Dutaislam.com mengapresiasi batalnya Permendikbud 23/2017 dan Mengutuk Keras Situs Adudomba Milik Kader Muhammadiyah Sangpencerah.id!

  • Mewaspadai Situs Berbau Islam Namun Sarat Ajaran Radikal

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Kamis, 01 September 2016
    A- A+

    Oleh Muhammad Hasanie Mubarok

    DutaIslam.Com - Media merupakan salah satu lahan strategis untuk berdakwah. Mengingat era cybernetic sudah benar-benar di mulai. Pelosok desa yang pada milenium 2000-an nyaris sulit menemui anak SMP bahkan SMA yang memegang telepon genggam, kali ini anak SD baru lulus TK sudah memegang hp yang zaman dahulu dianggap tidak masuk akal.

    Perubahan dan pergeseran zaman memang begitu cepat, begitu juga leju gerak perkembangan media begitu melesat. Hingga, ketika memasuki abad 21, nyaris semua muda-mudi sudah bisa mengaplikasikan perangkat-perangkat lunak media.

    Maka tak heran jika media akan terus merengsek naik ke derajat keseksian yang tinggi. Ia merambah kemana-mana, dari kota sampai ke pelosok desa semua mulai demam dengan fitur-fitur komunikasi yang ekstra canggih.

    Pesan singkat sudah tidak begitu bergantung kepada ponsel genggam yang biasanya untuk sekedar mengirim pesan singkat (SMS), tergeser oleh aplikasi yang lebih irit dan lebih cepat didukung dengan fasilitas mutakhir yang digandrungi oleh semua kalangan. Akibatnya adalah, kepekaan serta keterbukaan terhadap media sudah merupakan fardhu kifayah bagi suatu golongan bahkan bisa jadi fardhu ain.

    Realitas media yang begitu kuat ini telah mencengkram semua golongan tak terkecuali anak-anak muda NU. Dimana kader-kader NU yang dulunya sebagai anak-anak tradisional, kali ini sudah mulai dibawa naik oleh media ke level manusia modern seutuhnya-mungkin.

    Sadar akan begitu seksinya media era ini, membuat media tidak hanya menjadi lahan komunikasi dan membangun relasi, dengan sendirinya media bermetamorfosis kedalam berbagai wujud. Selaian sebagai lahan komunikasi, media juga menjadi wadah untuk menyebarkan fitnah, mengadu domba bahkan untuk berdamai.

    Di sinilah peluang kenapa media juga bisa menjadi lahan untuk menyuburkan dakwah. Peluang di atas menunjukkan bahwa media ibarat sebuah kertas kosong, jika ditulis diatasnya dengan tinta berwarna hitam, maka hitamlah yang akan mendominasi warna kertas itu, jika merah demikian pula.

    Kesadaran ini telah membuat umat muslim melakukan berbagai cara untuk turut meramaikan media dengan menjadikan dakwah sebagai salah satu warna dominan di dalamnya. Akibat dari ini, lahirlah puluhan bahkan ribuan website yang berupaya menampilkan nilai-nilai Islam sebagai brand mereka.

    Timbulnya ribuan web islami ini satu sisi merupakan tanda lahirnya era dakwah baru yang lebih efektif dan mudah diakses. Seseorang dalam hitungan detik bisa menemukan jawaban terkait kegelisahannya dalam masalah keislaman hanya dengan menulis beberapa huruf di monitor telepon genggamnya.

    Dengan demikian, seorang tidak perlu lagi berlama-lama untuk duduk bertanya kepada seorang ulama, atau membukan puluhan kitab di dalam perpustakaan. Begitu juga, seorang yang terlalu sibuk dan ingin memperoleh sesuatu dengan cepat serta efesien waktu dan biaya, hanya dengan menekan tombol bisa diperoleh.

    Media telah mempermudah, memperdekat bahkan mempersingkat segala aktiftas seseorang. Dan banyak lagi manfaat media yang oleh sebagian orang disamakan dengan kenikmatan surga, apapun yang kita inginkan, media bisa memenuhi dengan kapasitasnya.

    Demikian itu adalah sisi baik dari media, anak-anak NU ditantang untuk peka terhadap media, terutama dalam rangka mengawal dan menjadikannya sebagai lahan subur untuk berdakwah Aswaja.

    Di sisi lain, anak NU juga harus waspada dengan berbagai kelebihan media dalam menyampaikan pesannya. Pesan keislaman yang bertabur di dalamnya satu sisi merupakan ancaman terhadap Islam itu sendiri. Sikap asal share terhadap situs-situs yang tidak menampilkan islam sebagaimana mestinya merupakan sebuah permasalahan serius yang kali ini sedang melanda. Akibatnya, kerusakan pemikiran menjadi konsekuensi yang tidak terhindari.

    Sebagai kader NU, tentu kita sangat meyakini dengan tulus bahwa dakwah NU adalah dakwah yang diajarkan oleh salafunas sholih, baik sanad maupun materinya. Dengan demikian, sudah menjadi fardhu ain bagi kita untuk senantiasa menjaga dakwah. Dakwah yang diberikan oleh ulama-ulama sholih yang telah mengajarkan dengan baik bagaimana seorang mesti ber-islam.

    Kehadiran media saat ini menjadi anugrah sekaligus ancaman tersendiri bagi kader muda NU bagaimana mereka berdakwah di sisi lain dan mempertahankan kebenaran di sisi yang berbeda.

    Media telah membidani lahirnya beberapa situs-situs yang seolah-olah islami, namun ternyata di sisi lain jauh dari nilai islam Aswaja sebagaimana dibawa oleh ulama-ulama khususnya ulama nahdhyyin.

    Baca juga: Daftar Situs Islam Aswaja yang Mengampanyekan Cinta NKRI,
    Duta Islam masuk Situs Islam Paling Dorekomendasi No-7 di Indonesia

    Disinilah anak muda NU dituntut agar multi hati-hati dalam mengakses informasi yang ada di media. karna tidak semua media menampilkan rona dakwah yang benar-benar dalam pendulum aswaja, banyak sekali media-media dakwah yang berbau Islam, ternyata isinya adalah hasutan yang berporos pada rasis, sentimen kultur, serta efek demografi dari mayoritas.

    Semua itu terbungkus indah, dengan berbagai macam dalil baik aql (Qiyas, ijma) maupun naql (al-Quran, hadits). Tapi ketika telaah dengan baik, terkadang yang demikian menimbulkan sebuah efek yang berpotensi pada mengemukanya sebuah pemahaman keislaman yang sama sekali tidak bersahabat. [dutaislam.com/ ab]

    Muhammad Hasanie Mubarok, Ketua PMII IAIN Pontianak
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: