Rabu, 07 September 2016

Barisan Sanad Ulama Nusantara Bertemu di Madrasah Shaulatiyah

Oleh Mohammad Khoiron

DutaIslam.Com - Eksistensi Madrasah Shaulatiyah hingga kini masih tampak kokoh sebagai mercusuar ahlusunnah wal jamaah di negara yang mayoritas berpaham salafi-wahabi. Madrasah ini didirikan oleh Syekh Rahmatullah al-Kiranawi al-Hindi di pertengahan tahun 1800-an atas prakarsa Mufti Madzhab Syafi'i kala itu di Tanah Haram, yakni Syekh Zaini Dahlan. 

Nama Shaulatiyah sendiri dinisbatkan kepada salah seorang wanita kaya nan dermawan kala itu "Shalatun Nisa' Nigham" yang mewakafkan tanahnya untuk dibangun di atasnya madrasah yang berhaluan ahlusunnah wal jamaah.

Lalu apakah hubungan antara Madrasah Shaulatiyah dengan Ulama Nusantara? Pertanyaan ini penting untuk dikemukakan, mengingat pasca dibentuknya jaringan Ulama Nusantara di Tanah Haram oleh Syekh Khatib Sambas, Syekh Khatib Minangkabau, dan Syekh Yusuf Makasar yang menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra banyak memberikan stimulus yang kuat kepada para pelajar atau santri Jawi (baca Nusantara) untuk memperdalam ilmu agama mereka ke Mekkah setelah sebelumnya diperkokoh oleh pembelajaran di pesantren.

Maka, tak heran jika kemudian banyak bermunculan tokoh dan ulama nusantara pasca ketiga mahaguru tersebut, sebagaimana saya sebut di atas, yang kemudian menorehkan tinta emas dalam sejarah keilmuan Islam di tanah haram. 

Sebut saja misalnya, sang pioner ilmu sanad Syekh Mahfudz Termas. Saya mengistilahkan demikian, karena sejauh yang saya ketahui melalui riset dan telaah atas karya-karyanya, beliaulah orang pertama yang secara resmi melakukan kodifikasi atas transmisi keilmuwan di beberapa bidang ke dalam kitab. (Untuk lebih jelasnya silakan baca karya beliau "Kifayatul Mustafidz Lima Alaa minal Asaanid).

Usaha Syekh Mahfudz Termas sebagaimana saya sebut di muka kemudian mengilhami generasi-generasi selanjutnya untuk melakukan kodifikasi atas transmisi sanad semisal Syekh Yasin al-Fadani, Syekh Abu al-Hasan al-Nadwi. Karya beliau yang bernama " Nafahaatul Hindi Wal Yaman" menjadi bukti kuat akan usahanya dalam melestarikan transmisi sanad yang jika meminjam istilah Syekh Abdullah Ibnu Mubarak dikatakan "al-Sanadu min al-Din. Lula al-Sanad La Qaala man Sya' bima Sya". Sanad itu bagian dari agama (Islam) karena kalau tanpa sanad, niscaya seseorang akan semaunya sendiri (dalam berbicara ilmu agama".

Pasca Syekh Mahfudz Termas, tak sedikit ulama nusantara yg belajar di Madrasalah Shaulatiyah. Sebut saja, Syekh Yasin al-Fadani, Syekh Said Tungkal, Syekh Muhsin al-Musawwa, Syekh Zainuddin al-Pancori (Kakek Gubernur NTB sekarang), KH. Ahmad Barizi Madura, KH. Taifur Ali Wafa Madura, dan masih banyak lagi yang tak mungkin saya sebut satu persatu di dalam tulisan ini.

Hanya saja, jika pembaca ingin mengetahui siapa saja ulama nusantara yang pernah belajar di Madrasah Shaulatiyah, saya sarankan untuk membaca karya KH. Ahmad Barizi dalam bentuk nadzam, walaupun karya ini belum dicetak bebas di pasaran.

Walhasil, saya mengapresiasi acara silaturrahim PCI.NU se-dunia yang dihelat pada musim haji tahun ini di Madrasah Shaulatiyah Mekkah. Mengingat NU dan Shaulatiyah mempunyai hubungan erat, tidak hanya sebatas jasmani, namun juga ruhani. Karena kedua-duanya jika ditinjau dari genealogis, maka nanti akan bertemu pada satu titik, yaitu Syekh Zaini Dahlan yang tak lain guru yang banyak mempengaruhi pemikiran Syekh Abu Bakar Syata al-Dhimyati (penulis kitab I'anatut Talibin).

Semoga pada silaturrahim di tahun-tahun berikutnya saya bisa menjadi peserta aktif sebagai bentuk tabarrukan kepada para masyayikh. Aamiin. [dutaislam.com/ ab]

Source: KBAswaja
Jakarta, 06 September 2016
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini