

13. Perjuangan kaum santri dalam kemerdekaan Indonesia merupakan jihad untuk membela bangsa yang meruapakan manifestasi nahdlatul wathan bagi kaum santri, kecintaan dan membela bangsa merupakan bagian dari keimanan bubbul wathan minal-iman.

14. Kaum santri dalam sejarah kemerdekaan, berusaha untuk melawan setiap bentuk penjajahan dari berbagai rezim kolonial di bumi Nusantara. Pada masa perang jawa 1925-1830, kaum santri menjadi barisan pendukung utama pangeran di panegara sayyidin panatagama yang berjuang melawan penjajah. Kaum santri juga menjadi penggerak dalam perjuangan melawan penjajahan di antaranya pada tahun 1888 di banten dan beberapa lokasi lain pada penghujung abad 19.

15. Pada awal abad 20 kaum santri mengawali gerakan untuk melawan kolonialisme dengan membangun pemikiran (tashwirul afkar), membangun jaringan saudagar untuk kemandirian ekonomi (nahdotut-tujjar) dan menyamai cinta tanah air (nahdlatul wathan).

16. Ketiganya yaitu tashwirul afkar, nahdatut-tujjar dan nahdlatul wathan merupakan embrio organisasi (jam'iyyah) Nahdlatul Ulama (NU)untuk membangkitkan peran kaum pribumi dalam melawan penjajah serta berjuang untuk kemerdekaan.

17. Pada tahun 1936, para kiai berkumpul dan bermusyawarah di Banjarmasin, yang menghasilkan rumusan dar as-salam (negara kedamaian), sebagai modal Indonesia ketika merdeka. Sembilan tahun sebelum kemerdekaan, para kiai NU sudah memiliki rumusan dan impian tentang negara yang merdeka yang mengakomodasi kebhinnekaan.

18. Pada masa penjajahan Jepang, kaum santri juga bergerak untuk membela tanah air, dengan membentuk barisan militer santri bernama Hizbullah dan Sabilillah. Laskar Hijbullah dipimpin oleh KH. Zainul Arifin (1909-1963), sedangkan laskar Sabilillah dikomando oleh KH. Masjur (1904-1994).

19. Proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, tidak serta merta menghentikan gempuran dari tentara kolonial untuk kembali menjajah negeri tercinta kita. Para santri, terutama yang tergabung pada 2 laskar tersebut, bahu-membahu untuk menegakkan kemerdekaan dan menjaga NKRI.

20. Tanggal 22 Oktober 1945, merupakan momentum bersejarah, ketika KH. Hasyim Asy'ari 1975- 1947 menyerukan fatwanya yang disebut sebagai Resolusi Jihad. Fatwa kiai hasyim, menjadi api semangat kaum santri dan para pemuda untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan indonesia dari serbuan pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) di Surabaya yang puncaknya pada 10 November 1945.

21. Resolusi Jihad merupakan bukti komitmen kaum santri untuk berjuang menjaga NKRI yang menginspirasi Bung Karno (1901-1970) sebagai presiden, dan Bung Tomo (1920-1981) sebagai pejuang untuk gigih membela negara.

22. Untuk itu, hari santri menjadi momentum untuk mengingat perjuangan para kiyai dan komunitas pesantren dalam membela bangsa. Tanggal 22 Oktober sangat tepat sebagai hari santri nasional, karena momentum bersejarah dimana Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari menggemakan fatwa perjuangan sebagai "Resolusi Jihad". [dutaislam.com/ ab]

Source: Tim Panitia Hari Santri Unisnu Jepara 
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini