Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

Browsing "Judul lain"

  • Santri Demak Deklarasikan Tolak Radikalisme

    Admin: Duta Islam → Jumat, 30 September 2016

    DutaIslam.Com - Sebanyak 30 santri yang merupakan perwakilan dari 30 Pondok Pesantren se-Kabupaten Demak mendeklarasikan Cinta Perdamaian dan Menolak Tindakan Radikalisme. Hal itu diikrarkan oleh para peserta di Aula Masjid Agung Demak pada hari Ahad, 25 September kemarin.

    Deklarasi tersebut merupakan puncak kegiatan acara Workhsop Pesantren for Peace Tingkat Kabupaten yang diselenggarakan di Hotel Amantis semenjak Jum’at, 23 September sampai Ahad, 25 September 2016.

    Workshop yang mengambil tema “Menyemai Toleransi, Menumbuhkan Perdamaian Abadi” tersebut diselenggarakan atas kerjasama Uni Eropa, KAS Jerman, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Pon-Pes kiyai Gading Mranggen Demak sebagi panitia lokal.

    Sebelum acara deklarasi, peserta diajak untuk berziarah ke Makam Raden Patah dan mengunjungi Museum. Dalam kunjungan ke Museum ke Kota Wali tersebut peserta diperlihatkan bagaimana peran Walisongo dalam menyebarkan Islam di Bumi Nusantara dengan penuh perdamaian, dan tanpa melakukan penindasan kepada pemeluk agama lain. Agama Islam disebarkan oleh para Walisongo dengan tetap menghormati dan menyatu dengan kebudayaan-kebudayaan lokal.

    Setelah berdiskusi sejenak, oleh panitia, para peserta diajak ke Aula Masjid Agung Demak untuk membacakan deklarasi Perdamaian dan Tolak Radikalisme. Panitia Lokal sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Kiyai Gading Mranggen Demak, Fahsin M Faal mengatakan  bahwa deklarasi yang dibacakan oleh para peserta merupakan bentuk penegasan kembali bahwa pesantren-pesantren di Kabupaten Demak yang selama ini dikenal penuh cinta perdamaian, toleransi, serta menyebarkan nilai-nilai rahmatan lil alamin.

    "Pesantren-pesantren tersebut semenjak dahulu dan yang akan datang akan selalu berperan mengawal tegaknya NKRI serta menolak penyebaran faham-faham radikalisme dan faham yang dapat menggerogoti nilai-nilai pancasila," imbuhnya.

    Adapun bunyi deklarasi yang dibacakan tersebut adalah sebagai berikut

    Bismillaahirrahmaanirrahim,
    Atas Nama Cinta Perdamaian

    Dengan mengucapkan Asma Allah yang Rahman dan Rahim; yang memiliki  banyak sebutan namun Satu Ada-Nya; dengan tidak membedakan Tuhan karena perbedaan agama; yang merupakan jalan-jalan yang berbeda untuk menuju tuhan yang sama, yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.

    Kami Santri Indonesia yang lahir dalam keluarga muslim, dibesarkan dan dididik dengan nilai-nilai Islami yang universal dan merupakan rahmat bagi seluruh alam, bersama ini kami mendeklarasikan:

    Satu, kami menolak segala macam dan bentuk kekerasan yang dilakukan atas nama agama, dalam hal ini khususnya agama Islam.

    Dua, kami menolak pemaksaan pemahaman atas nama Islam dengan cara intimidasi yang dilakukan oleh para penganut kekerasan.

    Tiga, kami akan ikut berpartisipasi aktif dalam penanaman nilai-nilai Hak Asasi Manusia  (HAM) di tengah-tengah pesantren dan masyarakat.

    Empat, kami akan ikut berperan aktif dalam pencegahan dan penanganan konflik di tengah-tengah masyarakat, dengan tetap menjunjung tinggi rasa toleransi, persaudaraan, serta penghormatan atas hak-hak orang lain.

    La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim. Alfatihah..

    Hadir dalam pembacaan deklarasi perwakilan KAS Jerman dan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, para pemateri, fasilitator serta segenap panitia lokal. Kegiatan tersebut juga menarik perhatian banyak pengunjung yang sedang berziarah untuk ikut menyaksikan pembacaan deklarasi. [dutaislam.com/ julius hisna/muhammad najmuddin huda]

    Source: KBAswaja
  • Istiqamah Baca Shalawat, Jasad Kuli Kasar Ini Utuh Setelah 9 Tahun Wafat

    Admin: Duta Islam → Kamis, 29 September 2016

    DutaIslam.Com - Waktu saya mondok di Kedung Paruk Purwkerto, di sana ada tukang kuli angkut bernama Darjo. Seorang pekerja kasar, kalau ada beras ya ngangkut beras. Setelah salat subuh, kebiasaan tidur sebentar, lalu jam 7 ia bangun keluar kerja ke pasar. Pekerja kasar itu wafat. 9 tahun kemudian, cucunya wafat. 

    Oleh orang tua, anaknya itu supaya dimakamkan di dekat makam kakek-nya, Darjo, karena di pemakaman itu banyak pusara orang-orang sholeh, seperti Kiai Ilyas, ayahanda Mbah Kiai Abdul Malik. 

    Atas tujuan tersebut, kuburan Kakek Darjo dibongkar. Setelah digali 1,5 meter, masyaallah, ternyata bambu jenazah di liang kubur masih hijau, kain kafannya masih utuh, wangi luar biasa dari makam Darjo seperti baru dimakamkan beberapa jam. 

    Setelah kejadian itu saya menghadap melaporkan kejadian itu kepada guru saya, Mbah Kiai Abdul Malik. Ketika itu, Mbah Kiai Abdul Malik sedang duduk santai di depan rumah, tersenyum melihat kedatangan saya. 

    Tiba-tiba mbah Malik bilang, "piye, Darjo mayite isih utuh/ gimana, Darjo mayitnya masih utuh?". Belum bicara, Mbah Malik sudah menjelaskan duluan. 

    Kata beliau, Darjo itu istiqamah tiap malam tidak pernah meninggalkan membaca shalawat. Sebelum membaca shalawat 16.000 kali, Darjo tidak akan tidur. Shalawatnya adalah "Allahumma shalli ala Muhammad, Allahumma Shalli ala Muhammad." Secara lahiriyah, Darjo adalah kuli kasar, tapi ia temasuk orang saleh ternyata.

    Habib Luthfi menjelaskan, kita tidak harus membaca 16.000 kali, minimal 300 kali saja setiap malam sudah bagus. Siapa yang membaca shalawat untuk keluarga dan putra-putrinya tiap malam 300 kali, Insya Allah putra-putrinya akan diberkahi. Berkah sholawat, senakal apapun anaknya, pada waktunya akan menjadi baik. Insya Allah. [dutaislam.com/ tsi/ ab]

    Keterangan ini disampaikan Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. 

    Source: HabibLuthfi.Net. 
  • Kronologi Penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Pada hari Kamis 22 September 2016 pukul 01.00 WIB s/d 08.30 WIB bertempat di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang beralamatkan di Rt 22 Rw 08 dusun Sumber Cengkelek Ds. Wangkal Kec. Gading Kab Probolinggo telah dilaksanakan penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi oleh Polda Jatim,

    Kegiatan dipimpin langsung Wakapolda Jatim Brigjen Pol Drs Gatot Subroto dengan jumlah personil  6000 orang.

    A. Unsur pam yang terlibatkan:
    1. 6 SSK Sat Brimob Polda Jatim 
    2. 9 SSK Polres Sabara (Polres Jember,Polres Madiun,Polres Sidoarjo,Polres Malang,Polres Bojonegoro,Polres Probolinggo)
    3. 300 Personil pendukung PAM lainnya. 
    4. Pamtup
    5. Satprov Polda Jatim
    B.  Hadir dalam giat tersebut:
    1. Brigjen Pol Drs Gatot Subroto (Wakapolda) 
    2. Kasat Brimobda Jatim Kombes Pol Rudi Kristianto.
    3. AKBP Arman Asmara Syarifuddin SH SIK MH (Kapolres Prob).
    4. Letkol Inf. Hendhi Yustian Danang Suta  S.I.P (Dandim 0820/Prob)
    5. Kapten Cpm Maulan Dan Sub Pom Probolinggo.
    6. Muspika Kec Gading.
    C. Kronologi giat sebagai berikut:
    1. Pukul 01.00 WIB Pasukan mulai berkumpul dilapangan desa Wangkal kec Gading.
    2. Pukul 05.00 Wib Pengecekan personil di lapangan Desa Wangkal
    3. Pukul 05.30 Wib Pasukan bergerak menuju PDKTP.
    4. Pukul 05.55 WIB Personil Polda Jatim tiba di PDKTP untuk melaksanakan penggeledehan dan penangkapan terhadap Dimas Kanjeng Taat Pribadi. 
    5. Pukul 06.10 WIB  Seluruh personil gabungan TNI-Polri melaksanakan penggeledahan di setiap bangunan dan tenda di PDKTP.
    D. Adapun hasil penggeledahan atau yang ditangkap antaranya lain:
    1. Kanjeng Dimas Taat Pribadi (Ketua Yayasan PDKTP) ditangkap di Fitnes Center PDKTP.
    2. Sapi'i (pengikut).
    3. Keduanya dibawa keluar dengan menggunakan Rantis milik Brimobda Jatim dan dibawa ke Mapolda Jatim.
    4. Pukul 08.00 WIB Giat penggeledahan PDKTP selesai.
    5. Pukul 08.30 WIB Seluruh personil melaksanakan pengecekan terakhir dan meninggalkan PDKTP kembali ke satuan masing masing,untuk personil pam yang melaksanakan standbay 1 SSK dari Sat Brimob Bondowoso.
    Selama kegiatan berjalan tertib dan aman.

    Berikut foto-foto berita kronologi di atas:





  • Sembuh Dari Kanker Setelah Konsumsi Soda Kue Plus Madu

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Yuni Subali

    DutaIslam.Com - Sejak adikku Martha Belen meninggal karena sakit kanker payudara, minat kami mencari ramuan herbal penyembuh kanker meningkat. Kemarin seorang resellerherbal Sano yang kami buat dan jual bercerita tentang istrinya. Ibu beranak satu usia 34 tahun ini telah 2 minggu minum Sano.

    Pada minggu pertama payudaranya terasa seperti disayat-sayat. Pada akhir minggu kedua, payudaranya yang keras mulai terasa lembek. Kami menanti berita selanjutnya. 

    Pagi itu, kami cari video di Youtube tentang herbal penyembuh kanker. Akhirnya sampai ke video berjudul Baking Soda Kills Cancer, 2 of 2 Matches NC Dr 30 years ago. Cured his CANCER 5 days YT=VitoVerns CH. Ini dia videonya.


    Dalam video di atas, Vernon yang berasal dari Amerika Serikat itu menunjukkan bagaimana ia membuat ramuan soda kue yang dicampur dengan molasses atau sirup maple.

    Vernon terserang kanker prostat stadium 4 yang sudah menjalar sampai ke tulang. Jadi, kanker prostat dan kanker tulang. Putranya Jai, memberi ide agar ia mencoba konsumsi soda kue karena bahan ini membuat tubuh yang bersifat asam dapat berubah menjadi basa/alkalis.

    Sel kanker tidak betah menetap pada organ tubuh yang bersifat basa. Ternyata zat-zat berkhasiat pada soda kue mampu membasmi sel-sel kanker.

    Banyak orang terpesona mendengar kisah sukses Vernon menyembuhkan sakit kanker stadium 4.
    Mereka mengusulkan agar Vernon menulis buku tentang kisahnya yang hebat. Akhirnya ia berhasil menerbitkan buku yang dinanti banyak orang. 

    Dari suasana batin mendekati putus asa, muncul lagi pelangi harapan melanjutkan kehidupan, terbebas dari kanker ganas, hanya dengan soda kue yang amat murah. Tak perlu operasi kanker prostat. Tak perlu kemoterapi yang bisa berefek macam-macam, termasuk merontokkan rambut.

    Ternyata rahasia suksesnya tersembunyi di soda kue, bahan untuk membuat beragam kue. Hanya 10 hari mengkonsumsi ramuan soda kue buatannya, ia memeriksakan diri ke dokter.

    Dokter melakukan scan kanker tulang dan hasilnya menggembirakan. Setelah rutin mengkonsumsi ramuannya, akhirnya ia selamat. Ternyata sudah banyak kesaksian pasien macam-macam kanker yang sembuh dengan mengikuti resep Vernon.

    Sayang, sirup maple sulit didapat di tanah air, kecuali di supermarket besar di mal-mal di kota besar.
    Karena pohon maple (mapel) hidup di wilayah beriklim 4 musim seperti di Eropa dan Amerika utara. Akhirnya kami sampai ke cerita seorang wanita belia Indonesia yang mencoba resep Vernon tapi ia ganti sirup mapleyang manis dengan madu. Ternyata terjadi kemajuan hebat dalam proses penyembuhan kankernya.

    Sirup maple atau madu berfungsi membantu natrium bikarbonat pada soda kue menembus sel-sel kanker. Soda kue yang mengandung natrium bikarbonat membantu meningkatkan pH (kadar asam-basa) sehingga organ-organ tubuh lebih berciri basa (alkalis), tidak asam, meningatkan kadar oksigen dan karbon dioksida dalam tubuh.

    Tubuh yang bersifat basa atau alkalis mematikan sel-sel kanker yang tumbuh subur pada tubuh yang bersifat asam. Selain itu, tubuh yang bersifat basa/alkalis membuat Anda tidak mudah terserang berbagai penyakit yang lain.

    Dari penjelasan Vernon pada videonya dan dengan mengganti molasse atau sirup maple dengan madu, resep vernon dapat diringkas sebagai berikut:

    Alat dan bahan yang perlu disiapkan:
    1. Kompor
    2. Air 1 mangkuk
    3. Soda kue: 2 Sendok teh
    4. Madu: 2 Sendok teh
    Langkah membuat:
    1. Siapkan panci di atas kompor.
    2. Masukkan air 1 mangkuk, lalu nyalakan kompor.
    3. Masukkan soda kue 2 sendok teh, lalu aduklah.
    4. Masukkan madu 2 sendok teh, lalu aduklah sampai rata. Memasak ramuan ini singkat saja. Tidak perlu lama. Matikan api.
    5. Tuang ramuan ini ke dalam gelas. Biarkan sampai agak dingin, lalu minumlah.
    Minumlah ramuan itu 1x sehari. Lalu tingkatkan 2x sehari sampai hari ke-10. Dan akhirnya, 3x sehari pada hari selanjutnya.

    Semula Vernon tidak memasak ramuannya. Langsung diminum tanpa direbus. Kemudian ia mencoba merebusnya. Waktu mencoba ramuan ciptaannya ini merasa sakit kepala dan keringat pada malam hari. Gejala pada tiap orang itu berbeda-beda sesuai dengan daya tanggap tubuh dan kondisi kesehatan tiap orang.

    Menurut Vernon, Anda bisa saja minum ramuan tanpa dimasak atau dimasak. Dosis dan frekuensi minum per hari juga dapat Anda sesuaikan dengan reaksi tubuh anda. Tidak perlu bahwa tubuh Anda itu harus selalu bersifat basa atau alkalis.

    Tubuh yang bersifat asam pun diperlukan untuk memproses makanan di lambung. Untuk itu, minumlah ramuan ini 2 jam sebelum atau sesudah makan.

    Kalau ada saudara, anggota keluarga atau teman yang menderita sakit kanker maka sudah saatnya memakai resep ini. Karena sangat ampuh dalam membunuh semua kanker di dalam tubuh. [dutaislam.com/ ab]

    Keterangan: 
    Artikel ini diposting oleh Yuni Subali berdasarkan pengalaman langsung kakak iparnya sendiri yang telah sukses mempraktekkan ramuan di atas. 

    STOP PRESS
    Jika Anda ingin praktis terapi kanker dengan kapsul, silakan kunjungi toko online bawang dayak di www.manfaatbawangdayak.com. Produk lokal berkhasiat pastinya. 
  • Terbongkar, Jemaat Gereja Ini Pura-Pura Jadi Muallaf Agar Disebut Mantan Muslimah

    Admin: Duta Islam → Rabu, 28 September 2016

    DutaIslam.Com - Wakil Direktur Mualaf Centre Indonesia Hanny Kristianto mengungkapkan bahwa Tim Mualaf Center Masjid Darussalam berhasil membongkar seorang wanita kristen berpura-pura menjadi muslimah dan berpura-pura masuk Islam (menjadi muallaf) di beberapa masjid.

    Nama aslinya Niken Taradina dengan nama baptis Theresia. Ia sengaja masuk Islam di sedikitnya 5 masjid sejak Mei 2016. Tujuannya agar dikenal sebagai seorang muslimah dengan beberapa nama Islam: Aisyah, Fatimah, Zaenab dan sebagainya. Theresia mengaku sebagai jemaat gereja Advent Bandung, bertempat tinggal di Kranggan.

    Theresia mengaku aksi jahatnya itu sengaja dilakukan hingga suatu hari nanti akan mengakui seolah-olah dia mantan muslimah. Saat dites oleh mualaf-mualaf tuna rungu Thabitha Lidia Sarahwati dan Alesha Fatimah dihadapan jamaah, ternyata surat Al Fatihah ia tidak bisa apalagi sholat.

    Theresia kemudian diinterogasi oleh tim muallaf perempuan, yakni Desta Ginting, Nikita Lundy dan Desi. Theresia masih menyimpan kalung salib dan dikenakan di leher dibalik jilbabnya. Terdapat juga surat-surat pernyataan masuk Islamnya.

    Setelah terbongkar aksi jahatnya, Theresia kemudian menangis di hadapan Tim Mualaf Center dan mengaku menyesali semua perbuatannya.

    Untuk memberikan efek jera, Theresia membuat surat pernyataan yang isinya mengakui kesalahanya, tidak akan mengulangi perbuatanya dan identitas serta fotonya akan disebarluaskan sehingga publik Indonesia mengetahuinya. [dutaislam.com/ ab]

    Sumber foto: jurnalmuslim
  • Umar Marah Mendengar Nasrani Jadi Kepercayaan Negara

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Suatu hari Umar bin Khathab r.a memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari r.a untuk segera menunjuk pemimpin kepercayaan untuk pencatat pengeluaran dan pemasukan pemerintah Islam di Syam.

    Abu Musa lalu menunjuk seorang yang beragama Nasrani dan Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tersebut.

    Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Lalu Umar berkata: "Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk rapat melaporkan laporan di depan kami?".

    Abu Musa menjawab: "Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram (Makkah dan Madinah)".

    Umar bertanya: "Kenapa? Apa karena ia junub?".

    Abu Musa menjawab: "Bukan, karena ia seorang Nasrani".

    Umar pun langsung marah, menegurku keras dan memukul pahaku dan berkata: "Pecat dia! cari dan angkat seorang muslim".

    (maksud Umar: apa tidak ada muslim lain yang lebih baik, pasti Allah SWT telah menyediakan banyak calon pemimpin muslim yang lebih baik untuk umat, cari sampai ketemu).


    Umar lalu membacakan ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengangkat mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (kafir). Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim". (QS. Al Maidah: 51). [dutaislam.com/ ab]


    Keterangan :
    Orang dzalim yaitu orang yang selalu berbuat dosa karena kebodohan akibat tidak pernah dan tidak mau tahu tentang ilmu agama.

    (Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, 3/132)
  • Ketum PBNU Siap Layani Tantangan Debat Publik Majelis Mujahidin

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Tidak terima disebut organisasi berbahaya bagi negara, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melayangkan surat tantangan berdebat secara terbuka kepada Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Sirajd (21/9). 

    Surat yang ditandatangani 6 petinggi MMI itu dibuat atas tanggapan pernyataan Kang Said di media soal semua teroris di Indonesia merupakan jebolan institusi wahabi. 

    “Untuk itu, kami Majelis Mujahidin mengajak Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirajd, M.A melakukan transparansi publik dalam uji sahih debat ilmiah akademik sesuai koridor hukum dan perundang-undangan tentang ‘Majelis Mujahidin Organisasi Membahayakan NKRI’,” katanya dalam surat bertanggal 7 September 2016 itu.

    Apabila yang bersangkutan tidak mau, menurut surat itu, berarti telah sengaja melakukan pecah belah dan fitnah di kalangan umat Islam. “Kami bersama umat Islam akan melakukan perlawanan melalui saluran konstitusi dan langkah-langkah yang dibenarkan oleh syariat Islam. Kami menunggu respon surat ajakan debat publik ilmiah ini dalam waktu 7 hari setelah surat ini diterima,” katanya.

    Gayung pun besambut, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyatakan kesiapannya melayani tantangan MMI untuk debat secara ilmiah tentang radikalisme dan kebangsaan. “Ayo kapan, saya siap, siap, siap,” katanya seperti dikutip duta.co di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (23/9).

    Ini berita yang terdapat pernyataan Kiai Said di Duta Islam: PBNU Usul ke Kapolri Segera Bubarkan HTI

    Melayani tantangan ini dengan niat baik dan demi kebaikan tidak ada masalah bagi lulusan pondok pesantren Krapyak Yogyakarta ini. “Pokoknya selama untuk kebaikan saya siap,” katanya.

    Seperti diketahui, saat menandatangani MoU tentang Penanganan Konflik Sosial dan Ujaran Kebencian (hate speech) bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kang Said mengingatkan supaya memantau sejumlah institusi yang mengatasnamakan Islam di Indonesia namun menjadi penyebar paham radikalisme. 

    MMI dan Jamaah Takfir Wal Hijrah di antaranya. Mereka yang terindikasi itu, kata Kang Said, selangkah lagi menjadi gerakan terorisme yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

    “Ada 20 pesantren, semuanya wahabi. Wahabi memang bukan teroris, tapi ajarannya ekstrim. Kita ini semuanya dianggap bid’ah dan musyrik karena menurut mereka Maulid Nabi itu bid’ah, Isra’ Miraj bid’ah, ziarah kubur musyrik, haul musyrik, dan semuanya masuk neraka. Kami khawatir murid mereka memahami kalau begitu boleh dibunuh dong orang ini, karena kerjaannya musyrik semua,” kata Kang Said.

    Sementara Itu
    Menurut laporan Tempo.co (7/10, 2014), Wakil Amir Majelis Mujahidin, Abu Jibril, tercatat pernah ditangkap aparat keamanan Malaysia 21 Juni 2001 ketika akan memberikan ceramah pengajian di Shah Alam, Selangor. 

    Ketika itu, Abu Jibril dituduh melakukan kegiatan yang membahayakan keamanan dalam negeri Malaysia karena aktif dalam kelompok Mujahidin Malaysia. MMI juga sempat tercatat mempunyai hubungan dengan Abu Bakar Ba’asyir sebelum mendekam di penjara.

    Nama Abu Jibril juga pernah disebut-sebut dalam tragedi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, keduanya di Jakarta, pada 2009. Salah satu anaknya, yaitu Muhammad Jibril Abdurrahman alias Ricky Ardan, divonis lima tahun penjara karena terbukti melakukan pidana terorisme.


    Putranya yang lain, Muhammad Ridwan, telah tewas di Suriah ketika bergabung dengan kelompok An-Nusra, cabang kelompok teroris Al-Qaeda sebagaimana ISIS. Ridwan atau yang dikenal sebagai Abu Omar itu dikabarkan tewas akibat terkena peluru tank di Kota Idlib – Suriah, pada  26 Maret 2015. 

    Karena itu, Abu Omar tidak termasuk di antara 531 kombatan Indonesia yang pulang ke tanah air seperti disebut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Suhardi Alius.

    Pria yang kerap bersurban putih di kepalanya ini juga dikenal sebagai penceramah di sejumlah tempat. Di Kompleks Witanaharja, Pamulang, Tangerang Selatan misalnya, warga setempat menganggap pengajian yang dipimpin Abu Jibril terkesan eksklusif dan hampir menguasai mayoritas Masjid Al Munawaroh yang ada di dalam perumahan itu.


    Selain itu, dalam setiap ceramahnya, Abu Jibril lebih menekankan jihad secara Islam. ”Volume suaranya keras, materi ceramahnya juga keras,” kata Widiyanto, salah seorang warga setempat seperti dikutip Tempo.co (26/8, 2009). [dutaislam.com/ ab]

    Source: islamindonesia.id (ys)
  • Hati-Hati Jebakan Batman Lemapora Subabane Poalsedaisin

    Admin: Duta Islam →
    Dari atas kiri: Mr. Hans, Logo Lemapora dan Dewi
    (Foto: dutaislam.com/ ab)
    DutaIslam.Com - Siang itu di Jepara, pada April 2015 (lupa tanggal), salah satu kru redaksi Duta Islam pernah diundang untuk mengikuti sebuah acara presentasi dari beberapa orang yang mengaku memiliki kewenangan untuk mengeluarkan harta kekayaan nusantara yang tersimpan di luar negeri.

    Kalau tidak salah, ada 5 orang yang datang menjelaskan maksud dan tujuan dari organisasinya yang disingkat sebagai Lemapora Subabane Poalsedaisin. Awalnya, itu adalah bahasa asing, tapi setelah diskusi panjang selama sekitar 2 jam, ternyata kalimat tersebut adalah akronim dari Lembaga Mahkamah Potensi Rakyat Suku Bahasa Bangsa Negara Potensi Alam Semesta dan Segala Isinya Indonesia.

    Dari namanya saja tidak efektif. Tidak mudah diingat apalagi dipahami dan disukai secara instan. Singkatannya terlalu panjang, lebih panjang dari pejelasan dua orang pembicara di rumah sempit itu, yang tidak efektif dan efisien dan penuh kemusykilan.

    Kata Mr. Hans Rama, atau di tanda pengenalnya berbahan kertas printer warna hijau ditulis Mr. Siluman, salah satu narasumber, rakyat Indonesia ini memiliki kekayaan yang dititipkan ke luar negeri oleh Mr. Soekarno. Konon, kekayaan itu adalah akumulasi dari harta karun berupa emas dari 300-an kerajaan di seluruh Nusantara.

    Ketika Indonesia merdeka, Mr. Soekarno (ini sebutan samaran yang tidak selalu identik dengan Ir. Soekarno sang proklamator), mengumpulkan seluruh raja-raja untuk bergabung menjadi negara republik. Harta kerajaan diserahkan seluruhnya kepada Mr. Soekarno untuk ditimbun agar kelak ketika anak negeri ini sudah siap, bisa diambil dan dibangun untuk kesejahteraan rakyat secara utuh. Harta itu disebut sebagai "harta amanah" yang nilainya milyaran dollar. Asyik bukan?

    Pengetahuan tentang adanya "ilusi" kekayaan tak tampak itulah yang disosialisasikan hingga ke Jepara, mencari pengikut, lalu diajak untuk menyumbang agar harta yang sudah ada tapi misterius itu bisa cair. Ini yang perlu diwaspadai. Jika Anda menyerahkan nomor hape, jangan harap tidak akan dihubungi oleh Mr. Hans Rama itu, atau paling tidak oleh pendampingnya, yang, menurut informasi Duta Islam, dia keturunan Presiden Soekarno dari istri di Demak. Namanya Dewi.

    Datang saja ketika dapat undangan Lemapora Subabane Poalsedaisin di daerah. Tapi, jangan terlena dengan keterangan sepihak. Siapkan paket data internet untuk perbandingan informasi yang disampaikan. Anda akan menemukan kemusykilan-kemusykilan yang tak terperi.

    Kumpulan Teori Orang Bingung
    Salah satu keterangan musykil atau ngoyoworo adalah kalau kunci pembuka harta karun milik kita, -kata mereka,- adalah orang bernama Bernard Nobel. Jika Anda searching di internet, foto Bernard Nobel tampak jenggotan tebal, gemuk dan berwibawa dibandingkan dengan Bernard Nobel versi Lemapora yang kerempeng laiknya tukang tani miskin, dekil, kumuh, yang tidak makan berhari-hari. Lucunya, dia masih hidup (padahal sudah meninggal 10/12/1896) serta disebut bukan dari Swedia, melainkan Makassar, Sulsel. Wkwkwk....

    Anda juga akan ditunjukkan legalitas Lemapora Subb....(ah ribet)...dalam bentuk banner murahan tapi panjang. Isinya, Lemapora (pendekin saja yah singkatannya) sudah mendapatkan mengakuan Mahkamah Internasional sejak tahun 2006 dan katanya sudah didukung oleh 32 negara. Tapi coba Anda ketik di Google, lalu klik wikipedia, dijamin tidak akan menemukan profil jelas lembaga misterius itu.

    Logikanya, lembaga yang mendapat pengesahan dunia harus ada profilnya, minimal di Wikipedia. Apalagi dia mengaku ingin butuh sosialisasi juga. Jelas internet dan dunia maya adalah media paling efektif dan murah dipakai untuk promosi.

    Di situs pencarian semacam Google, ketika mengetik Lemapora, Anda hanya akan menemukan blog berjudul lemapora.blogspot. Tentu Anda dibuat bingung bahwa ada lembaga internasional yang hanya beredar lewat blogspot. Domain premium saja tidak kuat beli, bagaimana dengan realisasi misinya. Irasional bukan?

    Misi Lemapora, sebagaimana di kartu identitas murahan Mr. Hans, ada 4 + 1 Visi (bingung juga kenapa dia tidak langsung sebut 5 visi), yakni 1. Lingkari dunia dengan damai, 2. Jangan ada satu pun yang binasa, 3. Di belakang tidak kudus, di belakang kudus, 4. Bina bangun desa, 5. Jangan saling berantem, nanti mai semua. Aji Uji Diri Sendiri. Ini fotonya:

    Foto: ini berbahan kertas printer, dengan background logo lucu
    Beberapa pembaca Duta Islam diminta memahami 4 + 1 visi Lemapora Mr. Hans Rama itu, bingung semua. Antara poin satu dan lainnya tidak sejalan. Bahkan tumpang tindih. Lihat misalnya pada poin kelima, bukankah kalimat "jangan saling berantem, nanti mati semua," sudah terwakili di poin pertama yang berbunyi "lingkari dunia dengan damai"? Pun tidak nyambung pula antar kelima poin tersebut. Tidak ada tahapan stretegis sejak dari wacana. Bagaimana mau membangun desa?

    Kesimpulannya, orang-orang yang percaya dengan Lemapora adalah mereka yang bingung dengan dirinya sendiri dan gila harta. Di forum sosialiasi itu, Anda tidak akan mendapatkan ruang diskusi. Yang ada hanya informasi, kilah, diminta belajar lagi dan instruksi sepihak. Jika ingin lanjut bertanya, sudah disiapkan kertas print berbentuk kotak kartu nama berisi nomor telpon Mr. Hans atau Mr. Siluman. Ini nomor hapenya: 0823-0104-0225 atau 085-216-345-925.

    Foto: kartu iedntitas Mr. Hans Lemapora yang disebar
    Sekelas penggerak lembaga dunia, emailnya masih pakai gmail dan pakai nama lebay, ini dia: dedekirman10@gmail.com. Tertera alamatnya dari Karanggeger, Pajarakan, Probolinggo, Jawa Timur. Tidak jelas Rt Rw dan jalannya apa. Dia juga menyimpan nomor hape Nyai Ratu Kidul dan nama-nama antik lainnya. Kontak saja ke beliau kalau ingin harta warisan Mr. Soekarno untuk Anda cair lebih cepat di pikiran. Paling tidak sediakan dana sekitar 50 juta untuk membantu mereka supaya rakyat siap menerima dana bejibun dari Swiss.

    Dalam pertemuan itu, biasanya mereka membawa banner-banner bukti legitimasi, buku tebal ribuan halaman berisi foto kegiatan mereka dan dukungan kesepuhan pewaris kerajaan nusantara serta janji-janji menghebohkan akan membuat bank di 77.707 desa, tanpa bunga. Wow sekali pokoknya!

    Ada banyak kejanggalan lain yang terungkap, tapi kami cukupkan sekian. Hanya sebagai peringatan kepada kita semua agar tidak selalu serakah dengan harta tidak jelas. Bekerjalah wajar, Anda akan bertahan, meskipun hanya cukup untuk hidup sehari-hari. Yang wajar yang terus ada. Saol rejeki. [dutaislam.com/ ab]
  • Arti Hikmatul Hukama' dalam Manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailani berjudul an-Nurul Burhany (maupun lainnya) banyak terdapat kalimat yang perlu mendapatkan penjelasan cukup supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman pembaca mengingat kedalaman nilai sastranya. Misalnya dalam halaman 42-43 syekh Abdul Qodir al-Jaelani dikutip seperti ini:

    لا ينبغى لفقير أن يتصدّى و يتصدّر لإرشاد الناس إلا أن أعطاه الله علم العلماء و سياسة الملوك و حكمة الحكمآء

    Artinya:
    Hendaklah seseorang ahli tasawuf tidak bersedia dan bertindak sebagai seorang mursyid yang memberikan bimbingan kepada manusi,a kecuali ia telah diberi anugerah oleh Allah SWT berupa ilmu ulama’ (ilmal ulama'), strategi seorang raja (siyasatal muluk) dan hikmah yang dimiliki orang-orang yang bijaksana (hikmatul hukama). 

    Selama ini, pernyataan syekh Abdul Qadir al-Jailani itu menjadi perhatian para guru thariqoh (mursyid) dan muridin (para murid), sementara pernyataan tersebut mengandung kalimat biasa seperti pada kata hikmatul hukama' (hikmah orang-orang bijak).

    Lalu, apa yang dimaksud dengan kalimat hikmatul hukama’ dalam kitab al-Manaqib Syeikh Abdul Qodir al-Jaelani tersebut ?

    Jawabannya adalah: maksud hikmatul hukama’ adalah ilmu yang dimiliki oleh para alim (ulama), kesabaran dan murah hatinya, keadilan dan ilmu yang bermanfaat serta amaliah yang benar, yang membawa kemaslahatan umat. [dutaislam.com/ ab]

    Referensi: 

    (1) الجوهر الانساني شرح مناقب الشيخ عبد القادر الجيلانى
    ( ص / 28) و نصه :
    ( لاينبغى لفقير ان يتصدى ) اي يتهياء (ويتصدر لإرشاد الناس) اي يجلس صدر المجلس لتعليم الناس (إلا ان اعطاه الله علم العلماء و سياسة الملوك) اي تدبير الملوك – الى ان قال – (حكمة الحكماء) اي علم العلماء وحلمهم وعدلهم

    (2) جامع الأصول ( ص /101 ) و نصه :
    الحكمة هي العلم النافع وفعل الصواب.فقيل الحكمة هي التخلق بأخلاق الله بقدر الطاقة البشرية كقوله صلى الله عليه وسلم : الحكمة هي العلم بحقائق الاشياء واوصافها وخواصها واحكامها وارتباط الأسباب بالمسبباب. واسرار انضباط نظام الموجودات والعمل بمقتضاه. اهـ
  • Menjawab Tuduhan Ngawur: Penganut Ajaran Nenek Moyang

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Sebuah pesan dari da'i Salafi ditulis: “Sekira para kiai Aswaja NU mau menanggalkan hawa nafsu dan sikap fanatisme yang membabi buta terhadap tradisi leluhur mereka, niscaya mereka bakal mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para da'i dari Salafi yang telah meluruskan makna Ahlu Sunnah wal Jamaah yang selama ini mereka pahami secara keliru.”

    Jawaban:
    Justru Dai dari Salafi yang baru mengetahui ijtihad Islam dan belum mengerti metode ijtihad para ulama sejak dahulu. Apa yang telah kami amalkan memiliki landasan ijtihad sebagai berikut:

    Qiyas Dalam Ibadah
    - Sumber Hukum Qiyas
    Ulama ahli Tafsir, Syaikh Fakhruddin ar-Razi, menjelaskan firman Allah dalam QS an-Nisa’: 59, sebagai 4 sumber hukum dalam Islam:

    قَوْلُهُ : { أَطِيْعُواْ اللهَ وَأَطِيْعُواْ الرَّسُوْلَ } يَدُلُّ عَلَى وُجُوْبِ مُتَابَعَةِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ . قَوْلُهُ : { وَأُوْلِى الْأمْرِ مِنْكُمْ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ إِجْمَاعَ الْأُمَّةِ حُجَّةٌ ... قَوْلُهُ : { فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ الْقِيَاسَ حُجَّةٌ

    “Firman Allah (ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul) menunjukkan kewajiban mengikuti al-Quran dan Hadis. Firman Allah (dan ulil amri) menunjukkan bagi kita bahwa Ijma’ umat Islam adalah sebuah hujjah. Dan firman Allah (jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu...) menunjuk-kan bagi kita bahwa Qiyas adalah sebuah hujjah” (Tafsir al-Kabir Mafatih al-Ghaib, 5/248-251)

    - Khilafiyah Qiyas Dalam Ibadah
    Metode Qiyas semacam ini memang menjadi khilafiyah di antara lintas ulama madzhab, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ali bin Muhammad al-Ba’li:

    مَسْأَلَةٌ يَجْرِى الْقِيَاسُ فِى الْعِبَادَاتِ وَالْأَسْبَابِ وَالْكَفَّارَاتِ وَالْحُدُوْدِ وَالْمُقَدَّرَاتِ عِنْدَ أَصْحَابِنَا وَالشَّافِعِيَّةِ خِلَافًا لِلْحَنَفِيَّةِ

    “Qiyas berlaku dalam masalah ibadah, sebab-sebab syariat, kaffarat (denda/sanksi), hukum pidana dan ukuran, menurut ulama kami (madzhab Hanbali) dan madzhab Syafiiyah, berbeda dengan madzhab Hanafiyah” (Mukhtashar Ushul al-Fiqh ala Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal, 1/151)

    Contoh dari hasil ijtihad ini adalah membaca niat dalam salat, salaman setelah salat, adzan di kubur dan lainnya. 

    Mengamalkan Hadis Dlaif
    Ulama Salafi menvonis bahwa mengamalkan hadis dlaif adalah bid'ah, padahal tidak demikian. Sudah sejak masa ulama salaf, hadis dlaif diamalkan, bahkan hal ini diakui oleh Ibnu Taimiyah yang diberi gelar Syaikhul Islam oleh kalangan salafi wahabi:

    فَصْلٌ قَوْلُ أَحْمَد بْنِ حَنْبَلٍ : إذَا جَاءَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ شَدَّدْنَا فِي الْأَسَانِيدِ ؛ وَإِذَا جَاءَ التَّرْغِيبُ وَالتَّرْهِيبُ تَسَاهَلْنَا فِي الْأَسَانِيدِ ؛ وَكَذَلِكَ مَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ مِنْ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ : لَيْسَ مَعْنَاهُ إثْبَاتُ الِاسْتِحْبَابِ بِالْحَدِيثِ الَّذِي لَا يُحْتَجُّ بِهِ ؛ فَإِنَّ الِاسْتِحْبَابَ حُكْمٌ شَرْعِيٌّ فَلَا يَثْبُتُ إلَّا بِدَلِيلِ شَرْعِيٍّ

    (Fasal) Perkataan Ahmad bin Hanbal: “Jika ada hadist yang menjelaskan halal dan haram, maka kami sangat ketat dalam menilai sanadnya. Jika ada hadis dalam masalah dorongan beribadah atau motivasi menginggalkan larangan, maka kami memberi kelonggaran dalam sanadnya”, demikian halnya para ulama yang mengamalkan hadis dlaif dalam hal keutamaan beramal; maksudnya adalah bukan untuk menetapkan hukum sunah dengan hadist yang tidak dapat dijadikan hujjah. Sebab, sunah adalah hukum syar’i, maka tidak dapat dijadikan ketetapan hukum kecuali dengan dalil syar’i.

    وَإِنَّمَا مُرَادُهُمْ بِذَلِكَ : أَنْ يَكُونَ الْعَمَلُ مِمَّا قَدْ ثَبَتَ أَنَّهُ مِمَّا يُحِبُّهُ اللَّهُ أَوْ مِمَّا يَكْرَهُهُ اللَّهُ بِنَصِّ أَوْ إجْمَاعٍ كَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ ؛ وَالتَّسْبِيحِ وَالدُّعَاءِ ؛ وَالصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ ؛ وَالْإِحْسَانِ إلَى النَّاسِ ؛ وَكَرَاهَةِ الْكَذِبِ وَالْخِيَانَةِ ؛ وَنَحْوِ ذَلِكَ ... وَمِثَالُ ذَلِكَ التَّرْغِيبُ وَالتَّرْهِيبُ بِالْإِسْرَائِيْلِيَّاتِ وَالْمَنَامَاتِ وَكَلِمَاتِ السَّلَفِ وَالْعُلَمَاءِ وَوَقَائِعِ الْعُلَمَاءِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا لَا يَجُوزُ بِمُجَرَّدِهِ إثْبَاتُ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ ؛ لَا اسْتِحْبَابٍ وَلَا غَيْرِهِ وَلَكِنْ يَجُوزُ أَنْ يُذْكَرَ فِي التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ ؛ وَالتَّرْجِيَةِ وَالتَّخْوِيفِ . فَمَا عُلِمَ حُسْنُهُ أَوْ قُبْحُهُ بِأَدِلَّةِ الشَّرْعِ فَإِنَّ ذَلِكَ يَنْفَعُ وَلَا يَضُرُّ

    Maksud mereka (Imam Ahmad dan lainnya) adalah melaksanakan hal-hal yang disenagi oleh Allah atau yang tidak disenangi berdasarkan dalil nash atau ijma’ ulama, seperti membaca al-Quran, tasbih, doa, sedekah, memerdekakan budak, berbuat baik kepada manusia, menjauhi dusta, khianat dan sebagainya.... Demikian halnya dorongan ibadah dan menjauhi larangan dengan dasar kisah-kisah Israiliyat, mimpi-mimpi, perkataan ulama salaf, kejadian yang dialami para ulama dan hal yang tidak boleh dijadikan hukum Syar’i hanya karena hal di atas. Bukan menjadi hukum sunah atau lainnya. Namun boleh disebutkan dalam hal mendorong ibadah, menjauhi dosa, memberi harapan atau menakut-nakuti. Maka, sesuatu yang diketahui bagusnya atau buruknya berdasarkan dalil syar’i maka hal itu boleh dan tidak berbahaya (Syaikh Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa 4/50)

    Contoh amaliah yang merujuk kepada hadis dlaif adalah Talqin di makam. Sedangkan contoh mengamalkan dari para ulama adalah melepas tali pocong dari sebagian Tabiin. Contoh mengamalkan mimpi adalah doa fida’, baik tahlil 70.000 kali maupun al-Ikhlas 100.000 kali. Jika Ibnu Taimiyah boleh mengamalkan, mengapa pengikutnya menolak?

    Mengamalkan Tradisi
    Masalah inilah yang paling banyak dituduh sebagai mengamalkan ajaran nenek moyang, yaitu tradisi. Padahal tidak semua tradisi harus dijauhi, bahkan tradisi yang dinilai baik oleh umat Islam boleh diamalkan, sebagaimana riwayat berikut:

    عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ : مَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّىءٌ وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيْعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوْا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (رواه احمد والحاكم والطبراني والبزار . قال الذهبي قي التلخيص : صحيح وقال الهيثمي رجاله ثقات)

    “Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Apa yang dilihat baik oleh umat Islam, maka baik pula bagi Allah. Dan apa yang dilihat buruk oleh umat Islam, maka buruk pula bagi Allah. Para sahabat kesemuanya telah berpandangan untuk mengangkat khalifah Abu Bakar” (Riwayat Ahmad, al-Hakim, al-Thabrani dan al-Bazzar. Al-Dzahabi berkata: Sahih. Al-Haitsami berkata: Para perawinya terpercata)

    Mufti al-Azhar, Syaikh Athiyah Shaqr, berfatwa:

    وَهَذَا الْأَثَرُ اسْتَدَلَّ بِهِ جُمْهُوْرُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّ الْعُرْفَ حُجَّةٌ فىِ التَّشْرِيْعِ وَلَكِنْ بِشَرْطِ عَدَمِ تَعَارُضِهِ مَعَ النُّصُوْصِ الصَّرِيْحَةِ وَالْأُصُوْلِ الْمُقَرَّرَةِ .... قَالَ الْعُلَمَاءُ : إِنَّ الْعُرْفَ لَا يُؤْخَذُ بِهِ إِلَّا بِشُرُوْطٍ مِنْهَا أَنْ يَكُوْنَ مُطَّرِدًا أَوْ غَالِبًا أَىْ شَائِعًا بَيْنَ الْكَثِيْرِيْنَ مَعَ مُرَاعَاةِ أَنَّ لِكُلِّ جَمَاعَةٍ عُرْفَهَا وَمِنْهَا أَلَّا يَكُوْنَ مُخَالِفًا لِنَصٍّ شَرْعِىٍّ كَشُرْبِ الْخَمْرِ وَلَعْبِ الْمَيْسِرِ وَالتَّعَامُلِ بِالرِّبَا ... (فتاوى الأزهر - ج 10 / ص 336)

    Atsar (Ibnu Mas’ud) ini dijadikan dalil oleh mayoritas ulama bahwa ‘urf atau kebiasaan adalah sebuah dalil dalam agaman, namun dengan syarat tidak bertentangan dengan ajaran agama dan kaidah ushul yang telah ditetapkan... ulama berkata: Urf atau kebiasaan tidak digunakan kecuali dengan beberapa syarat, diantaranya harus berlaku secara umum oleh kebanyakan orang, serta melestarikan kebiasaan masing-masing. Diantaranya juga tidak bertentangan dengan dalil agama, seperti minum khamr, permainan judi dan transaksi riba...” (Fatawa al-Azhar 10/336)

    Kriteria tradisi dengan syarat di atas juga dibenarkan dalam pandangan ulama 4 madzhab, seperti oleh Syaikh Zadah al-Hanafi dalam Majma’ al-Anhar 5/361, Syaikh ad-Dasuqi al-Maliki dalam Hasyiah ‘ala asy-Syarh al-Kabir 15/372, al-Hafidz as-Suyuthi asy-Syafi’i, Asybah wa an-Nadzair, 1/164, dan Syaikh asy-Syinqithi dalam Syarah Zad al-Mustaqni’ 6/166. [dutaislam.com/ ab]

    Ma’ruf Khozin, anggota di Aswaja NU Center Jatim dan LBM PWNU Jatim
  • PCNU Surabaya Haramkan Memilih Pemimpin Non Muslim

    Admin: Radar Abdalla →

    DutaIslam.Com - Hukum memilih pemimpin non muslim untuk menjadi bupati, gubernur maupun presiden, hingga kini masih menjadi isu menarik di kalangan pesantren dan umat Islam pada umumnya. Bertahun-tahun lamanya, isu pemimpin non muslim dijadikan perdebatan wacana maupun praksis.

    Termasuk oleh PCNU Surabaya beberapa waktu lalu. Untuk menjawab pertanyaan seputar pemimpin non muslim yang jadi penguasa, agenda bahtsul masail diselenggarakan. Meskipun hasilnya bukan merupakan sebuah fatwa yang mengikat, namun sangat menarik untuk diulas. Berikut ini adalah hasilnya.

    Deskripsi Masalah:
    Sistem demokrasi dan pemilihan langsung yang berlaku di Indonesia memungkinkan semua orang berkompetisi menjadi kandidat pimpinan baik di tingkat pusat maupun daerah, sehingga terurailah monopoli etnik, ras maupun agama untuk menduduki tampuk kepempimpinan.

    Namun demikian, secara riil hal ini memunculkan problem tersendiri dan menjadi perbincangan hangat ketika ci suatu daerah yang mayoritas masyarakatnya menganut agama atau merupakan suku/ras tertentu, sementara bakal calon pemimpin yang ada dan berkemungkinan memenangkan suksesi justru dari penganut agama atau suku/ras lainnya.

    Semisal daerah mayoritas muslim, justru yang kuat ternyata dari non muslim. Selain itu, adapula seorang muslim yang munkin saja secara politik lebih dekat dengan non muslim sehingga menjadi tim suksesnya.

    Pertanyaan:
    1. Apakah seorang muslim boleh memilih kandidat pemimpin non muslim, baik di tingkat daerah seperti Bupati/Walikota/Wakil, maupun di tingkat yang lebih tinggi seperti Gubernur/Wakil Gubernur dan Presiden/Wakil Presiden?

    2. Apakah hukum memilih calon wakil rakyat (DPRD/DPR, DPD) sama hukumnya dengan memilih kandidat pemimpin non muslim?

    3. Apakah seorang muslim dibenarkan menjadi tim sukses calon pemimpin/wakil rakyat non muslim (eksekutif dan legislatif), karena kedekatan politik dan pertimbangan politik lain yang terkadang tidak dipahami oleh masyarakat pada umumnya?

    Mukadimah:
    Pembahasan permasalahan ini tidak dimaksudkan untuk menebarkan isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) dan merusak hubungan lahiriah (muamalah zhahirah) yang telah terjalin secara baik antara muslim dan non muslim di Indonesia. Namun benar-benar dimaksudkan sebagai petunjuk (irsyad) bagi kaum muslimin dalam berpartisipasi membangun negeri sesuai ajaran agama yang diyakininya.

    Pembahasan serupa pernah diselenggarakan dalam Muktamar NU Ke-30 di PP Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur, 21-27 November 1999. Namun keputusan tersebut tidak secara terang-terangan mencantumkan, bahwa non muslim yang menangani urusan kaum muslimin dalam kondisi darurat wajib harus dicegah agar tidak sampai menguasai dan mendominasi (istila) satu orang pun dari kaum muslimin. Sebab itu, keputusan dalam pembahasan ini secara prinsip tidak bertentangan dengan keputusan Muktamar NU tersebut.

    Jawaban No. 1:
    Hukum memilih pemimpin non muslim seperti Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Wakil Walikota, Gubernur/Wakil Gubernur dan Presiden/Wakil Presiden adalah haram. Sebab, memilihnya berarti mengangkatnya sebagai pemimpin dan menjadikan kaum muslimin di bawah kekuasaan, dominasi dan superioritasnya. Hal ini juga selaras dengan firman Allah:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ. (المائدة: /51)

    “Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai penolong/penguasa. Sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. Orang dari kalian yang menolong mereka, maka ia termasuk bagian darinya. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. al-Maidah: 51)

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ. وَاتَّقُوا اللهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (المائدة: 57)

    “Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan orang-orang yang menjadikan agama kalian sebagai gurauan dan permainan dari golongan ahli kitab dari sebelum kalian dan orang-orang kafir sebagai penolong/penguasa. Bertakwalah kalian kepada Allah jikan kalian adalah orang-orang yang beriman. (QS. al-Maidah: 51)

    Beberapa Pertimbangan:
    Dalam kebanyakan kasus yang dikaji kitab-kitab fikih, hukum menguasakan non muslim untuk menangani urusan kaum muslimin adalah haram. Seperti keharaman meminta tolong non muslim untuk memerangi pemberontak, menjadikannya sebagai eksekutor hukuman mati dan semisalnya, mengangkatnya sebagai pegawai bait al-mal dan penarik kharraj (semacam pajak), menjadikannya sebagai wazir at-tanfidz (semacam tim pelaksana dalam kementerian di sistem ketatanegaraan Islam klasik), serta mengurus urusan kaum muslimin secara umum.

    Meskipun ada pendapat ulama (Syaikh Ali Syibramalisi) yang mengecualikan keharaman dalam bidang-bidang tertentu yang dari sisi kemaslahatan penangannya harus diserahkan kepada non muslim―baik karena tidak adanya muslim yang mampu menanganinya atau karena tampaknya pengkhianatan darinya―, namun pendapat tersebut tidak bisa digunakan untuk melegitimasi kebolehan memilih pemimpin non muslim.

    Sebab kekuasaan, dominasi, dan superioritasnya baik dalam ucapan maupun perbuatan terhadap rakyat yang muslim sangat besar dan tidak terhindarkan. Selain itu, kewajiban adanya kontrol yang efektif pun tidak mungkin terpenuhi, yaitu mengawasi dan mencegahnya agar tidak menguasai dan mendominasi satu orang pun dari kaum muslimin.

    Meskipun dalam beberapa kasus yang disebutkan pada poin; 1) terdapat khilaf, seperti menjadikan non muslim sebagai wazir at-tanfidz dan menjadikannya sebagai petugas penarik pajak. Namun pendapat yang lemah yang membolehkannya ini tidak bisa dijadikan dasar untuk membolehkan memilih pemimpin non muslim.

    Sebab unsur kekuasaan, dominasi dan superioritas non muslim atas kaum muslimin dalam kasus-kasus tersebut sangat kecil atau bahkan tidak ada. Tidak sebagaimana dalam kasus pemimpin non muslim menjadi Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Walikota, Gubernur/Wakil Gubernur, dan Presiden/Wakil Presiden, yang meskipun secara legal formal sistem tata negara modern merupakan lembaga eksekutif atau pelaksana saja, namun pada kenyataannya unsur kekuasaan, dominasi dan superioritasnya terhadap rakyat muslim sangat besar.

    Selain itu, kewenangannya dalam mengambil berbagai kebijakan juga sangat besar, berbeda dengan wazir at-tanfidz maupun petugas penarik pajak yang hanya murni sebagai pelaksana saja.

    Sistem trias politica yang membagi kekuasaan dalam lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, yang diterapkan di Indonesia tidak dapat menafikan unsur dominasi dan superioritas masing-masing lembaga terhadap rakyat.

    Karena itu, asumsi bahwa rumusan hukum fikih mazhab sama sekali tidak bisa diterapkan dalam konteks perpolitikan sekarang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

    Asumsi memilih pemimpin non muslim sebagai strategi politik untuk mencapai kepentingan yang lebih besar bagi kaum muslimin juga tidak dapat dibenarkan. Sebab hal ini secara nyata justru membahayakan kaum muslimin.

    Pendapat ulama yang terkesan lebih mengutamakan kekuasaan sekuler (baca: kafir) yang adil daripada kekuasaan Islam yang zalim dan jargon "pemimpin kafir yang adil lebih baik daripada pemimpin muslim yang zalim," harus dipahami dalam konteks menyampaikan urgensitas keadilan bagi suatu pemerintahan, sebagaimana pendapat ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan dalam konteks melegitimasi kebolehan memilih pemimpin non muslim.

    Asumsi bahwa penafsiran kata auliya dengan makna pemimpin/penguasa dalam beberapa ayat yang menyinggung hubungan muslim dan non muslim, semisal QS. al-Maidah: 51 dan 57—adalah penafsiran yang salah, sehingga digunakan untuk melegitimasi bolehnya memilih pemimpin non muslim, tidak sepenuhnya benar.

    Ayat-ayat tersebut oleh sebagian ulama juga digunakan sebagai landasan ketidakbolehan menguasakan urusan ketatanegaraan kaum muslimin kepada non muslim, seperti Khalifah Sayyidina Umar bin al-Khattab ra dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra sebagaimana dikutip dalam berbagai kitab fikih siyasah. Seperti dalam Husn as-Suluk al-Hafizh Daulah al-Muluk (h. 161) karya Muhammad bin Muhammad al-Mushili as-Syafii, Maalim al-Qurbah fi Thalab al-Hisbah (h. 44) karya Ibn al-Ukhuwwah al-Qurasyi as-Syafi’i,  dan Siraj al-Muluk (h. 111) karya Muhamad bin al-Walid at-Tharthusyi al-Maliki.

    Referensi:

    تحرير الأحكام في تدبير أهل الإسلام  لابن جماعة الشافعي(ص 146-147)
    ولا يجوز تولية الذمي في شيء من ولايات المسلمين إلا في جباية الجزية من أهل الذمة أو جباية ما يؤخذ من تجارات المشركين . فأما ما يجبى من المسلمين من خراج أو عشر أو غير ذلك فلا يجوز تولية الذمي فيه، ولا تولية شيء من أمور المسلمين. قال تعالى : ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا. ومن ولى ذميًا على مسلم فقد جعل له سبيلًا عليه. وقال تعالى: ولا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعضٍ ومن يتولهّم منكم فإنّه منهم، ولأن تولية الكافر على المسلم تتضمن إعلاءه عليه وإعزازه بالولاية، وذلك مخالف للشريعة وقواعدها.

    (1) ابن جماعة (639 - 733 م = 1241 - 1333 م) محمد بن إبراهيم بن سعد الله بن جماعة الكناني الحموي الشافعي، بدر الدين، أبو عبد الله: قاض، من العلماء بالحديث وسائر علوم الدين.
    معالم القربة في طلب الحسبة لابن الأخوة القرشي الشافعي(1) (ص 43)
    وَلَمَّا وُلِّيَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ الْبَصْرَةَ وَقَدِمَ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ( فَوَجَدَهُ فِي الْمَسْجِدِ فَاسْتَأْذَنَ عَلَيْهِ فَأَذِنَ لَهُ، وَاسْتَأْذَنَ لِكَاتِبِهِ، وَكَانَ نَصْرَانِيًّا. فَلَمَّا دَخَلَ عَلَى عُمَرَ وَرَآهُ، فَقَالَ: قَاتَلَكَ اللهُ يَا أَبَا مُوسَى، وَلَّيْتَ نَصْرَانِيًّا عَلَى الْمَالِ. وَكَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إلَى بَعْضِ عُمَّالِهِ وَقَدْ اتَّصَلَ بِهِ أَنَّهُ اتَّخَذَ كَاتِبًا يُقَالُ لَهُ حَسَّانُ. بَلَغَنِي أَنَّكَ اسْتَعْمَلَتْ حَسَّانَ وَهُوَ عَلَى غَيْرِ دِينِ الْإِسْلَامِ، وَاللهُ تَعَالَى يَقُولُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ. وَقَالَ تَعَالَى: لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا، وَلَعِبًا مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ، وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ، وَاتَّقُوا اللهَ إنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. وَإِذَا أَتَاك كِتَابِي هَذَا فَادْعُ حَسَّانَ إلَى الْإِسْلَامِ فَإِنْ أَسْلَمَ فَهُوَ مِنَّا، وَنَحْنُ مِنْهُ، وَإِنْ أَبَى فَلَا تَسْتَعِنْ بِهِ. فَلَمَّا جَاءَهُ الْكِتَابُ قَرَأَهُ عَلَى حَسَّانَ فَأَسْلَمَ وَعَلَّمَهُ الطَّهَارَةَ وَالصَّلَاةَ. وَهَذَا أَصْلٌ يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ فِي تَرْكِ الِاسْتِعَانَةِ بِالْكَافِرِ فَكَيْفَ اسْتِعْمَالُهُمْ عَلَى رِقَابِ الْمُسْلِمِينَ.
    (1) ابن الاخوة (648 - 729 ه = 1250 - 1329 م) محمد بن محمد بن أحمد بن أبي زيد بن الاخوة، القرشي، ضياء الدين: محدث.

    سراج الملوك للطرطوشي المالكي (ص 111)
    ولما استقدم عمر بن الخطاب رضي الله عنه أبا موسى الأشعري من البصرة وكان عاملاً عليها للحساب، دخل على عمر وهو في المسجد فاستأذن لكاتبه وكان نصرانياً فقال له عمر رضي الله عنه: قاتلك الله! وضرب بيده على فخذه، وليت ذمياً على المسلمين أما سمعت الله تعالى يقول: " يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم؟ " المائدة: 51 ألا اتخذت حنيفاً؟ قال: يا أمير المؤمنين لي كتابته وله دينه. فقال: لا أكرمهم إذ أهانهم الله ولا أعزهم إذ أذلهم الله ولا أدنيهم إذ أقصاهم الله. ... وقال عمر بن أسد: أتانا كتاب عمر بن عبد العزيز ( إلى محمد بن المنتشر: أما بعد فإنه بلغني أن في عملك رجلاً يقال له حسان بن بردا على غير دين الإسلام، والله تعالى يقول: " يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا الذين اتخذوا دينكم هزواً ولعباً من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم والكفار أولياء واتقوا الله إن كنتم مؤمنين " المائدة: 57 فإذا أتاك كتابي هذا فادع حسان إلى الإسلام فإن أسلم فهو منا ونحن منه وإن أبى فلا تستعن به ولا تأخذ من غير أهل الإسلام على شيء من أعمال المسلمين، فقرأ الكتاب عليه فأسلم.

    تحفة المحتاج و حواشي الشرواني (ج 9 / ص 72-73)
    (وَلَا يُسْتَعَانُ عَلَيْهِمْ بِكَافِرٍ) ذِمِّيٍّ أَوْ غَيْرِهِ إلَّا إِنْ اضْطُرِرْنَا لِذَلِكَ.
    (قَوْلُ الْمَتْنِ وَلَا يُسْتَعَانُ إلَخْ) أَيْ يَحْرُمُ ذَلِكَ ا هـ سم عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةِ تَنْبِيهٌ ظَاهِرُ كَلَامِهِمْ أَنَّ ذَلِكَ لَا يَجُوزُ وَلَوْ دَعَتْ الضَّرُورَةُ إلَيْهِ لَكِنَّهُ فِي التَّتِمَّةِ صَرَّحَ بِجَوَازِ الِاسْتِعَانَةِ بِهِ أَيْ الْكَافِرِ عِنْدَ الضَّرُورَةِ وَقَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَغَيْرُهُ إنَّهُ الْمُتَّجِهُ ا هـ . (قَوْلُ الْمَتْنِ: بِكَافِرٍ) أَيْ لِأَنَّهُ يَحْرُمُ تَسْلِيطُهُ عَلَى الْمُسْلِمِ نِهَايَةٌ وَمَنْهَجٌ. زَادَ الْمُغْنِي: وَلِذَا لَا يَجُوزُ لِمُسْتَحِقِّ الْقِصَاصِ مِنْ مُسْلِمٍ أَنْ يُوَكِّلَ كَافِرًا فِي اسْتِيفَائِهِ وَلَا لِلْإِمَامِ أَنْ يَتَّخِذَ جَلَّادًا كَافِرًا لِإِقَامَةِ الْحُدُودِ عَلَى الْمُسْلِمِينَ اهـ . وَقَالَ ع ش بَعْدَ نَقْلِ مَا ذُكِرَ عَنْ الزِّيَادِيِّ: أَقُولُ وَكَذَا يَحْرُمُ نَصْبُهُ فِي شَيْءٍ مِنْ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ. نَعَمْ، إِنْ اقْتَضَتِ الْمَصْلَحَةُ تَوْلِيَتَهُ فِي شَيْءٍ لَا يَقُومُ بِهِ غَيْرُهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَوْ ظَهَرَ فِيمَنْ يَقُومُ بِهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خِيَانَةٌ وَأُمِنَتْ فِي ذِمِّيٍّ وَلَوْ لِخَوْفِهِ مِنِ الْحَاكِمِ مَثَلًا، فَلَا يَبْعُدُ جَوَازُ تَوْلِيَتِهِ فِيهِ لِضَرُورَةِ الْقِيَامِ بِمَصْلَحَةِ مَا وُلِّيَ فِيهِ. وَمَعَ ذَلِكَ يَجِبُ عَلَى مَنْ يُنَصِّبُهُ مُرَاقَبَتُهُ وَمَنْعُهُ مِنَ التَّعَرُّضِ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ بِمَا فِيهِ اسْتِعْلَاءٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ اهـ .

    رد المحتار - (ج 4/ ص 211)
    وَلَا يَخْفَى أَنَّ اسْتِعْلَاءَهُ فِي الْبِنَاءِ عَلَى جِيرَانِهِ الْمُسْلِمِينَ خِلَافُ الصَّغَارِ ...  وَلَا يَخْفَى أَنَّ لَفْظَ اسْتَعْلَى يَشْمَلُ مَا بِالْقَوْلِ وَمَا بِالْفِعْلِ.

    الأحكام السلطانية (ج 1 / ص 43)
    (فَصْلٌ) وَأَمَّا وَزَارَةُ التَّنْفِيذِ فَحُكْمُهَا أَضْعَفُ وَشُرُوطُهَا أَقَلُّ، لِأَنَّ النَّظَرَ فِيهَا مَقْصُورٌ عَلَى رَأْيِ الْإِمَامِ وَتَدْبِيرِهِ. وَهَذَا الْوَزِيرُ وَسَطٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الرَّعَايَا وَالْوُلَاةِ يُؤَدِّي عَنْهُ مَا أَمَرَ وَيَنْفُذُ عَنْهُ مَا ذَكَرَ وَيُمْضِي مَا حَكَمَ وَيُخْبِرُ بِتَقْلِيدِ الْوُلَاةِ وَتَجْهِيزِ الْجُيُوشِ وَيَعْرِضُ عَلَيْهِ مَا وَرَدَ مِنْ مُهِمٍّ وَتَجَدَّدَ مِنْ حَدَثٍ مُلِمٍّ، لِيَعْمَلَ فِيهِ مَا يُؤْمَرُ بِهِ. فَهُوَ مُعِينٌ فِي تَنْفِيذِ الْأُمُورِ وَلَيْسَ بِوَالٍ عَلَيْهَا وَلَا مُتَقَلِّدًا لَهَا. وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَقُومَ بِذَلِكَ امْرَأَةٌ وَإِنْ كَانَ خَبَرُهَا مَقْبُولًا لِمَا تَضَمَّنَهُ مَعْنَى الْوِلَايَاتِ الْمَصْرُوفَةِ عَنْ النِّسَاءِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ(: مَا أَفْلَحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إلَى امْرَأَةٍ. وَلِأَنَّ فِيهَا مِنْ طَلَبِ الرَّأْيِ وَثَبَاتِ الْعَزْمِ مَا تَضْعُفُ عَنْهُ النِّسَاءُ، وَمِنَ الظُّهُورِ فِي مُبَاشَرَةِ الْأُمُورِ مَا هُوَ عَلَيْهِنَّ مَحْظُورٌ. وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ هَذَا الْوَزِيرُ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ وَزِيرُ التَّفْوِيضِ مِنْهُمْ.

    غياث الأمم (ص 114)
    وذكر مصنف الكتاب المترجم بالأحكام السلطانية إن صاحب هذا المنصب يجوز أن يكون ذميا وهذه عثرة ليس لها مقيل وهي مشعرة بخلو صاحب الكتاب عن التحصيل فإن الثقة لا بد من رعايتها وليس الذمي موثوقا به في أفعاله وأقواله وتصاريف أحواله وروايته مردودة وكذلك شهادته على المسلمين فكيف يقبل قوله فيما يسنده ويعزيه إلى إمام المسلمين.

    روضة الطالبين (ج 6 / ص 367)
    وأما تولية الذمي فإن كانت جباية من أهل الذمة كالجزية وعشر التجار جازت، وإن كانت من المسلمين ففي جوازها وجهان. قلت:  الأصح المنع. والله أعلم.

    مفاتيح الغيب (ج 8 / ص 10-12)
    لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ  (آل عمران: 28)
    وفي الآية مسائل ... المسألة الرابعة: اعلم أن للتقية أحكامًا كثيرة ونحن نذكر بعضها. الحكم الأول: أن التقية إنما تكون إذا كان الرجل في قوم كفار ويخاف منهم على نفسه وماله فيداريهم باللسان. وذلك بأن لا يظهر العداوة باللسان بل يجوز أيضًا أن يظهر الكلام الموهم للمحبة والموالاة ولكن بشرط أن يضمر خلافه وأن يعرض في كل ما يقول، فإن التقية تأثيرها في الظاهر لا في أحوال القلوب. الحكم الثاني للتقية: هو أنه لو أفصح بالإيمان والحق حيث يجوز له التقية كان ذلك أفضل ودليله ما ذكرناه في قصة مسيلمة. الحكم الثالث للتقية: أنها إنما تجوز فيما يتعلق بإظهار الموالاة والمعاداة. وقد تجوز أيضًا فيما يتعلق بإظهار الدين. فأما ما يرجع ضرره إلى الغير كالقتل والزنا وغصب الأموال والشهادة بالزور وقذف المحصنات واطلاع الكفار على عورات المسلمين، فذلك غير جائز ألبتة.

    حسن السلوك الحافظ دولة الملوك لمحمد بن محمد بن عبد الكريم الموصلي الشافعي (ص 161)
    الفصل الثالث عشر عدم تولية اليهود والنصارى على المسلمين. لا يجوز تولية اليهود والنصارى على المسلمين ولا استكتابهم على بيت مال المسلمين. عمر بن الخطاب وكاتب أبي موسى الأشعري: وقد أنكر ذلك من السلف عمر بن الخطاب (. فإن عمر كان قد ولى أبا موسى الأشعري على البصرة فجاء إليه فقال: اكتب لي الحساب. فانطلق فكتب: أنفقت في كذا كذا ثم جاء به إلى عمر (. فلما رآه أعجبه. قال: من كتب لك هذا؟ قال: كاتب لي. قال: فادعه حتى يقرأ كتبا جاءتنا من الشام. فقال: يا أمير المؤمنين لا يدخل المسجد. فقال: لم أجنب هو؟ قال: لا ولكنه نصراني. قال: فضرب عمر فخذي ضربة كاد يكسرها، ثم قال: أما سمعت الله تعالى يقول: يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض. أفلا اتخذت كاتبا حنيفا يكتب لك؟ قال يا أمير المؤمنين، مالي وله، له دينه ولي كتابته. فقال عمر ( لا نأمنهم إذ خونهم الله ولا نكرمهم إذ أهانهم الله ولا ندنيهم إذ أقصاهم الله. ويروى أن خالد بن الوليد كتب إلى عمر بن الخطاب أن بالشام كاتبا لا يصلح خراج الشام إلا به. فكتب إليه: لا تستعمله. فراجعه وأخبر أنه لا يستغني عنه. فكتب إليه ينهاه عن استعماله. فعاوده وذكر أن المال يضيع إذا لم نستعمله، فكتب إليه عمر: مات النصراني والسلام. يريد بذلك أنه لو مات لكنت تستغني عنه، فقدر موته. ... وكتب عمر بن عبد العزيز إلى عماله: ألا تولوا على أعمالنا إلا أهل القرآن. فكتبوا إليه: إنا وجدنا فيهم خيانة. فكتب إليهم: إن لم يكن في أهل القرآن خير فأجدر ألا يكون في غيرهم خير. الاستعانة بأهل الذمة في القتال. وعن ابن عباس أن النبي ( استعان بيهود بني قينقاع ورضخ لهم واستعان بصفوان بن أمية في قتال هوزان يوم حنين أخرجه الحازمي. فإن صح هذا فيكون تألفا لقلب من علم منه حسن رأي في الإسلام وليس في قتالهم معه ( نوع ولاية ولا استئمان لهم، بخلاف استكتابهم لا يجوز لما فيه من استئمانهم وقد خونهم الله. موقف الأئمة منه. قال الشافعي وآخرون: إن كان الكافر حسن الرأي بالمسلمين ودعت حاجة إلى الإستعانة به استعين به وإلا فيكره، وحمل الحديثين على هذين الحالتين. وقال مالك وأحمد وداود الظاهري: لا يستعان بهم ولا يعانون على الإطلاق، واستثنى مالك فقال: إلا أن يكونوا خدما للمسلمين، فيجوز. وقال أبو حنيفة (: يستعان بهم ويعاونون على الإطلاق. والشافعي إنما يجوز الاستعانة بهم في الحرب إذا أمنت خيانتهم ويكونون بحيث لو انضمت فرقتا الكفر لقدر المسلمون على مقاومة الفرقتين. وبهذا يظهر لك تحريم استعمالهم على بيت المال، لأن خيانتهم فيه لا تؤمن وهي ولاية يشترط فيها الأمانة، والله تعالى قد شهد عليهم بالخيانة، فكيف يجوز استعمالهم عمالا على بيوت الله تعالى واستئمانهم عليها؟ وهل ذلك إلا بمثابة من دفع السيف إلى قاتله وأجهز على نفسه وأعان العدو على هلاكه؟

    تفسير البغوي - (ج 2 / ص 238)
    قوله تعالى: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا. نزلت في عثمان بن طلحة الحجبي من بني عبد الدار، وكان سادِنَ الكعبة، فلما دخل النبي ( مكة يوم الفتح أغلق عثمانُ باب البيت وصَعَدَ السطح، فطلب رسول الله ( المفتاحَ. فقي: إنه مع عثمان. فطلبه منه رسول الله ( فأبى، وقال: لو علمتُ أنه رسول الله لم أمنعه المفتاح، فَلَوَى عليُّ ( يَدَهُ، فأخذ منه المفتاحَ وفتح البابَ. فدخل رسول الله ( البيتَ وصلى فيه ركعتين، فلمّا خرج سأله العباس المفتاح، أن يعطيه ويجمع له بين السِّقاية والسِّدانة. فأنزل الله تعالى هذه الآية، فأمر رسول الله ( أن يرَّد المفتاحَ إلى عثمان ويعتذرَ إليه. ففعل ذلك علي (. فقال له عثمان: أكرهت وآذيت ثم جئت ترفق، فقال علي: لقد أنزل الله تعالى في شأنك قرآنأ وقرأ عليه الآية. فقال عثمان: أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله، وكان المفتاح معه. فلمّا مات دفعه إلى أخيه شيبة، فالمفتاح والسدانة في أولادهم إلى يوم القيامة.
    قرة العين بفتاوى الشيخ إسماعيل الزين، ص 199

    إِنَّ بِلَادَكُمُ اسْتَقَلَّتْ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَكِنْ لَا يَزَالُ فِيْهَا الْكَثِيْرُ مِنَ الْكُفَّارِ وَأَكْثَرُ أَهْلِهَا مُسْلِمُوْنَ وَلَكِنِ الْحُكُوْمَةُ اعْتَبَرَتْ جَمِيْعَ أَهْلِهَا مُسْلِمُهُمْ وَكَافِرُهُمْ عَلَى السَّوَاءِ وَقُلْتُمْ إِنَّ شُرُوْطَ الذِّمَّةِ الْمُعْتَبَرَةِ أَكْثَرُهَا مَفْقُوْدَةٌ مِنَ الْكَافِرِيْنَ، فَهَلْ يُعْتَبَرُ ذِمِّيِّيْنَ أَوْ حَرْبِيِّيْنَ؟ وَهَلْ لَنَا نَتَعَرَّضُ لِإِيْذَائِهِمْ أَذًى ظَاهِرًا إِلَى أَخِرِ السُّؤَالِ؟ فَاعْلَمْ أَنَّ الْكُفَّارَ الْمَوْجُوْدِيْنَ فِيْ بِلَادِكُمْ وَفِيْ بِلَادِ غَيْرِكُمْ مِنْ أَقْطَارِ الْمُسْلِمِيْنَ كاَلْبَاكِسْتَانِ وَالْهِنْدِ وَالشَّامِ وَالْعِرَاقِ وَالسُّوْدَانِ وَالْمَغْرِبِ وَغَيْرِهَا لَيْسُوْا ذِمِّيِّيْنَ وَلَا مُعَاهَدِيْنَ وَلَا مُسْتَأْمَنِيْنَ بَلْ حَرْبِيُّوْنَ حِرَابَةً مَحْضَةً ... لَكِنِ التَّصَدَّى لِإِيْذَائِهِمْ أَذًى ظَاهِرًا كَمَا ذَكَرْتُمْ فِي السُّؤَالِ يُنْظَرُ فِيْهِ إِلَى قَاعِدَةِ جَلْبِ الْمَصَالِحِ وَدَرْءِ الْمَفَاسِدِ وَيُرجَّحُ دَرْءُ الْمَفَاسِدِ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ وَلَاسِيَّمَا وَأَحَادُ النَّاسِ وَأَفْرَادُهُمْ لَيْسَ فِيْ مُسْتَطَاعِهِمْ ذَلِكَ كَمَا هُوَ الْوَاقِعُ وَالْمُشَاهَدُ اهـ

    مفاتيح الغيب (ج 8 / ص 10-11)
    لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ. (آل عمران: 28)
    ... واعلم أن كون المؤمن مواليًا للكافر يحتمل ثلاثة أوجه. أحدها: أن يكون راضيًا بكفره ويتولاه لأجله، وهذا ممنوع منه لأن كل من فعل ذلك كان مصوِّبًا له في ذلك الدين وتصويب الكفر كفر والرضا بالكفر كفر، فيستحيل أن يبقى مؤمنًا مع كونه بهذه الصفة. فإن قيل أليس أنه تعالى قال: وَمَن يَفْعَلْ ذلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيء؟ وهذا لا يوجب الكفر فلا يكون داخلًا تحت هذه الآية. لأنه تعالى قال: ذَلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ، فلا بد وأن يكون خطابًا في شيء يبقى المؤمن معه مؤمناً. وثانيها: المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر وذلك غير ممنوع منه. والقسم الثالث: وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة والمظاهرة والنصرة إما بسبب القرابة أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه، وذلك يخرجه عن الإسلام. فلا جرم هدد الله تعالى فيه. فقال: وَمَن يَفْعَلْ ذلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيءٍ. فإن قيل: لم لا يجوز أن يكون المراد من الآية النهي عن اتخاذ الكافرين أولياء بمعنى أن يتولوهم دون المؤمنين؟ فأما إذا تولوهم وتولوا المؤمنين معهم فذلك ليس بمنهي عنه. وأيضًا فقوله لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء، فيه زيادة مزية لأن الرجل قد يوالي غيره ولا يتخذه مواليًا، فالنهي عن اتخاذه مواليًا لا يوجب النهي عن أصل مولاته. قلنا: هذان الاحتمالان وإن قاما في الآية إلا أن سائر الآيات الدالة على أنه لا تجوز موالاتهم دلّت على سقوط هذين الاحتمالين.

    حاشية البجيرمي على الخطيب (ج 5 / ص 183)
    خَاتِمَةٌ. تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهِ وَرَسُولَهُ. فَإِنْ قِيلَ: قَدْ مَرَّ فِي بَابِ الْوَلِيمَةِ أَنَّ مُخَالَطَةَ الْكُفَّارِ مَكْرُوهَةٌ أُجِيبُ بِأَنَّ الْمُخَالَطَةَ تَرْجِعُ إلَى الظَّاهِرِ وَالْمَوَدَّةَ إلَى الْمَيْلِ الْقَلْبِيِّ. فَإِنْ قِيلَ: الْمَيْلُ الْقَلْبِيُّ لَا اخْتِيَارَ لِلشَّخْصِ فِيهِ. أُجِيبَ: بِإِمْكَانِ دَفْعِهِ بِقَطْعِ أَسْبَابِ الْمَوَدَّةِ الَّتِي يَنْشَأُ عَنْهَا مَيْلُ الْقَلْبِ، كَمَا قِيلَ: إنَّ الْإِسَاءَةَ تَقْطَعُ عُرُوقَ الْمَحَبَّةِ.
    قَوْلُهُ: تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ، أَيْ الْمَحَبَّةُ وَالْمَيْلُ بِالْقَلْبِ. وَأَمَّا الْمُخَالَطَةُ الظَّاهِرِيَّةُ فَمَكْرُوهَةٌ. وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر: وَتَحْرُمُ مُوَادَّتُهُمْ وَهُوَ الْمَيْلُ الْقَلْبِيُّ لَا مِنْ حَيْثُ الْكُفْرُ، وَإِلَّا كَانَتْ كُفْرًا. وَسَوَاءٌ فِي ذَلِكَ أَكَانَتْ لِأَصْلٍ أَوْ فَرْعٍ أَمْ غَيْرِهِمَا. وَتُكْرَهُ مُخَالَطَتُهُ ظَاهِرًا وَلَوْ بِمُهَادَاةٍ فِيمَا يَظْهَرُ مَا لَمْ يُرْجَ إسْلَامُهُ. وَيَلْحَقُ بِهِ مَا لَوْ كَانَ بَيْنَهُمَا نَحْوُ رَحِمٍ أَوْ جِوَارٍ اهـ  وَقَوْلُهُ: مَا لَمْ يَرْجُ إسْلَامَهُ، أَوْ يَرْجُ مِنْهُ نَفْعًا أَوْ دَفْعَ شَرٍّ لَا يَقُومُ غَيْرُهُ فِيهِ مَقَامَهُ، كَأَنْ فَوَّضَ إلَيْهِ عَمَلًا يَعْلَمُ أَنَّهُ يَنْصَحُهُ فِيهِ وَيَخْلُصُ أَوْ قَصَدَ بِذَلِكَ دَفْعَ ضَرَرٍ عَنْهُ. وَأُلْحِقَ بِالْكَافِرِ فِيمَا مَرَّ مِنَ الْحُرْمَةِ وَالْكَرَاهَةِ الْفَاسِقُ. وَيُتَّجَهُ حَمْلُ الْحُرْمَةِ عَلَى مَيْلٍ مَعَ إينَاسٍ لَهُ أَخْذًا مِنْ قَوْلِهِمْ: يَحْرُمُ الْجُلُوسُ مَعَ الْفُسَّاقِ إينَاسًا لَهُمْ. أَمَّا مُعَاشَرَتُهُمْ لِدَفْعِ ضَرَرٍ يَحْصُلُ مِنْهُمْ أَوْ جَلْبِ نَفْعٍ فَلَا حُرْمَةَ فِيهِ ا هـ ع ش عَلَى م ر. قَوْلُهُ: الْمَيْلِ الْقَلْبِيِّ، ظَاهِرُهُ أَنَّ الْمَيْلَ إلَيْهِ بِالْقَلْبِ حَرَامٌ وَإِنْ كَانَ سَبَبُهُ مَا يَصِلُ إلَيْهِ مِنْ الْإِحْسَانِ أَوْ دَفْعَ مَضَرَّةٍ. وَيَنْبَغِي تَقْيِيدُ ذَلِكَ بِمَا إذَا طَلَبَ حُصُولَ الْمَيْلِ بِالِاسْتِرْسَالِ فِي أَسْبَابِ الْمَحَبَّةِ إلَى حُصُولِهَا بِقَلْبِهِ، وَإِلَّا فَالْأُمُورُ الضَّرُورِيَّةُ لَا تَدْخُلُ تَحْتَ حَدِّ التَّكْلِيفِ وَبِتَقْدِيرِ حُصُولِهَا. يَنْبَغِي السَّعْيُ فِي دَفْعِهَا مَا أَمْكَنَ. فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ دَفْعُهَا لَمْ يُؤَاخَذْ بِهَا ع ش عَلَى م ر. قَوْلُهُ: الْإِسَاءَةَ إلَخْ، أَيْ وَالْإِحْسَانُ الَّذِي مِنْهُ الْمَوَدَّةُ يَجْلُبُ الْمَحَبَّةَ .

    حاشية قليوبي، (ج 4 / ص 235)
    (قوله: ولا يوقر ولا يصدر في مجلس في مسلم) ولو واحدا ولو طارئا وجوبا. فيحرم ذلك إلا لضرورة. ويحرم الميل إليهم بالقلب من حيث الكفر. ويكره لغيره. وتكره مهاداتهم إلا لنحو رحم أو رجاء إسلام أو جوار.

    التبر المسبوك في نصيحة الملوك للغزالي (ج 1 / ص 16-17)
    إعلم وتيقّن أن الله سبحانه وتعالى اختار من بني آدم طائفتين وهم الأنبياء عليهم الصلاة والسلام ليبينوا للعباد على عبادته الدليل، ويوضحوا لهم إلى معرفته السبيل، واختار الملوك لفظ العباد من اعتداء بعضهم على بعض، وملكهم أزمة الإبرام والنقض، فربط بهم مصالح خلقه في معايشهم بحكمته، وأحَلّهم أشرف محل بقدرته، كما يسمع في الأخبار السلطان ظل الله في أرضه ...   والسلطان العادل من عدل بين العباد، وحذر من الجور والفساد، والسلطان الظالم شؤم لا يبقى ملكه ولا يدوم، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم) . وفي التواريخ أن المجوس ملكوا العالم أربعة آلاف سنة وكانت المملكة فيهم وإنما دامت المملكة بعدلهم في الرعية، وحفظهم بالسوية، وإنهم ما كانوا يرون الظلم والجور في دينهم وملتهم جائز وعمروا بعدلهم البلاد، وأنصفوا العباد. وقد جاء في الخبر أن الله جلّ ذكره أوحى إلى داود عليه السلام أن آنْهِ قومك عن سب ملوك العجم فإنهم عمروا الدنيا وأوطنوها عبادي. فينبغي أن تعلم أن عمارة الدنيا وخرابها من الملوك فإذا كان السلطان عادلاً عمرت الدنيا وأمنت الرعايا كما كانت عليه في عهد أزدشير وأفريدون وبهرام كور وكسرى أنو شروان. وإذا كان السلطان جائراً خربت الدنيا كما كانت في عهد الضحاك وافراسيان وبرزدكنها الخاطىء وأمثال هؤلاء ... وكان الملك في ذلك الزمان كسرى أنو شروان. وهو الذي فاق ملوك إيران، بعدله ونصفته، وتدبيره وسياسته، وذلك جميعه ببركات نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، لأنه ولد في زمانه، ووجد في أوانه. وعاش أنو شروان بعد مولده صلى الله عليه وسلم سنتين، والنبي صلى الله عليه وسلم افتخر بأيامه فقال: ولدت في زمن الملك العادل كسرى. والإسم الجيد خير الأشياء. والملوك الذين كانوا قبله كانت همتهم في عمارة الدنيا والعدل بين الرعية وحفظ الجسم بالسياسة وحسن الإنالة وآثار عمارتهم التي أثروها إلى اليوم ظاهرة في العالم وكل بلد يعرف بإسم ملكه لأنهم عمروا المواضع، وبنوا الضياع والمزارع، واستخرجوا القنوات والمصانع واظهروا ما كان خافياً من مياه العيون وجميع ما ذكرناه كان أنو شروان يعمره بعدله وإنصافه، مع تجنبه الإسراف في عفافه.

    واعلم: أن أولئك الملوك القدماء همتهم واجتهادهم في عمارة ولاياتهم بعدهم. روي أنه كلما كانت الولاية أعمر، كانت الرعية أوفى وأشكر. وكانوا يعلمون أن الذي قالته العلماء، ونطقت به الحكماء، صحيح لا ريب فيه وهو قولهم: إن الدين بالملك، والملك بالجند، والجند بالمال والمال بعمارة البلاد، وعمارة البلاد بالعدل في العباد. فما كانوا يوافقون أحداً على الجور والظلم، ولا يرضون لحشمهم بالخرق والغشم، علماً منهم أن الرعية لا تثبت على الجور وأن الأماكن تخرب إذا استولى عليها الظالمون، ويتفرق أهل الولايات ويهربون في ولايات غيرها ويقع النقص في الملك ويقل في البلاد الدخل وتخلو الخزائن من الأموال ويتكدر عيش الرعايا لأنهم لا يحبون جائراً، ولا يزال دعاؤهم عليه متواتراً، فلا يتمتع بمملكته، وتسرع إليه دواعي هلكته ...

    نكتة: الدين والملك توأمان مثل أخوين ولدا من بطن واحد فيجب أن يهتم ويجتنب الهوى، والبدعة والمنكر والشبهة وكل ما يرجع بنقصان الشرع وإن علم أن في ولايته من يتهم بدينه ومذهبه أمر بإحضاره وتهديده، وزجره ووعيده، فإن تاب، وإلا أوقع عليه العقاب، ونفاه عن ولايته ليطهر الولاية من إغوائه وبدعته، وتخلو من أهل الأهواء.

    مفاتيح الغيب - (ج 18 / ص 61)
    وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ. (هود: 117).
    اعلم أنه تعالى بين أنه ما أهلك أهل القرى إلا بظلم وفيه وجوه. الوجه الأول: أن المراد من الظلم ههنا الشرك. قال تعالى: إِنَّ الشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان: 13). والمعنى أنه تعالى لا يهلك أهل القرى بمجرد كونهم مشركين إذا كانوا مصلحين في المعاملات فيما بينهم. والحاصل أن عذاب الاستئصال لا ينزل لأجل كون القوم معتقدين للشرك والكفر بل إنما ينزل ذلك العذاب إذا أساؤا في المعاملات وسعوا في الإيذاء والظلم ولهذا قال الفقهاء إن حقوق الله تعالى مبناها على المسامحة والمساهلة وحقوق العباد مبناها على الضيق والشح ويقال في الأثر الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم فمعنى الآية وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ أي لا يهلكهم بمجرد شركهم إذا كانوا مصلحين يعامل بعضهم بعضاً على الصلاح والسداد وهذا تأويل أهل السنة لهذه الآية. قالوا: والدليل عليه، أن قوم نوح وهود وصالح ولوط وشعيب إنما نزل عليهم عذاب الاستئصال لما حكى الله تعالى عنهم من إيذاء الناس وظلم الخلق.

    سراج الملوك للطرطوشي المالكي(1) (ج 1 / ص 41-43)
    العدل ينقسم قسمين: قسم إلهي جاءت به الأنبياء والرسل عليهم السلام عن الله تعالى، والثاني ما يشبه العدل والسياسة الإصلاحية التي هرم عليها الكبير ونشأ عليها الصغير، وبعيد أن يبقى سلطان أو تستقيم رعيته في حال إيمان أو كفر بلا عدل قائم ولا ترتيب للأمور ثابت، فذلك مما لا يمكن ولا يجوز. وقد ذكرنا في أول الكتاب أن سليمان بن داود سلب ملكه حين جلي الخصمان بين يديه، وكان لأحدهما خاصة بسليمان فقال في نفسه: وددت أن يكون الحق لخاصتي فأقضي له، فسلبه الله تعالى ملكه وقعد الشيطان على كرسيه. فاجعل العدل سياستك تسقط عنك جميع الآفات المفسدة للسياسة، وتقوم لك جميع الشرائط التي تقوم بها للمملكة. قال علي بن أبي طالب رضي الله عنه: إمام عادل خير من مطر وابل، وأسد حطوم خير من سلطان ظلوم، وسلطان ظلوم خير من فتنة تدوم. ... وأما العدل النبوي فأن يجمع السلطان إلى نفسه حملة العلم الذين هم حفاظه ورعاته وفقهاؤه، وهم الأدلاء على الله والقائمون بأمر الله، والحافظون لحدود الله والناصحون لعباد الله. وروى أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن الدين النصيحة! إن الدين النصيحة! إن الدين النصيحة! قالوا: لمن يا رسول الله؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم. ... وأما القسم الثاني من العدل وهو السياسة الاصطلاحية، وإن كان أصلها على الجور فيقوم بها أمر الدنيا، وكأنها تشاكل مراتب الإنصاف على نحو ما كانت عليه ملوك الطوائف في أيام الفرس. وكانوا كفاراً بالله تعالى يعبدون النيران ويتبعون هواجس الشيطان، فتواضعوا بينهم سنناً وأسسوا لهم أحكاماً، وأقاموا لهم مراتب في النصفة بين الرعايا واستجباء الخراجات، وتوظيف المكوس على التجار. كل ذلك بعقولهم على وجوه ما أنزل الله بها من سلطان ولا نصب عليها من برهان. بيد أنه لما جاءت الشريعة من عند الله تعالى على لسان نبيه صاحب المعجزة محمد (، فمنها ما أقرته في نصابه، ومنها نسخته وأبطلت حكمه. فعادت الحكمة البالغة أمر الله تعالى والحكم بما أنزل الله وبطل ما سواه. وكان ملكهم محفوظاً برعايتهم للقوانين المألوفة بينهم، فانقطع بذلك حبل الهمل، فكانوا يقيمون بها واجب الحقوق ويتعاطون بها ما لهم وعليهم. وعن هذا كان يقال: إن السلطان الكافر الحافظ لشرائط السياسة الاصطلاحية أبقى وأقوى من السلطان المؤمن العدل في نفسه المضيع للسياسة النبوية العدلية، والجور المرتب أبقى من العدل المهمل. إذ لا شيء أصلح للسلطان من ترتيب الأمور ولا شيء أفسد له من إهمالها.

    (1) الطرطوشي (451 - 520 ه = 1059 - 1126 م) محمد بن الوليد بن محمد بن خلف القرشى الفهرى الاندلسي، أبو بكر الطرطوشى، ويقال له ابن أبى رندقة: أديب، من فقهاء المالكية، الحفاظ.

    Jawaban 2:
    Hukum memilih calon wakil rakyat non muslim (DPRD/DPR—yang memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan—, dan DPD—yang memiliki fungsi legislasi, pertimbangan dan pengawasan—) sama dengan hukum memilih pemimpin non muslim yaitu haram, karena termasuk memberi kuasa non muslim atas kaum muslimin dan pemilih tidak mampu mencegahnya dari mengkhianati kepentingan kaum muslimin.

    Referensi:

    حسن السلوك الحافظ دولة الملوك لمحمد بن محمد بن عبد الكريم الموصلي الشافعي (ص 161)
    الفصل الثالث عشر عدم تولية اليهود والنصارى على المسلمين. لا يجوز تولية اليهود والنصارى على المسلمين ولا استكتابهم على بيت مال المسلمين. ... والشافعي إنما يجوز الاستعانة بهم في الحرب إذا أمنت خيانتهم ويكونون بحيث لو انضمت فرقتا الكفر لقدر المسلمون على مقاومة الفرقتين. وبهذا يظهر لك تحريم استعمالهم على بيت المال، لأن خيانتهم فيه لا تؤمن وهي ولاية يشترط فيها الأمانة، والله تعالى قد شهد عليهم بالخيانة، فكيف يجوز استعمالهم عمالا على بيوت الله تعالى واستئمانهم عليها؟ وهل ذلك إلا بمثابة من دفع السيف إلى قاتله وأجهز على نفسه وأعان العدو على هلاكه؟

    حواشي الشرواني (ج 9 / ص 72-73)
    وَقَالَ ع ش بَعْدَ نَقْلِ مَا ذُكِرَ عَنْ الزِّيَادِيِّ: أَقُولُ وَكَذَا يَحْرُمُ نَصْبُهُ فِي شَيْءٍ مِنْ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ. نَعَمْ، إِنْ اقْتَضَتِ الْمَصْلَحَةُ تَوْلِيَتَهُ فِي شَيْءٍ لَا يَقُومُ بِهِ غَيْرُهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَوْ ظَهَرَ فِيمَنْ يَقُومُ بِهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خِيَانَةٌ وَأُمِنَتْ فِي ذِمِّيٍّ وَلَوْ لِخَوْفِهِ مِنِ الْحَاكِمِ مَثَلًا، فَلَا يَبْعُدُ جَوَازُ تَوْلِيَتِهِ فِيهِ لِضَرُورَةِ الْقِيَامِ بِمَصْلَحَةِ مَا وُلِّيَ فِيهِ. وَمَعَ ذَلِكَ يَجِبُ عَلَى مَنْ يُنَصِّبُهُ مُرَاقَبَتُهُ وَمَنْعُهُ مِنَ التَّعَرُّضِ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ بِمَا فِيهِ اسْتِعْلَاءٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ اهـ 

    الفقه الإسلامي وأدلته (ج 8 / ص 342)
    الفرق بين الوزارتين: ذكر الماوردي فروقا ثمانية بين الوزارتين، أربعة منها تتعلق بالشروط، والأربعة الأخرى بالصلاحيات. أما الفروق العائدة للشروط والمؤهلات فهي: 1 - الحرية: مطلوبة في وزارة التفويض، وغير مطلوبة في وزارة التنفيذ. 2 - الإسلام: مطلوب في وزارة التفويض، دون التنفيذ. 3 - العلم بالأحكام الشرعية (الاجتهاد): مطلوب في وزارة التفويض لا التنفيذ. 4 - المعرفة بشؤون الحرب والاقتصاد كالخراج: مطلوبة في وزارة التفويض لا التنفيذ.

    Jawaban 3:
    Orang Islam tidak dibenarkan (haram) menjadi tim sukses calon pemimpin/wakil rakyat non muslim, sebab termasuk menolong kemungkaran dan menjalin hubungan sosial dengan non muslim yang diharamkan.

    Referensi:

    الجامع لأحكام القرآن (ج 6 / ص 46)
    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (المائدة: 2)
    الثالثة عشرة قوله تعالى: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. قال الأخفش: هو مقطوع من أول الكلام، وهو أمر لجميع الخلق بالتعاون على البر والتقوى؛ أي ليعن بعضكم بعضا ، وتحاثوا على ما أمر الله تعالى وأعملوا به، وانتهوا عما نهى الله عنه وامتنعوا منه ... ويجب الإعراض عن المتعدي وترك النصرة له ورده عما هو عليه.

    مفاتيح الغيب (ج 8 / ص 10-11)
    واعلم أن كون المؤمن مواليًا للكافر يحتمل ثلاثة أوجه. أحدها: أن يكون راضيًا بكفره ويتولاه لأجله، وهذا ممنوع منه ... وثانيها: المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر وذلك غير ممنوع منه. والقسم الثالث: وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة والمظاهرة والنصرة إما بسبب القرابة أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه، وذلك يخرجه عن الإسلام.



    Hasil Bahtsul Masail di dilaksanakan oleh PCNU Kota Surabaya Periode 2015-2020 M di Masjid Sabil al-Mutathahhirin Barata Jaya Surabaya, Ahad 25 September 2016 dengan tim Musahhih (penashih) terdiri atas KH. Mas Sulaiman, KH. Mas Mahfudz, KH. Ahmad Asyhar Shofwan M.Pd.I., KH. Farohi Haroen dan KH. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar. S.Pd.I

    Adapun tim perumus dalam agenda tersebut adalah K. Makruf Khozin, KH. Sholihin Hasan, M.H.I., K. Luqmanul Hakim, S.Pd.I dan K. Mas Gholib Basyaiban yang dimoderatori oleh Ahmad Muntaha AM dengan notulen KH. Muhammad Muhgits dan K. Nur Hadi, S.H.I. [dutaislam.com/ ab]

    Source: aswajamuda.com
  • Doa dalam Shalawat Nariyah

    Admin: Duta Islam → Selasa, 27 September 2016

    DutaIslam.Com - Semalam ada yang bertanya dari Banyuwangi begini: "Kami yang di bawah bingung, itu salawat Nariyah tapi isinya doa, mestinya salawat itu dipisah dengan doa. Salawat ya salawat saja. Jangan dicampur dengan doa. Saya ini orang NU tapi tidak mengamalkan Nariyah".

    Saya kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan atsar berikut ini:

     ﻋﻦ ﻋﻠﻲ - ﻳﻌﻨﻲ اﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻃﺎﻟﺐ - ﻗﺎﻝ: ﻛﻞ ﺩﻋﺎء ﻣﺤﺠﻮﺏ ﺣﺘﻰ ﻳﺼﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻭﺁﻝ ﻣﺤﻤﺪ.
    ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻷﻭﺳﻂ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ.

    ﻭﻗﺪ ﺗﻘﺪﻡ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ اﻟﺒﺎﺏ ﻗﺒﻞ ﻫﺬا ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ، ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ ﺟﻴﺪ، ﻭﺣﺪﻳﺚ ﺟﺎﺑﺮ، ﻭﺣﺪﻳﺚ ﻓﻀﺎﻟﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ.

    Ali bin Abi Thalib berkata: "Setiap doa akan terhalang hingga dibacakan salawat kepada Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama dan keluarganya."

    (Riwayat Thabrani dalam al-Ausath, para perawinya terpercaya. Telah disampaikan di awal bab sebelum riwayat ini sebuah hadis Ibnu Masud, hadis bagus, hadis Jabir dan Hadis Fudlalah bin Ubaid [Majma' Zawaid])

    Dengan demikian, doa yang diawali dengan salawat akan lebih besar peluang dikabulkan oleh Allah. Selain itu, arti sholawat sendiri juga menunjukkan makna doa. Terimakasih. [dutaislam.com/ ab]

    Ma'ruf Khozin, narasumber Hujjah Aswaja TV9
  • Tokoh-Tokoh yang Gagal Akibat Selfie Bersama Jonru

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Selain kecoak, eh kocak ding, Jonru ternyata memang tokoh kontroversial yang dikenal oleh netizen sebagai tukang fitnah sejak berabad-abad lamanya. Tokoh ini menurut penerawangan murid Mak Lampir, sebagaimana diketahui, adalah pembawa sial bagi bangsa ini.

    Jika Anda ketahuan pernah berselfie ria dengan Jonru, jangan sampai tersebar di media sosial semacam Facebook, IG atau lainnya. Pasalnya, kini banyak perusahaan menerapkan sistem rekrutmen calon karyawan dari statusnya di Facebook dan akun media pribadi lainnya untuk menelusuri sepak terjang dan adabnya. Jonru jadi ukuran. Ya, jika Anda pengagum Jonru, siap-siap Anda tidak diterima di perusahaan-perusahaan bonafit di Indonesia. Ini beritanya: Jika Melamar Pekerjaan, Jangan Share Postingan Jonru, Bahaya!

    Selain status, foto selfie bersama Jonru juga membuat kita tidak nyaman bergaul dengan teman-teman lainnya. Anda selfie dengan tukang fitnah, artinya sedang mendukung gerakan dan tindakannya. Paling tidak, Anda bisa disebut menyerupai (tasyabbuh) dengan Jonru, yakni, tukang ngibul. Tidak percaya dia tukang fitnah, cek beritanya: Isi Postingan Jonru Banyak Fitnah dan Hoax.

    Intinya, bersama Jonru, baik dalam pemikirannya maupun selfie dengannya, siap-siaplah Anda gagal menuju masa depan. Tidak dapat pekerjaan, gagal nikahin calon, bangkrut usaha, tidak lulus kuliah, bahkan terancam tidak punya anak. Nyalon pejabat pun banyak yang gagal.

    Bukti paling konkrit adalah gagalnya Yusril Ihza Mahendra yang bangga diminta selfie bersama Jonru. Ketika itu, kata murid Mak Lampir, Jonru sedang menebar virus gagal otak kepada Yusril kala akan nyalon gubernur Jakarta. Betul nian, Jonru berhasil menggagalkan pencalonan Yusril hanya dengan foto selfie, diganti dengan Agus Yudhoyono. Hebat kan?

    Sebelumnya, Anis Matta juga gagal mengegolkan partai "sapi" nya ke 3 besar pemenang pemilu. Prabowo yang dibela-belain Jonru pun gagal jadi presiden. Sementara Aburizal Bakri, gagal di tahapan nyapres 2014 lalu. Semuanya gagal, meski tidak total.

    Baru-baru ini, Sandiaga Uno juga selfie bersama Jonru. Akankah dia gagal jadi gubernur? Tunggu saja cerita berikutnya. Kini menunggu giliran Anda, berhasil atau tidak jika dekat dengan Jonru dan kebetulan pernah selfie dengan dia. Salam humor! [dutaislam.com/ ab]
  • Yang Berfatwa Ayah Ibu Nabi di Neraka Itu Kurangajar

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Polemik tentang pendapat seorang da'i (bukan ulama) yang mengatakan bahwa ayah dan ibu nabi itu kafir serta masuk neraka telah membuat banyak umat Islam yang cinta kepada Nabi tersakiti. Termasuk yang terjadi dalam percakapan antara penanya dan Gus Awy Ali Imron (Lamongan), alumnus Rushaifah Makkah dan juga santri Abuya Assayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki Al Hasani.

    Anda boleh simpan hasil percakapan dari WhatsApp ini untuk disebarkan atau digunakan hujjah bagi mereka yang suka usil kemuliaan tauhid dan kemuliaan Nabi Agung Muhammad SAW. Kami edit ejaan saja. Tidak ada tambahan.

    ********

    Penanya: Ada yang berfatwa bahwa Ibu dan ayah Nabi mati kafir dan di neraka? Mohon penjelasanya Gus!

    Gus Awy Ali Imron: Hanya orang kurangajar kepada Nabi yang berani berfatwa seperti itu.

    Gus Awy Ali Imron: Permasalahan ini berhubung langsung dengan urusan tauhid. Telah disepakati oleh mayoritas ulama sejak salaf bahwa orang yang hidup di masa tenggang waktu kevakuman antar Nabi, tidaklah disiksa. Termasuk dalam hal ini adalah orang tua Nabi.

    Gus Awy Ali Imron: Tentang hal itu telah ditegaskan dalam Al-Qur'an Surat al-Isro ayat 15 dan Assyu'aro ayat 219.

    Keterangan:
    Al-Isra' ayat 15 adalah:

    مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

    Artinya:
    Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

    Gus Awy Ali Imron: Lagipula apa ada untung membicarakan hal yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya secara langsung dengan kita?

    Gus Awy Ali Imron: Secara logika saja, kita sendiri, apa mau jika dikatain bahwa orang tua kita masuk neraka? Apalagi kepada Nabi.

    Gus Awy Ali Imron: Jadi, kesimpulannya, orang yang mengatakan bahwa orang tua Nabi di neraka, siapapun orang itu, berlabel ustadz, Lc atau bahkan syaikh sekalipun, adalah orang yang sangat kurangajar dan tidak punya tatakrama kepada Nabi.

    Gus Awy Ali Imron: Ayah Nabi meninggal kala Nabi di kandungan. Ibunya meninggal kala Nabi masih kecil usia 6 tahun. Sementara Nabi baru diangkat jadi Nabi pada usia 40. Lantas, secara logika, dari mana orangtua Nabi menerima dakwah?

    Gus Awy Ali Imron: Sementara Nabi terakhir sebelum Nabi Muhammad, yaitu Nabi Isa, telah diangkat pada 33 M, Nabi sendiri lahir pada 571 M, tenggang waktu kekosongan Nabi 5 abad sendiri.

    Gus Awy Ali Imron: Ini sudah cukup menjawab akan fatwa bodoh dan kurangajar itu.

    ********

    Polemik pecah belah ini berawal dari penafsiran tesktual wahabi yang diambil dari hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang berisi:

    أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِى؟ قَالَ: “فِى النَّارِ.” فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِى وَأَبَاكَ فِى النَّارِ

    Artinya:
    Ada seseorang yang bertanya, “Ya Rasulullah, dimana ayahku?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di neraka.” Ketika orang ini pergi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memangilnya, dan bersabda, “sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim 521, Ahmad 12192, dan Abu Daud 4720).

    Hadits di atas akhir-akhir dimuat di beberapa website wahabi tanpa tafsir dan analisa sejarah, utamanya tentang Fatroh (masa vakum kenabian). Salah satu website wahabi tersebut adalah konsultasisyariah [dot] com. Adapun ustadz wahabi yang menyebut orang tua Nabi kafir adalah Firanda Andirja dan Khalid Basalamah. Videoanya banyak beredar di Youtube.

    Percakapan WhatsApp di grup Tanya Jawab Syariah yang terjadi pada Selasa (27/09/2016) di atas itu, kiranya cukup menjawab bahwa yang menyebut orangtua Nabi itu kafir dan di neraka tidak paham sejarah kontinuitas kenabian dari Nabi Isa ke Nabi Muhammad. Sekian. Mohon disebarkan. [dutaislam.com/ ab]

    Source: Rifaudin Ahmad