Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Teladan Dua Ulama Pencipta Lagu Kebangsaan

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Senin, 15 Agustus 2016
    A- A+

    Oleh M. Rikza Chamami

    DutaIslam.Com - Dunia pesantren mengenal rabithah (hubungan guru-murid) yang sangat kuat. Guru selalu menjadi inspirasi para santri-santrinya yang pernah mengaji. Demikian pula guru, selalu senang jika melihat para santrinya sukses berkhidmah di tengah masyarakat luas. Tugas sebagai guru seakan tuntas memiliki generasi penerus. Santri juga merasa gembira karena dapat meneruskan manfaat ilmu dari para guru-gurunya.

    Demikian pula nampaknya yang dirasakan oleh guru-murid yang sama-sama berjuang meraih kemerdekaan Republik Indonesia dan mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Siapakah dia? KHR Asnawi Kudus (1861-1959 M) dan KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Dua tokoh pesantren ini dikenal sebagai sosok guru dan murid yang saling mendukung satu dan lainnya dalam segala hal perjuangan menegakkan Islam ahlussunnah wal jama’ah.

    KHR Asnawi adalah salah seorang guru dari KH Abdul Wahab Chasbullah ketika mencari ilmu di Makkah bersama KH Bisri Sjansuri Jombang, KH Dahlan Pekalongan, KH Kamal Hambali Kudus, KH Mufid Kudus dan KH Ahmad Muchid Sidoarjo (Minan Zuhri: 1983). KHR Asnawi sangat lama bermukim di Makkah menjadi guru di Masjidil Haram dan mengajar ilmu agama di rumah pondokannya.

    KH Abdul Wahab Chasbullah disebutkan mulai belajar di Makkah sejak usia 27 tahun dan mukim selama lima tahun (Ubaidillah Sadewa: 2014). Diantara guru Mbah Wahab selain KHR Asnawi selama belajar di Makkah adalah: Syaikh Mahfudz Termas (tasawwuf dan ushul fiqh), Syaikh Mukhtaram Banyumas (Fathul Wahab), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (fiqh), Syaikh Baqir Yogyakarta (manthiq), Syaikh Asy’ari Bawean (ilmu hisab), Syaikh Sa’id Al Yamani (nahwu), Syaikh Sa’id Ahmad Bakry Syatha (nahwu), Syaikh Abdul Karim Al Daghestany (Kitab Tuhfah), Syaikh Abdul Hamid Kudus (ilmu ‘arudl dan ma’ani) dan Syaikh Umar Bajened (fiqh).

    Dari sisi nasab, kedua Kyai ini sama-sama keturunan dari Walisongo. KHR Asnawi keturunan dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shodiq dan KH Abdul Wahab Chasbullah adalah keturuan dari Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Sehingga sangat wajar, dalam bidang perjuangan dan keilmuan antara keduanya sangat memiliki kemiripan. Semangat dalam mencari ilmu dan ketegasan dalam menjalankan hukum agama juga menjadi komitmen keduanya.

    Salah satu perjuangan yang tidak pernah dilupakan oleh kedua Kyai ini adalah dalam mengusir penjajah. Kekuatan ilmu dan santri yang dimilikinya, baik di Kudus dan Jombang digerakkan untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Kedaulatan Indonesia sangat dibela mati-matian. Apalagi penjajah hadir di bumi Indonesia sangat mengganggu hak asasi manusia dan membawa misi menghanguskan Islam yang sudah dipeluk oleh penduduk Indonesia.

    Sejak masih ada di Makkah, KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah sudah merancang bagaimana Indonesia yang terjajah oleh Belanda itu bisa merdeka. Mbah Asnawi bersama dengan Mbah Wahab, KH Abbas Jember dan KH Dahlan Kertosono mendirikan Sarekat Islam (SI) Cabang Makkah. Gerakan nasionalisme sudah digaungkan dari tanah haram dengan menguatkan eksistensi SI dalam merespon pergerakan nasional. Sepulangnya ke Indonesia, dua Kyai ini masih menggelorakan cinta tanah air dan bertekad mengusir penjajah.

