Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

Browsing "Judul lain"

  • Habib Luthfi: Isu Syiah Dibuat Supaya Antara Kiai dan Habaib Pecah

    Admin: Duta Islam → Sabtu, 29 Oktober 2016

    DutaIslam.Com - Ketua Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan membaiat seribu santri dalam rangka memperingati Hari Santri yang digelar di halaman Masjid Baiturrahim, Tengguli, Bangsri, Jepara, Kamis (27/10) 

    Dalam ceramahnya, Habib Luthfi mengingatkan para pemuda supaya paham sejarah baik sejarah pahlawan kenegaraan maupun sejarah Walisongo sehingga kecintaannya tidak mudah dikendorkan oleh pihak-pihak lain. 

    "Para pemuda harus tahu sejarah!" tegasnya. 

    Dalam kesempatan itu, Habib sepuh ini juga menekankan, kaum muslimin agar tidak mudah terprovokasi tentang isu Syiah yang ditebar oleh oknum yang tak bertanggungjawab. Ia kemudian menjelaskan panjang tentang kenapa isu Syiah ini ditebar. 

    "Isu Syiah ini dibuat supaya antara kiai dan habaib pecah, supaya orang tidak lagi percaya dengan Walisongo karena Walisongo itu keturunan Sayyidina Ali. Kalau orang sudah tidak percaya Walisongo maka akan kehilangan sejarah, Jika sejarah hilang, akan mudah dihancurkan," tandasnya kembali. 

    Pada akhir acara yang diselenggarakan oleh PCNU Jepara, GP Ansor Ranting Tengguli dan Sarkub (Sarjana Kuburan) Jepara ini, Habib Luthfi membacakan ikrar kesetiaan kepada NKRI dengan diikuti santri-santri dari beberapa pesantren se-Kecamatan Bangsri. [dutaislam.com/mundzir/mukafi niam]

    Source: NU Online
  • Banser Turun Saat Demo 4 November Karena Pendemo Akan Mengarah ke Istana Negara

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Menarik melihat keluarnya Banser pada tanggal 4 November nanti. Seingat saya NU terakhir mengeluarkan Banser pada saat Gus Dur dipaksa turun. Hanya almarhum menahan tangannya supaya tidak terjadi bentrokan antar saudara.

    Kenapa NU akhirnya turun ke lapangan juga? Pertama, NU harus keluar kandang karena demo besar-besar an nanti itu membawa nama "Islam" dan NU dicatut namanya. Ini tentu merugikan nama NU.

    Di beberapa wilayah dimana Islam minoritas, terjadi keresahan karena banyak hembusan isu jika demo ini akan melebar ke arah Islam vs Kristen. Dan ini berpengaruh besar pada tugas para santri NU yang sedang melakukan gerakan memperkenalkan Islam Nusantara yang rahmatan lil alamin.

    Karena itulah NU harus keluar untuk menunjukkan sikap bahwa demo 4 November nanti bukanlah sikap Islam secara keseluruhan, tetapi hanya sebagian saja dan tidak mewakili mereka yang beragama Islam. NU memang harus keluar kandang supaya tidak terjadi kesalah-pahaman dari umat agama lain bahwa mereka terdominasi oleh Islam.

    Kedua, NU sudah melihat gelagat bahwa demo ini ditunggangi dan diharapkan akan terjadi benturan antara pendemo dan aparat. Aparat memang harus berhati-hati bersikap, karena ketika mereka keras pada pendemo, maka cerita akan diputar-balikkan di media sosial.

    NU tidak membela Ahok, tetapi membela negara. Ketum PBNU, Kiai Said Agil, sudah meminta Ahok untuk diproses secara hukum dan biar hukum yang memutuskan. Demo besar sebenarnya sudah tidak diperlukan, apalagi memaksa hukum untuk bertindak sesuai keinginan pendemo.

    Ketiga, demo sudah mengarah ke istana negara bukan lagi ke masalah Ahok, meski tema demo bunyinya tangkap Ahok. NU harus melindungi simbol negara supaya tidak dilecehkan.
    Memamg NU harus hadir untuk menunjukkan sikap bahwa mereka tetap berada di belakang pemerintah yang sah. NU merapatkan barisan supaya tidak terpecah ketika mereka ingjn dipecah.

    NU jelas tidak ingin perang dan sebisa mungkin menjaga kedamaian. Hanya bagaimana bisa damai ketika negara terus menerus di rongrong dari dalam? Karena itulah, ketika barisan sana mengumandangkan 'jihad" untuk menghadapi negara, NU juga berteriak "jihad" untuk membela negara.

    Jadi keluarnya NU bukan karena ingin bertempur menghadapi saudaranya sendiri, tetapi lebih luas dari itu, menunjukkan kepada para investor asing bahwa Indonesia aman dan tidak akan seperti Suriah, karena ada NU yang menjaga negara ini supaya tetap indah.

    NU hanya menyampaikan pesan saja, supaya jangan macam-macam dengan mereka. Mereka bisa terawa sama-sama, guyon sama-sama sambil cangkrukan ditemani kopi kental dan rokok berbatang-batang. Tetapi ketika diperlukan negara, mereka siap sedia. [dutaislam.com/ ab]

    Bravo NU!

    Oleh Denny Siregar
  • MUI Sarankan Umat Islam Tidak Turun Ikut Demo Politis

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Pada hari ini, Rabu (26/10/2016) mulai pukul 13.30 WIB saya bersama jajaran Syuriah PBNU mengikuti rapat Syuriah PBNU di Lantai IV Gedung PBNU di Jl.  Kramat Raya 164 Jakarta Pusat  yang langsung dipimpin oleh Rais Aam, Dr.  KH.  Ma'ruf Amin. Beliau juga Ketua Umum MUI Pusat. 

    Dalam pengantar rapat tersebut beliau lebih dahulu mengklarifikasi tentang Pernyataan  Sikap Keagamaan MUI yang di dunia maya banyak disalahpahami sebagai fatwa MUI.

    Berikut ini pernyataan sebagai klarifikasi yang saya dengar langsung dan langsung saya catat dari Dr.  KH.  Ma'ruf Amin (Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI Pusat):

    Pertama, Pernyataan Sikap Keagamaan MUI itu adalah respon terhadap pernyataan keagamaan di Kepulauan Seribu oleh Gubernur DKI Jakarta agar diproses melalui jalur hukum. Yang disikapi MUI bukanlah persoalan tafsir al-Qur'an surat al-Maidah ayat 51.

    Kedua, MUI diisukan telah memasuki wilayah politik. Sebenarnya isu itu  tidak benar, yang benar bahwa  pak Ahok telah memasuki wilayah agama yang bukan menjadi kewenangannya.

    Ketiga, MUI dituduh telah melakukan kegaduhan, isu ini tidak benar. Dalam kasus ini MUI hanya mengkanalisir agar masalah hukumnya diselesaikan pihak yang berwenang atau kepolisian, agar masyarakat tidak main hakim sendiri.

    Keempat,  MUI tidak mendukung dan tidak menganjurkan umat Islam untuk terjun mengikuti demonstrasi pada tanggal 4 Nopember 2016 yang akan datang. Lambang MUI tidak boleh disalahgunakan untuk mendukung agar umat Islam turut dalam rencana demonstrasi tersebut. 

    Kelima, demikian pula bila ada anggota MUI ikut demonstrasi itu atas nama pribadi tidak mewakili MUI. MUI Pusat sangat  menganjurkan agar umat Islam tidak turun mengikuti demonstrasi besok.
    Apabila ada sebagian umat Islam yang mengikuti demonstrasi itu, mereka wajib menjaga keamanan dan tidak bersikap anarkis demi menjaga keutuhan dan kesatuan NKRI. [dutaislam.com/ ab]

    Dari KH. Ishomuddin (Rais Syuriah PBNU).
  • Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma

    Admin: Duta Islam → Jumat, 28 Oktober 2016

    DutaIslam.Com – Puteri Proklamator Bung Karno Sukmawati Soekarnoputri melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq ke Bareskrim Polri atas tuduhan pelecehan Pancasila.‎ Dugaan pelecehan terhadap Pancasila dilakukan Habib Rizieq saat‎ gelaran Tabligh Akbar FPI.

    “Saya datang sebagai ketua umum PNI Marhaenisme melaporkan Habib Rizieq perihal penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila. Serta menghina kehormatan martabat Dr. Ir Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Republik Indonesia,” jelas Sukma di Gedung KKP Bahari II Bareskrim, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Kamis (27/10/2016).

    Sebuah rekaman video berisi pernyataan Habib Rizieq yang menyebut ‘Pancasila Soekarno ketuhanan ada di pantat, sedangkan pancasila Piagam Jakarta ketuhanan ada di kepala’ menjadi barang bukti yang diajukan Sukma ke polisi.

    Video Habib Rizieq


    Rekaman itu sebenarnya sudah beredar sejak dua tahun lalu, namun Sukma mengaku baru melihatnya pada Juni 2016 lalu‎ atau tepat saat peringatan Hari Lahir Pancasila.

    “Ya, saya baru terima di bulan Juni ketika itu bulan lahir Pancasila. Saat itu, teman saya teringat rekaman tentang komentar atau pernyataan Rizieq tentang Pancasila tersebut yang terkait dengan Proklamator Bung Karno,” tutur Sukma.

    “Sebagai anak saya marah sekali. Tersinggung karena kata-katanya sangat tidak santun, tidak hormat sebagai pimpinan ormas FPI,” jelas puteri ketiga Bung Karno itu.

    ‎Untuk itu, Sukma mendesak kepolisian segera memanggil Habib Rizieq agar pentolan FPI itu bisa memberikan klarifikasi kepada masyarakat. [dutaislam.com/ ab]

    Source: pojoksatu.id (wah/sta/pojokastu)
  • Ini Toh Penyebab Sekte Islam Garis Lurus Dikit-Dikit Monyong

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Sumanto Al Qurtubi

    DutaIslam.Com - Salah satu problem mendasar dari kelompok "Islam garis lurus" adalah hilangnya rasa atau selera humor. Karena tidak lagi mempunyai selera humor, maka pengikut "sekte Islam garis lurus" ini sepertinya susah sekali tersenyum atau tertawa. 

    Padahal, menurut teori-teori psikologi humor itu sangat sehat dan menyehatkan. Sementara itu menurut teori-teori spiritual-keagamaan, humor itu adalah pemberian, hadiah, atau berkat dari Tuhan.

    Islam sendiri mengajarkan bahwa "senyum itu ibadah". Jadi, bagi umat Islam, tidak ada alasan untuk tidak beribadah karena ibadah itu gampang sekali, tidak melulu "menghitamkan jidat" atau menjual kerbau untuk naik haji. Mesam-mesem atau tersenyum saja dinilai ibadah. Ayo, silakan dipraktekkan di jalan-jalan he he. 

    Sejarah humor sudah sangat tua, setua sejarah manusia itu sendiri. Teori-teori tentang humor juga sudah ada sejak masa peradaban Yunani Kuno di zaman Plato atau Sokrates. Sastrawan India Kuno, Bharata Muni, mendefinisikan humor sebagai salah satu dari sembilan respons emosi atau rasa.

    Dalam konteks Islam Arab, teori-teori tentang humor ini diperkenalkan oleh seorang filsuf Arab Kristen bernama Abu Bishr Matta bin Yunus al-Qunnai di abad ke-9 M. Ia adalah pendiri "Akademi Aristoteles" di Baghdad yang kelak melahirkan banyak ilmuwan Muslim ternama termasuk Abu Nasr Muhammad al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Bukan hanya ilmuwan Muslim saja, kampus ini juga melahirkan sejumlah ilmuwan Kristen beken seperti Yahya Ibnu Adi dari Suriah.

    Pada masa Dinasti Islam Abbasiyah, memang banyak ilmuwan Kristen yang sangat berjasa dalam memajukan keilmuwan Islam. Dulu, Khalifah Harun al-Rasyid, juga Khalifah Al-Makmun, menunjuk seorang sarjana Kristen keren bernama Hunayn bin Ishaq untuk menerjemahkan karya-karya para filsuf Yunani ke dalam Bahasa Arab. 

    Kontras dengan sikap dan gaya “Islam garis lurus” di Indonesia yang mengidap semacam penyakit “Christianophobia”, para tokoh dan sarjana Muslim di zaman Abbasiyah sangat akrab dengan umat Kristen. Banyak umat Islam yang berguru dengan para sarjana dan ilmuwan Kristen, sebagaimana banyak pula para “santri Kristen” yang berguru dengan para sarjana dan ilmuwan Muslim.

    Kembali pada masalah humor di atas, karena “sekte Islam garis lurus” kehilangan selera humor, akibatnya mereka ini sering panas, cemberut dan monyong-monyong kalau menyikapi persoalan sosial-politik-kegamaan. Dikit-dikit ngamuk. Dikit-dikit marah. 

    Ciri-ciri kelompok “Islam garis lurus” ini adalah tidak bisa menyikapi perbedaan dengan tenang dan “guyonan”. Beda Tuhan ngamuk, beda nabi protes, beda agama berantem, beda sekte jengkel, beda pemikiran ngambek, beda ormas ribut, beda parpol mencak-mencak, beda mazhab demo, beda kelamin tegang he he.

    Padahal dengan humor, Islam akan kelihatan indah dan mengasyikkan. Bukan suram dan menakutkan. [dutaislam.com/ ab]

    Sumanto al-Qurtuby, dari Jabal Dhahran, Arabia
  • Pilkada Jakarta Bagian Dari Konsolidosa Islam Radikal

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Hiruk pikuk pilkada DKI Jakarta telah benar-benar menyedot perhatian publik. Awalnya, dinamika politik ini hanya berputar-putar di wilayah lokal saja. Tapi bagi sebagian orang, terlalu sayang jika momentum ini dilewatkan begitu saja. Karena itu, dirancanglah sejumlah eksperimen kecil untuk menarik agenda politik ini menuju wilayah yang lebih luas. Walhasil, percobaan ini menemukan momentumnya ketika obyek yang sedang disorot menyinggung QS Al-Maidah 51.

    Dengan segera, para perancang ini menemukan judul eksperimennya. Ya, isu SARA menjadi pilihan yang sangat tepat untuk dimainkan. Para agitator dan propagandis segera merumuskan slogan dan jargon untuk mengkonversi isu ini menjadi sebuah gerakan yang masif. Walhasil, jadilah seperti sekarang yang kita lihat. Isu lokal ini berhasil ditarik ke wilayah yang lebih luas lagi.

    Kondisi sekarang, gerakan ini menjadi sangat masif dan bersifat nasional. Yang terlihat di permukaan, seolah-olah gerakan ini berwajah tunggal dan utuh. Yakni membela Islam. Padahal, sejatinya tidak. Ada beragam warna dilihat dari tujuan dan kepentingan di balik gerakan ini. Satu di antara mereka bertujuan melakukan konsolidasi kekuatan Islam Radikal sebagai anak tangga mewujudkan apa yang mereka cita-citakan.

    Saya bersyukur terlahir sebagai warga nahdliyin. Mengapa? Karena kecerdikan para kyai merancang sebuah gerakan, jauh di atas kemampuan rata-rata orang atau bahkan sekelas politisi dan jendral perang sekalipun. Ini, tentu saja, bisa dipahami. Sebab pada hakekatnya, para kyai NU tidak bergerak atas kehendak akalnya. Melainkan ada yang "menuntun" mereka.

    Dalam kaitan dengan pilkada DKI Jakarta, lihatlah betapa NU sangat cerdas memainkan peran. Gerakan perlawanan Ahok diawali dari FPI yang secara istiqomah terus melakukan perlawanan. Meski pada awalnya, FPI sudah berusaha menyeret isu ini keluar, tapi tidak berhasil memancing "serigala" keluar kandang. Setidaknya ada 2 alasan. 

    Pertama, karena belum menemukan momentum yang pas. Kedua, para dedengkot Islam Radikal belum terpancing keluar karena menganggap kondisi sosial politiknya masih samar.

    Ketika momentum itu terjadi, dengan sigap FPI segera mengambil peran dan mengambil kendali. Yang perlu diketahui warga nahdliyin, bahwa sejatinya FPI adalah aswaja garis keras atau boleh dibilang NU Sayap Kanan. Tidak percaya? Lihatlah pamflet yang mereka rancang. Judulnya jelas, "Seruan Jihad Konstitusional Bela Agama & Negara”.

    Jebakan yang dipasang FPI berhasil memancing kantong-kantong Islam Radikal keluar kandang. Tidak banyak yang mencermati bahwa pamflet yang dirancang FPI sejatinya sangat bertentangan dengan garis politik mereka. Terutama pada 2 kata kunci, yakni “konstitusional” dan “bela negara”.

    Bukankah 2 ikon itu najis bagi mereka yang selama ini mengusung gerakan Islam Radikal? Kita patut berterima kasih kepada FPI. Sebab melalui jebakan FPI ini, kita bisa memetakan kekuatan Islam radikal di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan bukan hanya pada seberapa besar kekuatannya, tapi lebih detil lagi hingga pada siapanya.

    Sebagai kader NU, apa yang harus kita lakukan? Apakah hanya berdiam diri saja karena semua masih dalam kendali NU? Tentu tidak. Dalam panggung politik, tidak ada skenario tunggal. Masing-masing kekuatan sudah pasti akan menjalankan skenarionya. Apa yang terjadi di Pasuruan dan Surabaya, jelas menunjukkan bahwa ada skenario lain yang sedang dijalankan dengan cara membenturkan antar warga NU.

    Karena itu, setiap kader NU diharapkan memainkan peran masing-masing yang sejalan dengan skenario besar NU. Sebab jika tidak, sangat mungkin skenario ini kemudian direbut kekuatan Islam Radikal untuk memaksakan agenda mereka. Jika ini sampai terjadi, maka sebuah ancaman besar bagi NU.

    Lalu apa? Kita yang hanya riak-riak kecil di dalam bangunan rumah megah NU ini, tetap punya peran. Ada 2 hal minimal yang bisa kita lakukan secara individu sebagai kader NU. Pertama, meladeni proxy war yang mereka lakukan. Sebab bagaimanapun juga, media sosial punya peran sangat strategi me-merah putih-kan situasi. 

    Sesuai visi NU, maka dua tema besar yang bisa diangkat untuk mengimbangi seruan jihad, yakni Islam rahmatan lil ‘alamin dan Keutuhan NKRI. Fokuslah pada kedua tema besar itu. Banyak varian isu yang bisa diturunkan dari kedua tema besar itu. Silakan berkreasi.

    Kedua, amati terus pergerakan seruan jihad ini di daerah masing-masing. Lakukan pendataan, verifikasi dan pemetaan terhadap setiap individu dan lembaga yang menjadi pendukung gerakan ini. Karena itu, postingan di grup WA/BBM yang berupa laporan pergerakan di masing-masing daerah sangat diperlukan.

    Jika mampu, maka lakukan pencegahan terhadap setiap upaya-upaya untuk membenturkan sesama warga NU. Apapun yang akan kita lakukan, hendaknya tetap menjaga Citra Diri Warga NU. Yakni : tawazun, tasamuh, tawasuth dan i'tidal dalam setiap perkara. [dutaislam.com/ ab]

    Lege AN, aktivis Muda NU
  • KH Hasyim Muzadi: NU GL Itu Gampang Mengkafirkan Orang

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Mantan Ketua Umum PBNU KH Ahmad Hasyim Muzadi menegaskan bahwa kelompok NU Garis Lurus (GL) bukanlah pengurus dan organisator NU. Karena itu mereka tak paham NU dan perkembangan NU dari masa ke masa.

    "Mereka itu tahunya ya fiqih. Semua masalah dilihat dari fiqh,” tegas Kiai Hasyim Muzadi sebagaimana dilansir Duta Islam dari situs Bangsaonline, Rabu (26/10/2016).

    Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang Jawa Timur dan Depok Jawa Barat tersebut mengatakan itu untuk menjawab polemik di media sosial yang menyudutkan Kiai Hasyim Muzadi seolah-olah membela NU GL.

    Polemik itu bermula dari acara PW IKA PMII Jawa Timur bertema Ikhtiar Menata Jawa Timur Lebih Sejahtera di Rumah Makan Aqis Surabaya, Senin (24/10/2016).

    Saat sesi tanya jawab ada seorang bertanya soal NU GL yang dianggap berbau Wahabi. “Karena nanyanya seperti itu, apakah NU GL itu Wahabi. Saya jawab bukan. Tapi kalau dia nanya NU GL itu siapa dan seperti apa ya sekarang ini jawabannya. NU GL itu bukan aktivis organisasi NU, karena itu tak paham NU,” kata Kiai Hasyim Muzadi.

    ”Jadi NU GL itu kadang cocok dengan NU tapi kadang tidak karena memang bukan aktivis NU yang paham tentang perkembanangan NU dari masa ke masa,” tambahnya.

    Kiai Hasyim Muzadi juga menegaskan bahwa NU GL sangat terbatas dalam masalah paham kebangsaan. "Karena itu mereka kadang gampang mengkafirkan orang," jelas anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu. 

    Bahkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang merupakan cucu pendiri NU Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari juga dicap sesat. Padahal Gus Dur adalah Ketua Umum Tanfidziyah PBNU tiga periode.

    ”Jadi kelompok NU GL itu tak bisa melihat persoalan dari ukuran wathaniyah karena bisanya hanya fiqh. Orang seperti Luthfi Bashori dan Idrus Ramli itu kan seperti itu,” tegasnya.

    Meski demikian, kata Kiai Hasyim Muzadi, NU GL bukan Wahabi. "Mereka kan santri-santri Kiai Sayyid Maliki (Mekkah). Mereka itu anti Syiah dan anti Wahabi," tegasnya sembari mengatakan mereka kadang keras kepada PBNU karena unsur Syi’ah di PBNU.


    Hanya saja, tegas Kiai Hasyim Muzadi, tidak semua santri Sayyid Maliki berpaham NU GL, meski sama-sama santri Sayid Maliki. "Kiai Azaim Situbondo ya tidak seperti itu," tuturnya.

    Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy adalah cucu KHR As’ad Syamsul Arifin yang kini pengasuh Pondok Pesatren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo. Berbeda dengan Luthfi Bashori, Kiai Azaim ini dikenal sangat tawaddlu dan sam’an wata’athan kepada keluarga Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.

    Ini mudah dipahami karena Kiai Azaim Ibrahimy selain dikenal sebagai ulama tawaddlu juga Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah santri Mbah Hasyim – panggilan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari - di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. [dutaislam.com/ ab]

    Source: bangsaonloine.com

  • Seminar: Mengembalikan Sejarah Tokoh NU yang Hilang

    Admin: Duta Islam → Rabu, 26 Oktober 2016

    DutaIslam.Com - Tak terhitung entah seberapa banyak tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang hilang dari catatan sejarah resemi pemerintahan. Di sekolah-sekolah NU sendiri, ulasan sejarah tentang tokoh-tokoh NU tidak banyak ditulis.

    Faktanya, tidak banyak yang mengenal kalau embrio lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sekarang ini ada, dulunya adalah Laskar Hizbullah, Mujahidin dan Sukarelawan Tentara PETA yang kebanyakan dipimpin oleh Daidancho (Komandan Batalyon) dari kalangan kiai santri.

    Ada 20 komandan batalyon yang dipimpin oleh kiai. Tapi dalam buku sejarah, tidak disebutkan. Entah dilupakan atau sengaja dihapus. Komandan dari kalangan ini yang oleh Media Asia Raya (edisi 22 Januari 1944) bingung menyebutnya, apakah hanya Daidancho atau Daidancho Kyai?

    Lahirnya Hari Pahlawan Nasional 10 November juga tidak lepas dari peran para kiai dan santri. Namun, catatan sejarah di kurikulum pendidikan kita, tidak banyak menulis, menyertakan dan mengajarkan. Pada 21-22 Oktober misalnya, tidak tercatat ada pertemuan yang diinisiasi Pengurus NU di kantor HBNO (Hofdsbesturr Nahdlatul Oelama) Jl. Bubutan IV No. 2 Surabaya yang menghasilkan Resolusi Jihad.

    Sejak 22 Oktober 1945 itulah, Bung Tomo meminta ijin kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari menyebarkan amanat fatwa Resolusi Jihad lewat teriakan takbir di radio-radio untuk membakar semangat Tentara Keamanan Rakyat (TKR), eks KNIL, Heiho, Keigun, Barisan Pelopor, Ansor dan lainnya.

    Bergeraklah kemudian para kiai dari Pemuda Ansor dan Hizbul Wathan dibawah pimpinan KH Abdun Nafi’ (Surabaya). Semua tokoh penggerak di Surabaya (baik Selatan, Utara, Timur maupun Barat) adalah para santri.

    Di mana catatan sejarah itu kini ada? Ini belum tokoh-tokoh kunci semisal KH Wahab Hasbullah, Kiai Abbas Buntet Cirebon dan pemuda Ansor bernama Cak Ays’ri yang menaiki tiang bendera, menyobek-nyobek warna biru bendera Belanda sehingga menjadi hanya Merah dan Putih. Ini terjadi pada pertempuran di Hotel Oranje antara Belanda dan Hizbullah Surabaya.

    Semua nama itu adalah santri NU. Karena itulah, panitia Hari Santri Hari Santri Nasional Pengurus NU Cabang Jepara dan Sarkub (Sarjana Kuburan) Cabang Jepara serta PMII Cabang Jepara menyelenggarakan Seminar Hari Santri bertema Mengembalikan Sejarah Tokoh NU yang Hilang di Gedung MWC NU Bangsri, Kamis (27/10/2016) pukul 09.00 - 12.00 WIB.

    Adapun pemateri yang diundang adalah Wan Rasyid (pengamat konflik perang internasional) dan Afthonul Afif (sejarahwan). Hadiri dan ikuti. Info lanjut, silakan tanya ke 089655863724 (Irham, ketua PMII Cabang Jepara). Peserta terbatas! [dutaislam.com/ ab]
  • Habib Luthfi: Islam Nusantara Melindungi Islam dari Arabisasi

    Admin: Duta Islam → Selasa, 25 Oktober 2016

    Oleh Imron Rosyadi 

    DutaIslam.Com - Disinyalir ada upaya besar untuk menggembosi ormas terbesar di Indonesia dan penggiringan opini seolah-olah Nahdlatul Ulama itu sesat dan menyesatkan.

    Mereka yang tidak suka NU melakukan berbagai cara untuk mengajak umat Islam agar semakin membenci NU. Padahal negara muslim di seluruh dunia saat ini banyak yang belajar kepada Nahdlatul Ulama tentang bagaimana membina dan mengelola Islam yang damai, ramah, dan santun.

    Banyak orang mengaku-ngaku sebagai NU Garis Lurus, NU Garis Suci, atau pecinta NU yang justru menghancurkan NU dengan membuat opini-opini yang menebar kebencian dan memunculkan perpecahan. Tragisnya, bahkan orang NU sendiri yang notabene punya pengaruh besar di mata publik ikut terhanyut dalam hasutan dan hinaan oleh mereka para pembenci NU. 

    Tidak dipungkiri gagasan “Islam Nusantara” bisa menjadi magnet besar dalam membangun besarnya kekuatan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Dan oleh media-media pembenci NU, itu dijadikan lahan untuk menghancurkan NU dari dalam seolah-olah NU telah diboncengi oleh Liberal, Syiah, dan Wahabi. Padahal telah jelas dan disepakati oleh ribuan ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren serta majelis ta’lim di seluruh Indonesia bahwa tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang adalah “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia”.

    Tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin.

    Cukup menjadi pelajaran berharga dari Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Mesir, Somalia dan negara-negara muslim yang menjadi sasaran konflik antar umat Islam karena tidak adanya persatuan diantara mereka.

    Kita tidak menginginkan Indonesia seperti mereka, berapa juta umat Islam yang mati mengenaskan akibat konflik di negara-negara tersebut ?

    Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita walisongo. Islam nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar Islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab.

    Saat ini istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya. 

    Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran.

    Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasuth (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik. 

    Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun.

    Menurut Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Rais Syuriah PBNU Pusat menjelaskan, “Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu.”

    Beliau melanjutkan, “Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik,. Kalau saja wali songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini,”

    Beliau berpesan bahwa inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini, itulah mengapa dalam setiap ceramah beliau akhir-akhir ini sering membahas tentang upaya mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.

    Indonesia itu menurut beliau, tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia. Sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama seperti insiden di Tolikara Papua. Intinya cuma satu: memecah belah NKRI.


    Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan sebuah analogi tentang bagaimana menjadi muslim yang baik di bumi Indonesia, “Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk,”

    Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.

    “Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkrit. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet,” begitulah penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

    Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. 

    Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.

    Rais Am Syuriah PBNU Pusat Dr. HC. KH. Ahmad Musthofa Bisri menjelaskan, “Kalau Islam diidentikkan dengan Arab, Abu Jahal juga orang Arab, dia memakai sorban dan jubah. tentu ketika kita memakai jubah dan sorban semata mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bukan mengikuti budaya Arab.”

    Lebih lanjut Mustasyar PBNU Pusat Syaikhuna wa Murobbi Rukhina KH. Maimun Zubair menjelaskan. “Bangsa Arab itu mulia karena adanya Islam, maka Indonesia pun akan mulia dengan adanya Islam”.

    Saat ini negara-negara Muslim di dunia sedang melirik Islam di Indonesia, mereka manyatakan diri perlu belajar banyak dari Indonesia, bagaimana bisa negara besar dengan berbagai suku, agama, ras, adat istiadat bisa damai dan tentram tanpa ada konflik horizontal berkepanjangan ?

    Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai dan menghargai keberagaman. [dutaislam.com/ ab]

  • Kemenag: Terjemahan Al-Quran Bukanlah Al-Quran (Klarifikasi Makna Auliya)

    Admin: Duta Islam →
    Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMQ) Muchlis M Hanafi. (Foto: LPMQ)
    DutaIslam.Com - Pada beberapa edisi terbitan Terjemahan Al-Quran yang beredar saat ini, kataa "wliya" pada QS. Al Maidah: 51 diterjemahkan sebagai teman setia. Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag, Muchlis M Hanafi, menjelaskan bahwa terjemahan Al-Quran tersebut merujuk pada edisi revisi 2002 Terjemahan Al Quran Kementerian Agama yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.

    Hal ini ditegaskan Muchlis menanggapi beredarnya postingan di media sosial tentang terjemahan kata "awliya" pada QS Al-Maidah: 51 yang disebutkan telah berganti dari 'pemimpin' menjadi 'teman setia'. Postingan itu menyertakan foto halaman terjemah QS Al-Maidah: 51 dengan keterangan yang menyebutnya sebagai 'Al-Quran palsu'.

    "Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan terjemahan Al-Quran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar," tegas Muchlis di Jakarta, Minggu (23/10).

    Menurut Muchlis, kata "awliya" di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998 - 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata "awliya" diterjemahkan dengan pemimpin. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan teman setia.

    "Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai dengan pelindung, dan pada QS. Al-Nisa/4: 89 diterjemahkan dengan teman-teman," tambahnya.

    Terjemahan Al-Quran Kemenag, lanjut Muchlis, pertama kali terbit pada tahun 1965. Pada perkembangannya, terjemahan ini telah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, yaitu pada tahun 1989-1990 dan 1998-2002. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama dan ahli di bidangnya, sementara Kementerian Agama bertindak sebagai fasilitator.

    "Penyempurnaan dan perbaikan tersebut meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi," terangnya.

    Pada terjemahan Kementerian Agama edisi perdana (tahun 1965), kata "awliya" pada QS. Ali Imran/3: 28 dan QS. Al-Nisa/4: 144 tidak diterjemahkan. Terjemahan QS. Al-Nisa/4: 144, misalnya, berbunyi: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.

    Pada kata wali diberi catatan kaki: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Catatan kaki untuk kata wali pada QS. Ali Imran/3: 28 berbunyi: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong, jelas Muchlis.

    Terkait penyebutan 'Al-Quran palsu' pada informasi yang beredar di media sosial, Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini mengatakan, terjemahan Al-Quran bukanlah Al-Quran. Terjemahan adalah hasil pemahaman seorang penerjemah terhadap Al-Quran. Oleh karenanya, sebagian ulama berkeberatan dengan istilah terjemahan Al-Quran. Mereka lebih senang menyebutnya dengan terjemahan makna Al-Quran.

    Tentu tidak seluruh makna Al-Quran terangkut dalam karya terjemahan, sebab Al-Quran dikenal kaya kosa kata dan makna. Seringkali, ungkapan katanya singkat tapi maknanya padat. Oleh sebab itu, wajar terjadi perbedaan antara sebuah karya terjemahan dengan terjemahan lainnya.


    Terkait kata atau kalimat dalam Al-Quran yang menyedot perhatian masyarakat dan berpotensi menimbulkan perdebatan, Kemenag menyerahkan kepada para ulama Al-Quran untuk kembali membahas dan mendiskusikannya. Saat ini, sebuah tim yang terdiri dari para ulama Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman serta pakar bahasa Indonesia dari Badan Bahasa Kemendikbud, sedang bekerja menelaah terjemahan Al-Quran dari berbagai aspeknya.

    Mereka itu, antara lain: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Huzaimah T Yanggo, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Dr. KH. A. Malik Madani, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Dr. Muchlis M Hanafi, Prof. Dr. Rosehan Anwar, Dr. Abdul Ghofur Maemun, Dr. Amir Faesal Fath, Dr. Abbas Mansur Tamam, Dr. Umi Husnul Khotimah, Dr. Abdul Ghaffar Ruskhan, Dr. Dora Amalia, Dr. Sriyanto, dan lainnya.

    Teks Al-Quran, seperti kata Sayyiduna Ali, hammalun dzu wujuh, mengandung aneka ragam penafsiran. Oleh karena itu, Kementerian Agama berharap umat Islam menghormati keragaman pemahaman keagamaan, urainya.

    Menurut Muchlis, terbitan terjemah Al-Quran dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk memahami isi kandungan ayat suci. Namun, ia mengingatkan, dalam memahami ayat-ayat Al-Quran, hendaknya tidak hanya mengandalkan terjemahan, tetapi juga melalui penjelasan ulama dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya. [rilis/mkd/mkd]

  • Habib Luthfi Baiat 1000 Santri Cinta NKRI di Jepara

    Admin: Duta Islam → Senin, 24 Oktober 2016
    maulid kebangsaan hari santri sarkub jepara

    DutaIslam.Com - Dalam rangka menangkal radikalisme dan mengikis benih-benih anti Pancasila, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Jepara akan menggelar “Maulid Kebangsaan: Baiat 1000 Santri Cinta NKRI” pada Kamis malam, 27 Oktober 2016 di Masjid Baiturrahim, Desa Tengguli, Kecamatan Bangsri, Jepara.

    Pengajian yang akan dihadiri oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Zainal Abidin Assegaf dari Pekalongan itu adalah rangkaian acara puncak peringatan Hari Santri Nasional yang digelar PCNU Jepara bersama Sarjana Kuburan (Sarkub) Jepara dan Ansor Tengguli, Jepara.

    Menurut Katua Panitia Ahnafuddin, acara Maulid Kebangsaan ini digagas sebagai respon terhadap mengeringnya rasa cinta tanah di kalangan anak muda. Ada 4 persen penduduk Indonesia, jelasnya, yang mendukung gerakan ISIS. “Ini kalau dibiarkan akan terus bertambah,” tambah Ahnaf.

    Yang memprihatinkan, data 2015 lalu, ada survei yang menunjukkan angka tentang dukungan radikalisme atas nama agama yang cukup mengkhawatirkan. Data itu menunjukkan bahwa ada 52 persen guru sekolah yang setuju tindak kekerasan atas nama solidaritas Islam demi penerapan syariat Islam di Indonesia. “14, 2 persen malah setuju penggunaan bom,” ujar Ahnaf memperlihatkan data penelitian LkiP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Melunturnya cinta tanah air ini bisa dilihat dari maraknya orang-orang atau komunitas pendidikan yang mengharamkan hormat kepada bendera merah putih. Bahkan menuduhnya syirik dan bid’ah. Dan, ironisnya, semua diatasnamakan pemurnian akidah. Seakan-akan cinta tanah air itu bukan bagian dari ajaran Islam.

    Mereka yang menebar keraguan berbangsa tidak mengetahui kalau kalangan santri, yang sangat dekat dengan akses pengetahuan agama adalah penyusun lambang Garuda Pancasila (Habib Sultan Hamid), pencipta lagu Hari Merdeka (Habib Husain Mutahar), dan juga pencita lagu Nasional Ya Ahlal Wathan (KH Wahab Chasbullah) dan seterusnya.

    Baiat 1000 Santri Cinta NKRI, tambah Ahnaf, adalah ikrar nyata menanamkan benih-benih persatuan di antara warga negara. “Bukan hanya santri yang dibaiat nantinya, seluruh warga negara yang hadir akan mengikuti baiat bersama Habib Luthfi,” ujarnya.


    Sebelum acara baiat, ada agenda Tawasulan Waliyullah pada 26 Oktober 2016. Sebanyak 10 Hafidz Al-Qur’an akan hadir membacakan 30 juz khatam kepada ratusan nama wali se Jepara dan nama-nama arwah peserta haul massal. Sehari setelahnya, digelar acara seminar Hari Santri bertema “Mengembalikan Tokoh NU yang Hilang dari Sejarah” di Gedung MWC NU Bangsri, kerjasama dengan PMII Jepara. [dutaislam.com/ ab]
  • Kisah Rasul Menyuapi Yahudi Buta yang Membencinya

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Pribadi rasul itu sungguh luar biasa. Tidak pernah sedikitpun merasa sakit hati, apalagi ingin "membalas" semua perilaku musuh-musuhnya. Setiap kali digunjing, difitnah, dan diserang sekalipun. Beliau bisa memaafkan dan menunjukkan pribadi yang tetap santun; tersenyum, menyapa, mendo'akan, dan bahkan membantunya. 

    Bukankah kita mendengar sejarah, bagaimana keagungan etika rasul dengan seorang pengemis Yahudi buta di sudut pasar Madinah al-Munawwarah itu? Setiap pagi dibawakan makanan dan disuapinya. Penuh rasa kemanusiaan. Toleransi tanpa kepentingan.

    Sayangnya, Yahudi tua itu tidak tahu, bahwa yg selalu menyuapi nya adalah Rasulullah. Meskipun dia selalu menfitnah dan "ngelek-ngelek" rasul, tetap saja rasulullah bersikap baik. Sebab, kebaikan rasul itu murni dan tidak dibuat-buat.

    Wajarlah, meskipun disakiti seperti itu, Rasulullah tetap dengan lembut menyuapi Yahudi tua yang buta itu. Seandainya itu kita, mungkin kita tidak tahan, bukan? Meskipun kita tahu, pasti saja ada manusia khusus yang bisa meniru akhlak Rasulullah, yaitu mereka yang sudah pada derajat "al-Arif Billah". 

    Setelah rasulullah wafat, pengemis Yahudi itu merasa ada yang aneh. Sudah tidak ada lagi seseorang yang mendatangi dan menyuapinya. Hingga akhirnya, sahabat Abu Bakar, mengganti posisi rasulullah. Tetapi, tetap saja ada yang berbeda dengan rasulullah yang begitu lembut dan sabar menyuapi Yahudi itu. 

    Setelah ditanya, tentu saja Abu Bakar bercerita apa adanya. Setelah mendengar cerita dari Abu Bakar, betapa terkejutnya Yahudi tua itu. Seperti biasanya, penyesalan itu datang diakhir. Dia menyesal dan ingin minta maaf. Sayang, Rasulullah sudah wafat. Maka, seketika itu pula dia bersyahadat di depan Abu Bakar.

    Mari contoh akhlak Rasulullah. Suri tauladan kita. Yang bisa menghormati dan memaafkan kesalahan orang lain. Meskipun kepada non-muslim. Kalau Anda suka marah-marah, bahkan ingin membunuh segala, siapa sebenarnya Nabi Anda? [dutaislam.com/ ditulis arif bin ahmad]
  • Ramalan Nabi Tentang Bibit Munculnya ISIS Sekarang

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Gerakan ISIS semakin membabi buta. Mereka juga semakin gencar merekrut para pengikut. Mereka tak segan menculik orang-orang potensial, bahkan anak-anak untuk dijadikan kadernya.

    Gerakan ISIS ini juga sudah masuk wilayah Malang Raya. Baru-baru ini ada 4 warga Malang yang diciduk Densus 88. Bahkan, menurut informasi ada sekitar 18 warga Malang yang sudah berada di Syiria, menjadi relawan ISIS, masyaallah.

    Ideologi ISIS serta organisasi sejenis telah menodai ajaran Islam. Juru Bicara  Badan Nasional  Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengatakan, orang-orang yang bergabung dalam ISIS adalah orang-orang yang memiliki semangat tinggi untuk berjuang. Namun sayangnya pemahaman agamanya belum sempurna. Mereka tidak bisa membedakan antara ISIS dengan Islam. Padahal ISIS itu kelompok teroris, sedangkan Islam adalah agama yang damai.

    Lalu, mengapa terus muncul golongan yang berfaham radikal dan ekstrim. Sejak kapankah mulai munculnya golongan ekstrim ini? Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, M.A. dalam pengajian umum di Pondok Pesantren Ahlusshofa Wal Wafa menjelaskan panjang lebar seputar golongan radikal ini.

    Sekte ekstrim dalam sejarah Islam telah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW hidup. Ketika Rasulullah memenangkan perang Thaif dan Hunain dan memperoleh ghanimah (harta rampasan perang) yang melimpah, Rasulullah SAW membagi-bagikan ghanimah di Ja’ranah. Pembagiannya tidak seperti biasa. 

    Para sahabat Rasulullah SAW yang sudah lama masuk Islam, seperti Abu Bakar Siddiq, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Sa’ad dan lainnya tidak mendapatkan bagian. Namun para sahabat yang baru masuk Islam mendapatkannya, walaupun kaya raya, termasuk Abu Sufyan dan Al-Bakhtari.

    Saat pembagian masih berlangsung, ada seseorang bernama Dzul Khuwaishir dari keturunan Bani Tamim menghampiri Rasulullah dan memprotes beliau. Ia lalu berkata dengan kasar “Berlaku adillah, hai Rasulullah!” Rasulullah terkejut, dan berkata; “Celakalah kamu! Siapa yang akan berbuat adil jika aku saja tidak berbuat adil?”  Umar bin Khattab berkata; “Wahai Rasulullah, biarkan kupenggal saja lehernya.” Rasulullah menjawab; “Biarkan saja!”

    Dzul Khuwaishirah meninggalkan Rasulullah, dan Rasulullah bersabda; “Akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai melewati batas tenggorokannya (tidak memahami substansi misi-misi Al-Qur’an, dan hanya hafal di bibir saja). Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Kalau aku menemui mereka, niscaya akan kupenggal lehernya seperti kaum ‘Ad.” (HR. Muslim pada Kitab Az-Zakah, bab al-Qismah).

    Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW bersabda; “Mereka sejelek-jeleknya makhluk, bahkan lebih jelek dari binatang. Mereka tidak termasuk dalam golonganku, dan aku tidak termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Shahih Muslim).

    Menurut Imam Nawawi, Dzul Khuwaisir berjidat hitam, kepalanya botak, bersorban, tinggi gamisnya setengah kaki, dan bejenggot panjang. Jidat yang hitam berasal dari bertemunya jidat dengan lantai kala sholat. Menurut para ulama, kedua hadits ini menjelaskan bahwa Dzul Khuwaishir akan memiliki keturunan yang meski pun rajin sholat, baik wajib maupun sunah, dan membaca Al Qur’an, namun cara berfikir dan perilakunya sama sekali tidak Islami. Mereka dengan mudah mengkafirkan orang lain yang tidak sefaham dengan mereka.

    Tragedi Khawarij
    Prediksi yang disabdakan Rasulullah tersebut terbukti. Pada tahun ke 40 H dengan dibunuhnya Ali bin Abi Thalib. Yang membunuhnya adalah Abdur-Rahmân bin Muljam. Bukan orang Yahudi atau Kristen. Orang ini setiap hari berpuasa, setiap malam melakukan shalat malam, hafal Qur’an, namun pemahamannya tentang agama kurang menguasai secara utuh.

    Mereka mengkafirkan Sayyidina Ali, anak yang pertama masuk Islam, menantu Rasulullah, termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga (al-‘asyratul mubassyiriina biljannah), yang memenangkan perang Khaibar, karena menerima hukum hasil musyawarah pada peristiwa tahkim (berdamai) dengan Gubernur Syam Muawiyah. Karena tidak berhukum dengan Al-Qur’an, maka kafir dan halal dibunuh. Ini persisi seperti yang diprediksikan oleh Nabi SAW.

    Orang-orang yang ekstrim atau radikal di awal-awal Islam ini masuk golongan khawarij. Khawarij dianggap sebagai sekte radikal karena sekte ini mengkafirkan semua orang yang berdamai atas kasus pembunuhan Utsman bin Affan, seperti Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, dan lain sebagainya.

    Selain itu, selama sekte ini tumbuh dan berkembang pada zaman pemerintahan Bani Umayyah, sekte ini menjadi oposisi pemerintah dengan militansi luar biasa dan nekat, sehingga meski hanya berkekuatan 80 orang, mereka berani melawan penguasa. Jika di antara mereka ada yang tewas, mereka menganggapnya syahid. 

    Sekte ini kemudian terpecah menjadi beberapa sekte, di antaranya Al-Azariqah, al-Ibadiyah, an-Najdat, dan Ash-Shufriyah. Yang paling ekstrim adalah sekte Al-Azariqah karena kelompok ini menganggap orang di luar Khawarij adalah kafir.

    Nah, sekarang yang model begini mulai banyak. Orang-orang, organisasi atau pesantren yang mengajarkan radikalisme atau ekstrem. Menganggap orang yang tidak sepaham sebagai ahli bid’ah, sesat, kafir dan ahli neraka. Mereka tidak mengenal toleransi.

    Orang-orang yang berpikir ektrem atau radikal bermunculan. Berbagai tragedi kekerasan, bom bunuh diri terjadi di mana-mana termasuk di Indonesia. Sudah banyak yang ditangkap dan diesksekusi, namun tetap saja ada generasi penerusnya. Kini ada organisasi ISIS yang ingin mendirikan negara Islam. 

    ISIS didirikan oleh Abu Bakar Al-Baghdadi. ISIS merupakan sempalan dari Al-Qaedah, pimpinan Usamah bin Laden. Mereka ingin mendirikan khilafah, negara Islam. Siapa saja yang tidak setuju dibunuh. Tentu saja ini bertentangan dengan ajaran Islam.

    Islam Diamalkan, Negara Diamankan
    Banyak negara di dunia yang bertanya-tanya, kenapa Islam di Indonesia kok toleran dan hidup damai berdampingan. Sedangkan di Timur Tengah setiap hari konflik dan perang saudara. Korbannya sudah ratusan ribu. Baik di Irak, Syuriah, Mesir, Yaman dan sebagainya.  

    Salah satu jawabannya, di Indonesia, organisasi Islam mayoritasnya, Nahdlatul Ulama yang anggotanya sekitar 70 juta bersikap toleran. Biasanya suku besar menindas suku kecil. Partai besar menekan partai kecil. Organisasi NU, mayoritas tapi melindungi dan menghormati yang minoritas. NU mengajak umat Islam untuk saling menghormati meski berbeda agama, madzhab, golongan, ataupun partai politik.

    Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama yang lainnya, dalam membangun bangsa ini mengemukakan rumusan persaudaraan yang bersemangatkan Islam, persaudaraan yang berasaskan kebangsaan. Islam saja tanpa semangat nasionalisme belum tentu bisa mempersatukan ummat. Sebaliknya, Nasionalis saja tanpa agama akan kering atau sekuler.

    Jadi, yang benar adalah Islam Nasionalis. Islam sebagai agama, nasionalis sebagai komitmen kebangsaan. Inilah yang bisa mempersatukan bangsa Indonesia meski terdiri dari ribuan suku dan macam-macam agama.

    Sejak tahun 1936, jauh sebelum Indonesia Merdeka, dalam muktamar di Banjarmasin kyai-kyai NU menghendaki negara Indonesia adalah negara Darus salam (negara damai), bukan Darul Islam. Jadi negara yang pantas dan layak bagi Indonesia adalah negara nasional atau kebangsaan bukan negara Islam.

    Keberadaan sebuah bangsa dan tanah air sangatlah penting. Maka, para ulama menekankan bahwa menjaga atau membela negara adalah kewajiban warga negara. Sedangkan, bagi orang yang ekstrim, mereka tak peduli tanah air. Mereka tidak peduli, Indonesia ini konflik, perang saudara, pecah atau bubar yang penting terbentuk negara Islam. Bagi kita tidak seperti itu. Islam diamalkan, keselamatan bangsa dibela atau diamankan.

    Sebuah pepatah mengatakan, man laisa lahu ardhun, laisa lahu taarikh. Waman laisa lahu tarikh laisa lahu dzaakirah (Barang siapa tidak punya tanah air, tidak punya sejarah. Barang siapa tidak punya sejarah maka akan hilang). Wallahu a’lam. [dutaislam.com/ ed]

    Artikel ini diambil dari Ceramah KH. Said Aqil Siradj
  • Pendataan Nama-Nama Wali di Jepara

    Admin: Duta Islam → Minggu, 23 Oktober 2016
    makam ratu kalinyamat jepara

    DutaIslam.Com - Sehubungan dengan akan dilaksanakannya “Tawasullah Waliyullah Jepara dan Haul Massal” dalam agenda Hari Santri Nasional oleh PCNU Jepara dengan tim Sarkub (Sarjana Kuburan) dan Jamiyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) NU Jepara, yang akan dilaksanakan di Tengguli, Bangsri, Jepara, pada Rabu (26 Oktober 2016), panitia bermaksud ingin mendata semua nama wali atau cikal bakal di masing-masing desa yang ada di Jepara.

    Yang sudah kami catat (per 25 Oktober 2016), baru ada 423 nama makam wali dan cikal bakal yang ada di seluruh desa wilayah Jepara. Di kecamatan Bangsri ada 19 wali, yang belum ada dari desa Kepuk dan Sri Kandang. Dari Kecamatan Batealit baru terdata ada 12 nama, yang belum dari Geneng, Mindahan, dan Samosari.

    Di Kecamatan Donorojo baru ada daftar nama 4 wali. Yang belum masuk catatan kami adalah nama wali atau cikal bakal dari Desa Clering, Jugo dan Sumber Rejo.

    Sementara, yang suah lengkap adalah makam-makam di Kecamatan Jepara Kota. Nama wali yang tercatat sudah ada 54 nama dari masing-masing desa yang berjumlah 16 desa itu. Kecamatan Jepara ini yang paling lengkap di data kami.

    Sementara di Kecamatan Kalinyamatan baru ada 29 nama wali atau cikal bakal dari 14 desa yang ada. Masing-masing desa sudah ada data makam leluhurnya. Lengkap. Dari Karimun Jawa, ada 3 nama wali dari 3 kelurahan berbasis pulau (kecuali desa Parang yang belum kami dapatkan datanya).

    Di Kedung, baru ada 38 nama leluhur dan wali dari total 18 desa yang ada. Yang belum tercantum adalah nama leluhur dari Desa Kalianyar, Panggung, Rau dan Tanggultlare.

    Sementara di Kecamatan Keling, baru tercatat 9 makam dari total 12 desa di sana. Yang lain masih kosong, yakni Desa Kaligarang, Kelet dan Tempur.

    Di Kecamatan Kembang, baru ada 10 nama wali dari 11 nama desa di Kembang. Selain itu, yang kosong nama wali adalah dari Desa Bucu, Dermolo, Dudakawu, Kancilan, Pendem dan Sumanding. Di Kecamatan Mayong baru ada 26 nama wali dari 18 desa, kecuali Pelang, Pelemkerep dan Rajekwesi.

    Dari Mlonggo, baru 8 makam. Itu selain dari Desa Jambu Timur, Mororejo dan Suwawal. Begitu pula di Kecamatan Nalumsari, baru ada 15 makam + 7 makam dari 14 desa yang ada. Yang belum ada adalah: Bategede, Bendanpete, Bimibing Rejo, Dorang, Jatisari, Karang Nongko, Muryolobo, Ngetuk, Pringtulis dan Tanggulpandean.

    Di Kecamatan Pakis Aji, baru 5 nama makam terdeteksi dari total 18 desa. Adapun dari Desa Lebak, Mambak, Plajan, Slagi dan Tanjung belum kami dapatkan infonya. Dari Kecamatan Pecangaan yang jumlah desanya ada 12, baru terdata ada 18 makam keramat. Itu selain dari daerah Gemulung, Krasak dan Ngeling.

    Paling lumayan lengkap setelah Kecamatan Kota adalah Tahunan. Dari 15 desa di sana, tercatat 41 + 10 (yang masih samar) nama makam keramat para wali. Yang belum ada datanya, hanya dari Desa Senenan. Sementara, dari Kecamatan Welahan, sudah ada 45 nama wali yang kami catat dari total 15 desa di Welahan.

    Hanya ada 3 desa yang data makam keramatnya belum ada di database makam wali ini, yakni Gedangan, Kedungsari dan Ketileng Singolelo. Lebih detail, Anda bisa baca daftar makam se-Jepara yang sementara kami dokumentasikan ini di link: http://bit.ly/walijepara.

    Semua nama-nama wali di atas akan disebut tanpa kecuali dalam agenda "Tawasulan Waliyullah dan Haul Massal", bersama dengan nama-nama arwah peserta ruwahan massal menjelang acara "Maulid Kebangsaan: Baiat 1000 Santri Cinta NKRI" pada Kamis malam, 27 Oktober 2016, bersama Habib Luthfi bin Yahya di Masjid Baiturrahim, Tengguli, Bangsri, Jepara.

    Untuk kelengkapan data tawasul wali itulah, panitia berharap kepada Anda yang membaca pesan ini untuk mengirimkan nama cikal bakal atau wali dari desa masing-masing.

    Ada 10 Hafidz Al-Qur’an dari JQH NU Jepara yang akan membacakan 30 juz glondongan pada Rabu, 26 Oktober 2016 pagi hingga sore. 4 diantaranya adalah hafidzoh usia sekolah. Yang ingin disebutkan ahli warisnya juga masih ada kesempatan.

    Silakan kirim nama-nama wali di desa Anda (boleh lebih dari satu) ke email Duta Islam di redaksidutaislam@gmail.com, atau tulis di kotak komentar di bawah ini.

    Sebutkan desa, nama wali, lokasi makam, dan (kalau ada) nama juru kuncinya, untuk kemudian hari kami bisa tulis sejarahnya agar jadi uswah hasanah generasi sekarang. Terimakasih. [dutaislam.com/ tim sarkub jepara]. 
  • Bisakah Sufisme dan Marxisme Disatukan Jadi Sufi Marxis?

    Admin: Duta Islam → Sabtu, 22 Oktober 2016
    antara sufisme dan marxisme

    Oleh Roy Murtadho

    DutaIslam.Com - Ada dua gagasan besar yang sepertinya telah dan susah beranjak dari hidup saya: sufisme dan Marxisme. Secara lahiriah keduanya memang seperti saling bertabrakan dan berhadap-hadapan. Tak mungkin dipertautkan dan tak ada sampan yang bisa menyatukan keduanya.

    Maka tak heran, bagi kawan-kawan saya di tarekat dan gerakan sufisme, melihat Marxisme secara sinis. Marxisme harus dihancurkan sehancur-hancurnya. Begitu pula kawan dari gerakan Marxisme. Jika agama saja candu. Bagaimana dengan sufisme? Mbahnya candu. Sufisme ingin menarik manusia ke langit, sementara Marxisme ingin membenamkan manusia di bumi.

    "Bung harus menentukan pilihan, mau menjadi seorang sufi atau menjadi komunis?" tukas kawan yang di gerakan buruh. Tak jauh beda juga gugatan kawan di gerakan sufi.

    Kenapa keduanya saling menegasi? Saling memblokade? Saling menjegal? Saling menghantam? Saling menghancurkan? Apa tak ada lagi tempat bagi penyesuaian teoritis dan praksis? Jauh-jauh hari, setelah terjatuh pada rasa frustasi dan kesunyian akut, rasanya saya tak ingin mundur lagi. Keduanya bagi saya: sufisme dan Marxisme lebih dari sekedar teori yang memang sejak remaja saya gemari. Keduanya mungkin memang jalan hidup saya.

    Pada kawan-kawan yang sangat anti dengan Marxisme (dengan semua percabangan di dalamnya) saya sering mengatakan, "mengapa Tuhan hendak dijauhkan dari bumi?" Jika satu sama lain saling menuding bahwa salah satu telah membikin bencana di dunia. "Mengapa sekarang tidak membangun karya bersama-sama?"

    Sebagai seorang amatiran saya kira secara teoritis (mungkin kaum cerdik cendekia, para sarjana kelak perlu mengoreksinya), khususnya secara ontologis, celahnya kecil sekali jika mempertautkan Sufisme dan Marxisme. Tapi bukan berarti tidak mungkin sama sekali. Karena bagi saya, antara imanensi dan transendensi, dalam monisme dan panteisme, saling beririsan.

    Allah adalah Alam atau Alam adalah Allah. Artinya, bagi monisme, kalaupun ada Allah, ia bukanlah yang adikodrati yang berada di dunia seberang. Dunia entah. Ia adalah jagat raya ini sendiri. Sebaliknya, kaum sufis (meski banyak ragamnya) ada anggapan, semua di dunia ini adalah Allah. Karena semuanya Allah, maka tak ada sesuatu pun yang di luarnya.

    Ada juga yang beranggapan. Ibarat Allah itu pohon, maka dunia ini hanyalah bayangan pohon saja. Bahkan lebih radikal dari itu. Kita tidak ada. Yang ada hanya Allah semata.

    Kondisi aksiomatik inilah yang rupanya menentukan corak dan pilihan dalam gerakan politik Sufisme dan Marxisme. Pertemuan teoritik, dalam ranah ontologis, niscaya sangat diperlukan sekali. Ini perlu kesabaran revolusioner yang saya yakin banyak dimiliki kalangan Sufis maupun Marxis.

    Maka kalau kita lihat kekuatan perjuangan di dunia ini hanya dimiliki oleh keduanya. Mahatma Gandhi, begitu kuat dan sabar dalam perjuangan pembebasan via Satyagraha hanya mungkin terjadi karena dalam arti luas, ia seorang sufi. Begitu juga, Nelson Mandela begitu kuat dan sabar menanggung jalan pembebasan Nasional karena ia seorang Marxis.

    Dengan ini, sebagaimana sufisme yang tumbuh subur di Indonesia. Kita berharap Marxisme bisa tumbuh subur kembali di tanah dan bumi Indonesia. Keduanya memiliki peran historis yang sangat besar bagi republik ini dan umat manusia.

    Dalam kategori etis saya seringkali bertanya. Jika dalam lantunan suara Tuhan kaum Sufis bisa bercucuran air mata, hatinya ditawan oleh rasa rindu yang menggebu-gebu, bisa tidak ia dalam suasana batin dan gelora yang tak jauh berbeda, bercucuran air matanya melihat malapetaka sosial dimana-mana? Sehingga ia terlibat dan mencipta aksi sosial kolektif sebagai jalan menuju Tuhan itu sendiri. Jika zikir tak ada batasnya, bisa tidak jika laku sosial itu menjadi zikirnya?

    Kelak, kita berharap teori kontradiksi Mao misalnya bisa dibaca secara sufistik. Dari sini yang kita perlukan hanya rasa rendah hati menyelami puspa ragam teori, meminumnya barang seteguk dua teguk dalam refleksi dan abstraksi menuju aksi.

    Sekedar keresahan setelah membaca Ibn Ataillah As-Sakandari dan Mao Zedong. Catatan pentingnya ialah: melampaui materialisme dan idealisme untuk tidak terjatuh pada salah satu atau tidak mengafirmasi keduanya yang terjatuh pada dualisme.

    Panjang pendeknya umur Sufisme dan Marxisme, tugas historis kita semua, tak hanya saya. Memastikan keduanya mendapatkan tanah, pupuk dan air yang cukup sehingga mereka bisa tumbuh dengan baik. [dutaislam.com/ ab]
  • Perbedaan Dalam Islam Sudah Ada Sejak Zaman Nabi

    Admin: Duta Islam →
    cara menyikapi perbedaan menurut islam

    DutaIslam.Com - Sahabat Abubakar as Shiddiq tidak mengajak Sahabat Umar untuk bersikap lembut seperti dirinya apalagi menyalahkan, demikian juga sikap sahabat Umar ibn Khotthab tidak menyalahkan sahabat Abubakar karena tidak bersikap keras, karena dua-duanya benar. Itulah diantara rahasia kemenangan muslimin pada masanya selalu mendapat kemenangan. Sikap dan pendapat bisa beda akan tetapi sama sekali tidak merusak persatuan dan kesatuan.

    5928 في السماء ملكان احدهما يامر بالشدة، والاخر يامر باللين، وكلاهما مصيب: احدهما جبريل، والاخر ميكائيل. ونبيان احدهما يامر باللين والاخر بالشدة، وكل مصيب: ابراهيم ونوح. ولي صاحبان احدهما يامر باللين والاخر بالشدة: ابو بكر وعمر - (طب) وابن عساكر عن ام سلمة - (ض) اه الجامع الصغير

    Rasulullah saw. bersabda, "Ada dua malaikat di langit. Yang satu menghukum dengan keras dan yang lainnya dengan lembut. Keduanya betul. Yang satu adalah Jibril dan yang lainnya adalah Mikail.
    Ada dua Nabi, seorang menghukum keras dan seorang menghukum lembut, keduanya benar. Seorang ialah Ibrahim as. dan yang lainnya adalah Nuh as. Dan ada dua sahabatku. Seorang menghukum keras dan yang lainnya lembut. Keduanya benar. Seorang ialah Umar bin Khaththab dan yang lainnya adalah Abu Bakar." (Jami'ush Shaghir – Hadits Riwayat Thabrani, Abu Asakir: Dari Ummi Salamah).

    Perbedaan pendapat antara Abu Bakar ra. dan Umar ra. dalam menyikapi tawanan perang Badar termasuk dalam masalah ini. Abdullah bin Mas'ud ra. berkata bahwa ketika para tawanan itu dibawa ke hadapan Rasulullah saw., Abu Bakar ra. berkata, "Ya Rasulullah ! Mereka adalah kaum dan 'ahli'-mu. Bebaskanlah mereka dan jangan dibunuh. Mungkin mereka akan bertaubat." 

    Sedangkan Umar ra. berkata, "Ya Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang mendustaimu dan menyakitimu. Mereka telah memaksamu keluar dari Mekkah. Sebaiknya mereka dibunuh." 

    Para sahabat berselisih pendapat dalam hal ini. Rasulullah SAW pun berdiam diri. Kemudian beliau memasuki rumahnya, lalu keluar dan bersabda, "Allah menyebabkan hati sebagian orang menjadi lembut, lebih lembut daripada susu. Dan Allah menyebabkan hati sebagian orang keras, sehingga lebih keras daripada batu.

    Abu Bakar, permisalanmu seperti Ibrahim as. yang berkata, "maka barangsiapa mengikutiku, sesungguhnya ia termasuk golonganku. Dan barangsiapa mendurhakaiku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ibrahim : 36). 

    Dan permisalanmu Abu Bakar, juga seperti Isa as. yang berkata, "jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Biajaksana." ( QS Al-Maidah: 118).

    Dan Umar, permisalanmu adalah seperti Nuh as. yang berkata, "Ya Tuhanku, jangan Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi," (Nuh: 26).

    Dan permisalanmu Umar, juga seperti Musa as. yang berkata, "Ya Robbana, binasakan harta benda mereka dan kuncilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman, hingga mereka melihat siksa yang sangat pedih." (QS Yunus: 88).

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَقُولُونَ فِي هَؤُلَاءِ الْأَسْرَى قَالَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَوْمُكَ وَأَهْلُكَ اسْتَبْقِهِمْ وَاسْتَأْنِ بِهِمْ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ قَالَ وَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْرَجُوكَ وَكَذَّبُوكَ قَرِّبْهُمْ فَاضْرِبْ أَعْنَاقَهُمْ قَالَ وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْظُرْ وَادِيًا كَثِيرَ الْحَطَبِ فَأَدْخِلْهُمْ فِيهِ ثُمَّ أَضْرِمْ عَلَيْهِمْ نَارًا قَالَ فَقَالَ الْعَبَّاسُ قَطَعْتَ رَحِمَكَ قَالَ فَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِمْ شَيْئًا قَالَ فَقَالَ نَاسٌ يَأْخُذُ بِقَوْلِ أَبِي بَكْرٍ وَقَالَ نَاسٌ يَأْخُذُ بِقَوْلِ عُمَرَ وَقَالَ نَاسٌ يَأْخُذُ بِقَوْلِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ قَالَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَيُلِينُ قُلُوبَ رِجَالٍ فِيهِ حَتَّى تَكُونَ أَلْيَنَ مِنْ اللَّبَنِ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَشُدُّ قُلُوبَ رِجَالٍ فِيهِ حَتَّى تَكُونَ أَشَدَّ مِنْ الْحِجَارَةِ وَإِنَّ مَثَلَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ كَمَثَلِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ مَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ وَمَثَلَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ كَمَثَلِ عِيسَى قَالَ إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ وَإِنَّ مَثَلَكَ يَا عُمَرُ كَمَثَلِ نُوحٍ قَالَ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنْ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا وَإِنَّ مِثْلَكَ يَا عُمَرُ كَمَثَلِ مُوسَى قَالَ رَبِّ اشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوْا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ أَنْتُمْ عَالَةٌ فَلَا يَنْفَلِتَنَّ مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلَّا بِفِدَاءٍ أَوْ ضَرْبَةِ عُنُقٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا سُهَيْلُ ابْنُ بَيْضَاءَ فَإِنِّي قَدْ سَمِعْتُهُ يَذْكُرُ الْإِسْلَامَ قَالَ فَسَكَتَ قَالَ فَمَا رَأَيْتُنِي فِي يَوْمٍ أَخْوَفَ أَنْ تَقَعَ عَلَيَّ حِجَارَةٌ مِنْ السَّمَاءِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ حَتَّى قَالَ إِلَّا سُهَيْلُ ابْنُ بَيْضَاءَ قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ إِلَى قَوْلِهِ لَوْلَا كِتَابٌ مِنْ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

    Dari Bahrul Widad
  • Yang Wajib Dipelajari Setiap Muslim

    Admin: Duta Islam →
    kewajiban mencari ilmu

    Oleh Hikam Zain

    DutaIslam.Com - Sesungguhnya tidak bisa tidak alias wajib bagi setiap orang muslim maupun muslimat untuk mempelajari ilmu dan tidak ada kerukhsohan/keringanan bagi satu pun orang Islam di dunia ini untuk meninggalkan hal itu.

    Ilmu apa yang wajib diketahui? Ilmu tentang iman dan ilmu tentang Islam. Globalnya adalah ilmu billah (mengetahui Allah), kemudian ilmu Rosulillah (mengetahui Rasulullah), hari akhir dan juga harus mengetahui apa yang diwajibkan Allah SWT kepada hamban-Nya.

    Ilmu yang diwajibkan kepada kita itu untuk menjalankan dan perkara-perkara yang harus ditinggalkan.

    Rasul SAW bersabda;

    طلب العلم فريضة على كل مسلم

    Mencari ilmu diwajibkan bagi setiap umat islam.

    Didalam sebuah keterangan disebutkan;

    اطلبوا العلم ولو بالصين 

    "Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina". Cina adalah tempat yang jauh disana. Dan sedikit sekali orang yang bisa sampai kesana.

    Dan ketika seseorang diwajibkan untuk mencari ilmu ditempat yang jauh. Bagaimana tidak wajib seseorang yang di desanya, di kotanya, kecamatannya terdapat para ulama, sedangkan kita untuk mendatanginya tidak butuh biaya banyak, juga tidak masyaqqoh untuk mendatangi mereka, dekat dengan rumah kita, mengapa kita tidak mau belajar? Mengapa kita tidak mau mencari ilmu dari dan bersamanya?

    Adapun ilmu islam secara global adalah sabda Rasul tatkala ditanya oleh malaikat Jibril, disebutkan dalam Hadits;

    :أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ

    Beritahukan kepadaku tentang Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak disembah melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
    Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.

    Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”

    Perkara wajib yang harus diketahui dari ilmu-ilmu tauhid (keimanan) adalah yang sudah ditertibkan, yang sudah mudawwan, dituliskan oleh Imam Al-Ghozali, As Sanusi, al Baijuri dalam karangannya yang begitu manfaat, dan mencakup kesuluruhannya.

    Adapun ilmu Islam keseharian dan ini sudah dikarang oleh para Ulama dari golongan Fuqoha' yang mana menerangkan tengtang wajib sholat 5 waktu dan bagaimana tata caranya, syarat-syaratnya, kapan waktunya, kemudian bagaimana cara bersuci dan sebagainya.

    Kemudian juga termasuk ilmu keislaman itu adalah wajib zakat, bagaimana kadarnya, kapan diwajibkan, begitu juga ilmu tentang puasa, juga tentang haji. Dan demikian juga seorang muslim itu harus mengetahui ilmu yang wajib ainiy (wajib untuk dirinya sendiri) dan harus mengetahui perkara-perkara yang diharamkan seperti zina, liwath, minum khomr, dholim kepada manusia, mencuri, khianat, dsb dari perkara-perkara yang diharamkan.

    Sebuah keterangan menarik seseorang yang tidak mempunyai harta sama sekali, maka tidak diwajibkan belajar ilmu tentang zakat. Begitu juga haji, jika seseorang tidak mampu untuk ke sana, maka tidak wajib baginya untuk mengetahui tata cara haji. Akan tetapi alangkah baiknya seseorang belajar ilmu tersebut. Siapa tahu dengan belajar ilmu itu, akan membawa kita untuk bisa melaksanakannya.

    Kemudian yang diwajibkan pula adalah  mengetahui ilmu tentang bagaimana syaratnya jual beli, mu'amalah, nikah, dsb dari perkara yang membatalkan dan perkara yang mengesahkan.

    Begini saudara-saudara, jika kita tidak mengetahui akan hal tersebut, maka kita akan jatuh pada sesuatu yang dibeci oleh Allah SWT, baik disengaja ataupun tidak. Karena sesungguhnya orang yang bodoh secara tidak langsung adaka orang yang melawan Allah.

    Bagaimana tidak? Orang-orang yang bodoh sebagian meyakini dari perkara wajib itu diharamkan, dan perkara yang haram itu diwajibkan

    Hal itu adalah perkara yang khothir (yang membahayakan). Dan adakalanya lagi dengan sebab kebodohan seseorang itu masuk terhadap kekufuran secara tidak disengaja. Dan jika seperti ini Allah SWT tidak menerima rukhshoh bagi orang yang bodoh yang tidak mau belajar, sedangkan para Alim-Ulama ada didekatnya. Begitu juga dengan orang yang Alim lagi mengetahui wajib baginya memberikan pengajaran, jangan datang hanya karena menunggu undangan.

    Biasanya hal seperti ini  disebabkan istigholan biddunya / terlalu sibuk dengan urusan dunia, sehingga kita lupa untuk mengaji, lupa untuk belajar, untuk mengajar dan kita sebab ittiba'an lil hawa (selalu menuruti hawa nafsu) sehingga jauh dari Allah SWT, sehingga jauh dari hidayahNya.

    Sangat  mengherankan jika engkau melihat seseorang yang  yang tertipu, selalu mengejar-ngejar dunia siang dan malam. Dan sangat menjaga terhadap dunia dan hidup dalam kemewah-mewahan. Sedangkan dia adalah orang yang bodoh terhadap urusan agama, tidak mau mencari ilmu dan tidak mau duduk dengan para Ulama.

    Ulama berkata: "Kebodohan itu adalah pangkal dari segala kejelekan, segala musibah, baik di dunia maupun di akhirat." Seorang penyair juga berkata:

    وفي الجهل قبل الموت موت لأهله # فأجسامهم قبل القبور قبور

    وإن امرأ لم يحي بالعلم ميت #  فليس له حتى النشور نشور

    “Kebodohan adalah kematian bagi seseorang sebelum ia mati. Tubuhnya adalah kuburan bagi dirinya sebelum ia dikubur (di liang lahad). Sesungguhnya manusia yang hidup tanpa ilmu adalah mayit, maka tidak ada baginya kebangkitan sampai ia dibangkitkan”. [dutaislam.com/ ab]

    Ahmad Zain Bad, AnNur II Bululawang Malang.
  • Mengenali Ulama Dajjal

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Hikam Zain

    DutaIslam.Com - Banyak orang berilmu akan tetapi sedikit yang bisa menjalankannya. Sesungguhnya orang yang berilmu dan tidak melakukan amal, maka siksanya sangat pedih. Ingat pesan Nabi SAW bahwa Allah tidak akan merima ilmu seseorang sehingga ia mau mengamaknnya.

    تعلموا ما شئتم فوالله لا يقبل منكم حتى تعملوا

    "Belajarlah apa yang kalian senangi, pelajaran apa saja kamu pelajari, maka demi Allah Allah SWT tidak akan menerima itu kecuali engkau beramal).

    Di dalam sabda yang lain;

    من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعدا 

    "Barang siapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya, maka tidak bertambah kepada Allah kecuali dia jauh dari Allah SWT".

    Ketika ilmu tidak bisa membawa manfaat kepada dirinya sendiri, bagaimana bisa memberikan manfaat kepada yang lain?

    أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه 

    "Paling berat siksa pada hari kiamat nati adalah seorang alim yang tidak manfaat ilmunya"

    Oleh karenanya, Nabi SAW sendiri isti'adzah (meminta perlindungan kepada Allah)

    اللهم إنى أعوذ بك من علم لا ينفع، وقلب لا يخشع، وعمل لا يرفع، ودعاء لا يسمع

    Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari amal yang tak diterima, dan dari doa yang tak didengar.

    Seorang yang ahli ilmu dan  mengajarkan kepada manusia, akan tetapi tidak melakukan itu bagaikan lilin menerangi tapi merusak kepada dirinya sendiri. Seperti halnya juga jarum, dia melubangi dan membuat pakaian tapi dirinya sendiri dalam keadaan telanjang.

    Para ulama memberikan fatwa bahwa sesungguhnya orang alim yang mengajar sedangkan dia tidak beramal itu termasuk golongan orang-orang yang rugi, golongan orang-orang yang dalam keadaan bahaya, tapi hal ini masih lebih baik dari pada orang yang mempunyai ilmu akan tetapi tidak beramal dan juga tidak mengajar sama sekali. Sesungguhnya orang tersebut dari sudut manapun adalah orang-orang yag merugi. Karena tidak membawa manfaat sama sekali.

    Tapi ada yang lebih parah dari itu semua, seorang  alim, dia tidak beramal dan juga tidak mengajar malahan mengajak kepada kejelekan, membuka pintu kepada orang umum bab-bab tentang takwil, tentang kerukhsohan, tentang berkhilah terhadap hukum.

    Orang yang seperti ini adalah syaithonun maridl fajirun mu'anidun lillah wa lirosulih. Orang-orang semacam ini adalah yang diserupakan Allah bagaikan khimar, bagaikan anjing. Dan orang yang seperti ini lebih baik dari pada khimar dan anjing karena khimar dan anjing nanti ketika di akhirat akan menjadi debu. Sedangkan orang-orang yang seperti ini -wal'iyadzubillah- akan jatuh terhadap siksaan yang amat pedih.

    Sayyidina Umar bin Khatthob pernah berkata:

    أخوف ما أخاف عليكم منافق عليم اللسان 

    "Yang paling aku takuti dari kalian adalah seorang munafiq yang pandai berbicara".
    Dan  yang seperti ini akan menjadi bala' bagi umat muslim dan akan menjadi fitnah.

    Rasulullah SAW pernah bersabda;

    أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال فقيل: وما هو يارسول الله?، فقال: علماء السوء.

    "Saya lebih takut kepada kalian, dari pada takut kepada Dajjal", mereka bertanya, siapa itu wahai Rasul orang yang kau takuti yang lebih parah dari pada dajjal? Beliau menjawab: ulamaussu' (ulama yang mengajak terhadap kejelekan)". Wal'iyadzubillah.

    Maka secara perinciannya orang yang ahli ilmu itu terbagi menjadi tiga :

    1. Berilmu, beramal dan mengajar, inilah orang yang utama, orang yang mulia, orang-orang yang seperti ini adalah warotsatul anbiya'.

    2. Orang yang berilmu tidak beramal akan tetapi dia mengajarkan kepada kebaikan, maka orang yang seperti ini keadaanya masih dalam bahaya, dan orang yang seperti ini masih mending dibanding orang yang ketiga.

    3. Berilmu, tidak beramal, tidak mengajar, akan tetapi malah mengajak-ngajak pada kejelekan, memberikan fatwa-fatwa yang nyeleneh, tentang kerukhsoan, dan fatwa-fatwa yang membingungkan. Orang yang seperti inilah sejelek-jelek orang yang menpunyai ilmu. [dutaislam.com/ ab]

    Ahmad Zain Bad. AnNur II Bululawang Malang.
  • Tebuireng Siapkan Maklumat Aktualisasi Resolusi Jihad

    Admin: Duta Islam →
    aktualisasi resolusi jihad

    DutaIslam.Com - Di tengah semarak dan euforia peringatan Hari Santri secara nasional, Pesantren Tebuireng Jombang mempersiapkan sebuah maklumat terkait pentingnya aktualisasi semangat Resolusi Jihad dalam upaya mewujudkan kedaulatan bangsa.

    "Inti dari Resolusi Jihad adalah semangat mewujudkan kedaulatan bangsa dan melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Hal itulah yang perlu diaktualisasikan dalam kehidupan kebangsaan kita saat ini," ujar Ketua Panitia Rapat Akbar Abdul Ghofar, Sabtu (22/10/2016).

    Sebagaimana diketahui, Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadlratus Syaikh KHM. Hasyim Asy’ari dan menjadi keputusan resmi Nahdlatul Ulama merupakan salah satu tonggak sejarah penting dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Tanpa Resolusi Jihad, tidak akan pernah ada pertempuran heroik di Surabaya yang kemudian menjadi momentum peringatan Hari Pahlawan.

    Momentum lahirnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 telah ditetapkan sebagai Hari Santri sejak tahun lalu. Melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

    Untuk memaknai dan memperingati peristiwa besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tersebut, Pesantren Tebuireng melihat pentingnya aktualisasi semangat resolusi jihad tersebut. 

    "Bersama Forum Peduli Bangsa (FPB), kami akan menyelenggarakan Rapat Akbar Aktualisasi Resolusi Jihad pada 5 November 2016 mendatang," ujar pria yang sehari-hari menjabat sebagai Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng ini.

    Beberapa tokoh yang dijadwalkan hadir dalam perhelatan tersebut antara lain Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D. Hadad, Ph.D dan Guru Besar Pendidikan dari Universitas Negeri Malang Prof. Dr. Imam Suprayogo.

    "Kehadiran ketiganya diharapkan akan memberikan perspektif dan wawasan baru terkait isu-isu kekinian dalam konteks kedaulatan bangsa di sektor pertahanan, keamanan, dan kedaulatan ekonomi serta pendidikan nasional," imbuhnya.

    Rapat Akbar juga akan membahas bagaimana agar bangsa yang telah 71 tahun merdeka ini dapat mandiri dan berdaulat dalam berbagai aspek kehidupan, baik aspek pertahanan, keamanan, pendidikan, ekonomi, pangan, energi dan sebagainya. "Agenda Rapat Akbar ini akan dihadiri oleh para kiai, habaib, akademisi, dan profesional Indonesia," imbuh pria berkacamata ini.

    Para kiai dan akademisi akan membahas berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini dan mengeluarkan maklumat sebagai bagian dari aktualisasi resolusi jihad dalam konteks kekinian. "Maklumat tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa untuk menjalani kehidupan kebangsaan yang semakin dipenuhi tantangan," tegasnya.

    Selain mempersiapkan maklumat aktualisasi Resolusi Jihad, agenda Rapat Akbar yang diharapkan juga dihadiri masyarakat umum ini akan dimeriahkan berbagai atraksi kesenian dan pawai persembahan dari berbagai elemen masyarakat. Termasuk penampilan seni hadrah, marching band dan atraksi pencak silat. [dutaislam.com/ hidayat]

    Source: KBAswaja
  • Karomah Buya Hamka: Ketika Wafat, Jarinya Masih Bergerak Dzikir

    Admin: Duta Islam →
    Foto: Abah Anom sedang memberikan sebuah tongkat dan jubah 
    kebesaran untuk Buya Hamka.
    DutaIslam.Com - Siapa menyangka bahwa ketua MUI pertama ini pernah berbaiat/mengambil talqin dzikir kepada Abah Anom, Mursyid Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyyah, Suryalaya.

    Sebab awal Buya Hamka masuk TQN adalah ketika pulang dari Mekkah. Kemudian ia datang ke Pondok Persantren Suryalaya (PPS) yang menurut penjelasannya "mendapat petunjuk Baginda Nabi Muhammad SAW". 

    Dalam petunjuk itu, ia diminta agar menjumpai seorang hamba Allah yang ikhlas. Ketika di Suryalaya, didapatinya seorang mursyid yang sangat bersahaja: tidak berjubah, tidak bersurban, dan tidak berjenggot, sebagaimana yang ada umumnya. Demikian juga para santrinya yang sederhana.

    Ada cerita menarik mengenai pesan Abah Anom kepada Hamka. Ceritanya: Setelah berada di Suryalaya untuk beberapa waktu, sampailah masa perpisahan. Dan ketika Buya Hamka hendak berpamitan pulang, Pangersa Abah memeluknya dan berkata: 

    “Ucapan jutaan terima kasih atas banyak ilmu yang telah dicurahkan, tetapi Abah mohon agar Buya mau mengatakan kepada Abah, bagaimana mengamalkan semuanya (ilmu yang disampaikan oleh Buya) itu. Abah sendiri juga tidak mampu, apalagi para santri. Mohon ditunjuki ya, Buya“,  demikian kurang lebih kata Pangersa Abah.

    Ketika itu juga Buya Hamka tersadar, sehingga dia menangis terisak-isak dan berlutut di hadapan Pangersa Abah. Buya sadar, ilmu yang banyak tidaklah berguna bila tidak diamalkan. Kemudian Buya malah minta ditunjukkan sebaik-baik amalan, sehingga akhirnya ditalqinkan kalimat yang agung: La ilaha illa Allah.

    Ketika Buya Hamka berkunjungan ke Singapura pada tahun 1981, ceramah di Masjid Muhajirin, masih teringat jelas kata-katanya dan penjelasannya yang menunjukkan beliau sudah berbaiát kepada Abah Anom. Dalam ceramahnya itu, beliau berkata: 

    “Dalam berzikir kepada Allah ada kaifiyatnya, kemana dipalingkan kepalanya, dari bawah dahulu kemudian ke atas, lalu ke kanan dan kemudian ke kiri. Bukan sembarangan mengeleng ketika lafaz nafi, meng ‘iya’ ketika lafaz isbat..,.".

    Masih dari pembahasan yang sama, mantan Ketua Umum Fatayat NU yaitu Sri Mulyati menuturkan, Buya Hamka sendiri pernah berujar di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya bahwa dirinya bukanlah Hamka, tetapi Hampa. 

    Katanya lagi: “Saya tahu sejarahnya, saya tahu tokoh-tokohnya, tetapi saya tidak termasuk di dalamnya, karena itu saya mau masuk’’. Akhirnya ia masuk TQN, karena mungkin haus spiritual. Buya Hamka berkata: “Di antara makhluk dan kholik itu ada perjalanan yang harus kita tempuh. Inilah yang kita katakan thoriqoh.” 

    Di gambar tersebut terlihat jelas bahwa Abah Anom sedang memberikan sebuah tongkat dan jubah kebesaran untuk Buya Hamka.

    Selanjutnya, sebelum akhir hayat, Buya Hamka sempat berkunjung secara khusus kepada Pangersa Abah. Maka, seminggu sebelum “masa” itu tiba, Pangersa telah memberikan pesan sebelum Buya pulang ke rumah, yaitu untuk menyelesaikan segara urusan wasiat kepada keluarga, dan kemudian agar memfokuskan pada tawajjuh dengan sepenuh hati, agar baik dan mulia di saat kembali kepada-Nya. Bahkan Pangersa Abah menyatakan, bahwa “masa” itu terjadi setelah shalat Jumat.

    Subhanallah. Benar saja. Tepat setelah sholat Jumat, Buya Hamka kembali ke rahmatullah, dengan akhir kalamnya, yaitu kalimat ikhlas (laa ilaaha illallah). Terdapat keganjilan, di mana jari telunjuk kanan masih bergerak-gerak (sedang berdzikir khofi), sementara dokter telah menginformasikan kematiannya. 

    Ketika dilaporkan kepada Pangersa Abah, Abah kemudian memberi pesan yang dibawa seorang wakil. Wakil Pangersa Abah tersebut setelah sampai di tempat jenazah Buya Hamka, mengatakan: “Sudah sudah.., ruhmu sudah kembali.., dan jasadmu harus tenang. Jangan mencari adat”. Maka berhentilah jari itu dari mengikuti gerakan dzikir. Sungguh merupakan kematian yang sangat indah.

    Dari sini kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga bahwa hubungan antara murid dan guru tak akan terikat kecuali adanya hubungan batin di antara mereka. Orang yang mempunyai banyak ilmu, namun tak diamalkan sama saja dia tak memiliki apa-apa, karena ilmu tanpa diamal ibarat pohon yang tak berbuah. 

    Maka benar perkataan al-Ghazali: "Ilmu tanpa amal, gila dan amal tanpa ilmu, sia-sia.” Oleh karenanya, salah satu cara untuk mengamalkan ilmu kita adalah dengan mengikuti thariqat. Sebab ini sebagai bukti pengaplikasian atas ilmu-ilmu yang telah kita miliki, yang mana di dalam thariqat itu senantiasa menekankan kedekatan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. [dutaislam.com/ ab]

    Source: nu.or.id