    KHR Asnawi yang merupakan Penasehat SI Cabang Kudus dengan gagah berani membuat fatwa: “Haram hukumnya menyamai pakaian Belanda (bercelana, berjas, berdasi dan bertopi)”. Fatwa ini diindahkan oleh semua penduduk Kudus dan sekitarnya. Dalam memperjuangkan hak muslim di Kudus, KHR Asnawi pernah dipenjara oleh Belanda, karena fitnah penjajah “geger pecinan”.

    Dan justru dari balik jeruji penjara, dakwah KHR Asnawi semakin kuat dan semua santri membala mati-matian dengan membenci penjajah dan minta KHR Asnawi dibebaskan. Semangat kebangsaan ditanamkan oleh KHR Asnawi kepada murid-muridnya. Mbah Asnawi mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekan: Jam’iyyatun Nashihin, Nahdlatul Ulama dan Madrasah Qudsiyyah.

    Hal yang sama juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Organisasi SI masih digeluti selama berada di Surabaya. Gerakan nyata Mbah Wahab dalam mendukung kemerdekaan sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Kemerdekaan dan hengkangnya penjajah menjadi komitmen Mbah Wahab yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Indonesia, Islam dan kerukunan bangsa Indonesia perlu diwujudkan.

    Persinggungan dan keakraban Mbah Wahab dengan Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, W. Wondoamiseno, Hendrick Sneevliet, Alimin, Muso, Abikusno Tjokrosujono dan Soekarno membuatnya semakin kuat merancang pergerakan cinta tanah air. Termasuk peran Mbah Wahab dalam mendirikan Islam Studie Club bersama Dr Soetomo pada 1920. Termasuk Mbah Wahab mulai mendirikan organisasi  dan madrasah sebelum kemerdekaan: Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar.

    Karya Lagu Pesantren
    Diantara wujud kebanggaan dan kecintaan KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah ditunjukkan dengan karya seninya. Dua Kyai ini dikenal sebagai sosok yang ‘alim dalam agama dan ahli membuat syi’ir (lagu khas pesantren berbahasa Arab). Apalagi dalam catatan sejarah, Mbah Wahab belajar ilmu ‘arudl (membahas cara membuat sya’ir berbahasa Arab) dengan KH Abdul Jalil sejak di Makkah. Dan dunia pesantren memang tidak pernah melupakan ilmu ‘arudl dan ilmu balaghah (badi’, ma’ani dan bayan).

    Karya pesantren berupa syi’ir kemerdekaan yang dikarang oleh KHR Asnawi sudah sangat masyhur di kalangan santri Kudus. Syi’ir kemerdekaan (mudah disebut sebagai Lagu Kemerdekaan khas pesantren) itu adalah:

    لَحُرَّةٌ فِي انْدُنْسِيَا * بَدَتْ لَدَى إِنْسَانِيَا 
    وَأَهْلُهَا مُنْفَرِحُوْ * نَ فَرَحًا أَبَدِيَا 
    لِنَيْلِهَا قَدْ جَاهَدُوْا * أَنْفُسَهُمْ مَا بَاقِيَا 
    تَحْتَ يَدَيْ كُولُونِيَالْ * يَابَانِ وَالـهُولَنْدِيَا 
    وَمِنْهُمُو قَدْ أُعْزِرُوْا * إِلَى دِيْكُولْ إِيْرِيَانْ جَايَا 
    وَمِنْهُمُو قَدْ أُدْخِلُوْا * فِي السِّجْنِ قَلْبًا مَرْضِيَا 
    فَإِنَّهُمْ قَدْ أَخْلَصُوا * خِدْمَتَهُمْ وَطَنِيَا 
    تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ أَفْئِدَ * ةُ الشَّعْبِ عَوْنًا جَلِيَّا 
    لِأُمَّةٍ وَوَطَنٍ * يُقَدِّمُوْا بِلَادِيَا 
    جَزَاهُمُوْ إِلَـهُنَا * أَعْمَالَهُمْ مُرَبِّيَا 
    حُرِّيَّةَ الفِكْرِ الَّتِيْ * تَنَالُ دِيمُوْكْرَاسِيَا 
    عَدَالَةً خَيْرِيَّةً * عِمَارَةَ اقْتِصَادِيَا 

    Sungguh kemerdekaan telah jelas bagi bangsa Indonesia
    Seluruh bangsa bergembira selamanya
    Karena untuk mendapatkan itu dibutuhkan perjuangan total
    Dibawah jajahan kolonial Jepang dan Belanda
    Ada yang diasingkan di Digul Irian Jaya
    Ada juga yang dipenjara dengan penuh kepedihan
    Sungguh mereka benar-benar ikhlas mengkhidmahkan diri untuk negara
    Jiwa kebangsaan menggerakkan mereka berjuang secara nyata
    Demi bangsa dan negara
    Semoga Tuhan membalas perjuangan mereka
    Dengan menjaga kemerdekaan berpendapat yaitu demokrasi
    Menuju kemakmuran keadilan sosial


    Adapun lagu kebangsaan yang dikarang oleh KH Abdul Wahab Chasbullah sudah sangat masyhur dan akan menjadi “Lagu Perjuangan Nasional”, yaitu:

    يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا كُلُّ مَن يَأْتِيْكَ يَوْمَا طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا 

    “Pusaka hati wahai tanah airku / Cintamu dalam imanku/ Jangan halangkan nasibmu / Bangkitlah, hai bangsaku!/ Indonesia negriku / Engkau Panji Martabatku / S’yapa datang mengancammu / Kan binasa di bawah dulimu!”

    Karya Mbah Wahab ini ada yang menyebutkan dikarang sejak 1916 (versi Cak Anam) dan digemakan sejak 1934 (versi Ubaidillah Sadewa). Keduanya jelas menunjukkan bahwa karya lagu pesantren ini berada pada posisi sebelum kemerdekaan. Dalam buku “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945” karya Zainul Milal Bizawie (2016: 55) terdapat kalimat tambahan dalam karya Mbah Wahab, yakni:

    Jangan kalian menjadi orang terjajah
    Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan
    Harus dibuktikan dengan perbuatan


    Karya pesantren dari dua Kyai ini menjadikan nyata, bahwa komitmen Kyai dalam mendorong kemerdekaan dan merayakannya menjadi bagian yang utuh. Maka rasanya terharu sekaligus bangga mendengar "Yahlal Wathan" karya KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang menjadi Lagu Nasional. Dan guru Kyai Wahab bernama KHR Asnawi Kudus juga memiliki Syi'ir Proklamasi Kemerdekaan, Shalawat Kebangsaan dan Syi'ir Nasionalisme menyambut IR Soekarno sebagai Presiden RI.

    Zainul Milal Bizawie menegaskan bahwa: “Setiap langkah Mbah Wahab yang dinamis, beliau selalu meminta nasehat dan saran dari Kyai Asnawi Kudus. Apalagi dengan keberadaan KH Hasyim Asy’ari yang selalu hati-hati dan penuh pertimbangan. Dalam kedinamisan dan pergerakannya, Mbah Wahab selalu minta saran Mbah Asnawi yang lebih aktif dan dinamis”. 

    Disinilah titik temu Mbah Asnawi dan Mbah Wahab. Keduanya menggambarkan isi hati dan muatan dakwah Islamnya dalam lagu-lagu yang isinya hampir memiliki kesamaan.

    Hubungan guru & murid ini kompak dalam mendarmabaktikan ilmu 'arudl-nya untuk Indonesia dengan lagu-lagu kemerdekaan khas Pondok Pesantren. Mbah Asnawi dan Mbah Wahab adalah sosok Kyai yang benar-benar menunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu harus pandai dan harus dihibur dengan lagu khas pesantren untuk menyemangati cinta bangsa sekaligus mengenang jasa para pahlawan. Semoga lahir Asnawi dan Wahab baru di bumi Nusantara ini. Wallahu a’lam. [dutaislam.com/ ab]

    M. Rikza Chamami, alumnus Madrasah Qudsiyyah Kudus, 
    Pjs Ketua Umum IPNU tahun 2009 dan Dosen UIN Walisongo 
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: